Posted in Tukang Jalan, Tukang Makan

Tembilahan Trip…

Postingan ini berlanjut  dari postingan sebelumnya tentang perjalanan ku ke  Rengat…  Karena dari Rengat aku dan teman-teman melanjutkan perjalanan ke Tembilahan, ibu kota Kabupaten Indragiri Hilir…

Apa yang unik dari Tembilahan..?. 

Perahu di Kuala Getek, Tembilahan
Perahu di Kuala Getek, Tembilahan

Tembilahan dan sekitarnya berada di hilir Batang Kuantan alias Sungai Indragiri..  Bentuklahan (landform)-nya yang  braided river (sungai terjalain), sebagai hasil sedimentasi, menyebabkan daerah ini mempunyai banyak sekali sungai-sungai kecil, atau kanal.. (Hmmm…, Jadi ingat buku Terrain analysis and classification using aerial photographs : a geomorphological approach karangan Zuidam and Zuidam-Cancelado, kitab suci saat kuliah Penginderaan Jauh. :D).   Bahkan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir menyatakan daerah tersebut sebagai Daerah Seribu Parit“Land of  Thousand Calnnals”..

Ada parit, ada jembatan donk…  Kan udah gak zaman dan gak efisien kalo mobilasasi pakai getek.. :D.  So, jadi lah di daerah ini ada sangat banyak jembatan…   Penasaran dengan banyaknya jembatan, saat menuju ke Tembilahan, aku dan teman-teman menghitung berapa jumlah jembatan yang dilalui..  Kami bersama-sama menghitung sejak jembatan Rumbai Jaya yang besar dan megah itu… Berapa…? Untuk sampai di tengah kota Tembilahan, ada 59 jembatan…  Banyaknyaaaaaaa…….

Oh ya, ada lagi yang unik dari Tembilahan…  Karena di daerah pesisir dan banyak burung wallet, yang sarangnya punya nilai ekonomi tinggi, jadi banyak penduduk yang membuat bangunan-bangunan yang difungsikan untuk beternak walet..  Akibatnya sepanjang hari, terutama di malam yang seharusnya hening, tidak demikian di kota ini…  Selalu ada kicauan burung wallet… Bisa kah ini disebut sebagai polusi…? Entah lahh…  Yang jelas bagi orang yang berkunjung, rasanya aneh, dan unik…

Apa yang menarik dari Tembilahan…?  Buat diriku Si Tukang Makan, kulinernya…., pasti…

Sebagai wilayah pesisir, wajar kalau Tembilahan sebagaimana mana daerah pesisir lainnya, dihuni oleh beragam suku..,  Selain suku Melayu, di sini juga banyak orang yang berasal dari suku Banjar, Bugis, Jawa dan Minang, juga Chinese..  Akibatnya, kulinernya juga beragam…

Aku dengar-dengar, di sini seafood-nya luar biasa…, secara di daerah ini kan banyak hutan mangrove, tempat udang, ikan berkembang biak..  Tapi sudah 3 kali ke sana, belum ada yang merekomendasikan rumah makan yang menghidangkan seafood…  Umumnya rumah makan di sana menyediakan masakan Melayu dan Minang yang standard-standard aja…

WadaiSaat bertemu dengan seorang kenalan di kantor yang kami kunjungi, aku menanyakan dimana bisa membeli wadai.., kue-kue basah khas banjar..  Kalau di Pekanbaru, ada tempat yang khusus jualan wadai plus soto banjar, nasi kuning dan berbagai masakan khas Banjar..  Namanya warung Papadaan

Kenalan tersebut tadinya meminta aku menunggu di kantornya, dan dia akan pergi sendiri membeli..  Ya, aku gak mau…  Justru buat aku melihat  orang-orang berjualan kue itu yang menjadi daya tarik, selain menikmati rasa kuenya…  😀

So, jadi lah aku berjalan kaki ke Pasar Pagi, yang lokasinya tidak jauh dari kantor kenalan ku itu..  Pasar pagi ini sebenarnya sudah pernah aku kunjungi.., karena di sis lain Pasar Pagi ini juga ada PJ alias pasar yang menjual barang-barang bekas  yang diimpor dari negara tetangga…

Apa yang aku temukan di Pasar Pagi… Buanyaaakkk.. Hehehe…    Ada apam serabi, cantik manis (Ini kue sombong banget yaaa..?  Namanya udah cantik, manis pulaaa…!!), sari muka (sejenis kue lapis), lemang (kecil-kecil dibungkus daun, kayaknya gak dibakar di dalam bambu seperti lemang Sipirok),  ada bingke (sejenis bika), ada pepudak (seperti lepat, tapi kecil dan imut-imut, warnanya hijau karena dikasi pandan), dan ada pulut panggang.  Meski gak ada amparan tatak (kue talam) yang merupakan primadonanya wadai,  kue yang ada  seru-seu….  Semua menggoda, bikin pengen dicicipin, dan dibeli tentunya..   Jadi lah masing-masing jenis dibeli 2 – 4  potong…  Yang gak enaknya, kenalan itu tidak memperkenankan aku membayar sendiri wadai-wadai yang ku pilih-pilih itu… Hmmmm…, jadi gak enak hati… 😀

Untuk urusan wadai ini…., sebenarnya ada satu yang gak kesampaian di kunjungan kali ini…  Apaan…? Pulut panggang…  Pulut panggang yang dibeli di Pasar Pagi tidak senikmat pulut panggang yang pernah dibeli oleh kak Sartidja, atasan ku saat di Bappeda Kota Pekanbaru.  Aku berkunjung ke Tembilahan spertama kali, sekitar akhir tahun 2006 karena dibawa beliau..  Waktu itu beliau  membeli buat kami pulut panggang yang uenaaaakkkk banget… Pulut panggangnya diisi tumisan udang kecil-kecil alias kecepe yang puedes banget…  Tapi karena udah gak ingat lagi dimana dulu dibeli, tinggal lah pulut panggang yang enak itu masih dalam angan-angan untuk dinikmati..  Hehehehe… 😀

Apa lagi yang unik dari Tembilahan….?? PJ…   Apa itu PJ…?  Di Tembilahan, PJ itu singkatan dari Pasar Jongkok…, bukan Penginderaan Jauh... hehehehe..

Pasar JongkokPasar Jongkok adalah pasar kaget, biasanya ada pada malam hari…, Kenapa dibilang Pasar Jongkok…? Karena dagangannya diletakkan di plastik-plastik lebar yang dibentangkan di emperan toko, atau di pinggir-pinggir jalan di antara deretan-deretan toko…    Kalau ada yang mau melihat barang yang didagangkan, ya harus berjongkok-jongkok ria…

Apa aja yang dijual di PJ…? Macam-macam… Pakaian, tas, kpoer, travelling bag, peralatan rumah tangga, sepatu, dan lain-lain..  Umumnya yang dijual di PJ adalah barang impor dari negara tetangga.., barang bekas..  Kalau beruntung dan pandai memilih, pembeli bisa mendapatkan barang yang bagus dengan harga murah…  Tapi aku lihat, di PJ ada juga dijual barang-barang baru, dan bukan impor…

Lalu…, apa oleh-oleh dari Tembilahan…? Kalau kita punya cool box, saat akan pulang kita bisa membeli kepiting dan ikan segar yang dijual ibu-ibu di salah satu jembatan di pinggir kota Tembilahan..  Buat yang tidak bawa cool box, kita bisa berbelanja keripik pisang dan amplang khas Tembilahan di toko-toko makanan yang ada di jalan utama kota..

Saat aku berkunjung ke Tembilahan, pilkada baru saja usai..   Akan ada kepala daerah baru, tentu dengan kebijakan pembangunan yang baru…  Semoga bisa membuat kota ini dan daerah-daerah lain di Kabupaten Indragiri Hilir jadi lebih baik..

Aku membayangkan kalau kanal-kanal yang ada di Tembilahan ini ditata dengan baik, tepiannya dibuat hijau royo-royo…,  Lalu hutan magrovenya dilestarikan…  Rasanya akan banyak orang yang mau datang ke sana untuk ber-getek-ria.. Dan setelahnya mereka bisa menikmati seafood yang akan melimpah karena hutang magrove yang lestari… Mereka juga bisa menikmati kekayaan kuliner yang bisa ditawarkan oleh penduduk yang berbagai suku..

Meski Tembilahan relatif tidak mudah dijangkau.., karena jauh dari Pekanbaru yang menjadi pintu gerbang Riau..  Juga tidak cukup dekat dengan Batam, yang bisa menjadi alternatif pintu masuk…  Bukan tidak mungkin orang akan berkunjung ke Tembilahan..  Paling tidak bisa dimulai dengan memberikan tempat wisata pagi orang-orang yang datang untuk kegiatan bisnis ke Tembilahan, mengingat daerah ini punya aktivitas industri yang besar..  Saya yakin dengan potensi yang ada, bila dilakukan kebijakan yang tepat..  Tembilahan bisa juga berkembang pariwisatanya…  Rakyat bisa mendapatkan penghasilan dari kunjungan wisatawan ke daerah ini..   If there is a will, there is a way…  I’m sure and optimist…  ***

– Sondha Siregar –

Posted in Culture and Heritage, Tukang Jalan, Tukang Makan

Berkunjung ke Rengat, Kota Para Raja..

Akhir September 2013 yang lalu, dalam rangka kerja, aku kembali berkesempatan untuk berkunjung ke Rengat dan Tembilahan..  Rengat dan Tembilahan itu kota-kota di Provinsi Riau, Rengat  ibukota Kabupaten Indragiri Hulu.., sedangkan Tembilahan merupakan ibu kota Kabupaten Indragiri Hilir.

20130924_151211
Bersama Kak Indria, teman perjalanan ke Indragiri

Kabupaten Indragiri Hulu, Kabupaten  Indragiri Hilir, dan Kabupaten Kuantan Singingi yang dilalui oleh Batang Kuantan atau Sungai Indragiri  dulunya merupakan bagian  wilayah Kerajaan Indragiri,  sebuah Kerajaan Melayu yang menjadi bawahan (nazal) dari Kerajaan Minangkabau (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Inderagiri). Batang Kuantan atau Sungai Indragiri yang berhulu ke Danau Singkarak di wilayah Minangkabau,, dan berhilir ke Pantai Timur Sumatera membuat  wilayah Indragiri pada masa itu bisa mengambil peran sebagai  pelabuhan bagi Kerajaan Minangkabau..

Karena Rengat dulunya merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Indragiri, dan keturunan bangsawan Indragiri memakai gelar Raja, sebagimana gelar Raden di daerah Jawa Tengah dan Timur, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu menyebut Kota Rengat sebagai Kota Para Raja.

Ini  bukan kunjunganku yang pertama ke Rengat dan Tembilahan..  Untuk ke Rengat, ini kunjungan ku yang ke 4, untuk ke Tembilahan ini kunjungan ku yang ke 3.  Bahkan sekitar tahun 2009, aku sempat berkunjung ke Rengat diajak oleh ibu Dr Widya Nayati, seorang arkeolog senior, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM, untk melihat makam Raja-raja Indragiri serta beberapa makam tua di daerah Japura, sebuah daerah di pinggir Kota Pengat.

Berapa lama perjalanan ke sana?  Dari Pekanbaru ke Rengat sekitar 4 – 5 jam jalan darat.  Dari Rengat ke Tembilahan butuh waktu sekitar 2,5 – 3 jam.  Jadi rata-rata dari Pekanbaru ke Tembilahan butuh waktu sekitar  7  – 8 jam…

Apa yang menarik di Rengat…?

Rumah Tinggi Rengat
Rumah Tingg idi Rengat

Saat bertemu dengan seorang kenalan di Rengat, aku bertanya tentang tinggalan Kerajaan Indragiri yang masih bisa dikunjungi..  Beliau menyarankan aku untuk menyusuri jalan yang berada di tepi Sungai Indragiri.  Ke arah hulu..  Tak jauh dari jembatan terbesar yang ada di Rengat… , hanya sekitar satu km.

Apa yang ada di sana…?  Sebuah  Rumah Tinggi, yang dulunya merupakan rumah salah satu menteri Kerajaan Indragiri..  Rumah kayu dua lantai ini  cantik, penuh dengan ornamen yang khas Melayu…  Posisinya menghadap Sungai Indragiri, lebih kurang 100 meter dari bibir sungai..

Saat ini, Rumah Tinggi ini  oleh Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu dijadikan Museum Daerah.  Sayang, saat aku sampai di Rengat, sudah hampir jam 17.00.  Jam kerja sudah usai.., tak bisa lagi melihat ke dalam Museum.. Hanyabisa  melihat dari luar…  Hmmm… Semoga di kunjungan berikutnya bisa yaa…

Bolu Berendam Source : www.riaudailyphoto.com
Bolu Berendam
Source : http://www.riaudailyphoto.com

Apa lagi  yang istimewa dari Rengat….?  Kulinernya…  😀

Ada kue yang khas dari Rengat, namanya Bolu Berendam..   Kue ini custome made… Hanya dibuat by order..  Tak ada di toko2 atau penjual kue sehari-hari..  Biasaya hanya dihidangkan di acara pesta-pesta atau selamatan, atau saat lebaran..  Sama dengan kue bolu lainnya., terbuat dari campuran gula, terigu dan telur.. , dibakar dalam oven dengan cetakan kecil-kecil berbentuk bunga..  Lalu apa istimewanya…? Istimewanya, bolu ini setelah matang, direndam dalam larutan gula pasir yang dikasi esence vanilla..  Jangan tanya rasanya… Muaaaannniiiissss bangeeeetttttt….. Bikin ngilu gigi.. Entah siapalah yang menciptakannya..  Entah mengapa lah orang di Rengat suka…  Tak takut diabetes kah mereka…??? 😀

Kue Rengat

Lalu apa yang bisa menjadi buah tangan  kalau kita berkunjung ke Rengat…?

Hmmmmm….. Di Rengat, ada yang namanya Pasar Rakyat Rengat.. Lokasinya di tengah kota.. Tak jauh dari alun-alun kota..  Di pasar tersebut, di bagian tengah, setelah penjual sayur dan bumbu-bumbu dapur, persis sebelum los-los yang menjual bahan makanan kering, teman-teman bisa menemukan penjual berbagai kue khas Rengat..  Antara lain kue bawang, keripik pisang tanduk, kue bolu… Pokoknya heboh laahhh…  Harganya pun tak mahal…,, mulai dari Rp.10.000,- per bungkus..  lupadiet.modeon 😀 ****