Kembali Berkunjung ke Tenggarong

Tenggarong…? Ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara itu…? Yuuupppsss….  Ngapain ke sana…? Kayaknya udah yang keempat atau kelima kali dehhhh ke sana…? Iyaaa.. Kayaknya lebih deehh dari lima kali…  Ngapain lagi ke sana…? Gak bosan…?  Hehehe…  Bosan siyy enggak yaa.. Cuma sebenarnya gak ada juga yang bikin pengen banget ke sana lagi, lagi dan lagi…  So…? Ngapain ke sana lagi…?

Gerbang Pulau Kumala

Ceritanya, aku kali ini ke Samarinda bersama seorang teman yang belum pernah berkunjung ke sana sebelumnya.. Jadi dibawalah jalan-jalan ke Tenggarong.. Lagi pula beberapa waktu yang lalu, David adikku meninggalkan komen di postingan ku yang ini…, kalo Lembuswana yang berada di Pulau Kumala tidak lagi duduk, tapi sudah berdiri….

Jadi ke Tenggarong lah kami pergi pada hari Jum’at 3 Juni 2011 siang…  Diantar Oom Yan yang sudah bertahun-tahun membantu David, juga ditemani Aldy, putra tertua David…

Begitu sampai di Tenggarong kami diantar ke masjid raya Tenggarong, secara aku dan teman ku memang belum sholat…  Lalu setelahnya kami di antar ke tepi, tempat ketingting alias perahu kecil2 dengan motor tempel milik rakyat yang bisa diminta mengantarkan kita ke Pulau Kumala, sebuah delta  di Sungai Mahakam, yang beberapa tahun terakhir dijadikan obyek wisata Kabupaten Kutai Kartanegara..

Aldy menikmati naik ketingting…

Oom Yan lalu mengarahkan mobil ke arah dermaga di tepian Tenggarong, tempat ketingting-ketingting bersandar..  Oom Yan lalu menghampiri tukang ketingting dan menanyakan biaya penyebaranga.  Biaya naik ketingting dari tepian ke Pulau Kumala Rp.20.000,-/orang, bertiga artinya Rp.60.000,-.  Saat aku tanya berapa sewa ketingting kalau menyusuri keliling Pulau Kumala, bapak tukang ketingting bilang Rp.80.000,-.  Aku lalu memutuskan untuk menyewa ketingting menyusuri keliling Pulau Kumala, supaya bisa melihat Lembuswana dari dekat tanpa harus jalan kaki..

Jangan tanya rasa deg-degan nya saat menginjakkan kaki satu per satu di atas ketingting yang bergerak tak bisa diam.. hehehe…  Hanya sosok oom Yan yang janji berjaga-jaga dan mengawasi ketingting kami dari dermaga yang membuat hati merasa agak  tenteram…  Sementara Aldy yang duduk di bagian depan ketingting nampak sangat menikmati perjalanannya ini…

Bapak tukang ketingting mengarahkan perahu ke bagian belakang Pulau Kumala…  Tak ada yang tampak istimewa di bagian belakang pulau ini, kecuali rangka besi berwujud dome, yang mungkin tadinya adalah sarang burung berukuran besar…  Tapi di seberang, terdapat bangunan besar berwarna putih dengan arsitektur yang indah.. Ya sport center yang dibangun untuk sarana olahraga saat PON XVII Tahun 2008…

Jembatan Tenggarong….

Menjelang di ujung Pulau Kumala, kami melihat jembatan Kota Tenggarong yang indah.., dan di sisi kanan kami,  di ujung Pulau Kumala muncul sosok Lembuswana yang berdiri…, megah… Lembuswana itu tidak lagi duduk seperti sebelumnya, tapi posisi berdirinya biasa aja, sama seperti Lembuswana-lembuswana lainnya yang bertebaran di sepenjuru Kabupaten ini…  Tidak istimewa, menurut aku..  Karena aku membayangkan adanya efek moving (sedang bergerak) yang menjadi ciri khas patung-patung karya pak Nyoman Nuarte

New Lembuswana @ Pulau Kumala..
New Lembuswana..
New Lembuswana…

Setelah melihat Lembuswana dari beberapa sisi, kami akhirnya kembali ke dermaga…  Alhamdulillah…Seru juga naik ketingting di Sungai Mahakam.. ***

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s