Banda Aceh in My Memory…

Masjid Raya
Masjid Raya Baiturrahman

Mendapat kesempatan ke Banda Aceh, tentu menjadi sesuatu yang sangat, sangat, sangat menyenangkan buat aku…Meski bukan kampung halaman bagi aku, abang dan adik-adikku…, tapi kota ini dulu tidak asing bagi kami…
Ya, pada tahun 1980, Papa ku pindah tugas dari Padang Sidempuan ke Banda Aceh.. Dan Papa bertugas di sana selama 7 tahun, sampai tahun 1987..

Aku yang menetap di Pekanbaru sejak usia 1 tahun tidak pernah ikut tinggal di Banda Aceh, demikian juga abangku Rio..  Tapi setiap libur sekolah, aku selalu dikirim  ke Banda Aceh..  Emang paket…???  *wink.. wink.. wink…* Sementara bagi adik-adik ku, David, Uli, Ivo dan Noy, Banda Aceh menjadi kota kedua tempat mereka dibesarkan setelah Padang Sidempuan..  Buat Ivo, dan Noy bahkan mungkin tak menyimpan memory saat tinggal di Padang Sidempuan, karena mereka masih sangat kecil ketika pindah ke Banda Aceh..

So, target utama ku selain urusan kerjaan, ke Banda Aceh harus bisa melihat lagi kavlingan yang dulu menjadi rumah tinggal keluargaku.. Rumah dinas DJA…  Aku ingat ancer-ancer lokasinya…   Tapi lupa nama daerahnya, juga nama jalannya…  :D  Yang aku dengar dari Uli dan Ivo, lokasi rumah itu hancur saat tsunami..  Mereka berdua sempat pergi ke Banda Aceh beberapa tahun setelah tsunami…

Sebenarnya rumah itu rumah kedua yang jadi tempat tinggal keluargaku saat di Banda Aceh.. Setahun pertama, keluarga ku tinggal di sebuah rumah yang disewa oleh kantor di Jl. Pocut Baren, Gg. Anggrek..  Gak ingat lagi nomor berapa.. 😀.  Tapi rumah kedua menjadi sangat kami kenang, karena lebih lama, juga lingkungannya sangat mengesankan…

Sungai di tepi jalan ke arah rumah...
Sungai di tepi jalan ke arah rumah…

Ya, untuk sampai ke rumah itu, kita harus menyusuri jalan yang di sebelah kirinya sungai.. Ada perahu-perahu nelayan.. , dan kalau kita ke tepi sungai itu di sore, kita bisa melihat banyak anak kepiting keluar dari lubang-lubang tempat tinggalnya..

Jalan menuju rumah, sudah banyak rumah-rumah lain.., tapi tidak padat…  Bahkan di depan rumah kami ada padang ilalang yang sangat tinggi…. Yang di siang dan malam hari karena tiupan angin mengeluarkan suara. “uuuuuuuuuuuu, uuuuuuuuuu…”  Nyanyian alam yang menemani tidur siang dan malam kami kalau lagi di rumah…  Sebagian besar lingkungan adalah rumah-rumah penduduk setempat dengan halaman yang luas dan banyak pepohonan..  Kami bebas bermain di luar rumah… Bahkan masuk ke padang ilalang, dan merebahkannya menjadi alas untuk duduk dan tidur-tiduran, tanpa terlihat dari kejauhan…

Lingkungan rumah itu seperti surga bagi adik-adikku….  Uli yang sedari kecil feminim dan cinta cerita putri-putri, selalu bermain di situ.., memetik bunga-bunga rumput dan merangkainya menjadi mahkota bagi dirinya…  Ivo si tomboy, selalu memanfaatkan pohon kelapa tetangga depan rumah untuk membuat sendiri benang galasan buat main layangan…  Sementara Noy, bergerak bebas dengan sepedanya menysuri jalan setapak di pinggir rawa-rawa.. Tak ada rasa takut bagi mereka untuk bermain dan menjelajah..  Tak pula ada rasa takut pada Papa dan Mama membiarkan mereka bermain bebas… Daerah itu begitu nyaman dan aman..  Bahkan Mama pun meghias pagar rumah dengan menanam berbagai macam tanaman sayur.., gambas, tomat…   Pagar rumah yang meriah…

Begitu keluar dari hotel, pak supir menanyakan kemana kami mau pergi…? Aku bilang mau lihat-lihat lokasi rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggal keluarga ku.  Tapi aku gak ingat nama jalannya, juga daerahnya..  Aku coba menggambarkan lokasi rumah kami yang ada ingatanku.. Supir itu bilang, itu daerah Lampulo… Yaaa.., betul.. Aku jadi ingat, nama daerah itu memang daerah Lampulo..

Jl. Tengku Diblang, Banda Aceh
Jl. Tengku Diblang, Banda Aceh

Pak Supir lalu bilang, bagaimana kalau dia membawa kami melihat kapal penangkap ikan yang mendarat di atap rumah saat tsunami..  Lokasinya di Lampulo, satu daerah dengan rumah kami dulu…  Saat menyusuri jalan yang dikirinya sungai, yang aku lihat bernama jalan Sisisngamangaraja, di sebelah kanan aku melihat ada jalan dengan plank bertulis Jl. Tgk. Diblang… Nama itu tidak asing dalam ingatanku… Aku lalu menelpon David, menanyakan apakah jalan rumah kami itu Jl. Tengku Diblang.  David bilang, dulu memang nama jalannya Tengku Diblang…

Kami lalu memutuskan untuk kembali ke jalan itu nanti, setelah melihat Tugu Kapal di Atap Rumah..  Tugu Kapal di Atap Rumah yang merupakan bukti betapa mengerikannya tsunami.. Betapa besar kuasa Yang Menciptakan tsunami.., Yang Membuat Lempeng Bumi Bergeser…  Dan saat sampai di lokasi tugu tersebut, aku baru menyadari bahwa lokasinya bila ditarik garis lurus, tak sampai 500 meter dari lokasi rumah kami dahulu…  Astagfirullah aladzim..  Kalau keluarga ku tak pindah dari Banda Aceh di pertengan 1987, dan menetap di sana sampai akhir tahun 2004, entah apalah yang terjadi pada keluarga ku…

Selesai melihat-lihat Tugu Kapal di Atap Rumah, kami kembali menyusuri jalan Tengku Diblang.  Mengikuti ancer-ancer yang diberikan David…  Di jalan itu ada kantor Polsek, rumah kami ada di jalan kedua sisi kiri jalan Tengku Diblang setelah Polsek,   Saat belok di jalan itu, aku sama sekali tak lagi mengenali daerah tersebut..  Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan kesamaan dengan lokasi rumah yang ada dalam ingatan ku…  Semua nampak sangat berbeda…

Tak ada lagi tanah kosong di pojok jalan…  Tak ada lagi rumah dengan rerumputan yang dihiasi pohon kelapa di depannya…  Tak ada lagi barusan lalang yang nyaris tak berbatas…  Yang ada rumah, rumah, rumah dan rumah…  Jalan-jalannya terasa sempit, tak seperti dulu…

Saat melihat sebuah warung, aku memuruskan untuk turun dari mobil dan bertanya…  Ternyata pemilik warung itu orang baru.. Orang yang menetap di tempat itu setelah bencana, tapi dia menyarankan aku untuk bertanya pada pemilik warung yang sudah kami lewati sebelumnya..  Karena pemilik warung itu adalah orang lama di situ… Salah satu dari sedikit orang di daerah itu yang selamat dari tsunami…

Diteras  warung kedua itu aku menemukan seorang ibu yang sedang membersihkan sayur, dibantu anak lelakinya.  Pada ibu yang di warung itu aku bertanya, apakah dia tahu yang mana kavlingan rumah pak A. Siregar, pegawai Departemen Keuangan dulu, yang tinggal di daerah ini tahun 1981 – 1987.  Ibu di warung itu balik bertanya siapa nama anak2 pak Siregar.  Saat aku sebutkan nama 2 dari 4 orang adik2ku yang ikut Papa menetap di Banda Aceh, Davi dan Uli.  Begitu dia mendengar jawabanku, dia menunjuk ke sebuah rumah yang berada di ujung jalan itdan berkata, “Rumahnya di belakang rumah itu.  Sekarang sudah jadi Mess Keuangan.”

Ohhhhh…. Rumah yang dulu kami tempati tak lagi berada di pojok jalan..  Di tanah kosong di samping rumah, yang dulu jadi  tempat kami bermain sudah berdiri sebuah rumah dua lantai berwarna merah jambu dengan hiasan keramik biru..  Di depan rumah tak ada lagi rumah dengan halaman luas dengan pohon kelapa..  Tapi agak ke utara, ada halaman luas tanpa pagar, dengan rumah berarsitektur khas Aceh di atasnya..

Di kavlingan rumah kami dulu sudah berdiri bangunan 2 lantai, berwarna cream..  Sayup-sayup terdengar suara beberapa orang dewasa di bagian depan rumah.. Dan di balik pagar juga nampak terparkir beberapa kenderaan roda dua…

Aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan… Tak berusaha masuk ke halaman mess tersebut.., karena menurut aku tak ada juga gunanya.. Karena bangunan itu bukan bangunan yang pernah ditempati keluarga ku..  Itu bangunan baru.. Tak ada jejak-jejak keluarga ku di dalam bangunan itu…  Di situ tak ada yang tersisa dari yang dulu menjadi bahagiaan kehidupan keluarga kami..  Musnah dihantam tsunami…  Tapi kami harus bersyukur, keluarga kami tak lagi menetap di sana sampai tahun 2004…  Tak terbayangkan betapa pedihnya hati orang-orang yang terkena bencana tsunami..  Semoga tak ada lagi bencana dan kepedihan di Aceh.., dan juga di bagian dunia yang lain…  ***

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s