Wish A Better Life…

ImageBayangan wajah suram dengan airmata menggenang di pelupuk  di gelap malam berhujan di pelataran  Penvil melintas dalam kenangan..
Semoga kehidupanmu lebih baik dan semakin baik di masa yang akan datang…
Semoga tak lagi melakukan kesalahan yang sama..
Semoga godaan dunia tak lagi membuatmu mellepaskan apa yang ada dalam genggaman.., sehingga semua tergulir, jatuh berkeping…

*wish u have a better life, a happy life*

Catatan Kecil di Juni 2013

Aku menemukan tulisan ku ini di FB ku saat melihat-lihat kembali postingan lama..  Ku re-posting di sini agar mudah aku temukan dan lihat kembali, sebagai pengingat diri…

Tulisan ini aku buat saat aku sedang berada di Lamphun, sebuah kota di bagian Utara Thailand, sekitar 1 jam dari Chiang Mai..

@ Doi Suthep, Chiang Mai, Thailand, Juni 2013

@ Doi Suthep, Chiang Mai, Thailand, Juni 2013

Kita tak bisa merubah siapa pun, kecuali diri sendiri…

Karena setiap manusia adalah jiwa bebas yang punya hak menentukan pilihan-pilihan hidupnya. Termasuk pilihan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, punya kehidupan yang lebih baik, atau mau tetap begitu-begitu saja sampai di ujung kehidupannya…

Yang bisa kita lakukan hanya merubah diri sehingga bisa menerima kekurangan dan kelebihan orang lain..
Yang bisa kita lakukan adalah dengan mengatur agar cawan hati menjadi lebih kuat, lebih besar kapasitasnya dalam menghadapi lika liku kehidupan..
Atau…., kita bisa merubah diri untuk menjadi lebih tegas dalam menyongsong masa depan dan melepaskan masa lalu…

Nite nite Lamphun, Nite nite Thailand, Nite nite all… — feeling blessed in Lamphun, Thailand.

Can’t Cry Hard Enough..

Aku tahu lagu ini sudah lama sekali…  Saat dijadikan salah satu lagu di Beverly 90210.. Di episode saat Dylan kehilangan ayahnya…  Kayaknya episode itu ditayangkan di RCTI saat aku masih sekolah di Bogor… Tahun berapa itu yaaa…?

Lalu aku nemu lagu ini ada di CD kompilasi lagu2 80’es milik adik ku David.., dan aku minta secara paksa…  😀 Dan aku masih menyimpan CD itu di rak CD di kamar ku..

Beberapa hari yang lalu, aku mendengar kembali lagu ini, tapi yang nyanyiin cewek..  Saat aku cek di Youtube, ternyata nama penyanyinya Bellefire.. Tapi buat aku rasanya masih kerennan suara William Brothers…

Dan aku suka banget dengan bagian lirik yang …

There it goes
Up in the sky
There it goes
Beyond the clouds

CAN’T CRY HARD ENOUGH

I’m gonna live my life
Like everyday’s the last
Without a simple goodbye
It all goes by so fast

And now that you’re gone
I can’t cry hard enough
No, I can’t cry hard enough
For you to hear me now

Can I open my eyes
And see for the first time
I’ve let go of you like
A child letting go of his kite

There it goes
Up in the sky
There it goes
Beyond the clouds

For no reason why
I can’t cry hard enough
No, I can’t cry hard enough
For you to hear me now

Can I look back in vain
See you standing there
With all that remains
It’s just an empty chair

And now that you’re gone
I can’t cry hard enough
No, I can’t cry hard enough
For you to hear me now

There it goes
Up in the sky
There it goes
Beyond the clouds

For no reason why
I can’t cry hard enough
No, I can’t cry hard enough
For you to hear me now  ***

Dalam Diam…

silentDalam diamku…
Tanpa kemarahan…
Hanya keikhlasan…
Hanya kepasrahan
Agar tak lagi kesalahan dan dosa bertambah…

*tetap mendoakan mu dalam diamku*

picture : http://www.dreamstime.com/photos-images/muslim-woman-praying.html

Percakapan di Pagi Hari..

Ini cerita tentang percakapan di suatu pagi, antara aku dan kak Mentel (KM, nama samaran, bahasa Melayu, yang artinya centil), seorang teman kantor yang secara usia beberapa tahun lebih tua dari ku..  Beliau sama dengan aku sejak akhir tahun 2008 diberi amanah untuk memegang posisi setingkat supervisor..

gossipKM : Sondha, coba kau lihat si A tuuhh.. Menurut kau, pantas dia memegang jabatan kepala bidang?

Aku : Entah lah kak.. Aku gak mikirin itu… Enggak mau juga ngomongin hal itu… Sudah ya, aku banyak kerjaan.. *sambil aku bergerak meninggalkan Kak Mentel*

KM *sambil memegang lenganku agar tidak bergerak menjauh dari dirinya* : Tunggu dulu…Coba lah kau jujur.. Menurut kau pantas, ga..?

Aku : Banyak kerja aku yang lain, kak..   Tak usah lah kita bahas.. Tak ada guna..

KM dengan suara gemas penuh emosi : Eh, kau kan sudah S2, aku juga. Kau sudah sekian tahun di posisi yg sekarang, aku  sebelum pindah ke kantor ini juga sudah pagang jabatan.  Sudah 6 tahun aku di posisi yang setingkat dengan posisi ku sekarang. Kita juga pantas lho mendapat promosi… Ya, kan..? *guuubbbbbrrrrkkkkkssssssssssssssssssssss*

Ternyata ohhh ternyata ada yang gak tahan pengen dipromosiin…   Ternyata ada yang cari dukungan…  Ternyata ada yang mencari teman seperjuangan….  *tepokjidat.com*

Aku dengan segala kejahilan ku : Kakak berapa tahun? 6 tahun..? Aku sudah 12 tahun.  Terus mau apa?

KM  dengan  wajah kaget nyaris ileran : Haaaa…..? Kau 12 tahun…? Gila itu namanya… Lama kali…  Gak adil itu namanya…

Aku sambil senyum2.. :  Jabatan itu amanah, kak.  Bukan kita yang berhak menentukan apa kita pantas diberikan suatu amanah  atau tidak.  Kalau belum sampai ke kita, terus mau apa? Apa mau nyorong-nyorongin diri? Kita kerjakan saja apa yang dipercayakan pada kita saat ini dengan sebaik yang bisa kita lakukan. Tak usah dibandingkan orang dengan diri kita.   Kakak sudah lakukan tugas kakak dengan baik belum…?  *coel abis si  kakak mentel*

Kembali ke Sabang…

Saat akan berkunjung ke Banda Aceh tanggal 16 – 18 November 2013, aku bertekad untuk nyebrang ke Sabang..

Sabang…?

Pulau Weh..  Gambar diambil dari sini...

Pulau Weh.. Gambar diambil dari sini

Iya, Kota Sabang.  Kota yang berada di Pulau Weh. Kota yang posisinya paling barat, tepatnya barat laut, Indonesia..  teman-teman pasti gak lupa lirik lagu yang biasa kita dengar saat masih sekolah..

“Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau…
Sambung menyambung menjadi satu,
Itu lah Indonesia”

Kenapa sih aku pengen banget ke Sabang, sampai bertekad segala…? Karena aku ingin melihat keadaan kota ini setelah otonomi daerah, setelah Aceh tak lagi dilanda perang…. Karena aku sudah pernah melihat Sabang dalam 2 situasi yang sangat, sangat berbeda…  Situasi yang gimana aja…?

Aku berkunjung ke Sabang pertama kali pada pertengahan tahun 1980.  Saat Sabang berstatus sebagai pelabuhan bebas alias freeport..

Aku ke sana bersama Mama, abangku Rio, adikku David, Uli dan Ivo.
Saat itu kami berangkat naik kapal dari Pelabuhan Uleulhe, dan mendarat di Pelabuhan Balohan. Waktu tempuh saat itu 3 jam.  Di tengah perjalanan, dari dak kapal, tempat kami duduk-duduk menikmati udara dan angin laut kami bisa melihat rombongan lumba-lumba menari mengiringi kapal…

Kami di Sabang hanya semalam. Kalau tidak salah ingat, kami menginap di rumah tulang (oom) nya Mama, yang rumahnya berada di bagian tertinggi Kota Sabang. Tak jauh dari depan rumah itu, ada tangga menuju deretan toko-toko yang berada di bagian rendah Kota Sabang. Deretan toko yang berada di tepi laut…

Aku ingat begitu sampai, kami dibawa Mama ke pasar, menemani beliau belanja keperluan rumah tangga, berupa pecah belah… Piring-piring, gelas-gelas merk pyrex, dan entah apa lagi..

Lalu setelah  makan malam Mama kembali membawa kami jalan.. Kali ini kami menyusuri tangga yang menghubungkan bahagian kota Sabang yang tinggi dengan bahagian yang rendah, yang merupakan lokasi pasar…

Meski sudah malam, ternyata daerah bisnis di Kota Sabang saat itu masih hidup… Masih banyak orang-orang yang melakukan transaksi bisnis… Bahkan di ujung tangga yang kami lewati ada orang-orang yang berjualan dengan meletakan barang dagangannya dengan alas seadanya…

Kota ini begitu hidup….

Keadaan jadi sangat berbeda saat aku berkunjung ke Sabang pada pertengahan tahun 1999..

Saat itu aku ikut Diklat Teknik dan Manajemen Perencanaan Pembangunan (TMPP) yang diadakan Bappenas, Depdagri dan 4 Perguruan Tinggi Negeri  di Indonesia, salah satunya Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, dan lokasi Kuliah Kerja Lapangan (KKL) nya diadakan di Sabang..

Pertengahan tahun 1999 termasuk masa yang sangat parah dari konflik Aceh..  Saat itu menjelang Pemilu pertama setelah reformasi..  Jalur transportasi darat Banda Aceh – Medan pp nyaris putus, karena jarang ada kenderaan umum yang mau mengambil resiko dicegat dijalan.  Karena situasi tersebut, menurut panitia, Sabang adalah lokas yang paling aman untuk membawa 40 orang pegawai Bappeda yang berasal dari berbagai kabupaten/kota dari 7 provinsi yang ada di Pulau Smatera (waktu itu provinsi di Pulau Sumatera hanya 8, untuk Provinsi Lampung, diklat TMPP nya dilaksanakan di Universitas Indonesia).

Pusat Kota Sabang, dulu di tempat ini tahun 1999 anak-anak bisa bermain bola sangkinkan sepi, jarang ada kenderaan melintas

Pusat Kota Sabang, dulu di tempat ini tahun 1999 anak-anak bisa bermain bola sangkinkan sepi, jarang ada kenderaan melintas

Saat aku ke sana,situasinya berbeda 180 derajat dengan situasi tahun 1980…

Kota Sabang bagai kota mati… Jalan-jalan terasa sepi… Jarang ada kenderaan dan manusia lalu lalang… Bahkan jalan-jalan yang dulunya penuh dengan aktivitas ekonomi, menjadi lengang… Bahkan anak-anak menggunakannya untuk bermain bola… Ironis sekali…

Dari data kependudukan yang kami ambil untuk keperluan laporan KKL, kami ketahui kalau pertumbuhan penduduk Kota Sabang saat itu di bawah angka nol, alias minus… Yaa, banyak penduduk yang keluar dari pulau ini karena tak ada aktivitas ekonomi yang bisa menjadi sumber pendapatan.  Kondisi ini bukan semata karena perang saudara, akan tetapi karena berubahnya status Sabang yang sebelumnya freeport.  Justru menurut penduduk setempat, penghentian status Sabang sebagai freeport termasuk salah satu yang menyebabkan rakyat Aceh bergolak menentang Pemerintah Pusat.

Oh ya…, untuk pergi ke Sabang pada tahun 1999, berangkatnya dari pelabuhan Krueng Raya.., yang Banda Aceh butuh waktu tempuh sekitar 1 jam.  Nyebrangnya naik kapal besar, yang di bagian bawahnya digunakan untuk mengangkut mobil-mobil yang mau ke dan kembali dari Sabang.  Waktu tempuh…? Sekitar 3 jam…

Saat aku ke Sabang bulan November kemaren, kami berangkat dari Pelabuhan Ulheulhe… Pelabuhan yang sudah bagus, rapi, setelah dibangun kembali pasca tsutnami..  Bahkan dermaganya dibuat sedemikian rupa hingga bebas gelombang..  Jadi penumpang naik dan turun dari kapal gak goyang-goyang, sehingga beresiko jatuh, kecemplung di laut..

Kapal Ulheulhe - Sabang Pp.

Kapal Ulheulhe – Sabang Pp.

Kapalnya…? Bagus… Ada 3 kelas.. Ada kelas ekonomi di bagian atas kapal di ruang terbuka.. , kelas yang di atasnya lagi, di ruang tertutup di bagian bawah kapal, dan kelas VIP di bagian atas kapal, persis di belakang ruang kemudi..   Berapa harga tiketnya…? Tiket kelas VIP pulang pergi, Rp.120.000,-/orang…  Waktu tempuh sekitardari Ulheulhe ke Balohan sekitar 45 menit…  Jauh lebih cepat dari yang dulu-dulu yaa…

Situasi kota Sabang sekarang jauh lebih baik dari tahun 1999.. aktivitas ekonomi jauh lebih baik.. Ini terlihat dari banyaknya kenderaan yang melintas di kota…  Pusat kota lebih ramai, meski belum seramai tahun 1980..  Kondisi infrastuktur, berupa jalan juga jauh lebih baik…    Semoga semua menjadi lebih baik di masa yang akan datang…

Baliho Promosi Wiasata Sabang

Baliho Promosi Wiasata Sabang

Oh ya.., mengingat pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan Sabang.. Di Pelabuhannya terdapat baliho promosi pariwisata, yang menurut aku, cerdas…  Membuat aku ingin segera bisa kembali ke sana, karena banyak yang belum sempat dinikmati… Mudah-mudahan bisa segera kembali…

Jadi ingat duluuuuuuu…, dulu sekali aku pernah berharap bisa kembali ke kota ini bersama seseorang, bajak laut yang pernah mengisi relung hati….  Gubrrraakkkkssss….kursi mendadak patah kakinya satu

Wiskul di Pontianak..

Ketika bertugas ke Pontianak di minggu keempat bulan Oktober 2013 yang sudah aku ceritakan ke teman-teman di sini.., aku seperti kunjungan-kunjungan ke tempat lain, pasti lah disempat-sempatin buat menikmati kuliner khas lokal…  Apa aja…??? Yuuuukkk berbagi cerita… Siapa tahu bisa jadi referensi teman-teman kalau berkunjung ke Pontianak…

BUBUR PEDAS....

Saat dalam perjalanan dari bandara Supadio ke hotel Santika Pontianak tempat aku dan teman-teman menginap, kami sempat bertanya pada supir taxi apa saja masakan khas Pontianak..  Pak supir menyebutkan Bubbor Paddas (bubur pedas).  Saat kami tanya dimana bisa didapatkan bubur itu, pak supir bilang, ada banyak yang jual…  Hmmm…

Saat sarapan di hotel Santikan, aku melihat di salah satu meja yang menghidangkan makanan, terdapat tulisan Bubur Pedas Khas Sambas..  Aku lalu memesan satu porsi…  Sambil menyiapkan pesananku, petugas resto hotel menjelaskan pada ku apa itu bubur pedas dan bagaimana cara membuatnya…

Bubur Pedas

Oh ya, untuk teman-teman ketahui, Sambas adalah salah satu nama Kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia Timur.  Tak heran bila daerah ini yang banyak dihuni oleh etnis Melayu, sehingga kulinernya pun sangat bercitarasa Melayu..

Bubbor Paddas nyaris seperti Bubur Menado yang dicampu dengan berbagai sayur…  Bedanya…? Dalam proses pembuatannya, beras yang menjadi bahan baku disangrai alias digongseng, demikian juga kelapa parut yang akan menjadi campurannya..  Setelah itu baru ditumbuk, dan kemudian dimasak bersama air kaldu, dan dicampur dengan bumbu-bumbu dan sayur mayur…  Daannnn…., satu yang khas dari bubur pedas adalah, bubur ini menggunakan daun kesum sebagai salah satu sayur yang dicampurkan..

Apa itu daun kesum…?

diambil dari  http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://2.bp.blogspot.com/_kOYiqA_uMFQ/TGO-84I1GWI/AAAAAAAAIUk/VC_5jWrGSQQ/s1600/daun%2Bkesum%2B1.jpg&imgrefurl=http://dancaerobicfreak.blogspot.com/2010_08_01_archive.html&h=864&w=1296&sz=130&tbnid=RWNlbxIZkmuhfM:&tbnh=90&tbnw=135&zoom=1&usg=__DjCwTdQ912XRlJuuqPhgobRAOwQ=&docid=n9Zcl7Ix6KiY2M&sa=X&ei=WhmbUtWNC4fzrQf5-IH4Dg&ved=0CDMQ9QEwAw

Daun Kesum, gambar diambil dari sini

Daun kesum  dengan nama Latin Persicaria odorata atau yang dalam dunia kuliner dikenal Vietnamese coriander adalah sejenis bumbu yang banyak digunakan di Asia Tenggara, terutama daerah-daerah yang dihuni etnis Melayu.  Rasanya pedas.. , biasa digunakan untuk campuran dalam membuat laksa, salah satu masakan khas Melayu..  Aku sempat mengunyah sejumput irisan daun kesum yang diletakkan di meja hidangan di Hotel Santika.. Rasa dan aromanya seperti honje..

Selain menikmati Bubur Pedas di Hotel Santika, aku juga sempat dibawa bu Wiwiek menikmati Bubur Pedas Pa’ Ngah.  Lokasinya di Jalan Sungai Raya Dalam.  Kalau teman-teman datang dari bandara Supadio ke arah pusat Kota Pontianak, sebelum sampai di gerbang kota, teman-teman belok ke kiri jalan..  Dari simpang itu kira-kira 300 meter, di sebuah ruko di sisi kiri jalan.

Bearapa harga seporsi Bubur Pedas di Pa’ Ngah…? Rp.7.000,- saja…  Atau kalau teman-teman ingin coba bikin sendiri, ini ada salah satu blog yang memuat resep Bubur Pedas, yang mungkin bisa teman-teman coba..

TOM YAM PAKLONG

Tom Yam Pallong

Tom Yam Pallong

Cafe Paklong berlokasi di Jalan Sultan Hamid II, dekat jembatan Kapuas, di daerah pusat kota Pontianak..  Cafe yang sederhana ini menyediakan berbagai makanan dengan bahan seafood, seperti nasi goreng, mie2-an.. Namun menu utama yang ditawarkan adalah tom yam..

Tom yam yang disediakan di sini rasanya uenaaaakkk bangetss……  Selain karena bumbunya yang pas dan yummy banget, juga karena bahan-bahannya, udang, cumi, irisan ikan benar-benar masih segar..   Buat kita yang sedang gak enak badan karena gejala flu, sungguh bisa membuat perasaan lebih enak…   Tapi kalo teman-teman mau ke sini, jangan hari minggu yaa…, karena di cafe ini ada tulisan besar-besar, hari minggu tutup..

SERIKAYA SUKAHATI….

Sukahati adalah  nama kedai kopi tua yang berlokasi di Jalan Tanjung Pura Nomor 17..  Benar-benar di pusat kota, di daerah pasar..  Menurut bu Wiwiek kedai kopi ini sudah ada sejak lama, bahkan sejak beliau masih kecil pun kedai kopi ini sudah terkenal…

Sukahati

Serikaya Sukahati

Apa yang ditawarkan oleh kedai kopi Sukahati…? Serikaya, pasti….  Hehehe…

Ya…, kedai kopi ini memang menjual serikaya sebagai menu utama selain, kopi… Serikaya home made dihidangkan sebagai selai untuk roti, baik yang dibakar atau pun tidak… Namun bukan itu saja.. serikaya juga dijadikan selai untuk pisang goreng Pontianak, yang maknyuussszzz itu.., juga selai bagi talas goreng…

Apa istimewanya serikaya Sukahati…?  Rasanya enak…, adonan telur dengan gulanya pas banget… Gulanya gak terlalu manis..  Jadi buat penikmat yang sudah manis, seperti aku, serikaya sukahati gak bikin neg… hehehehe….

D’ BAMBOO

D’ Bamboo berlokasi di Jalan Veteran Nomor 3 – 4.  Aku ke sana dibawa bu Wiwiek dan putrinya, Dea..  Tempat makan ini adalah tempat nongkrongnya anak-anak muda.. , generasinya Dea..  Tempatnya hanya 2 buah toko satu lantai, plus halamannya, yang disi dengan berderet-deret meja dan kursi-kursi plastik..  Tidak lebih..

Makanan apa yang disediakan di D’ Bamboo…, yang membuat bu Wiwiek mengajak aku dan teman kantorku bu Sri berwiskul ke sini…?

Mie

mie ayam mangkok pangsit, mie ayam baso, pangsit, mie seafood

D’ Bamboo menyediakan berbagai macam mie-mie-an., seperti mie pangsit baso sapi, mie tiau pangsit baso sapi, mie seafood dan yang unik, mie ayam mangkok pangsit.  Kenapa unik, karena mangkoknya adalah pangsit goreng yang dibentuk seperti mangkok..  Kreatif banget yaa…

Dari berbagai mie yang ditawarkan, aku memilih untuk memesan mie seafood… Ternyata rasanya sungguh maknyuuuzzzz… Selain pakai udang, dan baso ikan, juga pakai crackers cumi…   Top markotop…

Chai Kue

Aneka Chai Kue Goreng

Apa lagi yang ditawarkan di D’ Bambbo…? Chai Kue..  Apa itu Chai Kue…?  Chai kue atau Choi Pan bisa dikategorikan sebagai dim sum.  Bahan dari kue ini adalah tepung beras dan tepung ketan.., dicampur dengan berbagai bumbu..  Dari cara pengolahan, chai kue ada yang digoreng ada yang dikukus..  Sedangkan dari isinya,  ada yang isi bengkuang, kuchai, kacang atau keladi..

Chai Kue kukus

Chai Kue Kukus

Apa rasanya Chai Kue…?  Buat aku, hhmmmmm…. ini bukan sesuatu yang bisa jadi favorite-ku..  Di lidahku, kue ini rasanya too plain, meski dimakannya memang dengan sambel..  Bentuknya yang glenyer-glenyer dan berminyak, bikin aku cuma ingin mencicipi..

Oh ya, ada lagi menu yang juga luar biasa di D’ Bamboo…  Apaan…? Es gunungnya… 😀

Es Nona dkk

Choco Snow Ice, Manggo Snow Ice dan Es Nona..

Es gunung di sini namanya macam-macam…  Ada yang namanya Es Nona, ada Manggo Snow Ice, Dragon Fruit Snow Ice, Milk Snow Ice juga ada Choco Snow Ice..    Rasanya uenaaaakkkkk bangetszzz….

Oh ya, berapa raBamboonge harga makanan di D’ Bambbo…? Hmmm, harganya relatif murah..  Mie-mie-an antara Rp.15.000,- Rp.20.000,-.  Chai Kue kukus harganya Rp.900,-/buah, Chai Kue goreng, harganya Rp.7.500,-/set (lima buah).  Sedangkan es-es-an dari Rp.10.500 – Rp.14.000,-.

BAKMI KERING HAJI AMAN

Bakmi Kering Haji Aman, didirikan pertama kali di Kota Singkawang, kota yang penghuninya mayoritas adalah etnis Tionghoa….  Kedai Bakmi kering Haji Aman yang aku datangi adalah cabang Pontianak yang berlokasi di Jalan Sungai Raya Dalam, gak jauh dari toko baju Muslimah Alam Hijau-nya Wiwiek..

Bakmie Kering Haji Aman

Bakmi Kering Haji Aman

Apa istimeawanya mie kering Haji Aman…? Rasa mie-nya enak, dan enggak bikin belenyek setelah makan..   Maknyuzzz…

SERASAN BOAT

Serasan1

Menu Searasan Boat

Tentang makan di Serasan Boat sudah saya ceritakan di postingan yang ini…  Apa istimewanya Serasan Boat…? Ya makan sambil berlayar….  😀  Soal menunya… Restoran ini menawarkan menu dari berbagai macam bahan, ikan sunga, seafood dan ayam.., dengan masakan yang umumnya ala Melayu…  Masakannya enak…, bumbunya mantap…

ALOE VERA..

Beberapa tahun terakhir ini Pontianak nyaris tak bisa lepas dari kata Aloe Vera alias lidah buaya (Latin : Aloe barbadensis Milleer)  Yaaa…., tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai penyubur rambut, penyembuh luka, dan untuk perawatan kulit ini banyak dibudidayakan masyarakat di wilayah Pontianak Utara.., tepatnya di sekitar Jl. Budi Utomo.  Dan hebatnya Aloe Vera yang dihasilkan segede-gede bagong…, sementara yang biasa kita lihat di halaman rumah kita, mau pun rumah tetangga besar batangnya gak lebih dari dua buah jari tangan…

Aloevera

Aloe Vera di Pontianak

Oleh masyarakat di Pontianak, Aloe Vera diporses sedemikian rupa menjadi minuman, dodol, permen, krupuk dan entah apa lagi.. Sungguh kreatif…   Kalau teman-teman berkunjung ke sekitar Jl. Budi Utomo ini, teman-teman bisa melihat warung-warung yang menjual Aloe Vera segar, sekaligus menyediakan yang siap untuk diminum..   Dari yang aku amati, ada 2 toko yang besar dan sepertinya dikelola dengan baik, Aloe Vera Center dan Tsun Aloe Center…

Untuk sampai ke tempat ini sama sekali tidak sulit…, daerahnya tidak jauh dari jalan ke lokasi Tugu Khatulistiwa.  Jadi kalau teman-teman ke Tugu Khatulistiwa, jangan lupa, sekalian singgah ke daerah ini yaa…

Teman-teman yang mau ke Pontianak, selamat berwiskul yaa…  Semoga tulisan ini bisa menjadi referensi tema-teman.. Meminjam istilah Pak Bondan…, “Tetap Jalan-jalan.  Tetap Makan-makan…”. Meski setelahnya harus berjuang habis-habisan membuang lemak-lemak yang bertambah di badan… Hhhhhrrrrggggggg….