Kak Vivi & Sungai Duku

Liburan lebaran kali ini Tati mutusin untuk tetap di Pekanbaru, gak kemana-mana…  Nah kemaren, sabtu pagi 4 Oktober 2008, Kak Vivi nelpon, minta ditemuin sebelum beliau pulang ke Selat Panjang sore ini..

Siapa sih kak Vivi?

Kak Vivi itu dokter gigi yang jadi teman sekamar Tati kala masuk asrama saat mengikuti pelatihan kepemimpinan tingkat IV di lingkungan Pemko Pekanbaru sekitar Oktober 2002.  Pelatihan itu wajib diikuti untuk memegang posisi esseleon IV di jajaran pemerintahan di negeri ini.  Kebetulan kita diawal tahun 2002 diserahi tugas untuk memegang jabatan esselon IV di lingkungan Pemerintah Kota Pekanbaru, kak Vivi bertugas di Dinas Kesehatan, Tati bertugas di Bappeda.  Tati waktu itu baru pulang dari Yogya, kak Vivi baru pulang dari New Zeland untu ngambil Manajemen Kesehatan.  Sebelumnya  kita sama sekali gak pernah mengikuti pelatihan kepemimpinan di lingkungan pemerintah.  Ceritanya kita berdua tuh agakgak perduli dengan pelatihan2 struktural, kita lebih “nafsu” buat sekolah atau ikut  pelatihan fungsional. Jadi begitu diserahi jabatan, kita diwajibkan untuk ikut pelatihan yang memakan waktu selama sekitar 1.5 bulan..  Diasramakan pula… Hehehe…

Entah kenapa waktu ketemu kita langsung merasa klik…  Kita, entah bagaimana, sama2 punya sifat melakukan pekerjaan sebaik-baiknya, se-perfect-perfect-nya.  Sementara lingkungan gak mendukung, sehingga kita acap kali harus menjadi “tukang sapu”..  Kita sama-sama punya jiwa merdeka.., gak seneng dengan kehidupan basa basi, formalitas dan birokrasi..

Tapi kak Vivi lebih gila lagi…  Dia bisa muncul ke kantor dengan baju dinas tapi pake sendal gunung.. Atau saat orang-orang harus pakai baju melayu, dia bisa muncul dengan pake sarung dari Nepal dengan blus plus kalung-kalung dari batu… Kalo Tati tanyain kenapa penampilannya begitu, sambil ketawa-tawa dia jawabnya “Emang gue pikirin…?  Orang aja enggak mikirin gue kok…”   Hehehe..  Sementara Tati masiyyyy tetap pake baju sesuai aturan kedinasan meski di dalam hati merasa gak nyaman…  Entah kenapa mengenakan baju coklat memberi beban psikologis tersendiri buat Tati..

Merasa nyambung, dan bisa bertukar pikiran di tengah2 lingkungan yang berbeda dengan pikiran kita, Tati dan kak Vivi akhirnya bersahabat.  Meski gak terlalu sering ketemu muka karena lokasi kantor yang berbeda, tapi kita selalu telpon2an…  Biasa…, gossip2i

Capek dengan dunia yang begitu2 aja.. Kak Vivi berusaha menerobos birokrasi… Daaannnnnn dia berhasil..  Kak Vivi saat ini mendapat kepercayaan menjadi kepala rumah sakit yang baru didirikan Pemkab Bengkalis di Selat Panjang, daerah asalnya, sebuah kota kecil di sebuah pulau di Selat Malaka..  Sebuah pilihan yang berani, karena harus meninggalkan hidup yang nyaman di Pekanbaru, diganti dengan kehidupan kota kecil. Belum lagi kehilangan peluang pendapatan yang bisa diperoleh dari praktek dokter gigi sore hari.  Untungnya keluarga mau mengikuti pilihan kak Vivi.. Suami dan anak-anak (Vinda dan Dipo) ikut pindah ke Selat Panjang.

Naahhh, kemaren sore kak Vivi minta Tati untuk menemui dia.  Karena waktu terbatas, kami akhirnya janjian ketemu di Pelabuhan Sungai Duku, salah satu pelabuhan sungai yang ada di Pekanbaru.  Pelabuhan ini tidak hanya melayani transportasi regional, tapi juga internasional.  Karena setiap hari ada ferry untuk penumpang jalur Pekanbaru – Malaka pp.

Tati udah lama banget gak ke pelabuhan ini..  jadi udah gak tau perkembangannya secara fisik, tapi kalo di situ telah, sedang dan akan dibangun apa siyy ngerti karena waktu masih di Bappeda kan selalu bikin bahan presentasi buat big boss…

Ternyata kak Vivi sekeluarga tuh ke Selat Panjang naik kapal Jelatik.  Kapal yang umurnya entah berapa puluh tahun….  Tati kaget juga ngeliatnya…  Tati terkahir naik kapal di perairan Sungai Siak ini pertengahan tahun 1980..  28 tahun yang lalu…  Dan waktu itu kapalnya ya yang begini ini..Penumpang duduknya di bangsal yang tersedia dua tingkat di setiap sisi bagian dalam kapal.. Cuma kalo kapal yang dulu Tati tumpangin ukurannya sedikit lebih kecil..  Ternyata masih seperti ini toh kapalnya…!  Dalam pikiran Tati tuh kapalnya kayak ferry jalur Batam – Singapore gitu lho…!!!

Ternyata selain kapal Jelatik ini ada lagi moda transpotasi yang lain ke Selat Panjang, yaitu ferry.  Cuma kalo naik ferry nih nyambung2.. :  Naik ferry 1 jam, lalu nyambung naik mobil 3 jam, trus nyambung lagi naik ferry 1 jam.   Total perjalanan sekitar 5 jam.  Kalo naik kapal Jelatik perjalanan butuh waktu sekitar 12 jam.  Kenapa kak Vivi milih naik kapal yang lebih kuno dan waktu tempuh lebih panjang? Karena kak Vivi bawa banyak barang, yang akan repot ngurusnya kalo naik ferry yang tukar2 kenderaan…


Selama di kapal dan di pelabuhan Tati juga mengamati tepian Sungai Siak, sungai yang tercatat sebagai terdalam di Indonesia…  Hmmmm…. lingkungan di tepian sungai tetap aja kumuh.. Gak banyak berubah dari tahun ke tahun..  Seandainya sungai dijadikan halaman depan rumah, seperti yang pernah disampaikan oleh Budayawan Yusmar Yusuf, pemukiman di tepian sungai pasti akan terlihat indah dan tertata…  Kalo udah gitu, siapa yang berani buang sampah apalagi limbah industri di sana…? Siapa haayyyooo….?

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s