Ananda’s Graduation Day

Ananda & her kindergarten diploma

Sabtu, 23 Juni 2007…
Meski Enek masih terbaring di Rumah Sakit, Wowo dapat tugas dari Odang dan Enek untuk menghadiri wisuda Ananda bersama Mama Nhoya. Hari ini Nanda diwisuda atas kelulusannya dari TK… Kok pake istilah wisuda ya? Kayak lulus dari Universitas aja…

Pagi2, setelah Enek rapi dan bisa ditinggal dengan kak Tina (si mbak yang ditugaskan Mami Uli menjaga Enek), Wowo berangkat ke sekolah Nanda dengan ditemani AU.

Di sekolah Nanda udah ramai banget… Para bapak ibu berbaur dengan anak2nya…, duduk di bangku anak TK. Benar2 pemandangan yang lucu.. Untung kursinya kuat2 ya….. Mungkin kalau hidup mereka akan menjerit…atau malah mungkin ngabur… hehehe.

Setelah kata sambutan dari Suster Kepala dan Wakil Ortu, para wisudawan dipanggil satu2 ke podium untuk menerima ijazah. Mereka dipanggil berdasarkan kelas dan abjad namanya..
Nanda termasuk kelompok kedua, yaitu kelas Markissa. Pantas senyum Nanda manis banget.. tapi juga rada asem kalo lagi ngambek.. Kayak markissa… Hehehe.

Ananda’s kindergarten diplomaIjazah yang dibagiin lucu deh… Ada foto Nada pake toga di bagian bawahnya, berwarna pula…!!! Di zaman Wowo ijazah Cuma pake pasphoto 3×4 hitam putih.. Zaman emang udah berubah….

Setelah selesai dapat ijazah, anak2 digiring ke halaman TK buat ngambil foto2 mereka plus…. 1 paket McD… (hebat juga link sekolah ini…).

Di halaman sekolah Nanda ketemu dengan Glory teman mainnya, tapi gak sekelas.. Glory nanya ama Nanda “Nanda, kok tante ini mukanya sama dengan Mamanya Nanda” sambil nunjuk ke Wowo… Nanda menjawab… “Ya iyalah… itu kan Wowoku…”. Glory belum tau Nan, kalau Mama Nhoya punya saudara kembar beda 12 tahun… Hehehe..***

Esther, Wowo dan Kacamata….

Esther Meilissa Maharani Sinambela

Wowo-nya Esther

Sejak pakai kacamata, Esther belum pernah ketemu muka dengan Wowo.. Begitu ketemu di RS tempat Eneknya dirawat, dia menemukan Wowonya ternyata sudah pake kacamata juga….

Esther langsung bilang “Wowo pakai kacamata juga ?” Wowo jawab “Iya Nak.., supaya melihatnya lebih jelas…” Esther bilang dengan ragu2 “Iya…, aku juga melihatnya jadi lebih jelas…”. Wowo rasanya mau nangis dengar Esther bilang begitu… Wowo lalu menggapai Esther, dan bilang “biar aja teman2 ngeledekin kacamata Esther…, yang penting Esther bisa melihat dunia dengan lebih jelas, ya sayang….? Kita gak perlu malu dengan kacamata kita..”. Esther balas memeluk Wowo dan bilang “Iya Wo.., yang penting kita melihat dunia dengan lebih jelas….”. That’s my brave little angel…***

 

Never Give Up Mother

Setelah terbaring di RS 3 hari, Mama mulai mengikuti sesi fisioterapi… Mula2 bagian tubuh Mama yang gak bisa digerakkan disinar pake lampu infrared, lalu dimassage terus digerak2kan… Pada sesi ketiga, Mama mulai dilatih untuk berjalan.. Karena belum bisa digerakkan, kaki Mama disorong2 oleh si fisioterapist..  Di luar sesi fisioterapi Mama kerap melatih sendiri tubuhnya…

Sabtu malam, untuk membuat Mama merasa nyaman selagi ditinggal Tati mandi, tangan dan kaki Mama dipijat pelan2 oleh Kak Tina… Tiba2 Mama mampu menggerakkan engsel bahu kanan dan juga mampu sedikit menekukkan lutut. Tadinya gak bisa digerakkan sama sekali… Mama kembali jadi optimis…. Besok paginya Mama jadi makin semangat belajar menggunakan tongkat, berlatih untuk bias berjalan kembali…

Hari selasa 26 Juli jam 19an, kata Papi David, Mama sudah bisa menggerakkan sikunya, bahkan siangnya Mama sudah mau dibawa muter2 dengan kursi roda di Sun Plaza, her most favorite place 2 hang out..

She’s really really never give up Mother…., meski kadang ada tangis dan keluh kesah… Benar kata Papi David beberapa hari yang lalu.. “Kakak pikir dari mana kita mendapatkan semangat hidup yang menggebu2 dan tidak mau menyerah pada cobaan hidup ?” Yup… We’ve inherited it from U, Mom…***

Ketika 6 Anak Burung Telah Terbang…..


Hari Kamis 21 Juni 2007 Mami Uli, Tante Po, Samuel dan Esther pamit ke Enek buat berangkat ke Penang untuk control mata Esther dan ngurus kerjaan Mami Uli & Tante Po. Perginya cuma bentar kok, cuma 3 hari…

Mungkin karena mengingat rencana, bahwa Enek seharusnya juga ikut pergi, Enek jadi nangis… Segala rasa duka, gelisah, ketakutan dan rasa tidak berdaya karena tidak dapat menggerakkan tangan dan kaki, tumpah…. Enek nangis sejadi2nya… bahkan sampai manggil2 Maminya alias Opungnya Wowo yang udah passed away more than ¼ abad…

Papa, Wowo, Mami Uli, Tante Po bahkan Uwel dan Esther gak bisa nahan air mata… Sedih banget liat Enek nangis… Karena kami hampir gak pernah melihat Mama mengeluarkan air mata… Mama selalu menyembunyikan kesedihannya dalam diam, bahkan terkadang keluar dalam bentuk amarah…

Kami bisa merasakan kepedihan Mama…, kecemasan Mama…
Mama biasa bergerak bebas, mengurus semua kerjaan rumah tangga tanpa bantuan PRT…, Mama biasanya sore2 jalan ke mall buat olahraga.. karena kalau jalan2 di jalan umum takut disrempet atau dikejar anjing, juga takut kotor…

Lalu stroke menyerang, tangan kanan yang biasa bergerak lincah buat “kutak katik”, gak bisa dikendalikan… Juga kaki kanan yang biasanya gak bisa diam kini tergeletak…

Saat2 depresi datang, Mama sempat bilang… “Mama punya 6 anak, tapi semuanya terbang.. Gak ada yang bisa di rumah aja buat ngurus Mama”. Sekilas ada rasa sesal karena seumur2 anak2nya dididik dan didorong untuk berkepak, lalu terbang tinggi di angkasa kehidupan…

Tati lalu bilang… “Ma, Mama yang mendorong kami untuk mengembangkan potensi diri agar punya sayap untuk terbang menjelajahi kehidupan.. Apa Mama mau jadi ibu burung yang sampai tua harus mencarikan makanan buat anak2 burung yang tidak mampu mengepakkan sayapnya ? Apa tidak seharusnya kita mensyukuri apa yang ada pada keluarga kita ? Soal yang mengurus Mama, percayalah pasti ada jalan.. pasti kita akan menemukan jalan untuk mengurus Mama, untuk membuat Mama merasa nyaman…”

Setelah diam sejenak.., Mama menjawab “Iya ya.. Mama udah bisa bikin kalian mampu terbang…, gak nyusahin dan bisa mandiri…” Iya Ma.., That’s the most precious things that You’ve done for us…, Taught us how 2 fly in the Life Sky and support all the way….***