Posted in ESQ, My Mind, Tukang Jalan

Undangan di Doi Suthep

Sekitar 2 minggu yang lalu, seorang teman seangkatan di SMA Negeri 1 Pekanbaru menghubungi diriku, ngajak untuk ikut arisan, yang uangnya untuk biaya umrah bareng teman-teman. Ajakan untuk pergi umrah, mengingatkan diriku pada sebuah PERJALANAN yang menjadi penyebab diriku pergi umrah pada tahun 2014 yang lalu. Perjalanan yang mengantarkan aku untuk menerima undangan Allah untuk mengunjungi Baitullah. Perjalanan ke Doi Suthep.

Ceritanya di bulan Juni 2013, diriku pergi ke Bangkok untuk menghadiri sebuah event. Daku pergi bersama sahabatku, yang kukenal saat bertugas di Pemerintah Kota Pekanbaru, kak Viviyanti. Saat kami merencanakan perjalanan, kak Vivi mengajakku untuk meneruskan perjalanan ke Chiang Mai, Thailand Utara, karena di sana ada Worulak, sahabat kak Vivi saat kuliah di New Zealand.

So, setelah travelling beberapa hari di Bangkok, tanggal 18 Juni 2013 kami menempuh 685 km dengan terbang selama 2 jam dari Bandara Don Muang untuk sampai di Bandara Internasional Chiang Mai. Worulak dan suaminya menjemput kami di bandara.

Worulak meski bekerja di Chiang Mai, tapi tinggal dan menetap di Kota Lamphun, sebuah kota kecil 12 km di selatan Chiang Mai. Waktu tempuh Chiang Mai – Lamphun lebih kurang 35 menit dengan mobil pribadi. Jadi selama perjalanan di Chiang Mai, kami menginap di rumah Worulak di Lamphun.

Kami pergi ke Doi Suthep tanggal 20 Juni 2013.  Setelah dua hari sebelumnya kami isi dengan jalan-jalan ke Moslem District dan Night Safari serta keliling kota tua Lamphun.

Doi Suthep adalah daerah pegunungan, dengan jarak sekitar 37 km atau waktu tempuh sekitar 45 menit ke arah tenggara kota Chiang Mai.  Sama seperti kawasan puncak di Bogor, Doi Suthep berudara sejuk, dan didominasi alam hijau.  Di sana juga banyak yang jual buah dan sayur hasil budidaya masyarakat lokal, banyak juga yang jual jagung bakar, jagung rebus dan asinan.

ceritasondha-doi-suthep-1
Doi Suthep, Cable Car dan Tangga

Apa istimewanya Doi Suthep? Di Doi Suthep terdapat salah satu kuil yang diagungkan umat Budha di Thailand Utara, namanya Watt Phra Thatt Doi Suthep Ratcha Warawihan.  Kuil tersebut berada di bukit tertinggi di pengunungan Doi Suthep.  Untuk mencapai kuil tersebut dari jalan raya, ada dua akses, yaitu dengan cable car dan melalui ratusan anak tangga.  Untuk menghemat tenaga dan waktu, untuk naik kami memilih naik cable car.  Harga tiketnya sekitar TB 50 atau sekitar Rp.19.000,-.  Pulangnya menyusuri tangga.

ceritasondha-doi-suthep-2
Pagaoda Emas di What Phra That Doi Suthep

Apa yang bisa kita lihat di Watt Phra Thatt Doi Suthep Ratcha Warawihan? Di sana ada pagoda berlapis emas, yang di sisi depannya dipasang sebuah payung,  berwarna emas juga.  Dalam ritualnya para umat Budha yang berkunjung di Watt Phra Thatt Doi Suthep Ratcha Warawihan mengelilingi pagoda sambil membawa bunga lotus.  Dan setelah selesai berkeliling, mawar merahnya diletakkan di lantai di tepi pagar pagoda.

ceritasondha-doi-suthep-3
What Phra That Doi Suthep

Di kompleks kuil ini ada bangunan sarana prasarana kuil berarsitektur khas Thailand dengar ornamen-ornamen keemasan yang luar biasa cantik.  Di sana juga ada sebuah bangunan kecil berbentuk dome, tapi bersegi-segi.  Ada patung replika binatang di atasnya, dan di semua sisinya ada semacam laci-laci..  Setelah mengamati beberapa tulisan-tulisan dan foto-foto  yang ada di sisi -sisi luar “laci”, aku mengerti kalau laci-laci itu adalah tempat menyimpan abu jenazah.

Aku lalu berkeliling mengamati benda-benda, bangunan dan taman yang ada di kuil tersebut.  Puas berkeliling, sebelum pulang aku berdiri di pintu kawasan sembahyang di kuil, sekali lago mengamati gerak gerik umat Budha yang melakukan ibadah di sana.  Tiba-tiba aku menyadari bahwa mereka juga sedang melakukan “tawaf”.  Hanya saja lokasinya berbeda, benda yang dikelilingi berbeda, arahnya berbeda, caranya berbeda.

Umat Muslim bertawaf di Masjidil Haram di Mekah Al Mukaromah, umat Budha di Kuil.  Umat Muslim mengelilingi Ka’bah, umat Budha mengelilingi pagoda.   Umat Muslim bergerak melawan arah jarum jam, umat Budha bergerak serah jarum jam.   Umat Muslim mengelilingi Ka’bah 7 kali tanpa membawa apapun, umat Budha mengelilingi pagoda sambil membawa bunga lotus.

Kesadaran yang datang membuat diriku berpikir, Aku ini ngapain yaa? Aku pergi ke tempat umat Budha beribadah, melihat mereka melakukan “tawaf”, sementara diriku belum pergi ke Tanah Suci dan bertawaf di tempat seharusnya aku melakukan tawaf.”  Saat itu aku bertekad tak akan melakukan perjalanan lagi sebelum aku pergi Tanah Suci dan bertawaf mengelilingi Baitullah, kecuali perjalanan yang terkait dengan tugas dan urusan keluarga.

Kesadaran agar bersegera pergi ke Tanah Suci adalah undangan Allah SWT padaku untuk datang ke rumah-Nya.  Dan undangan itu sungguh disampaikan dengan cara yang luar biasa.  Alhamdulillah.  Dan Alhamdulillah juga Allah memberi diri ini rezeki untuk bertamu ke rumah-Nya 11 bulan kemudian.***

satu-minggu-satu-cerita

Posted in My Mind

Ada Apa Dengan Kita?

Ada apa dengan kita?  Bukannya Ada apa dengan Cinta ??? 😀 Ahhh itu mah cerita lama.   Line sudah mempertemukan mereka kembali, jadi udah gak seru buat dibahas.  😀  Terus kita mau bahas apa donk ?   Membahas sesuatu yang penting.  Lebih penting dari urusan Cinta dan Rangga. Uppppssss.  Jadi deg-degan. Hahahaha.  LebayAbis.com.

Beberapa bulan ini aku sering berdiskusi dengan seorang teman. Seorang teman yang luar biasa.  Masih muda, cerdas, penuh semangat.  Bekerja sebagai jurnalis di sebuah media, bagian dari  jaringan media nasional.

students1Kami berbagi cerita tentang pikiran, mimpi-mimpi dan keinginan… Daku si PNS tak jelas ini semakin sering merasa, I’m not really belong to the system.  Aku gak bilang pekerjaannya, aku menyukai pekerjaanku, but not  the system. Itu menimbulkan kegelisahan diri yang terus menerus. Aku merasa aku belum bermanfaat secara maksimal bagi sekitar.  Aku merasa ada banyak hal yang seharusnya aku perbuat bagi orang banyak. Bukan menghabiskan banyak waktu, pikiran dan tenaga untuk melayani sistem yang lebih perduli dengan berbagai kepentingan pribadi atau sekelompok orang.  I don’t want to be useless.  Lahir, tumbuh besar, menikmati kehidupan, lalu pergi tanpa meninggalkan kebaikan.   Ohh semoga tidak, ya Allah..  Ada banyak hal yang ingin aku lakukan, dan aku tahu bahwa aku tak mampu melakukannya sendiri. Aku butuh teman yang sama frekuensi pikirannya dengan diriku.

Temanku ini lalu mengusulkan agar kami perlahan-lahan membangun komunitas untuk berdiskusi. Dari diskusi itu nanti kita bisa lihat apa yang harus menjadi prioritas utama untuk dikerjakan.  Tapi karena masing-masing punya kesibukan, tak mudah bagi kami untuk ketemu, duduk bersama dan diskusi.   Apa lagi dengan mengajak teman-teman lain.

Lalu, 2 hari sebelum akhir pekan yang lalu, temanku itu menghubungi aku via handphone.

“Akhirnya saya memulai satu langkah kecil.  Karna dunia tulis menulis adalah jalan hidup  yang saya pilih, maka saya berkewajiban menjaganya.  karena itu saya pun membuka @Kerani House.  Kerani itu istilah Bahas Melayu untuk juru tulis.  jadi singkatnya rumah bagi para juru tulis.  Bisa siapa saja.  Penulis lepas, penulis cerpen, artikel, dan tentu saja para jurnalis.  Rencana besok mulai perdana, kat rumah saye.  Jike ada waktu, jom join lah.”

Di hari yang telah temanku itu tetapkan,aku datang ke rumahnya.  Telat.  Karena salah ingat jam yang dikatakan. 😀  Saat aku sampai di sana di teras rumah temanku itu ada sekitar 10 orang gadis-gadis belia. Cantik-cantik.

Setelah memperkenalkan diriku pada gadis-gadis belia itu, temanku lalu bercerita, bahwa gadis-gadis itu adalah mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi di kota kami.. Para mahasiswi jurusan jurnalistik.  Dikirim untuk magang di media yang dipimpin temanku itu, tapi mereka semua mengaku belum pernah menulis. Bahkan merasa tak mampu menulis. gubbrrraaakkkksssss

Temanku itu bilang, “Macam mana saya nak turunkan mereka ke lapangan, kalau begini modelnya, Mak Cik?  Bagus lah saya dorong mereka untuk mau, bisa menulis dulu.”

Aku dan temanku itu berusaha membuka mata, telinga dan hati terhadap ucapan para gadis tersebut.  Hampir semua bilang, mereka tidak tahu mau menulis apa.

Temanku itu lalu, minta aku bercerita tentang aku dan blogku kepada para gadis belia…

Aku lalu bercerita,  ceritasondha.com ini aku awali lebih dari 7 tahun yang lalu.  Ketika pikiranku, hatiku terlalu sesak dengan tekanan pekerjaan..  Lalu seorang junior di kantor, Veny Citra, bercerita tentang berpulangnya seorang blogger, Inong, Bunda Zidan dan Syifa.  Aku saat itu tidak tahu apa itu blog.. Bagaimana membuatnya.. Sama sekali tidak tahu…  Tapi dari postingan-postingan yang ditulis alm Inong, aku melihat bahwa yang dia ceritakan adalah her daily life..  Aku pikir, aku pun bisa membuat seperti itu..  Maka aku belajar membuat blog, menuangkan pikiran demi pikiran, perasaan demi perasaan, pengalaman demi pengalaman…  Dengan bahasaku sendiri… My personal language…  Tak ada yang mengharuskan ku menggunakan EYD 1972… 😀

Lalu para gadis bilang, “Kami tak tahu nak menulis tentang apa, bu”

Aku lalu bilang, “Mari kita cari bersama, apa yang bisa kalian tulis.. Satu hal, untuk di awal, tulislah sesuatu yang sangat kamu ketahui, sesuatu yang menjadi atau pernah menjadi bahagian hidupmu.. Sesuatu yang pernah kamu rasakan.. Tuangkan semuanya.. maka dia akan jadi tulisan yang, insya Allah hidup…”  Dan aku melihat kerlip semangat di mata mereka.. 😀

Lalu aku menanyakan satu persatu tentang diri mereka…

Saat kutanya dari mana asalnya, gadis cantik pertama mengatakan kalau dia berasal dari Air Tiris.. Sebuah kota kecil di Kabupaten Kampar, sekitar 40 km dari Pekanbaru..  Aku lalu bilang, “Kamu tahu masjid Jami’?”  Dia bilang, “Tahu, bu”.  Aku lalu melanjutkan, “Kamu tahu kalau Masjid itu tidak punya paku? Kamu tahu ada benda apa di dalam bak di bagian belakang masjid? Kamu tahu sejarah Masjid itu? Apa kamu pernah ke sana? Pernah beraktivitas di sana ?  Tuliskan lah tentang semua itu menurut apa yang kamu tahu, kamu pikirkan, kamu rasakan.”

Gadis kesekian, saat diberi pertanyaan yang sama, yaitu daerah asalnya, menjawab, “Saya dari Bagan Siapi-api, bu.  Rokan Hilir.”.  Aku lalu bilang,  “Berapa persen penduduk Tionghoa di Bagan? Kamu berinteraksi dengan mereka?  Kamu melihat bagaimana kerukunan antar etnis di sana?  Tuliskan lah itu semua.. Apa yang kamu tahu, kamu pikirkan, kamu rasakan.”

Ada suatu tanya di diriku… Apa yang diajarkan di kampus mereka ya…?  Bagaimana bisa anak-anak yang mengambil jurusan jurnalistik, tapi belum bisa menulis.  Jangankan menuangkan pikirannya, apa yang mau ditulis pun mereka belum familiar.  Aku bukan penulis professional.. Aku  hanya seorang blogger.. Itu pun terkadang termegap-megap oleh gelombang kehidupan…Tapi menjadi seorang blogger membuat aku lebih bisa mengekspresikan apa yang ada di pikiranku, perasaanku dalam bentuk tulisan..  kalau dalam bentuk ucapan dan ekpresi wajah, aku sering tak bisa…Aku bisanya berwajah juteg…  hahahaha

Apa yang terjadi dengan para gadis cantik ini juga mengingatkanku terhadap beberapa kasus yang aku temukan selama bekerja di lingkungan Pemerintah di daerahku ini….

Kasus pertama, dulu saat aku masih kerja di kantor lama, pernah ada dua anak magang dari SMK, jurusan komputer.  tapi enggak bisa menggunakan komputer…  Saat aku tanya, emang kamu belajar apa soal komputer, anak-anak itu menjawab, “Kami diajarkan teorinya apa saja isi komputer bu.  tapi enggak pernah praktek.  Karena saat kami kotak katik komputer di lab, jadi ada komputer yang terbakar.  Setelah kejadian itu kami enggak dikasi lagi megang komputer… Uppppppsssss….

Kasus kedua, ketiga dan entah yang keberapa, ada pegawai baru yang sarjana.  Tapi enggak bisa menggunakan wordprocessor… Yang lulusan akuntansi, enggak bisa menggunakan worksheet… Aku saat itu nanya, siapa yang mengerjakan skripsinya? Karena kalau dia kerjakan sendiri, pasti dia jadi bisa menggunakan wordprocessor…  Apa skiripsnya dia tulis tangan terus dia ngupahin orang buat ngetik…? Hari gini….?   Tapi orang-orang yang ku tanya itu biasanya diam….

studentsAku kali ini, seperti yang sudah-sudah, kembali bertanya, apa ya yang diajarkan di tempat mereka belajar?  Apakah tidak ada prosses mendorong siswa atau mahasiswa untuk punya kemampuan  paling dasar untuk memenuhi kualifikasinya untuk berhak menggenggam selembar ijazah?  Atau jangan-jangan kualifikasi itu hanya ada di atas kertas…?

Aku dulu juga bukan mahasiswa yang sempurna.. Aku sering bermain dengan teman-teman..  Menjadi sarjana pertanian tidak membuat ku ahli memegang cangkul..  😀   Tapi dari membuat laporan-laporan praktikum, tugas-tugas, Studi Pustaka dan Skripsi, membuat aku bisa menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan.. Untuk laporan-laporan tahun-tahun pertama sampai ketiga masa kuliah, mengetik 11 jari  minimal harus bisa… 11 jari…, artinya jari telunjuk kiri dan jari telunjuk kanan.. hehehe.  Dan pada tahun ketiga masa perkuliahan, ketika komputer mulai mudah diakses, aku dan teman-teman pun belajar menggunakannya..

Tapi kalau sarjana di tahun gini, saat komputer berserak dimana-mana, masih gak bisa menggunakan word processor… Lulusan akuntasi gak bisa menggunakan worksheet… Calon jurnalis belum  bisa nulis…? Ada apa dengan kita…?  Bagaimana sistem pendidikan kita…?  Atau benar, apa yang dibilang orang-orang  kalau orang kita sekolah itu bukan mencari ilmu, tapi hanya mengejar selembar ijazah?  Yang setelah di tangan juga belum tentu laku buat digunakan mencari kerja..  **sad*

Tulisan kecil ini hanya sebuah masukan bagi kita agar kita berhenti mengejar hanya sekedar simbol-simbol…, yang sesungguhnya tak membawa kita kemana-mana..  Kecuali melayang pingsan  di langit, tanpa kekuatan…  tanpa tujuan…   Lalu terkaget-kaget saat sekitar sudah tak ada lagi, karena mereka telah melesat menuju dunia yang lebih baik…  Semoga juga bisa menjadi masukan bagi  teman-teman yang berkecimpung di dunia pendidikan di daerah ini.. ***

Posted in My Mind

Berhati-hati…

dandelionsJangan biarkan diri kita menerima pemberian dari orang-orang yang kita tahu tidak menjalankan kewajiban untuk menafkahi keluarganya…  Karena itu berarti kita mengambil apa yang seharusnya menjadi hak orang lain…

Jangan kita berbangga hati dicintai oleh seseorang, yang kita tahu seharusnya bertanggung jawab atas kesejahteraan, kebahagiaan hidup orang lain..  Karena sesungguhnya kita mengambil apa yang seharusnya menjadi hak orang lain…

Mari berhati-hati… Agar kita tidak menjadi orang yang ikut serta menyakiti hati orang lain..  Mari berhati-hati agar kita tak menari di atas derita orang lain…***