Coba Lihat Langit di Luar Sana…

Postingan seorang teman membuat Tati ingat pada suatu masa.. Ketika di suatu malam tanpa ada preambul seorang lelaki yang masih ada hubungan kerabat tapi tinggal di kota yang berbeda mengirimkan sms yang berbunyi : “Dek, coba lihat langit di luar sana, indah kan?”

Asli, Tati terpongok bingung bin gak ngerti kamsud nya sms ini apa. Orang ini tidak pernah menyapa Tati dengan “dek”, biasanya selalu memanggil nama. Dengan cuek dan sablenk Tati balas : “Maksudnya apa niyyy? Salah kirim, ya?”

Beliau : “Cobalah lihat ke luar rumah. Lagi bulan purnama juga kan di sana? Indah bukan?”

Waaaddddduuuuhhhh, makin gak ngerti ajah niyyy.. Tapi kok hati jadi ketar ketir ya?

Tati : “Saya lagi di dalam rumah, lagi nonton TV, dan malas banget keluar rumah. Ada apa ya?”

Beliau lagi : “Kamu kok gak ngerti sih? Atau pura2 gak ngerti..? Saya pengen bicara serius dengan kamu. Cobalah untuk mengerti perasaan saya”

Tati : “Saya gak ngerti. Kamu mau ngomong apa?”

Lagi2 beliau : “Kamu mau gak jadi istri saya? Membantu saya mengurus anak2 saya..?”

Guubbbbbbrrrrrrrrraaaaaaaakkkkkk…… Tati kaget banget…. Jantung serasa mau copot. Secara Tati menganggap beliau udah seperti saudara. Gak kepikir punya hubungan di luar yang ada selama ini… Tati ngerti hidupnya cukup rumit dan berat karena harus mengurus 2 anak perempuan yang sudah mulai remaja setelah beberapa tahun yang lalu dia memutuskan berpisah dengan mantan istrinya.

Tati : “Kita tuh udah kayak adik beradik, lho. Saya gak kepikiran punya hubungan di luar yang sudah ada.”

Beliau : “Tapi kamu juga belum menikah di usia segini, kan? Apalagi yang kamu tunggu? Saya percaya kamu akan bisa menjadi ibu yang baik buat anak2 saya.”

Sekali lagi guuuubbbrrrrrraaaaakkkkkk….. Tati yang dodol abis begini…? Aihhh mata ini orang kemana siyyy? Masa dia gak tau kalo Tati tuh dodol surodol…? Tapi sebagai orang yang udah mulai tua, Tati berusaha menjawab sebijak tidak mungkin…

Tati : “Terima kasih kamu udah percaya dengan saya. Saya merasa sangat dihormati, tapi saya gak punya perasaan yang lebih buat kamu. Lagi pula ada suatu perbedaan yang sangat mendasar di antara kita. Sesuatu yang gak bisa ditawar-tawar menurut saya. Kamu tau tentang itu kan?”

Beliau : “Kalau perbedaan yang itu, saya tahu. Tapi saya pikir kamu akan bisa berubah dan mengikuti jalan saya.”

Sekali lagi gubraaakkkk… gubraaaakkkk…. gubbbbrrrrraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk…. Subhanallah, ini cobaan, ini ujian buat Tati. But, he really2 doesn’t know me…

Tati : “Kamu berarti gak kenal dengan saya. Cobalah mengerti saya, pilihan hidup saya. Percayalah kamu akan menemukan perempuan yang jauh lebih baik dari saya, yang lebih cocok dengan kamu.”

Beliau : “Kalau kamu saja, yang saya udah lihat bisa dekat dengan anak2 saya, gak mau jadi istri saya. Perempuan mana lagi yang bisa saya percaya untuk mendampingi saya dan mengurus anak2 saya? Perempuan mana lagi yang bisa bikin saya yakin dia gak akan menghianati saya, menyakiti saya dan anak2 saya? Saya pikir saya tidak akan menikah lagi kecuali dengan kamu”

Tati : “Mohon mengertilah tentang saya. Jangan pojokkan saya dengan keinginan kamu. Tetaplah menjadi saudara laki-laki buat saya.”

Beliau : “Saya benar2 kesepian dan butuh perempuan yang saya yakin bisa menjadi istri saya, ibu anak2 saya. Dan saya yakin perempuan itu kamu”

Tati benar2 gak yau mau balas apa sms terakhir itu… So, obrolan by sms malam itu terputus sampai di situ, tapi masih ada beberapa komunikasi senada by phone dalam beberapa bulan. Butuh waktu untuk meyakinkan beliau bahwa akan ada perempuan lain yang lebih sesuai baginya. Butuh waktu untuk “memaksa” beliau menerima pilihan hidup Tati, pilihan akan sesuatu yang sangat esensial dalam hidup.

Semoga beliau segera menemukan pasangan yang tepat bagi dirinya dan bagi anak2nya.. .

Dan semoga Alloh selalu berkenan melindungi Tati, memberikan hidayah untuk berjalan di jalan yang dikehendaki-Nya. Semoga Alloh berkenan memberikan pasangan hidup yang akan membawa Tati menjadi hamba Alloh yang lebih baik. Amin ya Rabbal Alamin.

Masih Tentang Nai Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang…

Postingan Tati yang ini, yang aslinya diposting di sini, kayaknya jadi punya cerita yang panjang niyy..

Setelah di-reposting di Toba Dream oleh Raja Huta, ternyata juga dihubung-hubungkan dengan suatu yang “hipotesis yang ajaib” oleh seseorang yang “luar biasa pelupa”. Tati mengasumsikan orang tersebut “luar biasa pelupa”, dari pada berburuk sangka menuduh beliau memang menyembunyikan identitasnya. Karena orang tersebut ingat untuk menulis comment di postingan ini tentang sesuatu hal secara begitu panjang lebar, tapi dia lupa menulis identitasnya. Mudah2an beliau memang lupa, bukan lempar batu sembunyi tangan setelah dengan menebar isu chauvinism tak berdasar melalui blog Tati.

Dengan sepenuh hati Tati sampaikan, postingan ini gak ada tujuan mendiskreditkan varian2 Batak yang lain. Tulisan ini hanya Tati buat berdasarkan rasa dan pikiran yang ada pada Tati selama ini.. Dengan segala kerendahan hati Tati mohonkan maaf..

Tati di usia muda sebenarnya gak peduli dengan “kebatakan” Tati. Karena tidak merasa itu sebagai sesuatu yang istimewa, yang luar biasa. Apalagi di keluarga, ortu sebagaimana para lelaki Batak meski sayang banget sama boru-nya tapi kan cenderung gak eskpresif, malahan cenderung terlalu protektif. Akibatnya di usia belia Tati terkadang mikir, “Gue disayang atau cuma dijaga supaya gak melanggar segala keinginan, cita2 dan mimpi para ortu, ya?”. Sementara kalangan Batak yang ada di lingkungan tempat tinggal (setelah pindah rumah ke daerah Sukajadi-Pekanbaru), yang Tati lihat sebagian besar adalah kalangan Batak yang ngomong “suke2 die” (kata orang Melayu), dengan suara yang kencang pula.  Seakan gak mikir perasaan orang. Bahkan sebagian dari mereka menghabiskan waktu di lapo tuak yang menjual tuak dari kelapa dan juga menjual masakan berbahan “biang”, yang buat kerabat Tati tidak tergolong bahan makanan.

Butuh waktu untuk memahami cara mencintai para orang tua berdarah batak pada anak cucunya.. Butuh perjalanan yang panjang untuk memahami bahwa orang batak itu punya integritas pribadi yang luar biasa, punya komitmen yang kuat tentang upaya memajukan generasi penerus…

Masa kecil Tati sama sekali tidak didominasi oleh budaya Batak. Tati besar di lingkungan yang majemuk. Meski di lingkungan rumah di kompleks Gubernur Pekanbaru cukup banyak orang Batak, tapi keluarga kami lebih dekat dengan keluarga Hasan Basri yang orang Payakumbuh. Anak2 keluarga Hasan Basri ikut membantu mengurus Tati hari ke hari. Kami juga dekat dengan orang2 Melayu, bahkan Tati seringkali menghabiskan akhir pekan di acara2 pernikahan keluarga Melayu.

Begitu pun saat menjalani kehidupan di Kampus Rakyat Tati lebih cenderung untuk tidak berkumpul dengan orang2 Batak. Gak ada alasan spesifik kenapa begitu. Kayaknya hanya karena berasal dari Riau, Tati lebih cenderung ikut perkumpulan mahasiswa asal Riau yang sebagian anggotanya Tati kenal, karena mereka teman atau kakak kelas sejak di Sekolah Dasar. Tapi itu pun gak mendominasi hari2 Tati. Saat itu Tati lebih berpikir untuk mengenal kehidupan yang lebih dari yang pernah Tati ketahui. Bergaul dengan teman2 dari daerah lain, dengan latar budaya yang berbeda untuk memperkaya wawasan. So, teman2 Tati saat itu lebih banyak anak2 bukan Batak dan bukan Riau.

Upaya untuk memahami tentang keluarga yang keturunan Batak muncul saat keluarga mengadakan upacara Upah2 ketika Tati lulus S1. Di acara itu para orang tua menyampaikan selamat atas apa yang udah Tati capai, sekaligus mengingatkan bahwa apa yang Tati capai dalam hidup Tati sebenarnya hanya sebagian kecil saja yang merupakan hasil perjuangan Tati. Selebihnya adalah hasil jerih payah orang tua dan generasi demi generasi sebelumnya. Alhamdulillah keluarga Tati adalah keluarga yang peduli dengan kemajuan anak cucunya. Dan kepedulian mereka terbentuk dari ajaran generasi sebelum mereka, yang berdarah Batak.

So, kenapa Tati tidak harus bangga menjadi orang Batak? Mungkin istilah yang lebih tepat adalah tidak merasa malu menjadi orang Batak, dan menghargai leluhur atas apa yang sudah mereka lakukan buat kita. Tapi tentu saja bukan bangga yang berlebihan, yang melahirkan chauvinism tak berdasar. Karena etnis lain pun pasti punya kelebihan juga, yang justru mungkin bisa membantu kita menjadi orang-orang yang lebih baik. Kayaknya pikiran ini sejalan dengan semangat nasionalis yang sedang digaungkan kembali dalam rangka Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Lagi pula semua manusia sama di mata Alloh SWT, yang membedakannya hanyalah iman dan ketaqwaannya kepada Alloh SWT. Bukan begitu teman-teman?