Posted in Tukang Jalan, Tukang Makan

Pecel Kembang Turi…

Turi….?  Apa itu….?

Gak terlalu lazim ya kita dengar… Kecuali mungkin buat teman-teman yang tinggal di sekitar Jawa Tengah, atau teman-teman yang memang beretnis Jawa…

Turi memang sejenis tanaman..  Nama latinnya Sesbania grandiflora syn. Aeschynomene grandiflora.  Biasanya pohon ini mudah ditemui di tepi-tepi jalan, karena sering berfungsi sebagai peneduh..  Tapi ternyata bunganya bisa dimakan, disajikan sebagai sayuran dikasi bumbu pecel…, Pecel kembang turi…
Aku tak pernah tahu sebelumnya kalau bunga turi bisa dimakan…  Bahkan yang mana pohonnya pun sebelumnya tak begitu jelas bagiku.. , karena mirip dengan pohon petai cina alias lamtoro… Maklum secara klasifikasi tanaman, keduanya masih satu famili Fabaceae.

Aku mengenal Pecel kembang turi saat sekolah di Yogya, sekitar tahun 1999 – 2001.  Sebagai makhluk lasak dan kaki panjang, Pasar Bringharjo pasti lah jadi salah satu tempat di Yogya yang kerap aku kunjungi..  Naaahhhhh, sebagai makhluk yang  juga pemamahbiak kelas kakap (hahahahaaaa… a confession) dan memegang prinsip anything that can not kill you, gonna make you stronger” , aku juga suka mencoba-coba makanan…  Aku pun mencoba pecel yang dijajakan di emperan Pasa Bringharjo…

Seorang Penjual Pecel Kembang Turi di Depan Pasar Bringharjo

Sayur mayur yang dihidangkan ada yang  tak jamak bagi ku sebelumnya… Kembang turi dan ada juga kecipir alias Psophocarpus tetragonolobus.  Tapi sumpe lhooo…, rasanya enak… krenyes krenyes…. Hahahahaaaa… Dan ternyata manfaatnya juga bagus buat kesehatan…   Kecipir bisa  jadi obat radang anak telinga…

Rasanya yang unik dan belum nemu di tempat lain, membuat aku menjadikan pecel kembang turi sebagai “must-eat-food” bila berkunjung ke Yogya, sebagaimana Guded Yu  Djum  di Wijilan dan Gudeg Bu Ahmad di Selokan Mataram..   Lagi pula seru juga rasanya makan di emperan pasar, sambil minum es degan dan diramaikan dengan suara  pengamen yang berganti-ganti namun tak henti-henti…

Menikmati Pecel Kembang Turi, ditemani segelas es degan dan nyanyian pengamen…

Kalau teman-teman ke Yogya, cobain deehhh… Jangan takut menikmati makanan tradisional  dan dijual di pinggir jalan.. Pakai saja prinsip anything that can not kill you, gonna make you stronger”, yaaa…. 😀 ***

Posted in Culture and Heritage, Tukang Jalan, Tukang Makan

Ramayana Ballet Prambanan…

Pagi hari  tanggal 13 Oktober 2012, sebelum aku berangkat ke Solo aku sempat ngobrol by phone  dengan mba Wik, lengkapnya mba Widya Nayati, salah satu arkeolog, yang sudah seperti kakak buat ku.  Begitu tahu aku mau ke Solo numpak sepur, mba Wik bilang, “Kamu ntar pulang dari Solo, turun di Prambanan aja.. Terus naik ojeg ya ke Prambanan, bilang sama tukang ojeg ke Gedung Tri Murti.”  Ada Festival Ramayana, kita nonton Ramayana Ballet Prambanan..

Namun kereta api yang aku tumpangi lagi minta perhatian dari PJKA  kayaknya.. :D.  Kereta apinya ngambeg saat kami singgah di stasiun Klaten, lebih dari satu jam…  Lalu gak jauh dari Klaten, di tengah persawahan, kereta apinya ngadat lagi… Hikssss…  Udah gitu, ternyata gak singgah pula di stasiun Prambanan..  Jadilah aku turun di stasiun Maguwo yang berada di sekitar Bandara Adi Sucipto, menjelang magrib…

Trus gimana ke Prambanannya….??  Naik ojeg jeg jeg jeg….  Berapa duit…? Dua puluh lima ribu rupiah…   Ini harga yang pantas, menurut aku.. Secara jarak yang ditempuh lumayan jauh, bok….   15 kilometer, ada kali..  Mana pakai acara nyari-nyari pula..  Iya, gedung Trimurti tidak berada di lokasi yang sama dengan kompleks Candi Prambanan… Kalau kita datang dari arah Yogyakarta,  kita belok ke arah utara sebelum kita melintasi sungai persis sebelum sampai ke kompleks Candi Prambanan..  Yaaa…., gedung Trimurti dan kompleks Candi Prambanan dipisahkan oleh sungai…

Aku sampai di gedung Tri Murti saat magrib…   Mba Wik dan 3 staff nya sudah berada di halaman depan gedung Trimurti..  Pameran yang merupakan bagian dari Festival Ramayana sudah tutup… Hiksss…..

Mba Wik langsung mengajak aku dan staff beliau ke restoran yang berada di utara gedung Trimurti… Restoran tersebut terdiri dari beberapa bale…, dengan beberapa set meja makan tersusun cantik di halamannya menghadap “Kompleks Candi Prambanan”..  Sungguh makan malam yang istimewa, suasananya…  Makanannya enak, tapi gak luar biasa… Standard, kalo menurut aku…  Menunya campuran… ada masakan Eropa, Chinesse ada pula Gudeg… 😀

Makan malam derngan pemandangan Candi Prambanan.. What a romantic dinner for people in love…

Selesai makan malam yang menyenangkan, mba Wik  mengajak aku dan staf-staf beliau ke teater terbuka…  Tempat  Ramayana Ballet Prambanan akan ditampilkan…

Apa siyyy Ramayana Ballet Prambanan….??

Ramayana Ballet Prambanan adalah pertunjukan sendratari Ramayana yang dilakukan di Kompleks Gedung Trimurti yang berdampingan dengan  Candi Prambanan.., dimana pertunjukan di sini dilakukan di teater terbuka dengan memanfaatkan pemandangan Candi Prambanan sebagai latar belakang…

Menurut tulisan Bung Karno, Presiden Indonesia Pertama pada 25 Agustus 1961, yang ditampilkan di beberapa bagian tempat petrunjukan…

“Ballet Ramayana adalah satu pertjobaan (good effort) untuk membawa seni-pentas Indonesia ke taraf jang lebih tinggi”

Buat teman-teman generasi setelah EYD alias Ejaan Yang Disempurnakan  tahun 1974, mungkin bingung ya baca tulisan itu… Tapi perlu tau donkkk… 😀

Harga Tiket Pertunjukan Ramayana Ballet Prambanan

Ramayan Ballet Prambanan tidak diadakan setiap hari…  Kalau teman-teman akan berkunjung ke Yogya dan ingin menonton pertunjukan ini,  coba lihat jadwalnya di website Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko  ini… Siapa tahu pas dengan jadwal pertunjukan…

Berapa harga tiketnya…?  Pada saat aku kesana, aku sempat memotret daftar harga  yang tertulis samping di ticket box..  Larang alias mahal yaaa….?? Klo menurut aku yang udah melihat pertunjukannya, ya enggak laahhh…   Wajar…  Karena ada banyak pihak yang terlibat dan pantas mendapatkan imbalan dari apa yang mereka berikan bagi penonton.. Ada para penari yang penampilannya luar biasa, juga para pemain musik dan orang-orang yang bekerja sebagai tenaga pendukung, seperti penata lampu, penata suara, sampai petugas kebersihan dan keamanan…  Lagi pula masa kita tidak mau menghargai kinerja seniman kita sendiri… Masa harus wisatawan asing saja yang menikmati karya seni anak negeri… Rugi laaahhh…  Nanti orang asing paham dan bisa mengapresiasi seni dan budaya kita, sementara kitanya sibuk mengembangkan seni yang berorientasi ke barat sana…

Pada saat aku menyaksikan Ramayana Ballet Prambanan, yang tampil bukan lah para seniman  yang biasa melakukan pertunjukan di situ… Tapi para peserta Festival Ramayana, yang diikuti oleh utusan 8 Provinsi di Indonesia..  Dan malam itu yang tampil adalah utusan dari Provinsi Kalimantan Selatan dan Provinsi Jawa Tengah..

Hanoman Obong…

Saat Kalimantan yang tampil, hmmmmm aku rasanya seperti melihat pertunjukan ludruk di televisi.. Sorry to say that…  Tapi saat melihat penampilan dari Provinsi Jawa Tengah…. waaaaaaaw, keren banget….  Selain karena yang ditampilkan adalah episode Hanoman Duta, yang mengambarkan Hanoman si monyet ,bule menjadi duta Rama untuk menemui Rahwana di Alengkadirja, dan berakhir dengan Hanoman Obong alias Hanoman dibakar, dan membakar bangunan-bangunan di Alengkadirja, sehingga pertunjukan juga dilengkapi dengan bakar-bakaran…, penampilan kontingen Jawa tengah benar-benar indah,  gerak penarinya yang halus dan detail, busana yang indah, juga musik dan suara penembang yang  merdu…..  Komplit banget… Dengar-dengar, para penarinya adalah para sarjana Sekolah Tinggi Karawitan Solo, dan dibina oleh salah satu putri Kraton Surakarta…

Kontingen Jawa Tengah setelah pertunjukan..

Sungguh saat kontingen Provinsi Jawa Tengah yang tampil, mata ku sepenuhnya terbuka lebar… Meski tubuh sudah sangat lelah karena sudah jalan-jalan seharian…  Tidak demikian saat kontingen provinsi lain tampil sebelumnya, aku sempat beberapa kali tertidur dalam duduk, lalu terbangun dan kembali nonton… Hehehehee…

Buat teman-teman yang mau berkunjung ke Yogya, sempatin nonton pertunjukan ini… Dijamin tidak rugi…, yang tidak nonton justru rugi…   😀 ***

Posted in Culture and Heritage, Tukang Jalan

A Half Day Solo Trip…

Solo….? Solo atau Oslo…? Hahahahaaaa… eS O el O… Solo…

Kota ini gak jauh dari Yogya, tempat aku pernah menetap sekitar 2,5 tahun untuk studi, tahun 1999 – 2001..  Sebagai makhluk “lasak” dan “kaki panjang”…, di sela-sela msa perkuliahan, aku sempat berkunjung ke Solo sekitar tahun 2001, bersama Mimi, salah seorang teman main di Yogya…

Waktu itu kami berangkat naik kereta api, turun di stasiun Purwosari, nyari sarapan nasi liwet, lalu jalan ke Pura Mangkunegaran, Kraton Solo dan lihat2 di Pasar Klewer…

Kali ini…., aku pergi sendiri… Alone… Tapi teteuuuuuuppppp menikmati perjalanan…  Alhamdulilllah….

Aku berangkat dari Yogya ke Solo numpak sepur alias naik kereta api..  Dari Stasiun Tugu, aku naik kreta api AC KRDI Madiunjaya jam 08:50 wib.. Ongkosne piro…? Kalih doso ewu ae… Dua puluh ribu rupiah saja…

Kereta berangkat tepat waktu..  Alhamdulillah..  Kereta hanya berhenti di stasiun Lempuyangan, Maguwo yang berada di sekitar Bandara Adi Soecipto, Klaten, lalu berhenti di 2 stasiun di Solo, yaitu stasiun Purwosari dan terkahir Stasiun Balapan…

Jam 09.56 wib aku sudah menginajkkan kaki di Stasiun Balapan..  Sebelum keluar dari pintu stasiun aku sempat cari info jadwal keberangkatan kereta untuk kembali ke Yogya.  Kereta AC berangkat sekitar jam 14.20.  Kereta Non AC jam 15.20 dan 16.20.

Aku lalu keluar ke sisi selatan rel kereta..  Di luar pintu sudah menunggu serombongan emang2 tukang becak berseragam yang menawarakan jasa..  Harga yang mereka tawarkan sudah standard.  Untuk tujuan yang sama dari lokasi tersebut, mau dengan tukang beca yang mana pun, upahnya sama.. Jadi gak ada persaingan tak sehat dengan melakukan banting harga…  Stasiun Balapan – Kampung Batik Kauman – Pusat Grosir Solo (PGS)   Rp. 15.000,-    Untuk melanjutkan perjalanan ke Kraton Surakarta, emang tukang becak menawarkan upah tambahan Rp.5.000,-.  Lalu dari kraton ke Pasar Klewer juga Rp.5.000,-.  Sedangkan dari Pasar Klewer ke Pura Mangkunegaran, yang aku rencanakan, emang Tukang Becak meminta Rp.15.000,-, dan kemudian Rp.15.000,- lagi untuk jalur Pura Mangkunegaran – Stasiun Balapan.  Jadi biaya transportasi untuk ke 5 lokasi dan kembali ke stasiun dibutuhkan dana Rp.55.000,-  Dan di setiap persinggahan, emang Tukang Becak akan setia menunggu, seperti supir pribadi kita… Heheheheeee….  Buat aku, cara seperti ini sangat nyaman, karena gak mesti bulak balik tawar menawar, dan alhamdulillah si emang tukang becak yang membawa aku orangnya santun banget…

Kampung Batik

Dari Stasiun Balapan ke Kampung Batik Kauman menurut aku cukup jauh.. Naik becak sekitar 15 menit.. Kampung ini terdiri dari sebuah area yang cukup padat.  Mobil hanya bisa jalan satu arah, gak bisa papasan dan itu pun hanya di jalan-jalan utamanya..  Jalanan yang ada lebih banyak berupa gang yang muat untuk dilalui 2 buah becak bersisian atau lebih kecil lagi.

Di wilayah ini sebagian besar rumah merupakan outlet penjualan batik.  Hanya tempat menjual…  Tidak ada orang memproduksi batik di sisni.. Aku tak melihat sebuah canting pun, juga gawangan untuk meletakkan kain yang di batik, atau sepotong malam…  Tidak ada.. Sungguh aku agak kecewa… Karena aku senang sekali melihat orang membatik.., terutama saat pembatik mengangkat canting dari wajan berisi malam yang panas, lalu meniupnya, sebelum menorehkannya pada permukaan kain… Di mata ku gerakan itu sangat indah.., pelan-pelan, halus dan penuh rasa…

Sebagian besar rumah-rumah di kampung ini menjual batik..  Tapi karena yang ku temui tak sesuai dengan harapan, bisa menyaksikan pengrajin, aku ilfil alias ilang filing… Sehingga tanpa berlama-lama aku langsung meminta emang tukang becak mengantarkan aku ke Pusat Grosir Solo..

Pusat Grosir Solo atau lebih sering disebut PGS seperti layaknya pasar modern berupa bangunan sekian lantai.. Sekilas tak terlihat beda dengan pasar-pasar di daerah lain, kecuali dagangannya.. Yuuuppp… Batik..  Hampir semua toko yang ada menjajakan batik.. Baju wanita berupa blouse, dress, rok. Kemeja laki-laki..  Juga kain panjang dan bahan baju.. Semua bermotif batik.. Ada batik sogan, dengan warna mono tone, ada juga yang colourful, dengan berbagai kualitas dan juga harga…

Aku lalu lihat-lihat, cuci mata..  Tapi umumnya baju perempuan yang cantik2-cantik di situ kurang pas dengan selera ku, yang cenederung simple and chic..   Aku hanya nemu sebuah blouse yang keren menurut aku..  Sayang blouse katun yang lucu dan all size itu malah membuat tubuh ku terlihat besar saat memakainya.. Hikssss.. Mengurangi nilai jual ku…

gerbang alun alun solo

Dari PGS aku diantar emang tukang becak ke Kraton Surakarta..  Gak jauh dari PGS..  Bahkan gerbang alun-alun kraton terlihat dari depan PGS..  Cuma untuk pengunjung bisa masuk ke keraton, tidak bisa dari gerbang utama.. Masuknya dari pintu belakang…  Untuk sampai ke sana, kita harus muter-muter dulu di jalan-jalan seputar keraton..

DSC05894

Untuk masuk ke museum karaton, pengunjung peroranga dikenai biaya Rp.10.000,-/orang bagi dewasa.  Kalau rombongan Rp.8.000,-/orang,.. Khusus untuk pengunjung dari luar negeri, tiket masuk harganya lebih mahal.. Rp.15.000,-/orang…   Museum ini bisa dikunjungi setiap hari kecuali Jum’at. Dengan jam berkunjung jam 09.00 – 14.00, kecuali sabtu dan minggu sampai dengan jam 15.00.

Museum Kraton Surakarta  berbentuk bangunan persegi panjang, dengan ruang terbuka dan sebuah sumur tua di tengahnya, yang ditumbuhi beberapa pohon beringin besar..  Sayang rumpu-rumputnya pun besar, alias tinggi..  Seperti kurang terawat..  Ruang pamernya adalah ruangan-ruanganbesar  yang berjejer-jejer di bangunan tersebut…

Apa yang bisa dilihat di Museum Kraton Surakarta…?   Ada banyak barang peninggalan.., milai dari pelataran dapur dan rumah tangga lainnya, senjata, alat transportasi dll.. Sayang sangat sedikit sekali barang yang dipamerkan punya deskripsi… Padahal deskripsi alias “the story behind the object” yang bikin pengunjung bisa memahami dan terpikat pada barang-barang yang dipamerkan..   dari beberapa museum yang pernah aku kunjungi, memang tak banyak yang memberikan deskripsi pada obyek-obyek yang dipamerkan.. Museum Fatahillah, Museum Teknologi Melayu Brunei merupakan museum yang memberikan deskripsi bagi obyek-obyeknya…

DSC05900

Di selasaran museum kraton aku melihat 2 kereta kencana yang sudah tua dan rusak.. Mungkin pengurus kraton tak punya dana untuk merawatnya…  Di salah satu kereta, aku melihat hiasan berupa patung-patung malaikat yang snagat berciri Eropa.. Sepertinya ini salah satu tanda yang menunjukkan kemana orientasi sultan-sultan kraton ini di masa lalu.. Puas melihat-lihat museum, aku melangkah ke sebuah pintu penghubung museum dengan halaman kraton..

Untuk masuk ke halaman dalam kraton, pengunjung tidak boleh memakai sandal, harus sepatu atau telanjang kaki.. Tidak boleh pakai tank top dan hot pants..

Halaman dalam kraton terdiri dari pasir dengan jejeran pohon yang rapat , rimbun dan memberikan rasa sejuk dan teduh…  Aku berkeliling mengamati kembali pemandangan yang pernah ku lihat sekitar 11 tahun yang lalu diiringi lamat-lamat suara gending dari para pemain gending kraton yang sedang berlatih di  sebiah sisi balarung kraton..

Di beberapa titik di teras balairung terdapat patung-patung yang menunjukkan orientasi kraton ini ke budaya Eropa..  Ada patung dewi yang membawa kitab dan pedang di pintu masuk utama..  Lambang bahwa kraton akan berorientasi kepada pengetahuan dan menegakkan hukum kah?  Entah lah.., tak ada guide yang menemaniku, sehingga aku tak mendapatkan penjelasan apa pun..

Di sebuah pojok kraton nampak seorang emban tua duduk terkantuk-kantuk…  Demikian pula di pojok lain, nampak emban tua terkantuk-kantuk menyandar pada sebuah tiang dengan segelas kopi di samping nya..  Kesetiaan para emban…

DSC05912

Aku lalu duduk di sebuah pendopo di seberang balarung.. menikmati semilir angin dan keteduhan yang dihadirkan rerindangan pohon yang rapat, sambil menikmati alunan suara gending… Ada rasa damai yang luar biasa…  Sendainya kehidupan didominasi keteduhan, kesejukan dan keindahan… Hmmmmm….

Setelah duduk beberapa aku meninggalkan keraton, mengahmpiri emang tukang becak yang menunggu di depan gerbang  museum dengan setia..  Kami lalu menuju Pasar Klewer, melanjutkan acara cuci mata, dengan melihat-lihat batik…

gerbang pembatas wilayah kraton dengan pasar klewer

Pasar Klewer memang asyik… banyak banget pilihan batik.. Tapi sekaligus akan membuat bingung orang yang gak paham dimana mencari apa di sini… Heheheheeee…

Gak lama aku masuk ke Pasar ini, aku melihat seorang ibu mendorong gerobak yang berisi berbagai bungkus makanan… Cacing-cacing di perut ku langsung beraksi, meronta-ronta…  Aku melihat jam tangan ku, hmmm jam 13 lewat…, pantas…  Tapi mau makan dimana…? Aku lalu menghampiri si ibu pedagang makanan yang sedang menawarkan dagangannya pada salah seorang penjaga toko..

Aku : Ibu jual apaan?

Ibu Pedagang : Macam-macam.. Ada nasi kuning pakai kering tempe dan telur dadar, selat solo, opor tahu, tempe dan tahu bacem..  Pilih aja..

Aku : Pengen siyy bu.. Tapi mau makan dimana..?

Salah seorang penjaga toko nyeletuk sambil menyodorkan dingklik yang nganggur di samping tempat dia duduk  : Makan di sini aja mba..  Gak apa-apa kok..

Aku : Beneran gak apa-apa? Gak terganggu?

Penjaga toko : Yo enggak lah mba..  Monggo..

Aku lalu memilih sekotak nasi kuning dan opor tahu… Rasanya enak banget…. Heheheeee… si Batak yang menikmati berbagai kuliner termasuk masakan Jawa…

Sambil makan aku ngobrol sama mba penjaga toko yang duduk di sebelah ku.. Aku bilang aku pengen lihat2 batik untuk bahan baju.. Beliau menunjukkan Toko Ria, yang hanya selisih satu dari tempat dia jualan..

Selesai makan, aku mengucapkan terima kasih atas dingkliknya, dan pamit pada si mba penjaga toko..  Aku lalu menuju Toko Ria..  Ya ammmpppyyyyuuuunnnnn…., itu bahan batik banyak banget… aneka warna, corak, kualitas dan harga tentu….. Kalau beli satu jelas harganya beda sama kalau beli beberapa, akan beda lagi kalau belinya banyak…   Klo aku ya jelas belinya hanya beberapa, untuk diri ku dan untuk adik ipar ku yang titip beli..  Dipilih. dipilih, dipilihhhhhhh…. 😀

Sungguh tak mudah untuk memilih mana yang mau dibawa pulang..  Akhirnya setelah keinginan dan logika berperang seru, aku memutuskan membeli 4 potong dan titipan adik ipar ku 3 potong..  Tapi sungguh aku puas dengan pilihan2 batik ku kali ini..  Mudah-mudahan aku punya kesempatan untuk segera mengantarkannya ke Penjahit Sebelas di Cipete, Jakarta, yang telah membuatkan baju-baju cantik dari batik buat adik ipar dan juga Ati, teman ku.

Puas pilah pilih batik, aku keluar dari Pasar Klewer, dan meminta emang tukang becak membawaku ke Pura Mangkunegara..  Sebelumnya kami sempat singgah di sebuah masjid di daerah Kauman untuk sholat Dzuhur.  Kami sampai di gerbang utama Pura Mangkunegaran pada pukul  14.36 wib.  Pura sudah tidak menerima kunjungan lagi untuk hari itu, karena waktu berkunjung hanya sampai jam 14.00 wib.  Tapi salah seorang perempuan yang kami temui di halaman luar pura menyarankan kami untuk masuk dari pintu samping..

Tukang becak lalu membawa ku memutar ke pintu samping Pura.  Alhamdulillah, penjaga di gerbang pura mengizinkan ku untuk masuk dan bersedia mengantarkan ku berkeliling.. Terus terang aku lebih banyak membaca tentang Keluarga Mangkunegaran dari pada Keluarga Kraton Surakarta.  sosok mereka lebih familiar dan wellknown ya.. Mungkin karena anggota keluarga mereka menjalin tali pernikahan dengan nama-nama besar di negeri ini, seperti dengan putri Bung Karno dan putra Prof M. Yamin.  Sebagai anak yang suka ikut ibu membaca majalah Kartini di masa kecil, jadi tahu cerita-cerita tentang kteluarga tersebut..

Pura Mangkunegaran jauh lebih terawat dari pada kraton Surakarta.. Halaman dalam kraton tertata rapi dan sangat asri.  Menurut penjaganya, Paundra, putra sulung Mangkunegoro X dan Sukmawati Soekarno Putri yang menetap di situ.  Sementara Mangkunegoro X dan keluarga lain lebih banyak menetap di Jakarta.

Aku sempat kembali menyusuri ruang-ruang Pura yang cenderung terbuka.. Mengamati koleksi topeng dan cendera mata koleksi keluarga Pura, serta foto-foto  mereka.  Sungguh Pura ini cenderung lebih terasa nuansa kekeluargaannya..

Setelah seputaran mengelilingi bagian dalam Pura Mangkunegaran, aku melanjutkan perjalanan ke Stasiun Balapan.. Yaaaaa, aku harus mengejar kereta, karena aku berharap sebelum jam 17-an aku sudah berada di Prambanan.. Alhamdulillah aku sampai di Stasiun Balapan jam 15.15.. Barengan dengan munculnya kereta yang akan berangkat ke Yogya.. Tapi kali ini kereta tanpa AC.. Gak masalah, yang penting perjalanan bisa dilanjutkan..

Terima kasih emang tukang becak yang sudah setia mengantarkan ku keliling Solo.. Tukang becak yang di awal perjalanan sempat ku ku minta opininya tentang Joko Widodo..    Ini opini si emang Tukang Becak…

Hal2 yang membuat Rakyat Solo mencintai JOKOWI:

  1. Jokowi menyediakan tempat bagi para PKL yang menjual barang2 bekas, tempat itu gratis;
  2. Jokowi membangun seluruh kantor Lurah dan Camat di kota Solo sehingga representatif untuk melayani masyarakat;
  3. Jokowi melakukan penataan di pemukiman di bantaran kali Bengawan Solo untuk sekitar 200 KK, dan mereka mendapatkan sertifikat atas tanah mereka;

  4. Jokowi membangun Rumah Sakit Pemerintah Kota Solo, dan membuat kebijakan pemberian pelayan gratis bagi penduduk miskin;

5. Jokowi melakukan kebijakan pendidikan gratis untuk pendidikan Dasar – Menengah bagi penduduk yang terdaftar sebagai Warga Surakarta/Solo;dan beberapa kebijakan lainnya yang berpihak ke rakyat kecil..

Ini adalah pandangan seorang rakyat kecil, seorang Tukang Becak..Saat aku tanya, bapak gak kecewa pak Jokowi meninggalkan Solo sebelum berakhir masa jabatannya ?Jawab bapak Tukang Becak : “Ya sedih, bu.. Tapi beliau kan harus diberi kesempatan untuk berbuat ti tingkat yang lebih tinggi. Demi kemajuan Indonesia, tohh..”Jawaban yang sangat bijak… menurut aku..

Semoga lain kali aku bisa berkunjung kembali ke Solo.. Aku ingin ke Lawean, aku ingin menyusuri sisi lain kota ini.. Dan aku berharap bisa mengunjunginya pada saat Solo Batik Festival…  Semoga, semoga, semoga…***