Insya Alloh..

Aku dapat mp3 lagu ini dari Bunda Zur, seorang guru, teman ku sesama alumni ESQ..  Pas aku dengar kok kayaknya musicnya asyiK banget, nenangin… Setelah aku dengar lamat2 liriknya.. Subhanallah… Indah banget.. Menguatkan…

Coba dengar, teman2…

INSYA ALLOH

Everytime you feel like you cannot go on
You feel so lost
That your so alone
All you is see is night
And darkness all around
You feel so helpless
You cant see which way to go
Don
t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side

Insya Allah 2x
Insya Allah you`ll find your way

Everytime you can make one more mistake
You feel you cant repent
And that its way too late
Your
re so confused,wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame

Dont despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side
Insya Allah 2x
Insya Allah you
ll find your way
Insya Allah 2x
Insya Allah you`ll find your way

Turn to Allah
Hes never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray
OOO Ya Allah
Guide my steps don
t let me go astray
Youre the only one that showed me the way,
Showed me the way 2x
Insya Allah 2x
Insya Allah we
ll find the way

Berkunjung ke Pulau Galang…

@ Gerbang Kamp Pengungsi Vietnam

Ke Pulau Galang…? Ke bekas Kamp Pengungsi Vietnam itu…? Kok bisa…? Apa ceritanya…? Yoiiii….  Ini perjalanan yang tidak direncanakan…

Ceritanya, hari Kamis tanggal 5 Agustus 2010 yang lalu aku terbang ke Batam untuk urusan pekerjaan.. Plan awalnya siyyy setelah kerjaan selesai hari Jum’at, hari Sabtunya aku mau nyebrang ke Negeri Singa lalu kembali hari Minggu dan pulang ke Pekanbaru di siang hari…  Sehingga dari awal aku mengatur tiket kembaliku ke Pekanbaru hari Minggu tanggal 8 Agustus siang…

Lalu, something happened sehari sebelum aku berangkat.. Aku kehilangan passport ku…  Hikssss…. Ya aku jadi gak bisa nyebrang deehhh…., mau mempercepat penerbangan pulang kayaknya hanya bikin repot yaa.. Jadi aku putuskan untuk menikmati Pulau Batam.. Lagi pula sudah lama juga gak muter2 di Batam.. Terakhir, kayaknya sekitar tahun 2007…,  saat pulang travelling ke Singapore dengan atasan dan temanku waktu masih bekerja di Bappeda Kota.  Bulan Februari lalu, saat janjian travelling bareng sohib2ku ke Singapore, dari Bandara Hang Nadim aku lagsung ke Batam Center, salah satu pelabuhan ferry penumpang Batam – Singapore PP.  Pulangnya juga begitu.., dari Batam Center langsung ke Hang Nadim, cuma sempat duduk2 di Mall Batam Cente dengan Soni Salusianto, seorang teman saat kuliah di Bogor dulu.

Kok kepikiran buat ke Pulau Galang…?

Aku kepikiran karena aku sempat liat liputan kunjungan ke obyek2 wisata yang dibuat dan ditayangkan oleh Trans TV…

Awalnya siyy bingung juga.., mau naik apa ke sana.., jauh dan kayaknya gak ada transportasi umum…  Beberapa tahun yang lalu saat ikut acara Asosiasi Pemerintah Kota se-Indonesia (APEKSI) yang diadakan di Batam, aku dibawa untuk island tour (hehehe.. bukan city tour, menurut aku.. habis yang dikelilingin bukan satu kota, tapi satu pulau) bahkan sampai ke Pulau Rempang, melihat jembatan Barelang (akronim dari nama 3 pulau yang tersambungkan oleh jembatan tersebut : Batam – Rempang – Galang) yang saat itu baru selesai dibangun..  Jadi aku tau kalo jarak ke Pulau Galang itu lumayan jauh.., sekitar 60 km kali yaaa…  Untungnya ada seorang kerabat yang menetap di sana yang bersedia mengantarkan… Alhamdulillah…

Setelah bergerak ke arah timur Pulau Batam, kami melintasi jembatan Barelang, Pulau Rempang, satu pulau kecil lagi dan akhirnya sampai di Pulau Galang…  Dari jalan besar, tidak ada “sign” yang menunjukkan arah ke eks Kamp Vietnam itu… Kerabat yang mengantarkan kami membelokkan mobil ke jalan kecil yang pertama kali kami temui di sebelah kiri jalan.. Itu pun setelah sempat ragu2, dan jalan terus beberapa ratus meter dari simpangan itu…  Begitu masuk ke jalan kecil, kami menemukan kalau jalan itu bercabang dan di situ ada “sign” yang mengarahkan kami untuk bergerak ke arah kanan kalau mau ke lokasi bekas Kamp Pengungsi Vietnam

@ patung Dewi Guang Shi Pu Sha

Begitu masuk ke lokasi, kami menemukan kompleks pemakaman… Kami juga melihat ada beberapa orang sedang berziarah… Lalu selanjutnya setelah mobil berjalan beberapa ratus meter, di bagian kiri jalan di lahan yang tinggi kami menemukan sebuah Kuil… Namanya Quil Quan Am Tu..  Tempat sembahyang di kuil ini berada di lantai 2.. Pada pelataran di lantai 2 tersebut terdapat patung Dewi Guang Shi Pu Sha, dewi yang menurut kepercayaan Vietnam bisa memberikan hoki, jodoh dan keharmonisan dalam rumah tangga. Sedangkan di lantai 1 terdapat semacam diorama yang melukiskan dewa dan dewi kepercayaan Vietnam.

Setelah keluar dari kuil, kami melanjutkan penyusuran…  Kami menemukan puing2 bangunan kayu bekas barak2 tempat tinggal pengungsi.. Lalu kami melihat bekas power house, rumah para sukarelawan yang melayani para pengungsi… Kami juga melihat Tin Lan alias Christian Church.. Gereja yang untuk mencapainya harus melalui jembatan kayu yang sudah mulai pada rontok, sehingga kami tidak berani menyebranginya..

Kami terus menyusuri jalan, dan berelok ke kiri.. Di pojok jalan dimana kami belok aku melihat tulisan “Bodhi Tree” di kaki sebuah pohon yang sangat besar dan rindang… Saat aku amati, ternyata itu pohon beringin…  Istilah Pohon Bodhi, mengingatkan aku pada tulisan yang pernah aku baca bahwa Sidharta Gautama alias Sang Budha bersemedi bertahun-tahun di bawah pohon Bodhi hingga mencapai kesempurnaan imannya.. Di bawah pohon itu pun aku melihat perlengkapan sembayang ala umat Budha dengan warna merahnya yang khas..

@ Gerbang Kuil Chua Kim Quang

Setelah melihat pohon Bodhi, di sisi kiri jalan kami melihat Unified Quil dengan nama Quil Chua Kim Quang.. Kuil ini berada beberapa puluh meter dari jalan.. dan untuk mencapainya pengunjung dapat menyusuri jalan yang sudah disemenisasi dengan gerbang merah di pangkalnya dan jembatan merah di tengahnya…  Kami tidak langsung berhenti dan menghampiri kuil ini, tapi lebih dahulu melanjutkan penyusuran…

Lalu di sisi kanan jalan, di sebuah pojokan kami melihat 2 buah perahu yang telah diangkat dari air dan diletakkan di lapangan berumput… Menurut kerabat yang mengantarkan kami, kapasitas perahu itu gak lebih dari 5 gross ton.. Benar2 perahu yang kecil…

Perahu Pengungsi Vietnam…

Saat kami hampiri, di situ terdapat “story behind d ship”..

“ Perahu kayu ini adalah sisa-sisa dari peninggalan pengungsi Vietnam yang sengaja ditenggelamkan di perairan Pulau Galang dan ada beberapa perahu yang dibakar oleh para pengungsi sebagai aksi protes dan penolakan pemulangan kembali ke negara Vietnam.

Setelah peninggalan mereka dari Pulau Galang tahun 1995 perahu-perahu ini oleh Otorita Batam diangkat ke daratan kemudian diperbaiki dan dipamerkan untuk publik sebagai obyek yang bernilai sejarah.

Perahu inilah yang dipakai para pengungsi mengarungi Lautan Cina Selatan selama berbulan-bulan dan sejauh ribuan kilometer menuju berbagai belahan dunia dengan harapan dapat perlindungan dari negara lain.  Di antaranya sampai ke Pulau Galang ini dan sebagian dari mereka gagal mencapai daratan dan gugur di tengah lautan karena perahunya tenggelam.”


Penjara di Pulau Galang

Beberapa puluh meter dari kapal ini terdapat bangunan yang cukup terawa rapi… Bangunan bekas penjara…  Jadi kalau dulu ada pengungsi yang berbuat kejahatan, maka akan dihukum kurungan di sini…

@ Data Penghuni Barak

Di seberang bangunan penjara terdapat bangunan yang sekarang difungsikan menjadi Pusat Informasi Kawasan Wisata… Di dalamnya kita bisa mendapatkan informasi tentang para pengungsi Vietnam yang pernah tinggal di situ, nama2 dan foto2 sukarelawan yang pernah mengabdikan diri di situ, juga peralatan rumah tangga dan hasil kerajinan yang pernah dibuat para pengungsi saat tinggal di situ.. Dari hasil kerajinannya, kami diberi tahu petugas yang melayani di pusat informasi bahwa di Kamp itu pun sempat menetap pengungsi Kamboja..

Miss Nuri

Saat melihat deretan foto2 sukarelawan dari berbagai bangsa yang pernah mengabdikan diri sebagai pengajar, aku terngat pada Miss Nuri.  Beliau adalah guru Bahasa Inggris ku, saat aku mengambil kelas Intensive English di English Language Training International (ELTI) di Wijaya Center Kebayoran, Jakarta sekitar pertengahan tahun 1992.  Menurut cerita Miss Nuri beliau pernah menjadi guru bahasaInggris bagi pengungsi Vietnam di Pulau Galang.. Aku lalu menyusuri foto demi foto yang tersusun cukup rapi… dan…. aku menemukan foto dari wajah yang masih ada dalam memory ku itu… Wajah yang sederhana tapi mencerminkan keteguhan hati…  Dimana ya Miss Nuri sekarang..? Semoga beliau dalam keadaan baik, sehat dan bahagia…

Dari penjaga pusat informasi ini pula kami diberi tahu kalau para mantan pengungsi Vietnam yang pernah menetap di Kamp ini pada tahun 2005 pernah mengadakan reuni di Pulau Galang.. Dan subhanallah…, mereka telah menjadi orang2 yang mapan di negara2 yang bersedia menampung mereka.. Tekanan hidup yang luar biasa membuat mereka menjadi pribadi2 yang punya “drive” sangat kuat untuk menaklukkan kehidupan…

@ Quil Chua Kim Quang

Puas mengelilingi pusat informasi, kami menuju Quil Chua Kim Quang yang sebelumnya sudah kami lihat dari kejauhan.. Quil ini dijaga sepasang patung singa… dan sepertinya dibangun pada tahun 1985 Masehi dan tahun 2529 penanggalan China, karena di salah satu sisinya tertulis Quil Chua Kim Quang DL 1985 PK 2529.

Barak Pengungsi di Kejauhan…

Saat duduk2 di bangku yang ada di pelatarn kuil, aku melihat ke seberang jalan.. di sana terdapat beberapa runtuhan bekas barak… Puing2 yang menggambarkan betapa kerasnya hidup yang pernah terjadi pada orang2 yang pernah tinggal di tempat ini…

Semoga, di negeri kita yang penuh dengan keragaman ini tidak ada lagi pertentangan yang menyebabkan darah2 tertumpahkan…  Semoga selalu ada kedamaian di negeri kita yang indah ini, di bumi yang indah ini…

Datang lah ke Pulau Galang, teman2ku.. Agar dapat meningkatkan kesadaran untuk menjaga kedamaian, saling menghargai dan bertoleransi dalam keberagaman…

–  Sondha  Siregar-

Ramadhan Berlalu…

Ramadhan berlalu…. Idul Fitri pun datang….

Allohu akbar… Allohu akbar… Allohu akbar…

La illa ha illah hullohu akbar..

Allohu akbar wa lillah ilham……

Gema takbir selalu membuat air mata menitik tanpa bisa ditahan….

Satu Ramadhan lagi telah berlalu…

Dulu saat masih belia… Yang heboh itu, yang penting itu Lebaran… Ramadhan rasanya hanya suatu jalan panjang dan berat sebelum lebaran.., sebelum bersenang-senang..

Bersenang-senang…?  Ya iya laaahhhh….. Gimana enggak…? Coba liat memories ku ini…

Beberapa hari sebelum lebaran “Sondha kecil” akan dengan senang hati duduk di teras rumah atau di bangku dari semen di bawah pohon jambu bol di samping rumah…  Ngapain…? Nunggu parcell2 berdatangan… Saat itu setiap lebaran rumah kebanjiran parcell yang isinya berbagai makanan kaleng yang mengundang air liur untuk menitik (zaman itu belum musim tuhhh parcell berisi barang) … : coklat dan permen dari berbagai merk dengan kemasan yang luar biasa, biscuit dan minuman… Bahkan ada pula yang melengkapinya dengan minuman keras yang berkemasan cantik, seperti cinzano,johny walker,  brendy dan sebagainya… (Klo sekarang aku mikirnya “heran kok bisa2nya tuuhh orang ngasi minuman keras untuk merayakan hari yang fitri…? Apa yang nagsi dan nyusun parcell2 itu gak tau kalo minuman2 itu hhaaarrrrrraaaaammmmm…..!!!!”)..  Bahkan aku dan bang Aris, tetangga yang udah kayak keluarga sendiri dan selalu di rumah, balapan siapa di antara kami yang menerima parcell kiriman lebih banyak…

Hari-hari menjelang lebaran adalah hari2 yang meriah karena semua orang di rumah sibuk berberes, merapikan rumah… Hari-hari bulak balik ke paar bersama almarhum ibu, belanja buat lebaran.. Dari belanja kue2an minuman kaleng, sampai belanja baju dan kelengkapannya, bahan terkadang sampai belanja beberapa perabot rumah tangga…

Beranjak besar… teteuuuuppp fokusnya masih ke hari raya…  Sehari sebelum Hari Raya adalahhari yang melelahkan…, karena sudah terlibat dengan urusan dapur… Membantu memotong2 bahan masakan, sampai ikut mengaduk masakan yang gak bisa berhenti diaduk karena umumnya pakai santan, yang kalau ditinggal dan tidak diaduk akan pecah santan alias keluar minyaknya, sehingga gak enak lagi…  Belum lagi kakak ku yang pintar masak acap kali menerima pesanan pudding yang bisa sampai 40 loyang buat hari pertama lebaran… Kebayang gak siyy menjelang tengah malam bikin pudding sekitar 4 atau 5 macam lengkap dengan vla nya dengan total 40-an loyang…  Akibatnya…? Bangun pagi menjelang di hari raya selalu telat… Lalu setelah sholat Ied, setelah menikmati hidangan lebaran, langsung nyari posisi ueeennaaakkk buat tidur…. Paling baru bangun bila dikasi tau ada kerabat atau kenalan yang datang berkunjung…  Setelah menyalam dan menghidangkan minuman dan makanan, lanjuuuuttttttttttttttttttttt tidur lagi…  Begitu lah lebaran bertahun2…

Tapi sekarang, ketika usia sudah jauh dari remaja, bulan Ramadhan jauh lebih berharga dan bermakna dari hari raya…  Yang akbar itu justru hari2 berpuasanya…Yang penting itu hatinya… Subhanallah….  Hari raya tidak lagi memerlukan persiapan yang heboh… Asal ada baju yang rapi buat sholat, ada mukena dan sajadah yang bersih dan rapi untuk sholat itu sudah cukup..    Rasanya senang sekali tidak ikut berdesak2an  di pasar dan mall2 menjelang lebaran.. , karena salah seorang temanku sempat “semput” saat belanja bareng2 menjelang Lebaran dengan teman2 yang lain di sebuah mall…  Jangan sampai lah yaaa….

Semoga kita masih diperkenankan bertemu dengan Ramadhan di tahun depan…

Taqaballah minal wa minkum.. Minal wa minkum taqabal ya kariim..

Mohon maaf lahir dan bathin ya teman2…

Kelinci, Dompu, Teddy dan Kiara

Menjelang saat menghadiri pembukaan training ESQ Kids Generasi Emas di Hotel Pangeran tanggal 24 Agustus 2010 yang lalu, aku menemukan seorang anak perempuan yang menjadi peserta training berdiri gelisah di lorong hotel, di depan ballroom yang menjadi ruang training..

Aku lalu menghampirinya dan bertanya pada si Nona kecil berbaju kuning muda itu.. : “Kamu lagi ngapain, nak? Kok belum masuk…?”

Nona Kecil Berbaju Kuning dengan wajah sedih : “Kelinciku hilang….”

Aku : “Kelinci…? Hilang dimana?”

NKBK dengan air mata nyaris runtuh : “Tadi aku bawa ke kamar mandi (maksudnya toilet), aku tarok di mejanya. Pas mau keluar, dia udah gak ada…”

“Hayuuhhh kita liat ke sana…” Ajakku sambil menuntunnya ke arah toilet yang terdapat di salah satu sisi lorong hotel…

Kami lalu berjalan menuju toilet dan memeriksa setiap pojok , tapi teteup kami tidak menemukan “si kelinci” boneka yang menurut pemilknya itu berwarna putih….

Wajah Nona kecil semakin sedih.. Airmatanya mulai menetes…. Aku lalu membujuknya.., dengan mengatakan kemungkinan seseorang menemukan si kelinci sendirian di toilet, lalu menyerahkannya pada petugas hotel.. dan biasanya kalau begitu, nanti akan ada yang menyerahkan si kelinci pada kakak-kakak panita… Aku juga menyarankan dia untuk masuk saja dulu ke ruang training…

Mulanya dia keberatan… Masih ingin mencari si kelinci putih….

Sella, salah seorang panitia yang melihat aku bersama si Nona berbaju kuning di lorong hotel menghampiri kami dan bertanya pada ku : “Ada apa Tante?”

Aku : “Kami mencari kelinci putih, kak Sella.. Tadi dibawake toilet, trus tau tau gak ada lagi…”

Sella : “Oohhhhh… Itu artinya kelincinya sedang jalan-jalan… Adek tunggu aja di dalam.., nanti juga kelincinya datang….”

Mendengar ucapan Zella, gadis kecil itu pun berjalan masuk ke ruang training sambil di gandeng Zella..

KELINCI SEDANG JALAN-JALAN…. bahasa yag tak terpikirkan oleh ku….

Gak lama setelah Nona Kecil itu masuk ke ruang training aku kembali ke kantor dan kembali ke sana di sore hari.. Di ruang training, di antara anak-anak perempuan yang duduk dalam beberapa block, aku melihat si Nona Kecil Berbaju Kuning duduk tenang melihat trainer beraksi dengan Kelinci Putih di dalam pelukan eratnya… Alhamdulillah… Si kelinci sudah pulang jalan2…

Apa yang terjadi hari itu mengingatkan aku pada Ananda si buncil cantik, putri adikku… Nanda selalu punya boneka yang selalu dibawanya kemana-mana… Setelah sekolah saja dia tidak membawa boneka kemana-mana sepanjang hari.. Tapi kalau Nanda meginap di rumah Opungnya, pasti… pasti bonekanya dibawa…

Boneka pertama yang selalu ditenteng kemana diberi nama DOMPU, singkatan DOMba Putih… Kalau tidak salah nama itu pemberian Enek, mamaku, megikuti nama salah satu sahabat si Komo, cerita anak2 karya kak Seto.  Boneka itu memang berbentuk domba berwarna putih pada bagian perut dan moncong…, bagian lainnya berwarna coklat. Ukurannya pas buat ditenteng anak usia batita…

Aku ingat sekali dulu Nanda sering kali mengekspresikan keinginannya, perasaannya sebagai keinginan dan perasaan si Dompu. Misalnya, Nanda yg sebelumnya ngotot masih pengen main tapi sebenarnya udah ngantuk bilang : “Woooo…, si Dompu ngantuk Wo…”

Saat aku bilang sambil seakan-akan berbicara dengan Dompu bukan dengan si buncil cantik : “Hmmmm, Dompu ngantuk yaa…? Bobok ya Dompu…, kan udah capek…”. Mendengar ucapanku, Nanda langsung meletakkan kepalanya di bantal dan segera terlelap… Hehehehe… Jadi untuk menutup “rasa gengsi” karena baru aja ngotot pengen main, jadi lah si Dompu yang pengen menyerah pada kantuk…

Si Dompu akhirnya pergi jalan-jalan dan tak pernah kembali… Ceritanya waktu itu kami jalan-jalan ke Sun Plaza.. Asyik keluar masuk toko.., menjelang pulang baru kami sadar kalau si Dompu tidak lagi bersama kami… Kami menunda pulang dan kembali menyusuri tempat2 yang sudah kami datangi.., tapi si Dompu tak juga bisa kami temukan, bahkan di Time Zone tempat si Dompu diperkirakan terpisah dari si Buncil.  Jangan tanya berapa ribu liter air mata si buncil tumpah karena kehilangan si Dompu… Hanya ucapan mamanya “Mungkin tadi si Dompu melihat ada anak lain yang sedang bersedih, sehingga Dompu pergi untuk menghibur anak itu” yang bisa menghentikan tangisnya meski tidak cepat….

Dompu lalu digantikan oleh Teddy… Ukuran Teddy si beruang gak jauh berbeda dengan si Dompu. Teddy juga selalu dipeluk erat dan dibawa si buncil kemana2.., kecuali ke sekolahnya yang saat itu masih TK… Gak ngeliat sebentar aja, dia pastiudah ribut teriak, “Mana Teddy ku…?” Hehehehe…

Teddy akhirnya pun berpisah dengan si buncil… Teddy  hilang karena terjatuh dari tas yang dibuka saat si Buncil naik becak sepulang berenang dari Hotel Danau Toba…..  Hikss…

Ananda & Teddy

Setelahnya, Nanda lama tidak punya boneka yang ditenteng kemana-mana… Menurut Mamanya, saat ditawarin buat beli “teman baru” Nanda gak mau.. Bisa jadi karena merasa belum sreg, bisa juga karena butuh waktu menyembuhkan hati dari rasa ditinggalkan “sahabat”…

Tapi akhirnya Nanda punya lagi boneka yang selalu menemani… Namanya Kiara, bentuknya anak singa. Tapi kali ini gak bisa ditenteng kemana2…, karena ukurannya relatif lebih besar… Tapi kalau akan menginap di rumah Opung, tetaaaaapppppppp…. Kiara dibawa…

Bagaimana pengalaman teman2 dengan boneka….????

Untung Gak Miara Kucing…

Minggu2 ini waktuku tersita dengan suatu urusan tahunan yang menjadi bagian dari tugasku… Urusan ini menyita waktu, bahkan hari dan malam di akhir pekan…  Tapi ini bukan kali pertama dalam hidupku…  Bahkan rasanya sudah sejak awal aku bekerja di instansi pemerintah tahun 1997 aku jarang sekali pulang tepat waktu.. Bukannya lebih cepat dari yang seharusnya tapi lebih lambat….  Saat jam kerja PNS masih senin -kamis 07.30 sd 15.00,  jum’at 07.30sd 11.30 dan sabtu 07.30 sd 13.00, aku acapkali pulang kantor jam 17.00.. bahkan entah berapa puluh malam aku dan teman2 yang masuk di “kelompok penyapu pekerjaan”  pulang kantor lewat tengah malam…  Jadi aku dan beberapa temanku adalah pihak2 yang paling merasa bahagia ketika diberlakukan jam kerja Senin – Rabu  07.30 sd 16.00  dan Kamis & Jum’at 07.30 sd 16.30, serta libur di hari Sabtu bagi PNS.., karena biasanya kita juga pulang jam segitu dan jadi dapat bonus libur hari Sabtu… Horrreeee…..!!!!

Lalu setelah pindah ke kantor yang sekarang…  Hmmmm….  Beberapa bulan pertama siyy enak bisa pulang tepat waktu.. Kalo pulangnya telat paling2 karena bantu2 kerjaan teman… Tapi setelah tahun kedua…., jangan ditanya.. Urusannya bukan cuma kerja sampai malam, tapi juga tugas keluar kota… Hehehehe…

Tapi aku menikmatinya… Tugas keluar kota memberi kesempatan melihat dunia, bertemu dengan orang2 baru.., bahkan bertemu dan berkumpul dengan sahabat2 lama…..  Yaa senang laahhh….!!!!

Ada cerita tugas keluar kota yang heboh bangetsss… Suatu hari aku dapat telpon dari bossku, saat itu beliau sedang di Jakarta untuk suatu urusan..

Begitu telponnya aku terima, beliau bilang… “Sondha, kamu saya tunggu besok pagi jam 8 di Departemen Keuangan yaaa…  Si Anu (temanku yang pergi sama beliau sejak 2 hari sebelumnya) harus pulang besok karena malamnya ada tahlilan 7 hari ayahnya berpulang ke Rahmatullah.”

Aku lalu melihat jam.. Subhanallah jam 4 sore lewat…

Lalu aku bilang ke atasanku itu, “Pak ini udah jam 4 sore.. Kalau saya harus menemui Bapak besok  jam 8 pagi di Depkeu artinya saya harus berangkat hari ini,  donk…?” (Karena penerbangan paling pagi dari Pekanbaru ke Jakarta jam 07 pagi.  Jam setengah sembilan baru landing di Sukarno Hatta.. Jam berapa mau sampai di daerah Lapangan Banteng?)

Atasanku : “Ya iya ‘Ndha… Kamu coba cari tiket yaa….. Saya tunggu yaa….”

Aku pun dengan terhege-hege menelpon travel biro langganan… Udah tutup…!! Lalu salah seorang adik2 di kantor menelpon travel kenalannya… Ada tiket untuk penerbangan terakhir… Garuda jam 17.40 dari Pekanbaru.. Harganya Rp.1.500.000,-….  Padahal normalnya aku naik Lion atau Mandala gak sampai 700ribu…  tapi apa daya, gak punya pilihan…, terpaksa di-ok-kan sajah….

Mengingat sudah jam 16 lewat… padahal pesawat bakal take off jam 17.40, aku buru2 pulang dengan minta salah seorang adik yang membantu di kantor untuk ikut.. Supaya dia bisa mengantar aku ke bandara dan lalu membawa mobilku pulang ke rumahnya selama aku pergi…

Jangan tanya apa yang terjadi… Hehehehe… Pokoknya begitu nyampe rumah langsung ambil koper, masukin baju2 serta perlengkapan secukupnya… Lalu mandi, pakaian daaaannnnnn pergi deeehhhhh…..!!! Tanpa persiapan yang memadai… Apalagi beres2 rumah sebelum berangkat…

Untungnya… (hmmmm…. untung yang sangat tidak untung sebenarnya…), di rumah gak ada orang lain…, gak juga kucing atau piaraan lainnya…  Coba kalau ada, siapa yang mau ngurusin mereka kalau aku pulangnya malam melulu plus keluar kota dan sesekali pake acara berangkat mendadak…  Untung gak miara kucing yaaa….

Sebenarnya aku ingin juga siyy punya piaraan…  Ingin miara ikan mas koki yang kalau dipandang saat hati resah bisa menyejukkan…  Bahkan Mamaku dan beberapa teman bilang kenapa aku gak adopt baby aja, supaya hidupku lebih berwarna…  Tapi ya itu…, gimana mau ngurusin bayi, kalo pola hidupnya masih begini… Mau merubah pola hidup, berarti mesti mencoba alternatif pekerjaan yang bisa memberi kepuasan hati dan juga  menghasilkan “cring-cring“…  Atau bisa juga tetap di pekerjaan yang sekarang dengan mendelegasikan pekerjaan kepada rekan kerja…, tapi harus ada “pihak lain”  yang mensupport secara finansial… Hahahaha…  Ya iyaa…, karena kalau berani mengurangi pekerjaan, kemungkinan menghasilkan juga bisa berkurang…   Ya kan…?

Tapi untuk sementara mungkin dijalani saja dulu… Mudah2an ada rezeki di masa yang akan datang, sehingga aku bisa meng’hire orang untuk mengurus keperluanku sehari2, bisa mengurus baby kalau aku memutuskan untuk mengadopsi.. Dan juga bisa mengurus kucing serta ikan kalau aku ingin memelihara mereka… Semoga…

Yang jelas untuk saat ini…, untung aku gak miara kucing….!!! Hehehehehe…