Buka Bareng Keluarga Besar Bappeda Kota Pekanbaru..

Minggu lalu jeng Boge Peni, mantan teman se-kantor di Bappeda Kota Pekanbaru, bbm aku..

Teman lama sejak di Bappeda : L - R : Lily Kusumawardhani, Randra Aprileni, Sondha Siregar, Boge Peni Sunestri..

Boge : Kak Son, ikut buka puasa Bappeda?

Aku : Siapa yang ngadain? Kapan? Siapa aja yang ikut? Dimana rencananya?

Boge : Yang ngadain kita-kita kak.. Bukan acara resmi Bappeda.. Rencana hari Selasa 23 Agustus di hotel A, kak..  Ini Boge lagi mendata siapa aja yang mau ikutan..

Aku : Mau lah…  Berapa kita urunan?

Boge : Seratus kak…

Aku : Baik lahhh…

So, akhirnya hari Selasa 23 Agustus 2011aku menghadiri acara Buka Bersama dengan Teman-teman Bappeda Kota Pekanbaru di The Premiere Hotel..

Siapa aja yang hadir…?  Lumayan ramai, ada sekitar 50 orang..  Ada beberapa senior yang sudah purna karya, teman-teman yang sudah mutasi dari Bappeda, juga yang teman-teman masih berkarya di Bappeda.  Bahkan banyak juga teman-teman yang gak sempat ketemu saat aku  bertugas di Bappeda..  Tapi alhamdulillah suasananya akrab banget… Kalau teman-teman mau lihat foto-foto buka puasa ini, teman-teman bisa lihat di album foto di sini

Sebagian karyawan/wati serta para mantan karyawan/wati Bappeda Kota Pekanbaru

Ya, buat aku Bappeda Kota Pekanbaru memang tak kan terlupakan… Why oh why…?  Hehehe..  Bukan hanya karena kantor ini merupakan institusi tempat tugas pertama ku sebagai Pegawai Negeri Sipil, tapi karena saat aku kerja di sana, para senior nya membina para junior dengan baik, bahkan mengayomi.., seperti yang pernah aku ceritakan di postingan yang ini dan ini….   Jadi meski telah 3 tahun 6 bulan pindah ke instansi lain, rasanya sebagian  hati tetap tinggal di Bappeda Kota Pekanbaru…

Mudah-mudahan silaturahmi yang kembali dirajut ini bisa tetap terjaga yaa….

Ok.. Sekarang waktunya ngebahas makanannya… 😀

Sebenarnya kami ingin buka puasanya di Resto Hotel Premiere..  Karena ada teman yang merekom menu buffet buka puasanya banyak pilihan dan uenak-uenak…  Aku siyy baru sempat ngerasain maksi di sini, yang rasanya lumayan siyyy menurut aku..  Tapi karena bagian resto yang paling nyaman buat di-block sudah direserve duluan oleh sebuah big company, terpaksa untuk kami dibuatkan di sebuah ruangan di lantai 3 hotel tersebut…  Nah karena enggak di Resto, kami tidak bisa menikmati buffet yang katanya seru itu… Jadi buat kami disediakan makanan dengan paket menu yang dipilih oleh panitia kagetan.. Hahaha.. Tapi jumlah, jenis dan rasanya juga lumayan..  Not bad laahhh…  Apalagi buat kami di ruangan yang sama disediakan space buat sholat, sehingga bisa sholat berjamaah… Alhamdulillah…

Serunya buka puasa bareng… ***

 

Me N Train….

Train alias kereta api… Ya…, musim mudik dan beritanya di televisi membawa diri pada kenangan saat menjadi salah satu pengguna kereta api…

Sebagai anak yang besar di Pulau Sumatera, kereta api buat aku di masa kecil nyaris tak pernah hadir kecuali gambarnya di buku-buku yang aku baca.. :D, atau yang tampak di stasiun kereta api di Medan..  Sampai suatu hari saat aku berusia sekitar 10 tahun dan berlibur ke Medan, almarhum ibu yang membesarkan ku membawa ku berpetualang… : merasakan naik kereta api.. Hahahaha…

Ya, almarhum ibu ditemani Nantulang Minah, salah satu saudara yang  tinggal di rumah nenek di Medan, membawa ku ke stasiun kereta api Medan.  Lalu ibu membeli tiket kereta api Medan – Tebing Tinggi buat kami bertiga…

Seingatku butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai di Tebing Tinggi.. Aku begitu menikmati perjalanan itu.. Hembusan angin dari jendela kereta, pedagang asongan yang lalu lalang, bahkan bau yang tak keru-keruan.. Hahaha.. Maklum lah tahun-tahun segitu (sekitar tahun 1978) kereta yang ada hanya kereta ekonomi, dengan kursi anyaman rotan berangka kayu..  :D.  Tapi aku sungguh sangat menikmati petualangan itu..  Lapar dan haus.. Tidak masalah..  Ibu sudah membawakan termos air ku dan beberapa cemilan..

Begitu sampai di Tebing Tinggi, ibu langsung membeli tiket kereta api untuk kembali ke Medan.  Sementara menunggu kereta datang dan berangkat, kami makan siang di salah satu tempat makan di stasiun..

Sungguh kenangan yang tak terlupakan dari masa kecil….  Terima kasih ya, bu.. Sungguh cara memperkenalkan moda transportasi yang luar biasa…  You are really a incredible Mom for me..   I love you, and still love you.., meski ibu sudah pergi lebih dari 24 tahun..

Ketika sekolah dan menetap di Bogor, aku lebih sering lagi melihat kereta api yang nyata.. Tapi seingat ku gak pernah naik kereta api.. Karena kalau ke Jakarta aku lebih banyak ke daerah Jakarta Selatan, yang lebih mudah dicapai dengan bus melalui tol Jagorawi…

Kereta api menjadi salah satu moda transportasi yang kerap aku nikmati, setelah aku bekerja dan menetap di Jakarta..   Untuk pergi ke Bandung mengunjungi David, adik ku, yang saat itu kuliah di sana rasanya lebih enak naik kereta Parahyangan..  Selain lebih cepat dan lebih santai dari pada naik bus, juga bisa melihat pemandangan jurang yang luar biasa serta nasi goreng yang dijual resto KA yang rasanya memang enak…

Kereta menjadi moda transportasi jarak jauh utama buat aku setelah aku sekolah dan menetap di Yogyakarta selama beberapa tahun..

Bila ada waktu luang aku biasanya pergi ke Bandung untuk mengunjungi adik-adik ku yang menetap di Bandung..  Aku biasanya berangkat naik kereta jurusan Surabaya – Bandung yang melintasi Yogyakarta, seperti Taksaka atau Argo Wilis.  Biasanya berangkat jam 23-an, dan sampai di Bandung sekitar jam 06.30.  Namun sering kali terlambat dari jadwal seharusnya.  Kembali ke Yogya,aku juga menggunakan kereta api.  Biasanya berangkat selepas magrib, dan sampai di Yogya  sekitar jam 02 pagi..  Terkadang, bila kembali dari Pekanbaru tidak singgah dulu di Bandung, aku juga naik kereta api dari Gambir ke Yogya..

Dari perjalanan dengan kereta api yang entah berapa puluh kali.., ada beberapa kejadian yang sangat berkesan…  Apa…  Let me tell you, my dear friend…

Dalam suatu perjalanan dari Yogya ke Bandung dengan kereta eksekutif, untuk berjaga-jaga, aku tidak meletakkan uang ku di dalam dompet.., tapi di balik-balik kertas buku Agenda ku..   Aku dapat tempat duduk paling depan (di depannya tidak ada kursi lain) dan dekat jendela..  Di sebelah ku duduk lelaki muda membawa ransel..  Untuk membuat diri merasa santai dan nyaman, aku memasang walkman dan meletakkan 2 buah kaset di meja kecil yang menempel di dinding kereta.., sementara tas ku yang terbuat dari kain aku letakkan di antara kaki ku dengan dinding kereta.

Tak lama, kondektur datang memeriksa tiket, aku lalu mengeluarkan buku agendaku dari tas.. Karena ternyata aku lupa mengeluarkan tiket kereta dari agenda tersebut.. :(.  Setelah kondektur berlalu, dan merasa tidak ada lagi yang akan membutuhkan perhatianku, aku pun memutuskan untuk tidur, tanpa pernah berbicara satu patah kata pun pada penumpang yang duduk di sebelahku..

Selama perjalanan itu aku benar-benar tertidur lelap… Hanya satu kali aku terbangun dan menemukan kaset-kaset ku terjatuh dari meja..  Aku merasa heran, karena sebelumnya aku tidak merasakan satu sentakan kereta pun yang memungkinkan kaset-kaset itu jatuh..  Aku lalu melihat tas ku, masih terletak rapi di tempatnya.. Ku lihat penumpang di sebelahku, matanya tertutup rapat, sepertinya juga teridur lelap…  Aku sempat melirik ke penumpang di belakang ku lewat celah yang ada di antara kursi ku dan dinding, tapi yang nampak hanya seorang bapak yang juga terlelap..  Aku lalu mengabaikan rasa heranku dan melanjutkan tidur..

Alhamdulillah hari itu perjalanan kereta lancar bahkan sangat lancar, sehingga sampai di Stasiun Bandung saat hari masih gelap..

Karena tidak sempat membelikan oleh-oleh buat Aldy ponakanku, aku lalu pergi ke counter Dunkin’ Donuts yang ada di stasiun, dan memesan 1/2 lusin donuts.  Aku lalu mengeluarkan agenda ku untuk mengambil uang untuk membayar donut… Tapi… innalillahi.., tidak ada selembar pun lagi uang di sela-sela agenda ku..  Aku lalu mengubek-ubek tas ku, mana tau uang nya jatuh dari agenda.. Tapi tidak ada… Yang tersisa di sela-sela agenda hanya karcis kereta..  Sangat tidak logis.., kalau memang jatuh, mestinya kan jatuh semua tanpa terkecuali..  Lagian kapan jatuhnya..? Saat aku mengembalikan agenda itu ke dalam tas setelah memberikan tiket kereta untuk dibolongin oleh pak kondektur, uang itu semua masih ada..  Lalu agendanya aku letakkan dengan baik di dalam tas…

Dalam keadaan aku kebingungan dan panik, mantan penumpang yang tadinya duduk di sebelahku juga menghampiri counter Dunkin Donut dan memesan segelas minuman hangat dan beberapa potong donut, sambil matanya sesekali melirik aku.. Aku tak punya alasan untuk bertanya pada nya, meski hanya dia dan kondektur lah yang pernah melihat dimana aku menyimpan uangku.. Bisa jadi gerakan dia mengambil agenda dari tas ku dan melatakkannya kembali lah yang menyebabkan kaset-kaset ku terjat.. Entah laahhh….  Aku hanya bisa menduga-duga…

Untung tak lama kemudian, David adikku  yang menjemput  menghampiri aku ke counter Dunkin’ Donuts setelah ku kabari apa yang terjadi by handphone.., sehingga aku bisa membayar donut-donut yang telah ku pesan..   Alhamdulillah..

Jadi bila  teman-teman akan memanfaatkan kereta api sebagai moda transportasi, apalagi bila perginya sendiri…, berhati-hati lah… Jangan terlalu lelah saat berangkat, karena akan membuat kalian akan sangat terlelap sehingga kehilangan kewaspadaan…  Dan aku pikir ini pun berlaku jika teman-teman akan menggunakan moda trasnportasi umum yang lain, bahkan pesawat terbang….

2 thumbs up 4 Blue Bird…

Ini postingan yg telat dibuat, namun kata hati bilang harus dibuat.. Bukan karena apa-apa, tapi memang sebagai compliment bagi salah satu perusahaan yang jasanya selalu kita gunakan dalam keseharian beraktivitas di luar rumah..   Khususnya buat aku pada saat sedang bertugas ke ibu kota negara kita…  Perusahaan jasa…? Yuuuppp… Taxi…

Iya kalau lagi bertugas ke Jakarta, aku memang prefer menggunakan taxi sebagai sarana transportasi… Bukan apa2,kebiasaan nyaman turun naik si sparky membuat aku menjadi manja, dan cenderung malas menggunakan mass transportation.  Terutama bila akan bertemu orang untuk urusan kerjaan, yang pikiran dan tubuhku harus fresh..  Busway kayaknya cukup ok, gak sedasyat bis kota di jam2 tertentu.. Tapi gak nahan jalan kaki untuk sampai ke haltenya.  Dasar manja..!!!  Semoga Allah senantiasa memberikan rezeki yaa..  Kalau lagi gak urusan kerja dan emang mau santai-samtai siyy hayyuuuuhhhh aja… Dengan senang hati dan penuh semangat 45 untuk berpetualang…. 😀

Lagi pula sebenarnya jarak yg ku tempuh dengan menggunakan taxi gak jauh-jauh amat… Klo lagi nginap di rumah Veny di Cipete,  paling ya naik taxi dari sana ke kawasan Medan Merdeka Barat, atau ke Lapangan Banteng atau ke Menteng. Atau kalau urusan kerja udah habis, main ke daerah Kuningan atau ke PIM.. Udahhhh… Gak kemana-mana lagi…

Sejak masih tinggal di Jakarta tahun 1992 – 1996, kalo naik taxi aku cuma mau naik taxi dari Blue Bird Group atau Ekspress.. Apa lagi setelah zaman reformasi, ketika kejahatan di taxi menggila.. No excuse, harus Blue Bird Group atau Ekspress..  Gak mau dan gak berani naik taxi lain…  Blue bird  sebenarnya punya rate yang relatif mahal dibanding taxi-taxi lain.. Tapi menimbang aku selalu sendirian kemana-mana, rasanya uang yang keluar untuk membayar taxi bukan semata-mata membayar biaya transportasi, tapi juga biaya keamanan dan keselamatan dalam memanfaatkan transportasi umum..   Jadi terpaksa pasrah deeh…. 😀

Ada satu kebiasaan yang kurang baik dari aku selama ini bila naik taxi.. Apa…? AKU TIDAK BIASA MENGINGAT NOMOR TAXI…  Tapi aku suka ngajak nobrol supir taxi…  Pernah ada supir taxi yang baik banget.. Sepanjang jalan dia mengingatkan aku agar rajin beribadah…  Ternyata si bapak itu lulusan pesantren di daerah Bogor dan bekerja sebagi supir taxi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya..

Lalu…, pada tanggal 15 Juli 2011 yang lalu, sekitar jam 13-an, setelah lelah mengikuti rapat di Hotel Yasmin, Cipanas dan naik bus sampai di Medan Merdeka Barat, aku memutuskan untuk naik taxi menuju Hotel Formule 1 Cikini.  Aku naik taxi berdua dengan Andi Puspa, seorang junior di kantor yang ikut pergi rapat bersama ku.  Rencananya aku naik taxi sampai di Cikini, lalu taxi akan mengantarkan Andi sampai ke Senen, karena dari Senen Andi akan naik busway ke rumah keluarganya didaerah Kampung Rambutan..  Kebetulan kami langsung dapat Blue Bird tanpa harus menunggu terlalu lama di tepi jalan.

Sama seperti biasanya, lagi-lagi aku tidak menginat nomor taxi.. Dan karena lelah, aku lebih banyak duduk diam di jok belakang… Andi yang duduk di samping supir, yang mengajak pak supir ngobrol..  Aku dalam diam, hanya mendengar sambil terkantuk-kantuk kelelahan.. Aku dengar pak supir yang sudah tidak muda lagi itu bilang kalau dia dari pool taxi Kelapa Gading, namanya pak Slamet, rumahnya di daerah Sunter..

Begitu sampai di pelataran Hotel Formule 1, aku turun.  Setelah meninggalkan sejumlah uang pada Andi untuk biaya taxi kami, aku naik ke reception hotel yang berada di lantai 1.  Karena memang merasa sangat lelah, begitu sampai di kamar aku langsung berusaha untuk tidur…  Tapi entah kenapa, tak bisa…  Untuk mengisi waktu, aku merencanakan untuk surfing di internet…  Tapi saat mau menghidupkan laptop, aku baru menyadari kalo case yang aku gunakan untuk menyimpan adaptor, usb modem dan external harddisk tidak ada lagi pada ku…  Aku baru ingat, klo case itu tidak aku masukkan ke tas laptop karena takut keberatan.  Setelah aku ingat-ingat, sepertinya case itu tertinggal di taxi..

Aku lalu menelpon 108 untuk meminta nomor telpon blue bird…  02179171234..  Ternyata nomor itu untuk layanan pemesanan taxi..  Dari petugas yang melayani nomor hunting itu, aku diarahkan untuk menelpon bagian pengaduan kehilangan.. 0217971245..  Memang siyyy telpon kita diangkat agak lama..  Apalagi buat kita yang sedang stress karena kehilangan, makin lama lagi rasanya.. 😀

Begitu diangkat, dan aku melaporkan kehilangan yang terjadi, petugas menanyakan APA AKU INGAT NOMOR TAXI YANG NAIKI… Jelas TIDAK…. Karena memang aku punya kebiasaan yang buruk, tidak pernah mengingat nomor taxi..  Lalu aku ditanya, naik dari mana, tujuan kemana, jam berapa, apa saja barang yang hilang, lengkap dengan ciri-cirinya.  Mereka juga meminta nomor telpon ku yang bisa mereka hubungi, serta lokasi dimana aku berada, agar bisa mengantarkan barang tsb bila ditemukan.  Setelah aku jawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, aku lalu bilang, kalo aku mendengar si pak supir yang umurnya ku perkirakan lebih dari 50 tahun itu bilang kalau dia dari pool Kelapa Gading, namanya pak Slamet, rumahnya di daerah Sunter..  Setelahnya, petugas minta aku menunggu, karena mereka akan mengumumkan di jaringan radio mereka..

Aku menunggu dengan rasa deg-degan.. Meski hati bilang, kalau memang masih rezeki, barang2 ku itu akan kembali pada ku, tetap aja hati gelisah memikirkan EXTERNAL HARDDISK yang hilang.. Karena di dalamnya terdapat data-data kerjaan ku sekitar setahun terakhir.. Bahkan data hasil olahan selama di Hotel Yasmine Cipanas pun di dalam itu… 😦

Sekitar 45 menit kemudian, petugas dari Blue Bird menghubungi aku di nomor telpon yang telah kuberikan pada mereka… Petugas bilang, mereka telah bisa mengidentifikasi taxi yang telah aku tumpangi.., tapi mereka belum bisa menghubungi.., sepertinya Pak Slamet itu sedang tidak di taxi nya saat mereka memanggil beliau melalui jaringan radio mereka.  Mereka mohon aku untuk bersabar…  Alhamdulillah…

Gak sampai 5 menit kemudian, petugas Blue Bird kembali menelpon.  Dia mengatakan bahwa Pak Slamet sudah mengontak bagian pengaduan kehilangan.  Case itu ada pada dia, dan ditemukan oleh seorang penumpang warga negara asing yang minta diantar ke arah Senayan.  Alhamdulillah…  Dan karena si pak Slamet berada di daerah Senayan, mereka menanyakan apakah aku bersedia memberikan uang sejumlah argo dari Senayan ke Hotel F1 Cikini tempat aku menginap, sebagi pengganti bahan bakar dan waktu pak Slamet.  Tentu saja aku setuju… Bisa barang ku kembali saja sudah luar biasa…

Sekitar 30 menit kemudian, reception hotel menghubungi ku.. Petugas itu bilan, ada supir taxi Blue Bird mencari aku, mau mengantarkan barang ku yang ketinggalan di taxi nya..  Aku langsung berlari menuju lobby hotel, dan menemukan pak Slamet di situ.. Beliau lalu mengajak aku turun, untuk mengambil barang ku yang sudah dia amankan, serta untuk melihat argo, agar aku liat sendiri berapa uang yang harus aku berikan.  Buat aku berapa yang tercantum di argo saat itu tidak penting.. Sama sekali tidak penting..  Menemukan barang ku kembali, terbantu dengan kejujuran supir taxi, serta adanya pelayanan yang  baik dan cepat dari perusahaan sudah sangat luar biasa..

Dua jempol buat Blue Bird… Terima kasih ya Pak Slamet.. Semoga kebaikan selalu menemani bapak senantiasa, diberkahi kesehatan dan rezeki…***

Selamat Jalan Tulang Sahrin…

Hari Jum’at malam  tanggal 5 Agustus 2011, aku dapat bbm di group keluarga kami dari Ivo, adik ku..  Isinya “Tulang  (Oom dari pihak ibu) Sahrin dirawat di ICU rumah sakit Materna (Medan) karena …….. ” Innalillah….

Siapa siyy Tulang Sahrin.. ?? Tulang Sahrin, lengkapnya Sahrin Halomoan Harahap  adalah sepupu  Mama ku..  Ayahnya Tulang Sahrin, Opung Bagon Harahap gelar Baginda Hanopan adalah abang dari Jamin Harahap gelar Baginda Soripada Paruhum, ayah Mamaku..  Mereka berdua adalah anak dari Tuongku Mangaraja Elias Hamonangan Harahap dari Hanopan dengan istrinya Petronella boru Siregar dari Bungabondar. Sehingga secara tutur (cara memanggil) dalam adat Batak aku memanggil “tulang” alias saudara laki-laki dari ibu kepada Tulang Sahrin.

Sebenarnya, aku terkait dengan Tulang Sahrin bukan cuma dari pihak Mama, tapi juga dari pihak Papa, karena ibunya Papa juga kakak beradik dengan Baginda Hanopan, ayah tulang Sahrin.  Bahkan saat belia tulang Sahrin pernah tinggal bersama-sama keluarga Papa, sehingga dia bagaikan adik bagi Papa yang merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara.  Karena itulah tulang Sahrin memanggil Papa dengan sebutan “abang” bukan “ipar” sebagaimana seharusnya dalam tutur adat Batak.

Buat aku, tulang Sahrin bukan cuma sekedar sepupu Papa dan Mama yang sesekali bertemu di acara-acara keluarga..  Memang, lebih dari 30 tahun terakhir itu yang terjadi.., kami hanya bertemu sesekali karena kami tinggal di kota yang berbeda..  Tapi di saat aku berusia sekitar 9 sampai dengan 11 tahun, aku dan tulang Sahrin yang saat itu bertugas di Kejaksaan Tingg Riau, tinggal di rumah yang sama di jalan Kundur Pekanbaru.

Lalu hari Rabu, 10 Agustus 2011 siang, setelah tulang dirawat 5 hari, Papaku mengabari kami anak-anaknya kalau tulang akhirnya berpulang.. Innalillahi wa innailaihi roji’un… Selanjutnya Papa mengabari kalau pemakaman yang didahului dengan acara adat akan dilalukan di Hanopan pada hari Sabtu 13 Agustus 2011..



Setelah berunding dengan adik ku David, diputuskan aku akan pulang kampung untuk menghadiri acara adat dan pemakaman itu..  Karena David, baru saja kembali dari Medan, dan sempat mengunjungi Tulang Sahrin saat dirawat di rumah sakit.  So, berangkat lah aku pada tanggal 12 Agustus 2011 menjelang magrib dengan menggunakan mobil rental sekaligus sopirnya, karena si sparky adalah city car yang bukan untuk digunakan di jalur trans sumatera..

Setelah menyelesaikan pekerjaan sampai dengan Jum’at 12 Agustus 2011 siang.. Menjelang magrib aku berangkat menuju negeri leluhur ku, Sipirok…  Kami pergi melalui jalur Pasir Pangaraian – Aek Godang.  Di beberapa ruas, jalannya memprihatinka, tapi masih tetap ini adalah jalur tersingkat dan tercepat.. Jalur alternatif adalah dari Sibuhuan belok ke arah Gunung Tua, lebih jauh sekitar 150-an km dengan jarak tempuh lebih lama sekitar 2 1/2 jam..

Perjalanan ini cukup berat rasanya, karena dilakukan di bulan Ramadhan, saat tubuh butuh konsumsi lebih di malam hari.  Sementara setelah lewat kota Pasir Pangaraian tidak ada tempat makan yang representatif..  Sahur kami lakukan di Palsabolas,  sekitar 20 km dari Sipirok.  Itu pun yang disantap hanya roti yang kami bawa dari Pekanbaru, serta teh yang kami buat dengan meminta air panas di warung yang hanya menjual indomie…  Selama dalam perjalanan, kami hanya menyantap roti dan roti plus kue bawang dan jeruk..

Kami sampai di rumah Opung di Sipirok menjelang jam 5 pagi…   Tapi kami tidak bisa menginap di sini, karena di rumah Opung hanya satu kamar yang dibiarkan kosong buat Papa menginap kalau pulang ke Sipirok.  Kamar-kamar lain digunakan oleh anak-anak dari desa-desa di sekitar Sipirok yang bersekolah di Sipirok.  Mereka sekaligus bertanggung jawab untuk bersih-bersih rumah..  Sementara rumah Opung yang satunya, bagas lombang sedang disewakan supaya ada yang menghuni dan merawat.  Papa lalu membawa kami ke Mess Pemda SUMUT di Pesanggrahan, yang lokasinya tak jauh dari rumah Opung.

Setelah istirahat, sekitar jam 09 pagi kami berangkat ke Hanopan, yang berjarak sekitar 14 km ke arah Simangambat, untuk mengikuti acara adat pemakaman tuang Sahrin..  Ya, upacara adat pemakaman tulang Sahrin dilakukan di rumah peninggalan leluhur kami Tuongku Mangaraja Elias Hamonangan Harahap yang berada di kampung Hanopan.

Bagas Parsadaan Hanopan, peninggalan Tuongku Mangaraja Elias Hamonangan Harahap, buyutku..

Saat kami sampai di Hanopan, persiapan melepas jenazah sudah rampung dilakukan..

Bendera-bendera duka cita sudah melambai-lambai di udara…  Ada yang terdiri dari gabungan kain tiga warna khas Batak, putih – hitam – merah.  Ada juga yang empat warna, putih – hitam – merah – kuning.  Ada juga yang bergambar bulang, penutup kepala laki-laki yang bentuknya seperti mahkota, yang biasanya dipakai pengantin laki-laki.  Ada juga yang bergambar pedang dan ular..  Aku belum sempat bertanya pada Papa ku apa makna semua itu..

Bendera-bendera Adat melambai di udara…

Di jalan di depan rumah sudah tersedia hombung, keranda khas Batak, yang dilapisi ulos.  Pada hombung tersebut juga  terdapat ukiran2 penuh makna..  Di belakang hombung terdapat tandu dari bambu, yang khusus dibuat untuk mengangkat peti jenazah tulang Sahrin…

Persiapan… Hombung dan Tandu Bambu…


Kami lalu masuk ke rumah…  Aku menyusuri sampai ke belakang rumah…  Di halaman belakang rumah aku lihat para ina (ibu-ibu) dan ama (bapak2) sedang mangaloppa (memasak), ada juga yang masih memotong-motong juhut (daging)…

Dalam adat Batak, bila seseorang meninggal di usia yang sudah tua, punya anak keturunan dan mapan secara ekonomi dianggap meninggal saur matua..  Kalau orang meninggal saur matua, keluarganya akan melakukan pemotongan seekor binatang ternak yang dagingnya (juhut) sebagian akan dimasak untuk makan tamu dan orang-orang yang bekerja selama upacara adat, sebagian lagi dibagikan kepada kerabat dan orang kampung tempat upacara adat dilaksanakan.  Khusus untuk masyarakat Batak Angkola, yang sejak lama sebagian menganut agama Islam dan sebagian lagi menganut agama Kristen, binatang ternak yang dipotong adalah kerbau.  Sedangkan yang memasak makanan adalah kerabat dan orang-orang kampung yang muslim dibantu dengan yang non muslim, sehingga pihak tamu dan kerabat yang muslim tidak ragu sama sekali akan kehalalan makanan yang dihidangkan…  Mengingat acara adat kali ini berlangsung di bulan Ramadhan, maka para tamu dan keluarga yang non muslim semua makan di dalam rumah, sedangkan yang muslim diberi makanan untuk disantap setelah berbuka puasa… penuh toleransi…

memotong juhut…

Mangaloppa…. Dilakukan oleh keluarga yang Muslim di Bulan Ramadhan bagi kerabat yang Non Muslim..

Acara adat dimulai dengan acara keluarga, yaitu penyampaian rasa kasih terhadap yang pergi dari para anggota keluarga yang ditinggalkan, yaitu istri, anak, menantu, mora, anak boru dan lain-lain, juga mengekspresikan rasa duka serta kalimat-kalimat saling menguatkan dalam menghadapi kehilangan ini…  Lalu karena sudah waktunya makan siang, maka para kerabat dan tamu yang non muslim dipersilahkan makan siang di bagian dalam rumah..

Setelah acara makan siang selesai…, acara pelepasan jenazah dimulai… Jenazah yang sejak kedatangannya di Hanopan diletakkan di tempat  tidur besi bertiang 4 (bed foster) peninggalan buyutku yang dihias dengan kain batik di tiang-tiangnya, dibawa ke luar rumah dan diletakkan di atas tandu yang dibuat dari bambu…, kemudian ditutup dengan hombung…

Membawa peti jenazah ke depan rumah…

Lalu disampaikan kata sambutan dari pihak keluarga, oleh Tulang Pasti, yang dilanjutkan dengan pembacaan riwayat hidup oleh Tulang Mei, adik bungsu Tulang Sahrin…  Kemudian sambutan yang tak putus-putus dari Mora, Anak Boru, Pisang Raut, Kahanggi, Raja Adat Hanopan lalu para Raja-raja Adat dari kampung-kampung di sekitar Hanopan.

Selesai kata sambutan yang sangat panjang dan lama, akhirnya tandu jenazah diangkat dengan didahului oleh seorang pemuda bermarga Harahap yang dipakaikan bulang dan perlengkapannya serta diiringi  payung kuning..  Untuk tahap awal, keranda tidak diangkat begitu saja.. tapi setelah beberapa langkah maju, dilakukan pula beberapa langkah mundur yang diiringi dengan tebaran beras kuning bercampur uang-uang logam… Langkah maju mundur dilakukan beberapa kali, baru kemudian keranda dibawa dengan langkah maju sepenuhnya menuju gereja untu dilakukan kebaktian pelepasan dan dibawa ke kuburan keluarga Harahap di pinggir pemukiman kampung Hanopan..

Melepas jenazah…

Mengantar jenazah ke gereja untuk kebaktian dan selanjutnya ke pemakaman..

Setelah pemakaman selesai, acara adat ditutup dengan tahapan Paulak Mora..  Semacam acara pelipur lara bagi keluarga yang ditinggalkan, serta menyerahkan tuppak (kontribus untuk membantu menutupi biaya yang telah keluar untuk acara adat) kepada keluarga yang ditinggalkan…

Semoga Tulang Sahrin beristirahat dalam damai.. Semoga keluarga yang ditinggalkan bisa bersabar dan menyelesaikan apa yang masih menyangkut dengan damai… Terutama di hati mereka.. Aku tahu itu tidak mudah.. Tapi percaya lah, menyerahkan segalanya ke tangan Allah adalah jalan terbaik… ***