Kriya Ajere…

Tanggal 03 September 2011 yang lalu, Nana, adik iparku, mengajak aku membawa Aldy (14th), Abner (8 th), Ajere (3th) dan Ananda (10 th) buat makan malam di Sun Plaza, sekalian Nana mau belanja buat sarapan anak-anak esok hari…  Adik bungsuku Noy menyusul ke sana.  Kami lalu memutuskan untuk makan di Thai Express.., karena kayaknya cukup sesuai dengan selera anak-anak..

Ajere Siregar

Ajere yang sudah duluan makan, hanya duduk menemani abang-abang dan kakaknya makan.. Sementara menunggu, Ajere meminta minuman favorite nya.. : air putih dingin lengkap dengan kepingan es…  😀 Saat abang-abang dan kakaknya sibuk ngobrol menunggu pesanan datang, Ajere juga ikutan memamerkan kecerewetannya.. Lalu saat abang-abang dan kakak menyantap pesanan masing-masing, Ajere sibuk sendiri…  Ngapain dia…???

Ternyata Ajere benar-benar sibuk sendiri… 😀   Dia bermain dengan  tissue yang disediakan pelayan resto bagi setiap pesanan makanan..  Jere membasahi tissue-tissue dengan embun yang muncul di sisi luar gelasnya yang berisi air dingin dan es..  Terkadang dia membasahi tissue-tissuenya dengan air yg muncul di bagian bawah gelasnya..  Lalu menempelkan tissue-tissue basah itu di dinding luar gelas…  Kami membiarkan Ajere sibuk sendiri, tidak menggangu apalagi melarang…  Setelah selang waktu beberapa lama,  Noy bertanya…

Noy : Bikin apa, Jer?

Ajere sambil menunjuk tissue-tissue yang menempel di dindingluar gelas : Ini aku……!!!

Kami lalu memperhatikan wujud tissue-tissue yang telah ditempel-tempelkannya di dinding gelas..  Ooooouuuuuu….., ternyata memang wujudnya seperti seorang anak  yang sedang memeluk gelas tersebut…. Keren…

Ajere sambil menunjuk bagian yang wujudnya seperti kepala : Ini rambutnya……

Hahahahaha…..

Honestly aku tertakjub-takjub… Anak usia 3 tahun 4 bulan, sudah mampu mengekspresikan imaji nya ke dalam wujud yang juga bisa ditangkap oleh indra orang dewasa… Dia mampu berkriya.. She’s really smart kid…

Melihat Ajere seperti ini mengingatkan aku pada Training ESQ Parenting yang aku ikuti pada bulan May 2011 yang lalu…

Di training itu dikasi tahu kalau setiap anak manusia terlahir dengan sekian milyar sel-sel syaraf yang berpotensi menjadi kecerdasan.. Kecerdasan itu terbentuk saat sel-sel syaraf terhubung-hubungkan… Dan pada saat sel-sel syaraf terhubungkan, anak akan beraktivitas yang terkadang tidak kita pahami…, dan acap kali reaksi kita para orang tua adalah dengan kejengkelan, kemarahan.. Padahal reaksi kejengkelan dan kemarahan kita itu bisa membuat anak terkejut, dan menyebabkan proses penyabungan sel-sel syaraf itu terhenti, bahkan menciut…, sehingga kecerdasan tersebut batal terbentuk….  So, kita harus lebih peka, lebih sabar dan mengerti sehingga mampu memberi kesempatan bagi anak-anak untuk membangun kecerdasannya…   Mari teman-teman kita beri kesempatan bagi anak-anak kita untuk masa depan mereka yang lebih baik, lebih bahagia…. ****

Mencoba Pola Baru….

Aku mencoba pola baru…, pola makan dan juga kegiatan harianku… Pola lama bagaimana, pola baru gimana…? Kenapa harus dirubah….???

my lunch box..

Pola lama…, pola yang sudah aku jalankan sejak pertama kali kerja, tahun 1993-an..,enggak  pernah bawa bekal ke kantor… Makan semau dan seadanya  pas jam makan siang datang…  Klo lagi pengen dan punya energi, bisa pergi makan kemana-mana…  Tapi klo lagi gak pengen, atau gak sempat, ya pesan aja ke warung makan yang ada di sekitar kantor..

Naaahhh di Pekanbaru, warung makan sebagian besar dimiliki oleh saudara-saudara kita dari Sumatera Barat yang makannya acap kali bersantan dan banyak minyak…  Secara aku udah berusia 18 tahun dan nyaris 26 tahun pengalaman, hehehe, tubuh tidak lagi seperti dulu, yang bisa menerima apa aja..  Memakan santan yang terlau pekat aja bisa bikin tubuh gak nyaman… That’s why aku memutuskan untuk merubah pola…

Tapi menjalankan pola baru ini tidak semudah membalikkan telapak tangan..  Rasa malas, gak mau repot sering kali menggoda… 😀

my another lunch box

Untuk menguatkan hati, aku memesan lunch box pada seorang teman yang menjadi agen Tupperware di lingkungan kantor…  Tapi ternyata setelah aku memesan barang, temanku itu cuti, sehingga barang pesanan tertunda sampai pada ku… Jadi punya alasan dehh buat menunda perubahan pola… 😀

Lalu, hari Sabtu 24 September yang lalu.., saat jalan-jalan dengan Mama di Brastagi Pasar Buah di Medan, aku melihat berbagai jenis lunch box keluaran Lock & Lock..  Setelah berdiskusi dengan Mama akhirnya, aku pun menenteng pulang satu set lunch box yang manis…

Maka sejak Senin 26 September, aku memulai pola baru, yaitu setelah sholat subuh, aku masak sendiri makanan untuk makan siang ku.. Diolahnya tidak menggunakan santan dan sedikit minyak..  Lalu makanan itu dikemas dalam lunch box yang lucu, sehingga menjadi sesuatu yang menyenangkan…, dan ternyata memang menyenangkan.. Semoga akan selalu begini yaaa.., agar kesehatanku menjadi lebih baik, dan hidupku juga lebih sehat dan berwarna…  Hehehe…

sup sayur dan makaroni, ikan disambel, plus cah cai sim dan jagung muda...

Ini contoh jatah makan siang made by my self… ***

 

 

Be grateful, please…

Beberapa waktu yang lalu, aku melihat di sebuah status seorang teman di FB tertulis “Janganlah kau bersedih, cause everything’s gonna be ok”.  Aku tahu itu adalah kutipan lirik dari lagu Bondan featuring Fade 2 Blade…

Status itu membawa pikiranku melayang… Melayang ke suatu waktu di rumah ku yang mungil…

Ketika itu di suatu pagi di akhir pekan  aku sedang duduk termangu-mangu di kamar tidur ku..  Aku sedang merasa betapa kehidupan ku jauh dari sempurna… : di usia ku yang lebih dari 4 dasa warsa, aku belum menikah, apalagi punya anak.., aku hidup sendirian, jauh dari keluarga yang menyayangi aku, aku bekerja di lingkungan yang relatif tidak bersahabat… Rasanya hidup begitu menyedihkan, begitu sepi, begitu hopeless…  Terlintas dalam pikiran ku siapa yang akan menemani aku saat tua nanti, siapa yang akan mengurus aku…  Terlintas lagi dalam pikiran ku sampai kapan aku harus menghadapi lingkungan yang tak cukup ramah…

Tiba-tiba terdengar sapaan Mak Uo (seorang ibu yang berusia 50 tahunan yang datang 3 kali seminggu untuk menyetrika di rumahku) yang sedang menyetrika di ruang di depan kamar ku… “Bu…, ibu mengapa…? Apa yang ibu pikirkan? Apa yang ibu sedihkan, sampai ibu termangu-mangu begitu…?”

Lalu Mak Uo melanjutkan, “Coba ibu lihat saya ini…  Saya seumur hidup kerja banting tulang…, mencuci, menyetrika dari rumah ke rumah untuk menyekolahkan anak, dengan harapan akan membuat keadaan keluarga akan lebih baik..  Tapi setelah anak lulus sekolah, dapat pekerjaan yang baik, tak lama dia sakit, lalu meninggal.  Mau bagaimana saya lagi.. Sudah saya usahakan semampu saya, tapi Allah berkehendak lain.  Apa lalu saya harus bersedih, apa saya lalu haris menjadi tidak taqwa…?  Coba ibu lihat diri ibu…  Ibu masih punya keluarga, ada orang tua yang sayang sama ibu, ada kakak dan adik yang peduli sama ibu, ibu punya rumah, ibu ada kendaraan yang memudahkan langkah ibu, ada pekerjaan yang baik, ada penghasilan yang membuat ibu masih bisa memilih mau makan apa hari ini.. Mengapa juga ibu harus bersedih? Soal jodoh, anak semua sudah ada garisnya.. Serahkan saja kepada Allah, bu..

Ucapan Mak Uo menarik ku dari pikiran yang nelongso… Astagfirullah…  Betapa pikiran negatif membawa aku menjauh dari kenyataan bahwa aku punya begitu banyak…, bahwa aku seharusnya bersyukur… bahwa apa yang belum ada tidak seharusnya membuat aku lupa akan apa yang telah ada, serta mensyukurinya…  I was forget to be grateful  …

Status seorang kenalan itu juga mengingatkan ku akan video clip ini.. Video yang dikirimkan Nana, adik ipar ku melalui bbm beberapa waktu yang lalu.. Clip yang akan menggugah kesadaran bagi orang-orang yang mau mendengarkan kata hatinya sehingga menimbulkan rasa syukur di dada….

Silahkan ditonton teman2… Semoga membawa kebaikan, terutama rasa syukur d hati kita, ya..***

Martabak Piring…

Aku dan Penjual Martabak Piring…

Martabak piring… Teman-teman dah pernah dengar, belum…?  Aku sebelumnya juga gak pernah dengar.. Aku siyy tahunya martabak mesir, martabak telor, martabak kubang, martabak bangka dan  martabak terang bulan…

Aku  mengenal makanan ini saat liburan lebaran lalu di Medan..  Adikku Ivo yang ngajak aku dan Nana, iparku, untuk mencoba menikmati makanan yang satu ini…

Apa siyy sebenarnya martabak piring..? What kind of food…??? Heehehehe..

Martabak piring bahan bakunya sama dengan martabak terang bulan atau martabak bangka.. Bedanya apa…?

Perbedaan pertama martabak terang bulan dan martabak bangka dimasak di pan martabak yang terbuat dari bahan kuningan tebal dan besar.., sedangkan martabak piring dimasak dengan menggunakan piring kaleng yang biasa digunakan di rumah-rumah zaman bahuela sebagai wadah..

martabak dimasak dengan piring sebagai wadah memasak..

Pebedaan kedua, adonan martabak terang bulan dan martabak bangka tebal, sedangkan martabak piring tipis, sehingga hasilnya lebih menyerupai crepes..

Aneka rasa…

Soal isi…, sama seperti martabak bangka dan terang bulan.., ada beberapa pilihan.. Ada isi coklat, kacang, keju, dan coklat kacang,…  Teman-teman tinggal pilih sesuai selera… Tapi beneran rasanya maknyussszzzz…  Klo gak percaya lihat gimana ekspresi Nana saat menikmati martabak piring… hehehe…

Makkknyyyuuussszzzzz…..

Dimana kalian bisa menemukan martabak ini…??? Di Medan, di pertigaan jalan Selat Panjang dan jalan Bogor… Silahkan dicoba kalau teman-teman ke Medan ya… ***

Berkunjung ke Istana Maimoon….

Istana Maimoon adalah salah satu peninggalan Kerajaan Melayu Deli yang terdapat di Kota Medan…  Buat aku berkunjung ke istana ini pada tanggal 01 September 2011 yang lalu merupakan perjalanan yang sangat istimewa..  Mengapa….?

Karena aku tidak pernah tahu dan ingat kapan pertama kali aku menginjak Kota Medan dan melihat istana yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso ini..  Ya, sejak masih bocah cilik mentik aku sering sekali ke Medan.. Aku tidak bisa lagi menghitung dan mengingat berapa kali aku ke Medan dan melihat istana ini. Bahkan sebelum kelas 4 SD boleh dibilang setengah dari hari-hari ku, aku berada di Medan dan setengahnya lagi di Pekanbaru.. Tapi, dari kunjungan yang entah berapa kali dan sejak usia sangat belia itu….., AKU BELUM PERNAH BERKUNJUNG KE ISTANA MAIMOON sampai tanggal 01 September 2011 itu..  Aneh yaaa….???

Istana Maimoon, 01 September 2011

Tapi aku yakin, I’m not the only person on the world yang mengalami begini…, terutama di Indonesia… :D.  Karena kita memang lebih sering memandang sesuatu yang jauuuhhhh…., tapi kurang aware dengan sesuatu yang ada di sekitar kita, sesuatu yang dekat dengan jangkauan pandang kita…  Buktinya, ada pepatah orang tua-tua kita yang bilang  “Semut di seberang lautan nampak, tapi gajah di pelupuk mata tak terlihat”.  Rasanya pepatah ini tak hanya bisa dimaknai “lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada kesalahan diri sendiri” tapi juga bisa dimaknai sebagai “lebih terhadap menghargai apa-apa yang jauh dari diri kita, tapi abai terhadap apa yang ada di sekitar kita…”

Menurut aku, sudah saatnya kita harus berubah… Kita harus lebih menghargai warisan (heritage)  leluhur kita, menyisihkan waktu untuk mengapresiasinyaerap nilai-nilai luhur yang terpahat di tinggalan-tinggalan tersebut…

Buku Sejarah Singkat Istana Maimoon…

Menurut buku Sejarah Singkat Istana Maimoon yang dijual pengelola istana seharga Rp.15.000,- / eksemplar, Kerajaan Melayu Deli bermula dari Kerajaan Aru di abad 16, yang ditaklukkan  oleh pasukan Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Panglima Hisyamuddin seorang keturunan Hindustan pada tahun 1612.  Panglima ini lah yang kemudian diangkat oleh Sultan Iskandar Muda dari Kerajaan Aceh sebagai wakil kerajaan untuk wilayah Sumatera Timur dengan gelar Tuanku Panglima Gocah Pahlawan.  Selanjutnya wilayah tersebut menjadi Kerajaan Deli dan Tuanku Panglima Gocah Pahlawan menjadi Sultan Deli I.

Selanjutnya, setelah generasi demi generasi berganti.., ibu kota kerajaan pun berkali-kali berpindah lokasi.   Bersama dengan kejayaan dan kemakmuran Kerajaan Deli dari perdagangan tembakau,  Sultan Deli IX, Sulthan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang memerintah tahun 1873 – 1924, memindahkan ibu kota kerajaan dari Labuhan Deli ke Medan dan mendirikan Istana Maimoon mulai tanggal 26 Agustus 1988 dan diresmikan pada tanggal 18 Mei 1891.

Menurut buku Sejarah Singkat Istana Maimoon, Istana  yang bernuansa Persia, India dan Eropa ini mempunyai luas 2.772 m2 di atas lahan seluas 217 x 200 m2, yang biaya pembangunannya menghabiskan dana sebesar Fl.100.000.  Ada pun arsiteknya adalah seorang tentara KNIL yang bernama  Kapten TH. van Erp.

Selain membangun Istana Maimoon, Sulthan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah ini juga membangun Masjid Raya Al Mashun pada tahun 1906.  Berrdasarkan catatan di rumah peninggalan Tjong A Fie,  Kapitan masyarakat Tionghoa di Medan pada zamannya itu, pembangunan masjid raya tersebut pendanaannya dibantu oleh Tjong A Fie…

Beratus-ratus bahkan mungkin beribu kali melintasi jalan di depan Istana Maimoon memang menghadirkan kesan akan adanya warisan budaya di situ, tapi kesannya tidak sekuat ketika kita melintasi kawasan Keraton Yogya atau Keraton Solo, hal ini mungkin karena eksistensi Keluarga Kerajaan Deli di masyarakat tidak lagi sekuat keluarga Keraton Yogya dan Keraton Solo…

Begitu memasuki halaman istana, kita bisa merasakan adanya sisa-sisa kejayaan masa lampau yang kurang terawat :  rumput yang tinggi, halaman yang tak tertata baik.. Bahkan tempat parkir pengunjung pun tidak cukup representatif…  Aku cukup kebingungan saat mau memarkirkan mobil, karena lokasi parkir tidak teduh, sementara istana yang berundak-undak tidak memungkinkan Mama yang menggunakan kursi roda untuk ikut masuk ke istana. Setelah berdiskusi dengan Mama, aku akhirnya memarkirkan mobil dekat “green house” penjual bunga yang ada di halaman istana..  Mobil diparkir dengan mesin dan AC tetap menyala, jendela di sisi tempat duduk Mama yang dekat “green house” dibuka separuh…  Jadi selama menunggu kami mengunjungi  istana, Mama bisa menikmati pemandangan bunga-bunga yang ada di “green house”.  Setelah membuat Mama dalam kondisi yang agak nyaman, aku pun berjalan menuju istana, menyusul rombongan Mami Nana, kak Erni dan anak-anak yang sudah aku turunkan di depan pintu masuk istana sebelumnya..

Tangga masuk istana serta prasasti pembangunan istana..

Untuk masuk ke istana yang bernuansa kuning dan hijau ini, kita harus melewati sederetan anak tangga… Yaa…, istana ini merupakan rumah panggung.., karena berada tak jauh dari Sungai Deli yang  membelah Kota Medan..  Di bagian kaki pilar terbawah tangga istana terdapat prasasti 2 prasasti.  Prasasti di pilar sebelah utara berbahasa Belanda yang bertuliskan tanggal pendirian istana ini.., sedangkan di pilar bagian selatan terdapat prasasti bertulisan Arab.

Di ujung tangga istana, kita akan sampai di beranda istana yang cukup luas dan sangat nyaman… Beranda ini menyatu dengan balkon-balkon yang cantik…  Aku membayangkan betapa menyenangkannya beranda ini untuk duduk-duduk santai bagi Sultan dan keluarganya, sambil menikmati teh di pagi dan sore hari….

Teras dan Balkon  Istana….

Dari teras, kita bisa mencapai ruang penerima tamu.. Di ruang ini hanya tersisa 2 buah sofa tua di sisi selatan dan lemari antik khas China di sebuah pojok di sisi utara.. Selebihnya hanya ada beberapa buah foto-foto di dinding…  Dari ruang penerima tamu ini kita bisa menuju ruang yang besar, yang di sisi utaranya terdapat singgasana Sultan, dengan nuansa kuning dan hijau…  Tak banyak yang tersisa di ruang ini, hanya ada beberapa furniture dan lukisan para Sulthan dan keluarganya..

Interior Istana….

Dari ruang besar kita bisa mencapai bagian belakang istana.. Bagian belakang in digunakan untuk penjualan souvenir, juga untuk berfoto bagi pengunjung yang ingin berfoto menggunakan baju kerajaan..  di ruang belakang ini pula terdapat sepasang kursi kerajaan…

Istana ini indah…, terlalu indah untuk diabaikan oleh zaman…

Untuk lebih bisa mengenal dan menikmati tinggalan budaya yang satu ini, ada baiknya teman-teman menyediakan waktu untuk berkunjung ke sini bila teman-teman ke Medan… Tiket masuknya sama sekali tidak mahal sama sekali.. Kalau tidak salah Rp.1.000,- per orang saja..***

Bergaya di Istana…

Berkunjung ke Museum Rahmad…

@ Museum Rahmat….

Museum Rahmat…?  Teman-teman pernah dengar atau berkunjung ke museum ini…? Yaaa, bener museum ini adalah wildlife museum yang memamerkan koleksi berbagai jenis binatang hasil buruan pak Rachmat Shah yang diproses sedemikian rupa sehingga bisa dipamerkan..  Museum ini berlokasi di jalan S. Parman di Medan, lokasi yang gak asing sama sekali buat aku.  Karena kalau aku lagi pulang ke Medan dan “driving Mrs. Annie” alias bawa Mama jalan-jalan, sering kali lewat di depannya…  Bahkan lokasi museum ini tepat berada di seberang rumah Opungnya Monda, rumah kerabat yang kerap aku kunjungi saat usiaku sangat belia…

Kami berkunjung ke museum tersebut beramai-ramai… : 4 orang dewasa, 1 remaja, 3 kids dan 1 balita..   Harga tiket masuk per orang Rp.35.ooo,-

Kami lalu menyusuri ruang demi ruang… Hmmmmm, museum ini benar-benar sebuah rumah yang dialihfungsikan menjadi museum, yang memamerkan hasil buruan pak Rachmat, sang pemilik dari segala penjuru dunia…

Aldy & Enek menikmati Museum Rahmat..

Ini tempat yang cukup baik untuk mengenalkan keanekaragaman hayati, agar kita semakin mencitai hutan dan alam, serta mau berpartisipasi dalam pelestariannya, meski dengan langkah yang kecil sekali pun yang mampu kita lakukan…  Oh ya, meski sederhana, di Museum ini juga ada Safari Night nya lho…  Silahkan teman-teman berkunjung juga bila teman-teman ke Medan… ****

Menikmati Museum Rahmat dan Night Safarinya….

Weekly Photo Challange : Texture

Untuk menjawab tantangan Weekly Challange minggu ini yang berjudul Texture, aku mengupload 3 buah fot0 batu karang di Pantai Kuta Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat..  Berbeda dengan Pantai Kuta di Pulau Bali yang pantainya datar dan hanya berpasir…pada pantai Kuta Lombok ini terdapat tanjung yang terdiri dari batu karang beraneka warna dan tekstur, serta pasir pantai yang butir-butirnya seperti butiran merica (pepper)…  Salah satu tanjung di pantai ini diberi nama Tanjung An..

Tekstur yang kasar dari batu karang berwarna hitam yang terkikis ombak…

Batu karang dengan tekstur yang juga kasar, namun warnanya bergradasi dari hitam ke coklat susu…

Batu karang yang kasar, batu yang besar, kerikil dan pasir… Beraneka tekstur…

Age is Not Just Lived, but Survived..

Beberapa bulan yang lalu, saat kami bertemu di Medan, adikku David menyuruh aku untuk melihat sebuah video clip di BB-nya… Aku gak bisa menahan air mataku menetes saat melihat clip tersebut.. Video clip apa…?  Tentang apa…

Itu video clip tentang harapan orang tua (Parent’s Wish) pada anak-anaknya di usia senja mereka..  Teman-teman bisa lihat video itu di sini…

 

A PARENT’S WISH FOR THEIR CHILDREN DURING THEIR OLD AGE

 To my dear child,
On the day when you see me old, weak and weary..
Have patience and try to understand me,
If I get dirty when eating,
If I can not dress on my own,
Please bear with me and remember the times I spent feeding you and dressing you up..
If, when I speak to you I repeat the same things over and over again,
Do not interupt me, Listen to me..
When you were small, I had to read to you the same story a thousand and one times until you went to sleep..
When I do not want to have shower, neither shame nor scold me…
Remember when I had to chase you with your thousand excuses to get you to shower?
When you see my ignorance on new technologies,  give me the necessary time and not look at me with your mocking smile..
I taught you how to do so many things,
To eat the right foods, to dress appropriately, to confront life..
When at some moment I lose the memory or the thread of our conversation,
Let me have the necessary time to remember..
And if I can not, do not become nervous..
As the most important thing is not our conversation,
But surely to be with you and to have you listening to me…
If Iever I do not feel like eating, do not force me..
I know well when I need to and when not to eat..
When my tired legs give way and do not allow me to walk without a cane,
Lend me your hand..,
The same way I did when you tried your first faltering steps..
And when someday I say to you that I do not want TO LIVE ANYMORE..,
THAT I WANT TO DIE…
Do not get angry.. Some day you will understand..
Try to understand my age is not just lived but survived..
Someday you will realize..
That despite my mistakes, I always wanted the best for you..
And I tried to prepare the way for you..
You must not feel sad, angry nor ashamed..
For having me near you..
Instead, try to understand me and help me.. like I did when you were young..
Help me to walk..
Help me to live the rest of my life with love and dignity…
I will pay you with a smile and by the immense love I have always had for you in my heart..
I LOVE YOU MY CHILD..
 –          Your Loving Parent –
 

Larik-larik kalimat di video itu so touching buat aku.., karena aku merasakannya beberapa tahun  terakhir ini…

Papa & Mama di Hillpark, Sibolangit, 02 September 2011

Setelah serangan stroke di pertengahan Juni tahun 2007, Mama menjadi begitu membutuhkan uluran tangan, perhatian dan pengertian serta dukungan dari anak-anaknya..  Beliau yang biasanya begitu sangat mandiri, gesit menjadi harus terikat dengan kursi rodanya..  Telapak tangan kanan menjadi sulit untuk dibuka, bahkan digerakkan.. Kaki kanan juga menjadi sulit untuk digerakkan..

Perubahan yang terjadi membuat psikologi Mama menjadi lebih sensitif, cenderung menuntut perhatian dan penerimaan atas keputusan-keputusan yang diambilnya.  Efeknya bahkan bisa membawa kesabaran anak-anaknya ke tepi jurang…  Tapi justru di saat-saat seperti itulah kami anak-anaknya mendapat kesempatan belajar melebarkan rentang kesabaran kami.., belajar untuk menepiskan pikiran tentang apa nanti pendapat orang, apa nanti penilaian orang..  Yang penting itu tidak melanggar norma agama, dan itu memberikan kenyamanan bagi ibu kami..

Kami belajar untuk menikmati saat-saat membahagiakan Mama dengan mendorong wheelchair nya ke tempat-tempat yang Mama mau..  Kami belajar untuk mengikuti kehendak beliau walau terkadang berkesan tak praktis bagi yang berusia lebih muda dan gerak tak terbatas…  Kami belajar untuk menikmati acara Driving Mrs. Ani, alias membawa Mama berjalan-jalan keliling kota Medan,  di saat kami pulang ke rumah, karena hanya itulah satu dari sedikit kesenangan hidup yang masih bisa beliau nikmati…

Melihat Mama berjuang untuk  masuk ke toilet agar bisa mandi sendiri, dan hanya minta dibantu untuk menggosokkan punggung dan kaki-kaki yang tak bisa dicapainya sendiri, menghadirkan rasa kagum yang luar biasa atas semangat, atas ketegaran menerima keterbatasan yang terjadi pada dirinya…  

Tapi satu kalimat yang sangat luar biasa dari clip itu buat aku adalah… age is not just lived but survived.   Usia yang panjang bukan hanya sekedar hidup tapi juga hasil dari kemampuan untuk survive menghadapi cobaan kehidupan, baik cobaan yang bersifat fisik maupun phisikis… Tekanan berupa perubahan kemampuan fisik sejauh ini dapat dihadapi Mama dengan mental yang kuat… She’s really extra ordinary woman… Kerap aku bertanya dalam hati, “Mampu kah aku setegar Mama bila keterbatasan itu menimpa ku… ?”  Sungguh aku berharap Allah memberikan yang terbaik bagi aku, bagi orang tua ku, bagi saudara-saudara ku, bagi sahabat-sahabat ku, bagi setiap manusia dan makhluk di muka bumi…

I love you so much, Mom…!!!

Weekly Photo Challange : Path

Ini untuk pertama kali aku membuat postingan untuk menjawab tantangan Weekly Photo Challange.  Kebetulan temnya kali ini “path”.. Aku mencoba mengamati arsip photo-photo yang masih tersimpan.. Pilihanku memang tidak banyak setelah aku kehilangan external harddisk setahun yang lalu karena tas tempat aku menyimpan berbagai peralatan kerja, termasuk external harddisk di dalamnya, dirampok di pinggir jalan..

Aku lalu memutuskan untuk menampilkan dua photo, photo-photo yang aku buat tanggal 14 Agustus 2011 yang lalu.
Photo yang pertama adalah photo ini..

Tangga 40, Jalan Simangambat, Sipirok

 Photo ini photo  jalan menuju ke sebuah rumah yang berada di tebing, tepat di seberang rumah Opung saya di jalan Simangambat, Sipirok.  Karena rumah tersebut berada di tanah yang berbeda ketinggian berbelas meter dari jalan raya, jalan menuju rumah tersebut berbentuk tangga..  Penduduk sekitarnya menyebut tangga ini sebagai TANGGA 40.  Aku pernah menghitungnya berkali-kali, aku lupa persisnya berapa jumlah anak tangga yang ada, tapi yang pasti BUKAN 40… 😀

Tangga ini dulu merupakan salah satu tempat nongkrong aku dan saudara-saudaraku saat kami liburan dan mengisinya dengan berkunjung ke rumah Opung..  Dari tangga ini kita dapat melihat aktivitas di teras dan ruang tamu rumah Opung yang pintunya selalu terbuka di siang hari..  Ceritanya mantau, gitu…  Jadi kita bisa tahu siapa yang mau pergi kemana, biar bisa ngikut…  Dari tangga ini kita juga bisa mendengar orang-orang dewasa memberitahukan bahwa makanan sudah siap dihidangkan di meja makan…, sehingga kami bisa segera turun dari tangga dan masuk ke rumah untuk menyerbu makanan yang serba hangat…  Ahhh indahnya liburan masa kecil di Sipirok…

Photo yang kedua, adalah photo ini…

Jalan Setapak di Sibadoar....

Photo ini adalah photo jalan setapak di kampung asal Papa ku, Sibadoar,  sebuah desa sekitar 3 kilometer dari Pasar Sipirok, Kecamatan Sipirok, ke arah Simangambat.  Jalan setapak ini telah disemenisasi.., namun salah satu fungsinya yang tidak berubah sejak bertahun-tahun yang lalu adalah sebagai tempat menjemur hasil pertanian penduduk kampung.., bisa berupa padi, kopi, cengkeh dan juga kemiri..  Pada saat-saat seperti ini, aroma padi, kopi  dan cengkeh yang khas akan menghampiri penciuman kita bila kita menyusuri jalan setapak ini menuju rumah-rumah yang berada di sepanjang jalan setapak ini…  Photo ini mampu menggugah rasa rindu ku untuk kembali berkunjung ke kampung, tanah asal leluhurku.., semoga jadi bisa menggugah orang-orang yang juga berasal dari Sibadoar yaa..  Atau juga menggugah orang yang bukan berasal dari Sibadoar untuk berkunjung ke sini..  Semoga..  ***

Breakfast with India Cuisine at Warung Sun

Di salah satu pagi selama liburan di Medan, adik ipar ku Nana yang hobby-nya wiskul alias wisata kuliner mengajak aku berburu sarapan di Jalan Darat, salah satu lokasi sarapan d i Medan yang direkom salah satu website yang disusurinya…  Aku pun menjalankan mobil kami menyusuri jalan S. Parman dari arah Cambride Mall… Tapi ternyata aku telat belok kanannya… uhehehehe…  Dari pada mutar gak tentu arah, aku lalu mengarahkan mobil ke jalan Sudirman dan belok ke daerah Kampung Keling, Jalan Cik Di Tiro..  Maksudnya sarapan di Warung Kak Lin, penjual lontong Medan yang top markotop itu aja…  Tapi apa daya ternyata Warung Kak Lin masih tutup dalam rangkaian libur lebaran..

Warung “pinkie” SUN

Kami lalu melanjutkan perjalanan menyusuri jalan Cik Di Tiro…, di sisi kanan jalan kami melihat sebuah warung sederhana berwarna pink, genit… di etalase yang menghadap jalan terdapat tulisan “SUN”, dibawahnya “martabak telor, martabak mesir, roti jala, roti cane, kari kambing, kari ayam”.  Mama ku alias Enek yang duduk di jok depan, menyarankan kami untuk mencoba warung yang sepertinya menyediakan India Cuisine itu…

Aku lalu menepikan mobil dan para penumpang pun turun…

Kami lalu menanyakadetil makanan yang ditawarkan.. Setelah berpikir dan menimbang.., kami memesan 2 porsi martabak telor.. Dan untuk anak2 yang senang mie, kami memesan 1 porsi mie goreng…

Ternyata oh ternyata, martabaknya uenaakkk…, rasanya cukup spicy.. gak kalah dengan martabak Gafa kegemaran Enek yang di jual di parkiran Pasar Buah Brastagi di Jalan Gatot Subroto.. Mie gorengnya….? Hmmmm, gak terlalu istimewa.. STD laahh yaaa…

Sayang warung ini tidak menyediakan Nasi Briyani, india cuisine favorite ku..  Kata pemilik warung, kalau mau makan Nasi Briyani, beli di restaurant Cahaya yang lokasinya di depan Warung Sun.. Kapan-kapan nyoba ahh…

Tapi kalau teman2 pengen mencoba martabak, sambil sarapandengan santai di warung sederhana di Kamung Keling, Warun Sun bisa jadi alternatif…  Silahkan dicoba yaaa…***

Putu Mayong……

“Mayyyoooonngggg…… Putu mayyyoooonnnggggggggggggg……………” “Maayyyyoooonnnngggg…..  Putu mayyyyoooonnnnggggggg…………….”  Adalah larik-larik teriakan yang acap ku dengar saat aku masih sangat belia…, di usia ku sekitar 5 sampai dengan 10 tahun…  Suara siapa, dimana, maksudnya apa…?

Penjual Putu Mayong…

Teriakan itu adalah teriakan perempuan keturunan Tamil (salah satu suku India, yang banyak di Medan) yang menjual kue putu mayong (= putu mayang), yang biasanya berdagang keliling di daerah pemukiman di kawasan Medan Baru, daerah rumah Nenek, tempat aku melewati sebagian masa kecilku…

Biasanya perempuan keturunan Tamil India itu membawa dagangannya yang diletakkan dalam tampah atau nyiru yang dilapisi lembaran-lembaran daun pisang… Saat jualan keliling daerah perumahan, tampah atau nyiru itu biasanya dijunjung di kepala… Adapun stok panganan yang mau dijual plus pelengkapnya dibawa dalam keranjan plastik yang dijinjing…

Apa itu putu mayong …? Putu mayong adalah jajanan khas masyarakat keturunan India di Medan, berupa kue dari tepung beras yang diolah sedemikian rupa dan dikukus sehingga bentuknya seperti segumpalan bihun..  Bedanya dengan putu mayang yang sering kita temukan di daerah lain di Sumatera, Jawa dan Kalimantan, putu mayong warnanya putih, dan tidak dihidangkan dengan kinca alias cairan santan yang dicampur gula aren..

Terus dihidangkan dengan apa…?  Putu mayang yang rasanya tawar itu biasanya dihidangkan bersama cenil dan gula aren yang dicairkan… Apa itu cenil…? Cenil adalah hasil olahan singkong yang diberi pewarna makanan sehingga berwarna pink..  Biasanya cenil dihidangkan dengan baluran kelapa parut…  Putu mayong dan cenil yang diberi cairan gula aren biasanya dihidangkan dengan wadah daun yang dibuat seperti pincuk…  Rasanya….? Uenaaaak…. Hehehehe…

Biasanya selain jual putu mayong, si penjual juga menyediakan lupis dan serabi..  Khusus serabi biasanya dihidangkan dengan kinca yang kental…

membungkuskan lupis dan serabi…

Pada saat ini putu mayong dan pedagangnya sudah tidak mudah untuk ditemui…  Bahkan dalam kunjunganku yang beberapa kali setahun ke Medan aku tak pernah melihatnya, apa lagi mendengar teriakan merdu “Mayoooonnnngggggg…………… Putu Mayooooooooooooooonnngggg……….”.  Terus terang aku rindu… Aku telah merasakan aneka ragam makanan yang jauh lebih bervariasi dalam rasa dan tampilan, tapi putu mayong dan cenil tetap menghuni lubuk hati ku…  Keduanya mampu membawa kenangan akan episode masa kecil yang bahagia di rumah Nenek di Medan Baru…

Naaahhhh…., pas hari lebaran, 31 Agustus 2011, aku maik motor dengan adik ku Ivo untuk suatu keperluan…   Gak jauh dari rumah, di traffic light di sekitar jalan Sei Wampu, kami melihat seorang perempuan Tamil melintas dengan menjunjung tampah dan membawa keranjang plastik di salah satu tangannya.., tapi tanpa suara…, tanpa teriakan apa pun..   Aku lalu menyapa…, menanyakan apa yang dia jajakan…  Dia bilang, “putu mayong”..  Aku lagsung meminta dia mencari tempat untuk berhenti dan membuka dagangannya.., sementara aku menepikan motor yang kami kendarai… Hehehehe… Sungguh hadiah lebaran yang istimewa… : Putu mayong dan cenil di hari lebaran…

Aku sempat bertanya, apa kah beliau sering lewat di jalan depan rumah tempat Paapa dan Mama ku tinggal…? Ternyata memang tidak, karena daerah itu memang tidak terlalu ramai.. Sudah banyak rumah yang jadi kantor, atau menjadi bagian dari gedung-gedung besar yang menghadap jalan Iskandar Muda..  Adapun rumah-rumah yang ada, lebih banyak berpagar tinggi, yang penghuninya pun tak pernah tampak batang hidungnya…, apa lagi mau jajan di depan rumah… Hmmmmm…, seperti kalau aku lain kaliingin makan cenil, aku harus mutar-mutar di sekitar Medan Baru yang masih berfungsi sebagai pemukiman yang ramah….. ****

all pics in this post were captured by my beloved sister, Ivo  Siregar..