Posted in Tukang Jalan

Welcome to KNIA..

KNIA… Apa itu? KNUA akronim dari Kuala Namu International Airport..

Agak membingungkan.., karena di sebagian berita Kualanamu ditulis sebagai satu kata, tapi di sebagian lain dalam 2 kata..l

Sejak awal Juli 2013 yang lalu, nama Kualanamu menjadi nyata dalam kehidupan ku… Ya sejak diumumkan bahwa bandara kota Medan akan dipindahkan dari Polonia ke Kualanamu pada hari Kamis, 25 Juli 2013.  Sebelumnya, nama itu hanya sebuah nama bakal lokasi bandara, yang entah iya jadi, entah tidak…  😀

DSCN2165
Bandara Kualanamu, 11.08.2013

Pengumuman itu terasa mengusik hati… Karena sesungguhnya, sampai hari ini pun aku belum tahu persis di sebelah mana Kota Medan lokasi Kualanamu itu..  Kalau naik mobil ke arah mana, lewat mana…  Apa lagi kalau mengingat betapa dekatnya lokasi Bandara Polonia dari rumah tempat tinggal Papa dan Mama ku..  Hanya sekitar 20 menit yang dibutuhkan untuk menempuh jarak dari Polonia ke rumah, begitu juga sebaliknya..

So, ketika aku tanggal 8 Agustus 2013  berangkat ke Medan untuk berlibur beberapa hari di  rumah, aku untuk pertama kalinya mendarat di Kualanamu.. Welcome to Kualanamu, Sondha… 😀

Pesawat yang aku tumpangi mendarat di Kualanamu sekitar jam 19.30 wib. Sudah gelap gulita…  Hehehee..  Tapi tetap bangunan bandara yang baru tampat besar, megah dan modern..   Penumpang pesawat yang aku tumpangi keluar dari pesawat dengan fasilitas gardabarata, alias belalai gajah, dan masuk ke gedung bandara di lantai 2…  Ini gak ada di bandara Polonia, yang terminal keberangkatan dan kedatangannya semua berada di lantai 1.

Aku mengikut jalan penumpang yang berada di depan ku.. Kami menusuri lorong yang di sisi kanannya terlihat seperti waiting room..  Besar dan tanpa sekat..  Seperti waiting room di terminal 3 Bandara Soetta.  Lalu, kami akhirnya turun dengan escalator menuju lantai 1, ke ruangan pengambilan barang.  Ruangannya besar, lega, dengan fasiltas pengambilan barang yang modern.  Gak terlalu lama, koper ku muncul..

Dari ruang pengambilan barang, aku keluar.. Di dekat pintu keluar terdapat tanda yang menunjukkan arah terminal kereta api, yang belakangan aku tahu diberi nama Airport Raillink System (ARS).  Di situ juga terdapat electronic board yang berisi informasi jadwal keberangkatan kereta dari Stasiun Kualanamu menuju Kota Medan.  Jadwal yang terdekat dengan kedatangan ku jam 20.45 wib.  Sekitar 1 jam lagi..  Aku lalu berjalan menuju halte DAMRI untuk melihat alternatif.  Halte DAMRI berada di lantai 1 juga.  Dari pintu keluar ruang pengambilan barang kita bergerak ke arah kanan..  Jaraknya sekitar 100 meter..

Saat aku sampai di halte DAMRI, terdapat 2 unit DAMRI, yang kedua-duanya bertujuan ke Terminal Amplas..  Jauh dari rumah…  DAMRI yang ke arah Medan Fair Plaza belum ada, dan tak ada petugas yang bisa diminta penjelasan.  Kata salah seorang calon penumpang DAMRI yang sedang menunggu di halte, dari Kualanamu ke Medan Fair Plaza, kalau tdak macet butuh waktu sekitar 1,5 jam.  Kalau macet di daerang Batang Kuis, bisa 2 jam lebih..  Secara, DAMRI nya aja belum kelihatan, dan gak ada informasi kapan datangnya, aku berpikir untuk pilih yang jelas aja…, kereta api..

Aku berjalan ke stasiun kereta api, yang posisinya tepat di seberang pintu keluar bandara… Stasiun nya gueeeelllaaappp.. ada lampu di bagian dalam ajahhh….. Tapi ada petugas di bagian depan stasiun yg mengarahkan kemana kita harus bergerak.. Petugas tersebut memberikan aku selembar jadwal keberangkatan dan kedatangan RAS, sambil mengatakan dengan ramah, “Maaf atas ketidaknyamanan, bu.  Listrik belum semua menyala, sehingga bagian lobby masih gelap.  Untuk pembelian tiket, ibu bisa beli melalui mesin (sambil beliau menunjukkan letak 2 unit mesin pembelian tiket), atau melalui loket (beliau menujukkan loket yang sementara berupa susunan beberapa meja yang dilengkapi komputer, dengan 2 orang petugas).”  Oh ya, petugas tersebut juga memberi tahu bahwa loket pembelian tiket akan ditutup 15 menit sebelum kereta berangkat..

Aku lalu berjalan menuju loket penjualan tiket, dan membeli tiket untuk diri ku.  IDR 80K per orang.  Harga yang menjadi bahasan banyak orang…, karena dianggap mahal…  Tapi menurut aku, lihat dulu lah apa yang diberikan dengan harga segitu, baru bisa dibahas mahal apa enggaknya yaa…

Gate Access Card
Gate Access Card

Setelah membayar tiket, petugas loket memberikan aku 2 buah benda… Yang satu kartu seperti atm untuk akses ke peron, yang satunya selembar kertas yang merupakan boarding pass. Hmmmm…., secara baru pertama, aku gak ngerti gimana membaca boading pass tersebut..  Tapi gak lama setelah aku duduk di lobby, seorang petugas berseragam, mendatangai para calon penumpang, menjelaskan apa informasi yang bisa diambil dari lembaran boarding pass, dan memberi tahu bahwa waktu tempuh Kualanamu ke Stasiun Medan sekitar 37 menit saja,

Boardingpass ARS
Boardingpass ARS

Mungkin buat teman2 yang juga baru pertama, informasi berikut bisa membantu..  No kereta/wagon code , berarti nomor gerbong yang akan kita tumpangi.. K883, berarti kita naiknya di gerbon nomor 3 Nomor kursi/Seat Nr berarti monor tempat duduk kita di dalam gerbong.. Seat ku malam itu nomor 16 D.  Jadi kereta ini benar-benar teratur (semoga akan terus dan selamanya begitu), baik gerbong maupun tempat duduknya..  Sehingga gak pakai sesak-sesakan, dan rebutan tempat duduk..

Akhirnya, sekitar jam 20.30 kami para penumpang dipersilahkan masuk ke area peron dan menaiki kereta..  Untuk masuk ke area peron, kita harus memasukkan kartu ke celah yang tersedia, baru akses masuk terbuka..  Tanda pintu masuk untuk  setiap gerbong juga tertulis jelas..   Di stasiun Gambir, Tugu dan lain2 aja enggak begini, karena posisi berhenti kereta yang datang dan akan pergi tidak fix..

Bagian dalam kereta
Bagian dalam kereta

Kursi di dalam kereta nya tidak mewah, tapi lega dan nyaman.. Keretanya bersih, dengan petugas yang banyak, ramah dan helpfull..  Semoga selalu begini..  Cuma karena mungkin direncanakan buat jarak pendek, tidak tersedia ruang yang besar untuk meletakkan barang-barang bawaan..

Jam 20.40 wib kereta pun berangkat…  On time schedule…  Sepanjang perjalanan juga nyaman, gak pakai berhenti… Jam 21.27 wib, kereta berhenti di Stasiun Medan..  Begitu keluar dari kereta,  penumpang diarahkan menuju escalator, untuk naik ke lantai 2, yang menjadi koridor penghubung antar peron ARS.  Sampai di lantai 2, penumpang yang baru sampai di arahkan bergerak ke arah Jalan Jawa, bagian belakang Stasiun Medan..  Jadi sudah ada pengaturan yang jelas untuk lalu lalang para penumpang..   Penumpang yang akan berangkat menuju Kualanamu, masuk dari jalan Stasiun, yang datang dari Kualanamu keluar di Jalan Jawa…

Naaahhhh, tanggal 11 Agustus 2013, saat akan kembali ke Pekanbaru, aku kembali menggunakan ARS..   Kali ini aku bersama si bungsu Noy yang akan kembali ke tempat tugasnya di Gunung Sitoli, Nias..  Karena Noy jadwal terbangnya jam 14-an, kami  berangkat dari Medan naik ARS yang jam 11.20 wib.  Kali ini lebih hebohhh, karena Noy bawa barang banyak.. Dia sekalian belanja beberapa barang untuk perlengkapan kantor yang gak ada di Gunung Sitoli..  Jadi lah kami berdua berjuang… Tapi gak repot2 banget siyyy.. Di stasiun ARS ada petugas cleaning service yang pakai seragam yang bisa diminta jadi porter.   Seragamnya membuat dia bisa keluar masuk pintu khusus petugas.  Di stasiun Kualanamu yang kami agak kerepotan, karena gak ada troley di stasiun.. Dan sebagaimana di stasiun Medan, kami minta tolong petugas cleaning service stasiun untuk mengambil troley di bandara.. 😀

DSCN2157
Manusia berjejal di escalator menuju lantai 3

Secara tanggal 11 Agustus 2013 adalah puncaknya arus balik… plus, banyak pula yang ke Kualanamu untuk melihat-lihat bandara baru, jadi lah bandara ramai buaaaaannnngggeetttt….  Escalator penghubung lantai 1, ke lantai 2 dan ke lantai 3, check in  area padat…. Luar biasa..  Bahkan ada yang naik escalator masih pakai helm… 😀  Oh ya, secara check in area berada di lantai 3, kalau naik kenderaan pribadi, mobil bisa naik ke lantai 3..  Ada akses jalan..  Tapi parkir teteuuppp di halaman lantai 1.   Belum ada bangunan bertingkat  untuk parkir..

Check-in Area
Check-in Area

Area check in lega.. Beda banget sama Polonia yang serasa terminal bus..  Ada 4 barisan counter check in memanjang, yang masing-masing memuat 12 counter check-n depan belakang.. Jadi lebih kurang ada 92 counter check in, kalau semua berfungsi..  Dan entah karena peak season, saat kami sampai di Bandara sekitar jam 12-an, untuk penerbangan ke Pekanbaru sekitar jam 16.30, sudah bisa check in..  Alhamdulillah… Jadi gak harus duduk manyun di check-in area.. Antrian juga gak panjang-panjang banget..

Selesai aku dan Noy check-in, kami melanjutkan perjalanan di dalam bandara baru ini.. Ternyata, lantai 3 itu semacam entry area untuk masuk ke ruang tunggu yang berada di lantai 2..  Di kiri kanan menjelang pintu masuk ruang tunggu ada banyak gerai makanan dan minuman yang sedang persiapan.. Hanya beberapa yang sudah beroperasi, tapi dalam keadaan minimal.. AW misalnya, beroperasi dalam keadaan gelap gulita.. Demikian juga gerai2 lain…  Oh ya, di lantai 3 ini aku lihat juga ada gerai Old Town yang sedang persiapan..  Semoga nantinya ada jual Curry Noodles seperti yang di Klia yaa…   dasar si tukang makan.. hehehehe…

Menunggu waktu boarding, aku dan Noy serta beberapa teman Noy yang juga akan terbang bareng dengan Noy duduk di sebuiah cafe, yang makanannya masih serba terbatas, karena keterbatasan electricity… Akhirnya kami di situ hanya duduk dan mesan minuman.. Untuk mengisi perut yang keroncongan, Noy bergerilya dan balik2 membawa 2 buah mie cup yang sudah disiram air panas..  Hehehehe..  Btw, duduk di caffe yang dekat pintu masuk ke ruang tunggu ada kelebihannya.. Apa…? Kita bisa melihat ke bagian dalam bandara, pesawat parkir dan hilir mudik..  Juga bisa melihat lalu lintas di lorong ruang tunggu..

Ada satu hal yang menurut aku kurang nyaman di bandara baru yang keren ini.. Tempat wudhu nya gak ada… Mushola di lantai 3 relatif sempit.. di mushola maupun toilet wanita gak ada tempat wudhu. Enggak tau ya di toilet pria..  Menurut aku mushola di ruang tunggu Bandara Polonia lebih representatif.. Tempat wudhunya bagus dan kerannya banyak..

Ruang Tunggu Bandara..
Ruang Tunggu Bandara..

Setelah maksi seadanya, kami masuk ke ruang tunggu..  Ruang tunggu kayaknya secara umum dibagi 3..  Ruang keberangkatan international, Ruang Tunggu Domestik yang dibagi 2..  Masing2 ruang tunggu lega dan tanpa sekat..   Secara jadwal  boardingnya Noy lebih dulu, aku ngikut Noy dulu ke Ruang tunggu 12..  ternyata ruang tunggu 12 itu berada di lantai 1.  Jadi setelah masuk ke pintu masuk ruang tunggu 9 – 12 (satu pintu masuk),  kami turun ke lantai 1, yang tangganya turunnya di dalam ruang tunggu tersebut.. Ruang tunggu 12 ternyata disedaikan untuk penerbangan-penerbangan dengan pesawat yang relatif kecil, yang arus penumpang masuk dan keluar pesawat tidak bisa menggunakan garda barata alias belalai gajah, seperti pesawat wings yang melayani penerbangan Medan – Gunung Sitoli pp.

Karena penerbangan Noy ternyata delay, akhirnya aku 30 menit menjelang jadwal boarding ku, aku naik ke ruang tunggu 9, ruang tunggu untuk penerbangan ku..  Jam 16.30-an, aku pun boarding, lalu terbang ke Pekanbaru…    Alhamdulillah… Senang nya merasakan fasilitas bandara baru yang  sudah mulai lebih nyaman dibanding Polonia.. Meski jauh, dan harus lebih cepat berangkat dari rumah..  Dan kata Noy, kalau dia dari Gunung Sitoli mau ke Jakarta, dia gak bisa memanfaatkan waktu transitnya untuk pulang, ketemu Papa, Mama, bahkan merapikan rambut Mama, seperti yang dia lakukan akhir-akhir ini.. Hmmmm… Semua ada plus minusnya… ***

Aku dan Noy, si bungsu..
Aku dan Noy, si bungsu, di ARS
Posted in Kutu Buku, My Heart

Catatan Hati Seorang Istri

Aku menemukan buku ini pada tanggal 09 Juni 2013 di sebuah rak di TB Gramedia Pekanbaru.. Dan membacanya secara mencicil selama dalam penerbangan2 saat aku liburan ke Thailand pada bulan Juni 2013…

Buku ini merupakan non fiksi yang ditulis ulang, dikompilasi oleh ibu Asma Nadia ..   Aku juga pernah menulis catatan kecil tentang buku ini di FB-ku… , tapi aku akan coba menulis lebih detil di sini..

Seperti yang pernah ku tulis, buku ini memang  bagus utk dibaca, oleh para istri, perempuan yg belum menikah, juga para lelaki.. Kenapa…?

DSCN2119Karena…., menegakkan rumah tangga bukan lah hal yang mudah,.., Dan rumah tangga selalu menjadi ujian besar bagi para istri untuk menggenapkan setengah dari imannya…

Buku ini menceritakan pengalaman para istri dalam menjalani cobaan-cobaan yang terjadi dalam rumah tangga, ketika suami berselingkuh, atau ingin berpoligami, serta langkah-langkah yang telah mereka lakukan untuk menyelesaikan masalahnya.  Tentu penyelesaian dengan jalan yang sesuai aturan agama, dalam hal ini Islam..

Buku ini memberi sisi pandang tentang hal atau situasi yang mungkin tak pernah terbayangkan akan terjadi dalam kehidupan kita para perempuan saat kita memutuskan akan menikah..  Jadi dengan membaca buku ini kita bisa melihat bahwa kemelut yang terjadi bukan hanya pada diri kita..  Kita juga bisa punya referensi langkah-langkah seperti apa yang bisa kita lakukan, tentu dengan penyesuaian terhadap kondisi dan situasi yang terjadi pada diri kita..

Namun….,  di dalam buku ini kita bisa melihat bahwa penderitaan para istri acap kali disebabkan oleh sikap dan tindakan perempuan lain..  Ya..,, ternyata selalu kaum kita sendiri yg menjadi peran pendukung dalam ujian2 yang hadir dalam kehidupan para istri.. Kaum kita sendiri yg menggerogoti, menyakiti hati perempuan lain yang telah berstatus istri…

Ya…, kaum ku, kaum perempuan, kalau jatuh cinta sepertinya sering kali menjadi buta, dan menerima ucapan lelaki yang menjadi kekasih hatinya sebagai kebenaran mutlak..  Si lelaki menjadi matahari, bulan sekaligus bintang di hati dan pikiran, sehingga tak mau membuka mata, hati dan pikiran terhadap kebenaran yang sesungguhnya..  Bahkan menargetkan si lelaki harus menjadi miliknya dengan segala cara, bahkan dengan menutup mata, telinga bahkan hati..

Ini beberapa kisah yang ku tahu pernah terjadi…

1.  Ada perempuan belia, yang begitu tahu kekasihnya ternyata sudah menikah dan punya istri, yang dia lakukan bukan meninggalkan si lelaki dan melanjutkan hidupnya.. Tetapi dia justru mengejar si lelaki, bahkan melakukan tindakan-tindakan yang terus menerus menyakiti hati si istri, dengan harapan si istri sakita dan tak sanggup meneruskan pernikahan…   Astagfirullah al adzim…

2.  Ada perempuan yang bisa berkata pada istri lelaki yang pernah jadi kekasihnya, “Kalau kamu nanti cerai, kasi tau aku, ya…” Astagfirullah al adzim…

2.  Ada juga perempuan yang sudah berusia matang, yang pernah mengalami kegagalan rumah tangga, yang memutuskan tetap menjalin hubungan dengan lelaki yang dia ketahui sudah punya istri..  Bahkan dengan berani menulis status di media sosial, “Pacaran dengan brondong itu biasa.. Pacaran dengan suami orang, itu baru luar biasa dan menantang.”  Innalillahi..

3.  Ada juga perempuan yang setelah tahu bahwa lelaki yang melamar dirinya adalah suami perempuan lain, justru dia bersedia untuk dipoligami.. Saat si istri menolak untuk dipoligami, dan ingin berpisah saja, si perempuan lalu mendekati si istri dengan mengaku sebagai sahabat si lelaki.., Menasehati agar bersabar menghadapi tingkah laku suami, dan tak usah meninggalkan si suami karena permintaan poligaminya.., Dia juga  mengatakan apakah suami akan berpoligami atau tidak itu adalah takdir Allah, dan jangan lah bercerai hanya karena tak mau dipoligami suami..

4.  Ada juga perempuan yang tahu bahwa laki-laki yang mendekati dan melamar dirinya ternyata suami perempuan lain..  Tindakan yang dia lakukan bukannnya pergi, dan mengingatkan si lelaki akan tanggung jawabnya.  Tapi malah menghbungi si istri dan mengatakan ingin bersilaturahmi sebagai sesama istri dari si lelaki.  Gubrrrrraaakkksssss…   Padahal saat itu sebenarnya  dia belum menikah (siri) dengan si lelaki..  Bahkan setelahnya dia mengirim pesan agar si istri bersabar, tetap tersenyum dan melupakan orang yang menyakitinya..  Entah laahh…

Mungkin ada banyak cerita yang lebih mengerikan tentang ujian rumah tangga terhadap para istri..  Tapi apa pun, bagaimana pun itu, sebaiknya kita para perempuan berhati-hati agar tidak berkontribusi menyakti hati para istri..

Di halaman 286 buku ini ada tulisan yang menurut saya bisa jadi masukan bagi para perempuan yang menyatakan dirinya bersedia dipoligami..

“Tentang poligami, harus dilihat… siapa yang melakukannya.  Benarkah poligami tersebut dilakukan seseorang yang memiliki pemahaman agama dan berakhlak baik (implementasi iman)? Bukan sekedar dilakukan orang yang merasa jatuh cinta dan mencari wadah agar maksiat yang mungkin malah sudah terjadi menjadi halal?”

Buku ini juga baik dibaca oleh para lelaki, menurut saya…  Mengapa..?

Agar laki-laki yang katanya berasal dari planet yang berbeda dengan perempuan, bisa melihat dan memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan para istri saat mereka menghadapi perselingkuhan suami atau si suami minta agar diizinkan berpoligami..

Pada halaman 21 – 24 ada tulisan tentang pikiran seorang lelaki tentang poligami…

Menurut lelaki tersebut, “Kalau saya menikah lagi, itu murni karena saya suka dengan gadis itu.  Saya jatuh cinta. Titik.”  Jadi bukan karena untuk melindungi perempuan-perempuan yang semgsara… Atau untuk membantu para perempuan menegakkan imannya…  Sama sekali bukaaaaaaannnnn…..

Tapi kemudian si lelaki juga berkata…

“Jika saya menikah lagi ; pertama, kebahagiaan dengan istri kedua belum tentu… karena tidak ada jaminan untuk itu.  Apa yang di luar kelihatannya bagus, dalamnya belum tentu.  Hubungan sebelum pernikahan yang sepertinya indah, belum tentu akan terealisasi indah.  Dan sudah banyak kejadian seperti itu. 

Yang kedua, sementara luka hati istri pertama sudah pasti, dan itu akan abadi.  …

Sekarang, bagaimana saya bisa melakukan sebuah tindakan untuk keuntungan yang tidak pasti, dengan mengambil resiko yang kerusakannya pasti dan permanen?”

Hmmmm…..

Tapi di dalam buku ini, tak seluruhnya berisi cerita buruk tentang pernikahan bagi para istri..  Ada juga cerita tentang seorang suami yang tidak mau mempoligami atau menceraikan istrinya yang diserang penyakit cacar sehingga kehilangan kecantikan fisiknya…  Ada juga tentang seorang suami yang memilih menduda sampai akhir hayatnya setelah si istri meninggal, karena rasa cintanya, karena kebaikan-kebaikan yang telah diukir sang istri di sepanjang pernikahan mereka..  Ada juga cerit-ceritaa tentang istri yang sangat berduka karena meninggalnya suami yang begitu baik terhadap mereka…

Dari semua catatan yang ada di buku ini, KESABARAN DAN BERPEGANG KEPADA ALLAH adalah jalan dan langkah yang terbaik..  Bila masih banyak kebaikan dari pasangan yang berpotensi untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang, bertahanlah..  Berjuanglah untuk menegakkan rumah tangga.. Namun ketika pernikahan itu hanya mendatangkan kemudharatan, perceraian, tindakan yang halal namun dibenci Allah, bukan lah hal yang tak boleh dilakukan…

Namun…., saya tahu, sangat tahu BERSABAR itu tidak semudah membalikkan telapak tangan…  Tapi kita harus mencoba, mencoba dan mencoba…, meski luka menganga, dan sakitnya tak terkatakan…  ***