Berkunjung ke Kuto Wong Kito Galoh

Tanggal 09 September 2013, aku diberi tahu kalau aku harus mewakili boss ku dalam sebuah rapat koordinasi di Palembang, Sumatera Selatan. Rapatnya tanggal 12, sejak pagi sampai sore.  Jadi harus berangkat dari Pekanbaru tanggal 11 September 2013.  Secara tanggal 14  September 2013 ada acara Reuni Akbar dalam rangka 50 Tahun SMPN 4 Pekanbaru, jadi aku harus kembali ke Pekanbaru tanggal 13 September 2013.

Seperti biasa, bila aku berkunjung ke suatu daerah, apa lagi yang belum pernah aku kunjungi, aku berusaha menyisihkan waktu untuk meilihat-lihat daerah tersebut..  Demikian juga kali ini…, secara aku belum pernah berkunjung ke Palembang, jadi lah aku merencanakan menyisihkan beberapa jam untuk melihat-lihat kota ini, sebelum kembali terbang ke Pekanbaru, via Jakarta..

@ replika  Ampera Bridge
Sondha & mba Lien

Belum pernah ke Palembang…? Beneran…? Beneeeerrrr….  Sumpe… 😀

Klo singgah siyy pernah lah yaa…  Dulu banget…, saat aku dengan Papa dan adikku David dari Pekanbaru ke Jakarta dengan bawa mobil sendiri..  Juga saat aku kuliah pasca sarjana di Yogya, periode 1999 – 2001, karena harga tiket pesawat mahal bangetsss, aku dari Pekanbaru beberapa kali naik bus ke Bandung, lalu nginap di tempat adik ku yang saat itu menetap di Bandung, trus dari Bandung naik kereta api ke Yogya.  Naik bus dari Pekanbaru ke Jakarta, ya lewat Palembang..  Tapi saat itu, gak singgah.. Hanya melintas..  Waktu sama Papa dan David, kami enggak bisa singgah dan liat-liat, karena harus mengejar jadwal David wisuda.  Waktu naik bus, ya jelas lah gak pakai singgah…. Hehehee..:D

Karena belum pernah, sebelum berangkat aku mengirim bbm ke Iis, teman SMA ku yang menetap di Palembang,  must visit places klo ke Palembang.  Iis bilang Benteng Kuto Besak dan Pulau Kemaro.  So, jadi lah kedua tempat itu masuk dicatatan ku..   CATATAN TEMPAT YANG HARUS DIKUNJUNGI…

So, let me share PERJALANAN KU, apa saja yang kulakukan dan tempat2 apa saja yang aku kunjungi selama  sekitar 48 jam di Palembang…  Siapa tahu bisa jadi referensi teman2 yang akan berkunjung ke Palembang..

Dari bandara Sultah Mahmud  Badaruddin II, aku ke hotel yang disediakan oleh Ditjen Pemasaran Kemenparekraf, dengan menggunakan taxi bandara.  Aku membayar beberapa ribu rupiah di loket yang ada di ruang pengambilan bagasi, lalu bayar ke supir taxi sesuai argo.  Rp.95.000,- .  Tersedianya taxi dengan argo sungguh menjadi sesuatu yang menyenangkan bila berkunjung ke sebuah kota yang asing, apa lagi tidak punya kenalan yang bisa kita repotkan dengan minta dijemput di bandara.. hehehe…

Aku menginap di  Jayakarta Daira Hotel di Jl. Jend. Sudirman..  Hotel yang cukup nyaman, dan makanannya cukup enak..  Soal rate, hmmm silahkan cek di web hotel ya.  Aku gak sempat nanya pula.. hehehehe…

Ada yang seru dengan lunch di hotel ini.. Karena ramainya orang yang nginap dan meeting di hotel ini menjelang pelaksanaan Islamic Solidarity Games, petugas resto sepertinya kelabakan dalam mengatur paket2 makan siang group-group yang berbeda..  Saat saya dan beberapa teman mau makan siang, ternyata paket makanan yang disediakan untuk group kami sudah kandas, dimakan oleh peserta group lain.. Karena gak enak hati, sembari menyiapkan paket pengganti buat anggota group kami yang masih banyak belum makan, maka kami dipersilahkan ke meja hidangan yang lain..  Apa yang dihidangkan di situ…? Nasi briyani, lengkap dengan daging kambing, kacang dan kismis.., pizza yang mozarellanya nikmaaatttt…, spagetti bolognaise, french fries dan fried chicken..  Secara rasanya alhamdulillah enak, ya aku siyy gak keberatan..  Bahkan saat sarapan, selain menu-menu standard untuk breakfast di hotel-hotel bertaraf internasional. juga tersedia roti canai dengan kari tuna… Sedaaaap….. Lupa diet…  Hiiiikkksss…

Oh ya, begitu aku sampai di hotel, dan langsung registrasi ke Panitia yang tugas di lobby hotel, aku dikasi tahu bahwa sekitar jam 19-an rombongan panitia dan peserta rapat sama2 berangkat ke Restaurant Riverside..  Secara saat kedatangan ku di hotel dengan jadwal rombongan berangkat ke resto, mepet… Yo wisssszzzz, aku gak pakai mandi, cuma narok koper  di kamar, langsung turun lagi ke lobby bareng mba Lien, teman sekamar ku, yang berasal dari Surabaya…

Ampera Bridge
Pemandangan Jembatan Ampera di malam hari dari Riverside Restaurant

Riverside Restaurant gak terlalu jauh dari Hotel Jayakarta Daira, gak sampai 30 menit jarak tempuhnya..  Ternyata resto ini sesuai namanya, berada di tepian Sungai Musi.., dengan view Jembatan Ampera yang menjadi icon Kota Palembang.  Dan karena di waktu malam, jembatan yang penuh lampu menjadi pemandangan yang sangat sangat indah…   Lokasi resto ini  tepat di seberang jalan dari Benteng Koto Besak,   salah satu lagi icon Kota Palembang..  Meja dan kursi makan di rrestoran ini ada yang berada di tepian, ada pula yang berada di dalam kapal-kapal yang memang menjadi bahagian permanen restoran..

Apa yang dihidangkan di resto ini…?  Ikan, yang merupakan masakan khas daerah yang dilintasi sungai.. Ada juga  ayam dan daging..  Tapi menurut saya yang biasa mencicipi hidangan Melayu dan Padang yang spicy, juga masakan Sunda yang relatif segar, dan masakan Jawa yang rada-rada manis…,  Masakan yang dihidangkan rasanya relatif plain…

Pagi hari kedua di Palembang diisi dengan kerja sampai sore..  Baru bebas, sekitar jam 17-an.. Mau kemana, naik apa?  Taxi hotel…? Tanya2 sama petugas hotel… Ternyata mahal bow.., sekitar Rp.100.000,- utk sekitar 1 jam.. Aku dan mba Lien akhirnya memutuskan untuk menelpon Blue Bird Taxi.. Agak lama datangnya… Tapi lumyan lah, karena pakai argo..

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Kami memutuskan untuk pergi ke Museum Sultah Mahmud  Badaruddin I, yang berada di sekitar Benteng Kuto Besak, dan kami lintasi saat kembali dari Riverside Restaurant menuju hotel..  Sayang, mueumnya sudah tutup…  Padahal arsitektur bangunan yang terlihat cantik dari luar, menggoda hati untuk bisa melihat-lihat isinya..  Next time kali yaaa…

Terus kita kemana…? Nyari pempek donk..  Sama supir taksi kami direkom untuk ke Pempek Candy..    Tapi lupa nyatat lokasinya dimana…  Kalau dari yang saya lihat Pempek Candy punya banyak outlet yang tersebar di sepenjuru Kota Palembang.., bahkan juga ada yang di sebelah hotel Jayakarta Daira..  Tapi outlet yang kami datangi sore itu tempatnya nyaman…, bersih…  Oh ya, selain Pempek Candy, yang lagi populer di Palembang saat ini juga Pempek Viko, dan Pempek Pak Raden..

Trus apa yang dipesan di Pempek Candy…?Pempek Candy text

Selain aneka pempek, termasuk pempek bakar dan otak2…,, aku pesan mie celor.., mie yang maknyuzz tapi buat yang kolesterol tinggi, sebaiknya enggak makan yaa.. hehehe..  Kenapa? Karena pakai santan, kaldu udang dan udang… 😀.  Mba Lien mesan tekwan… (sorry ya friends, lupa motret…).  Naahhh ada yang suprise buat aku yang pecinta pempek.., yang hampir tiap minggu singgah di salah satu dari 2 penjual pempek di kotaku…   Yaa.., di piring aneka pempek, aku menemukan satu jenis pempek yang bentuknya kayak pastel..  Saat digigit, ternyata di dalamnya ada tumisan sayur… , jadi terasa seperti dimsum..  Aku lalu memanggil pelayan resto dan menanyakan nama pempek jenis yang ku makan itu.. Pelayannya bilang, itu namanya pempek pastel..  Aku lalu minta beberapa butir lagi…  Saat mau order pempek buat oleh2, pelayan toko tidak merekom pempek pastel untuk dibawa, karena lebih gampang rusak dibanding jenis yang lain..  Puas-puasin lah makan pempek pastel… 😀

Selesai dari Pempek Candy, kami langsung balik ke hotel, untuk istirahat dan magriban.. Dengan pikiran, kalau gak terlalu capek, keluar lagi setelahnya.. Tapi ternyata oh ternyata, faktor U, alias Umur, yang ada kami berdua tertidur lelap sampai tengah malam…  So, perjalanan berikutnya dilakukan pagi-pagi, setelah sarapan..

Pagi-pagi setelah sarapan, kami bergegas ke seberang Benteng Kuto Besak… Ya.., di seberang benteng tersebut, di samping Riverside Restaurant, di belakang pasar,  terdapat pelabuhan rakyat, tempat dimana kita bisa menyewa perahu mesin untuk membawa kita menyusuri Sungai Musi menuju….., Pulau Kemaro..

Berperahu menyusuri Musi
Berperahu menyusuri Musi

Perahunya gak terlalu besar…  Kapasitasnya sekitar 5 – 8 orang..  Kalau mau nyaman siyy naiknya berempat, kali yaa..  Perahu ini benar-benar perahu rakyat, belum ada life jacket buat para penumpang… 😀

Berapa  biayanya…? Biasanya tukang perahu mengajukan penawaran pertama sekitar Rp.350.000,- untuk pergi-tunggu-pulang.  Kalau kita tawar, bisa dapat Rp.250.000,-.  Jangan coba-coba hanya minta antar, dengan harapan akan tersedia perahu untuk kembali di Pulau Kemaro, ya.. Bisa repot urusannya.. Karena gak ada tukang perahu yang mangkal di sana..  Mungkin kalau teman-teman mau nyari tukang perahu tapi asing dengan situasi pelabuhan rakyat tersebut, teman-teman bisa minta tolong petugas satpam Riverside Restaurant untuk mencarikan.

Bisa naik ke perahu butuh kekuatan tekad sendiri.., karena tidak ada tangga..  Kita harus turun dari pelataran ke perahu terdekat, lalu melompat dari satu perahu ke perahu sebelahnya, sampai ke perahu yang dimiliki si tukang perahu yang akan membawa kita..  Hebohh…, karena perahunya kan bergerak-gerak di permukaan air..  hehehe…

Musi ViewSetelah duduk dengan cukup aman di perahu, perjalanan dimulai.. Yaaa, perjalanan menyusuri musi ke arah muara..

Perjalanan ini jauh dari membosankan.  Kenapa? Karena  selain memang tidak lama, hanya sekitar 20 menit, pemandangan tepian di sisi kiri dan kanan sungai sangat menarik dan bervariasi.. Ada kampung-kampung, yang sepertinya sudah ada sejak lama..  Ada juga bangunan tua dengan arsitektur yang cantik, yang menurut tukang perahu adalah pabrik es, milik keluarga keturunan Arab..  Ada juga pabrik pupuk Sriwijaya… Ada perahu-perahu tradisional, ada kapal besar dan modern, ada juga kapal terapung yang merupakan klinik kesehatan.  Bahkan ada juga penjual bahan bakar  untuk perahu yang hilir mudik di sungai.

Akhirnya kami melihat daratan di tengah-tengah sungai..  Ya, itu Pulau Kemaro, kata Tukang Perahu..  Dari jauh terlihat pagoda yang berdiri megah..

Pulau ini oleh masyarakat diberi nama Pulau Kemaro, dengan asal kata kemarau, alias kering, karena sejauh ini pulau yang berada di tengah-tengah Sungai Musi ini tak pernah digenangi air meski volume air di Sungai Musi  sedang tinggi..

Apa yang bisa kita temukan di Pulau Kemaro…?

Pulau KemaroDi pulau ini terdapat klenteng tempat umat Budha sembahyang, dilengkapi dengan sebuah pagoda yang berdiri tegak menghadap selatan..  Pagoda yang dikawal oleh sepasang singa di depan tangga masuk, dihiasi sepasang naga meliuk di kedua tepi tangga, serta ikan-ikan di bagian atas beranda-beranda  di lantai-lantai atas pagoda..

Tak ada apa-apa, selain tempat sembahyang plus beberapa orang yang menjual minuman kemasan, dan beberapa orang tua yang memang bekerja di situ, sedang membereskan lampu-lampu untuk perayaan salah satu hari raya umat Budha..  Mungkin karena kami datang di hari Jum’at, tak pula bertepatan dengan perayaan umat Budha..

Karena Pulau Kemaro bukan tempat yang ramai, kecuali mungkin di hari besar Chinesse yang dirayakan di klenteng yang ada di Pulau Kemaro.., saya tidak menyarankan para traveller perempuan untuk pergi ke sana sendiri..

Apa istimewanya Pulau Kemaro sehingga direkomendasikan untuk dikunjungi..  Menurut aku, karena ada legendanya..  Teman-teman bisa baca legendanya di sini, ya…  Satu makna yang bisa diambil dari legenda tersebut adalah untuk tidak tergesa-gesa menilai sesuatu.. Periksa dulu.., sebelum memutuskan…

Buat saya, justru pengalaman berperahu menyusuri Sungai Musi dengan pemandangan yang sangat bervariasi, justru menjadi daya tarik yang utama, pada akhirnya..  Sayang karena waktu yang singkat kami tidak bisa untuk singgah ke beberapa kampung di tepi sungai yang terlihat sangat  menarik, seperti Kampung Kapitan, yang dari jauh terlihat punya bangunan-bangunan  tua yang cantik..

Puas berkeliling Pulau Kemaro, kami kembali menyusuri Sungai Musi dengan berperahu…  Saat sampai di Palembang, kami tak menepi di pelabuhan rakyat tempat kami memulai perjalanan, tapi tepat di depan gerbang  Benteng Kuto Besak..  Untuk naik ke darat, lebih heboh lagi dari pada saat naik ke perahu.. Alhamdulillah, tas dan sepatu tak kecemplung ke sungai.., tak juga ada baju yang basah…

Semoga di masa yang akan datang, pemilik perahu menyediakan life jacket buat penumpang, lalu pemerintah menyediakan fasilitas pelabuhan yang lebih “ramah” sehingga memudahkan penumpang naik ke perahu..  Juga semoga ada kapal patroli menyusuri sungai,  sehingga lebih banyak para wisatawan yang mau naik perahu menyusuri Musi..  Pasti akan jadi daya tarik wisata yang luar biasa buat Sumatera Selatan..

20130913_095237

Apa yang bisa dilihat di Benteng Kuto Besak…?  Sepertinya benteng ini belum disiapkan jadi obyek pariwisata, karena benteng yang merupakan bagian dari sejarah besar Palembang itu, sekarang berfungsi sebagai markas KODAM Sriwijaya..  Jadi kami hanya berfoto di depannya, sambil menunggu taksi datang..

Sebenarnya di plataran antara jalan di depan Benteng Kuto Besak dan Sungai ada banyak orang yang jualan.. Ada yang mangkal, ada yang pakai sepeda.. Apa yang dijual…? Macam-macam.., antara lain pempek..  Hmmmmm, pempek memang ada di sepenjuru Kota Palembang..😀

Songket PalembangDari Benteng Kuto Besak, kami menuju ketempat pengrajin tenun songket Palembang.   Bagi yang berkunjung ke Palembang, terutama para perempuan, melihat-lihat songket Palembang adalah hal yang tak boleh terlewatkan…  Soal beli urusan belakangan..  Heheheee… Kenapa?  Karena songket Palembang adalah karya seni yang luar biasa, yang untuk memilikinya butuh uang yang lumayan..  Aku sudah punya satu, warna hijau.., pemberian Mama untuk ku pakai sebagai setelan kebaya saat menikah..  Untuk sementara, rasanya punya satu pun sudah cukup..  Secara aku juga jarang, nyaris gak pernah, hadir ke acara-acara dengan mengenakan kebaya dan bersongket..   Mungkin nanti kalau ada adik atau ponakan yang pesta kawinan lagi kali yaa…

Pengrajin yang kami kunjungi, adalah Fikri Songket, sesuai rekomendasi dari Iqbal. teman yang kerja di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan,   Fikri, yang  sekaligus menjual sarung songket, jumputan, batik Palembang, Kain Tanjung., berlokasi di Jl. Kiranggo Wirosentiko No. 500 RT. 12 30 Ilir, Palembang.  Siapa tahu teman-teman yang berkunjung ke Palembang ingin ke sana..

Emang berapaan siyy harga songket Palembang…?  Menurut yang penjaga toko di Songket Fikri, ada yang satu set (kain dan selendang) mulai  Rp.2 jutaan, sampai dengan yang puluhan juta.   Tergantung kualitas bahannya, benang emas-ya, serta kerumitan pembuatannya..  Aku sempat lihat kain jumputan yang dikombinasikan dengan tenun, saat aku tanya harganya sekitar Rp.65 juta.  Wadddooohhh….

Aku dapat apa di Fikri Songket…? Secara lagi senang batik…,, dan lagi pengen bikin gamis berbahan batik, aku akhirnya membeli satu Batik Palembang dan satu bahan motif jumputan khas Palembang berwarna orange..

Dari Fikri Songket, dan sempat singgah di Pempek Candy di samping Jayakarta Daira Hotel, kami bergegas ke hotel untuk ambil koper…  Sudah hampir jam 11.30 WIB, sementara jadwal penerbangan mba Lien dan Radit ke Surabaya vis Jakarta jam 13-an.  Kalau penerbangan aku masih lebih sore..  Untungnya bandara tidak jauh dari hotel..

Alhamdulillah… Dalam perjalanan yang cuma 3 hari 2 malam ini aku bisa mengunjungi beberapa tempat, melihat dan menikmati banyak hal..  Dan pekerjaan, yang merupakan hal paling utama dalam perjalanan ini, juga bisa berjalan dengan baik…  Alhamdulillah…  ***

4 thoughts on “Berkunjung ke Kuto Wong Kito Galoh

  1. Wah malah laporan Mbak Sondha lengkap banget. Saya ceritanya mau nu,is per-destinasi, tapi emang nasib kurang baik, foto2 trip Palembang hilang lenyap tanpa bekas gara hardisk rusak. Tulisan di Kemaro ya sisa2 dari Hp saja🙂

  2. Assalamu alaikum. Selamat ultah ito, sai horas jana torkis manian hita sasudena. Selalu dalam lindungan Allah, mendapat usia yang berkah.
    Hari ini, Ibunda di Sidimpuan (yg punya nama yg sama dengan ito) juga merayakan ultah pernikahan yg ke 52 hari ini. he..he…
    Salam buat keluarga. Ayah Faiz n Zhafirah Siregar.

    1. Waalaikum salaam..
      Amiin… Semoga doa2nya diijabah oleh Allah SWT..
      Sampaikan salam hormat dari kami pada inang dongan sagoar.. hehehe… Semoga beliau senantiasa dalam lindungan Allah SWT, diberi kesehatan, kebahagiaan bersama keluarga ..

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s