Posted in Culture and Heritage, Tukang Jalan

Ke Pampang Lagi…

Pampang….??? Iya Pampang... Desa Budaya milik masyarakat Dayak Kenyah yang berada tak jauh dari Kota Samarinda, ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur… Hanya beberapa belas kilometer dari pusat kota..

Aku sudah beberapa kali berkunjung ke desa ini, dan rasanya selalu menyenangkan…  Menatap tinggalan budaya dan membuat potret-potretnya menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi ku jika berkunjung ke sana.. Bahkan aku sangat senang menatap tiang dengan patung burung enggang di ujungnya, yang terdapat di halaman depan rumah panjang… Menatapnya selalu membuat lagu Kalimantan karya Guruh Soekarno Putra yang dinyanyikan Chrisye kembali mengalun di benak ku…

KALIMANTAN

Sungai Mahakam terbentang
Bagai membelah dunia
Berkayuh ku ke seberang
Mencari dambaan jiwa

Gunung biru menghijau
Berhutan bagai beludru
Juwita dimana engkau
Hatiku semakin sendu

Tiang Enggang

Kemana, kan kucari
Kemana, oh kemana
Kemana, kan kucari
Kemana, oh kemana

Kudengar kicau burung
Dipohon bercanda riang
Menghilang rasa murung
Hatikupun merasa senang

Wahai kau burung enggang
Bolehkah daku bertanya
Dimana kucari sayang
Dambaanku tak kunjung datang

Dipadang belantara
Terdapat rumah panjang
Mungkinkah kasih disana
Jika ada kan kujelang

Ternyata kudapati
Hanyalah bekas bara
Kemana lagi kau kucari
Mungkin kita tak pernah jumpa

Kemana, oh kemana (3x)

composed by Guruh Soekarno Putra, sung by Chrisye

Bahkan beberapa waktu yang lalu, David, adik ku yang menetap di Samarinda mengabarkan lewat telpon bahwa Foto Rumah Panjang di Desa Pampang yang kubuat dan ku posting di sini bahkan digunakan pada buku pelajaran anak-anak SD di Kalimantan Timur.  Foto itu dimuat tanpa seizin ku, bahkan tidak mencantumkan sumber dari mana foto itu diambil penulis.

David  mengetahuinya dari seorang teman  yang melihat-lihat buku pelajaran anaknya, dan menemukan bahwa anak yang ada di depan Rumah Panjang di buku  itu sepertinya Abner, anak laki-laki David, yang sering dia temui saat kedua keluarga saling berkunjung.  Dia heran kok bisa ujug-ujug Abner jadi foto model dalam buku pelajaran sekolah.. Hahahaha.. Lalu teman David itu menelpon David untuk mengecek kebenaran bahwa yang ada di foto itu benar-benar Abner.

David malah bingung karena merasa tidak pernah membuat foto itu apalagi mempulikasinya, apa lagi menyerahkan ke penerbit.. David akhirnya nanya ke Abner, apa dia ingat kapan foto itu dibuat.. Abner yang bilang “Itu kan foto ku yang dibuat Bou, waktu kita sama-sama ke Pampang, PiI.”  David dan Nana, istrinya lalu mengecek blog ku, daaaaannnnn voilaa…..!!  Mereka menemukan foto yang sama dengan yang dimuat di buku pelajaran tersebut…

Buat aku mesti ada rasa gak nyaman karena karyaku diambil untuk sesuatu yang bernilai ekonomi tanpa izin, tapi mengingat karyaku dipakai untuk mengenalkan kebudayaan kepada generasi penerus bangsa, aku ikhlas… Semoga mamapu membuat mereka sadar betapa tingginya budaya bangsa kita..

So, saat kunjungan ke Samarinda pada tanggal 2 – 5 Juni lalu aku pun pergi ke Pampang.. Ngapain lagi…?  Secara kali ini saat aku ke Samarinda ada teman yang ikut, yaitu BG alias GP, yang belum pernah ke Pampang, ya aku menemani beliau ke sana..  Gak bosan…?  Ennggggaaaaaakkkkk tuuuuhhhh…..  Enngggaakkkk bangetssss….

Rumah Panjang
Rumah Panjang, 04.06.2011

Tapi ada yang berubah saat aku sampai di depan jalan masuk ke halaman Rumah Panjang.. Ada proses pembangunan pagar keliling… Bagus siyyy untuk mengamankan tinggalan budaya itu, tapi efeknya Rumah Panjang seakan berada di lahan yang sempit…, kemegahannya berkurang….

Souvenier Pampang
Dagangan di Rumah Panjang…

Begitu turun dari mobil yang diparkir di depan Rumah Panjang, beberapa anak perempuan menghampiriku dan BG, menyapa dengan ramah.., menanyakan dari mana aku datang.. Hmmmmm…, anak2 yang punya kesadaran pariwisata… Good effort kids…!!!

Kami lalu menaiki beberapa anak tangga yang terbuat dari kayu tua menuju bagian dalam Rumah Panjang… Tidak seperti saat aku berkunjung sebelum-sebelumnya.. Di dalam rumah itu sudah adagebeberapa perempuan yang berjualan cendera mata, berupa gelang-gelang, kalung, ikat pinggang dan ikat kepala, rompi khas Dayak Kenyah.., terbuat dari manik-manik dengan kombinasi warna yang meriah…

Lalu aku juga melihat melihat gendongan bayi dari manik-manik di antara barang-barang yang didagangkan tersebut… Salah seorang perempuan yang berjualan di situ menggunakan dari manik-manik untuk menggendong anaknya, sementara seorang perempuan lain menggunakan gendongan dengan model yang sama tapi terbuat dari rotan…

Gendongan Bayi Mote
Gendongan Bayi dengan hiasan manik-manik..
Gendongan Bayi Rotan
Gendongan Bayi Berbahan Rotan

Di dalam Rumah Panjang itu juga terdapat bapak Kuping Panjang, yang ini orangnya berbeda dengan yang dulu kami pernah berfioto bersama David, Nana dan Abner.. Kali ini kostumnya lebih  lengkap dengan tombaknya..  Selain itu juga ada beberapa anak yang menggunakan baju khas Dayak Kenyah serta seorang ibu yang cukup lanjut usia dengan kuping yang panjang dan kedua lengan penuh tatto yang telah memudar…

Untuk berfoto dengan Bapak, Ibu Kuping Panjang dan anak-anak kecil tersebut kita harus membayar.  Untuk satu jepretan dikenakan Rp.25.000,-  Lumayan mahal juga yaa.. Tapi mungkin itu lah satu-satunya sumber penghasilan mereka, selain berladang.  Menurut aku siyy tidak apa-apa, toh dengan kita menghargai mereka dan kekayaan budaya mereka, akan memotivasi mereka untuk melestarikan budaya itu.. Why not, bukan begitu teman-teman…?

Ibu Kuping Panjang
Ibu Kuping Panjang..

 

Ada pun si Ibu Kuping Panjang dan Bertatto di lengan sangat  ramah dan setengah mati merayu ku agar membeli barang dagangannya.. Tapi setelah aku jelaskan bahwa aku tak ingin lagi berbelanja agar rumah tak penuh dengan berbagai barang, dan dia pun telah mendapatkan uang dari ku sebagai model foto, akhirnya dia tersenyum… hehehehe…

Pampang memang selalu menyenangkan untuk dikunjungi…  Datang lah ke sana teman-teman.. Kita akan mengenali betapa kayanya budaya negeri ini…****

Advertisements
Posted in My Friends

Selamat Jalan Pocahontas Bermata Indah….

Kemaren pagi, Kamis 16 Juni sekitar jam 9-an, telpon ku berdering…  Di layar terlihat tulisan “Indrahayu”.  Indrahayu atau biasa kami panggil Iin adalah  salah satu teman yang pernah sama-sama kerja di Bappeda Kota Pekanbaru beberapa tahun yang lalu… Iin bukan teman yang acap berkomunikasi dengan ku, sehingga telpon darinya menghadirkan tanya di hati…  Sambil tetap bertanya-tanya dalam hati, aku menekan tombol “yes” pada handphone ku…

Begitu aku angkat, terdengar suara Iin : “Kak, Fifi kak… Fifi meninggal, kak…!!  Dia mau melahirkan, tahu-tahu terbatuk, terus tertidur dan langsung meninggal…”

Aku : “Kapan In, dimana ?”

Iin : “Baru aja kak… di rumah sakit.. Kami sekarang di sini..”

Aku : “Iin, makasiyy udah ngabarin.. Kakak segera ke rumahnya yaaa…”

Gak lama, telpon ku kembali berdering… Dari bang Yuspen, juga seorang senior di Bappeda Kota Pekanbaru.. Lalu dari kak Sartidja, yang dulu pernah menjadi atasan kami dan sangat peduli dengan staf-stafnya…  Semua menyampaikan kabar duka cita atas kepergian Fifi…

Siapa siyy Fifi…?

Fifi, lengkapnya Tengku Fifi Kurniasari, adalah salah satu teman kerja kami di Bappeda Kota Pekanbaru..

Fifi adalah tipe orang yang sangat lemah lembut.. Bicara, gerak tubuhnya semua pelan.. Bahkan terkadang sangat pelan…. Jalannya sangat anggun dan perlahan,  bagaikan seorang putri dengan mahkota di kepala…, dan takut mahkotanya merosot jatuh… :D.  Sehingga kalau dalam keadaan yang harus cepat, aku ngeledek dia dengan kalimat “Fifi niyyy…, kalo perang kalah duluan…, cepat lah sikit, bu…!!”.  Kalau begitu, dia cuma senyum-senyum dan bilang “Gimana lagi, kak.. Memang sudah begitu bawaannya..  Kalau cepat-cepat nanti salah-salah.. Kalau jalan cepat-cepat, nanti Fifi tersandung, telungkup pula…” Hehehehe… Tak jadi lah nak marah… 😀

Kenapa aku menyebutnya dengan Pocahontas…?  Secara gesture, gerak tubuh gak bisa lah Fifi dikaitkan dengan Pocahontas.  Tapi matanya indah, hidup sekali.. Seperti mata Pocahontas,  putri kepala suku India dalam salah satu cerita Disney yang berjudul sama…  Pernah suatu kali saat duduk di ruang kerjanya, aku mengamati gerak geriknya yang perlahan itu..  Aku menemukan mata yang indah itu, juga sesekali berkedip  perlahan..  Lalu aku katakan padanya, “Fi, kamu tuh cantik sekali yaa..  Mata Fifi itu sangat hidup.. Melihat Fifi, kakak membayangkan Pocahontas…”  Fifi hanya bisa tertawa dan berkata “Kakak niyy ada-ada aja…”

Usia Fifi jauh di bawah aku dan teman-teman..  Aku dan Fifi punya beda usia 12 tahun.. Pernah dalam satu candaan di sela-sela hari kerja aku berkata padanya, “Fifi jangan bandel-bandel sama kakak.. Kakak tuh usia 12 tahun sudah akil balik.. Jadi kalau kakak langsung menikah di usia segitu, anak kakak akan seusia Fifi…” Gubbbrraaaakkkkkssss… Kami tertawa meriah bersama-sama…

Tapi jangan ditanya kalau sudah menyangkut hal yang dia yakini kebenarannya.. Dia akan bertahan habis-habisan…, mulai dengan bahasa lemah lembutnya… Bila tak juga berhasil, maka suara galaknya pun keluar…. 😀

Ada satu kebiasaan yang luar biasa dari Fifi… Setiap pagi, kecuali lagi berhalangan…, begitu masuk ke ruang kerja setelah apel pagi, dia akan membuka Al Qur’an yang memang disediakannya satu untuk di kantor, lalu dia membacanya tanpa suara… ! Jus, setiap hari… Subhanallah…

Tapi pagi kemareni, Fifi sudah mengejutkan banyak orang dengan kepergiannya yang mendadak di usia yang belum genap 32 tahun…  Tapi bagaimana pun caranya, semoga kamu mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Alloh SWT, ya Fi…  May you rest in peace, dear…***