It’s Not About Me…

Beberapa waktu yang lalu, melalui sebuah situs pertemanan aku terkoneksi kembali dengan seorang teman di masa lalu.  Orang yang sekian belas tahun lalu menghilang begitu saja dari dunia persilatan aku dan teman2ku…  Sebelum menghilang, temanku itu acap kali menggugat gaya hidup aku dan teman2 saat itu..

Gaya hidup seperti apa…? Rasanya waktu itu gaya hidup kami gak ajaib.. At that time kami adalah orang2 muda, yang sedang mencari jalur yang akan disusuri utnuk meraih masa depan.. Di sela waktu, kami bermain, makan2, nonton, kumpul2 untuk have fun… Gak lebih dari itu.. Kami gak minum alcohol, menikmati drugs atau menjalani free life…Jauhhhh bangetsss…

Tapi di mata temanku itu, aku adalah perempuan muda yang gak tau dunia… Gak ngerti pasang surut kehidupan, karena terlalu dimanja orang tua…  Itu aku tangkap dari ucapan2nya seperti “Lu kan gak tau apa2 Sondha.. Lu kan taunya cuma bersenang-senang…!!” Ucapan yang underestimate itu gak pernah aku pikirkan secara serius, apalagi menantang untuk membuktikan bahwa ucapan itu salah.. Enggak.. enggak pernah terpikir… Semuanya buat aku merupakan ucapan yang gak perlu dipikirkan.  Karena menurut aku, sebagai teman yang akrab, mestinya dia mencoba mengenalkan sisi dunia yang dianggapnya aku tidak tau sama sekali itu.. Bukan malah mengecam aku…  Hidupku saat muda, adalah hidup yang direntangkan orang tua dihadapanku untuk dijalani, karena rasa cinta mereka.. Karena mereka menginginkan yang terbaik buat anak mereka.. Toh aku tidak mabuk dalam kesenangan… Aku toh tidak larut dalam dunia hura2..

Bertahun2 tidak terkoneksi, tidak mendengar kabar sama sekali, membuat namanya tersimpan di dalam kotak kenangan. Ada beberapa kali terlintas di pikiran, apa yang terjadi dengan temanku itu.. dimana dia sekarang…

Sementara hidupku terus berjalan.. Gelombang dan pasang surut kehidupan datang, silih berganti.. Membawa pelajaran kehidupan, yang insya Alloh membuat cara pikir dan cara pandang menjadi berubah….

Lalu… ketika komunikasi kembali terjalin, meski jauh dari intensitas di zaman dahulu, si teman lama bertanya tentang pekerjaanku di chat room..

Teman Lama : Lo kerja dimana?

Aku : Gw pegawai negeri..

Teman Lama : Lo tau gak, pegawai negeri itu harusnya dihapuskan.  Negara gak butuh pegawai negeri.

Guuuubbbbbbrrrrrrraaaaaaakkkkkkkkkkkkssss (sumpe gw kaget bacanya… !!! kaget, kok bisa2nya udah lama gak berkomunikasi tau2 nyela habis…)

Aku mencoba menjawab dengan santai : Maksud lo?

Teman Lama : Kalo negara butuh tenaga, cukup pakai tenaga out source aja, gak perlu ada pegawai negeri.

Aku : Trusssss, kalau semua out source, siapa yang mengelola, siapa yang memanage? Siapa yang bertanggung jawab mengelola hal-hal strategis yg terkadang gak bisa begitu aja dibuka ke public.

Teman Lama : Gw punya cukup data dan studi yang mendukung perlunya dihapuskan Pegawai Negeri.

Aku tidak menjawab statement nya.. Mengganti topic, lalu say bubye…

Kali lain, temanku membuka percakapan melalui chat room..

Teman Lama : Lagi dimana lu…?

Aku : Lagi di kantor…

Teman Lama : Jam segini…? (Saat itu jam 14an) Elo masih kerja?

Aku : Iya, kenapa memang? Jam kantor gw 7.30 sd 16.00 hari Senin sampai Rabu, Kamis dan Jum’at sd jam 16.30. Dan gw sering kali baru pulang menjelang magrib.

Teman Lama  : Bukannya jam segini elo udah di rumah dan tidur siang…

Aku : Maksud lo…?

Teman Lama : Iya, Pegawai Negeri itu jam 10 pagi kan udah ke pasar, jam segini udah pulang buat tidur siang.. Ntar awal bulan datang ambil gaji..  Udah begitu semua..

Aku : Sorrrryyyyy…… Aku tau, banyak Pegawai Negeri yang sembarangan dan tidak bertanggung jawab.  Tapi seingatku, sejak awal aku jadi Pegawai Negeri, aku gak pernah pulang buat tidur siang, kecuali lagi sakit.  Ke pasar, ya terkadang aku juga.  Tapi di sebahagian besar hari2 kerja ku, aku duduk menghadapi meja kerja dari pagi hingga petang.  Tolong jangan disamaratakan semua yaa..

Percakapan terputus…

Dalam hati aku berkata, kok bisa dia bersikap sinis terhadap orang  yang sudah bertahun2 tidak bertemu.. Dia kan tidak tau perjalanan hidup ku sekian belas tahun terakhir.. Kalau dia bicara dengan diriku yang sekian belas tahun yang lalu, yang menurut dia gak tau dunia, mungkin ucapannya masih  bisa ditolerir, meski dengan berat hati..…

Diantara beberapa percakapan itu aku pernah menanyakan aktivitasnya, jawabannya Ternak Teri.  Ketika ku tanya apa itu, dan di pantai mana dilakukan, dia bilang itu akronim dari anTER aNAK anTEr istRI, artinya lagi gak ada aktivitas..

Lalu mendadak Teman Lama itu mengirim pesan, yang menceritakan roda kehidupannya sedang tidak di atas.. Dia sedang getir menghadapi hidupnya..  Pesan ini membuka tabir atas sikap2 yang sinis atas diri ini.. Aku jadi mengerti… Dia sedang marah dengan keadaan, dia sedang marah dengan dirinya… Dia meluapkannya pada aku yang dianggapnya selalu hidup enak di sepanjang usia…

Menurut aku langkahnya kurang bijak… Mengapa dia harus meluapkannya padaku ? Aku yang dia ajak bicara saat ini bukanlah aku sekian belas tahun yang lalu..  Dia sudah tidak mengenal aku… Karena sebagaimana dia berproses, aku pun mengalami proses… Proses yang terkadang menyakitkan…, namun insya Alloh akan membuat kita lebih bijak… Kalaupun aku tidak berubah, masih perempuan manja dengan hidup nyaman seumur hidup, apa kemudian itu bisa menjadi alasan sehingga aku bisa jadi sasaran kemarahan…?

Jadi apa yang terjadi adalah tentang dia, bukan aku.  Lain kali kalo ada orang yang kita pikir sudah tidak mengenal diri kita lagi trus menghakimi kita, lebih baik kita bersikap cool.. Gak usah pusing.., apalagi kesal dan sakit hati…  Karena semua gak ada hubungannya dengan kita…!!!. It’s not about Us…!! Bukan begitu teman…?

4 thoughts on “It’s Not About Me…

  1. Saya juga pernah ngalamin seperti itu. Saya ketemu teman sejak kecil, sudah belasan tahun tak bersua. Setelah pencarian yang “melelahkan” ketemu di Facebook. Ketika chat, bukan kangen2an. Malah ngomongin kasus bank century. Gak ada nanya kabar atau cerita masa lalu. Seperti mimpi. Setelah itu tak pernah chat lagi.

    1. @ Nainggolan : ternyata banyak orang yg gak sensitif yaaa.. Gak peka dengan betapa berharga sahabat buat sebagian orang…

  2. Kak, gila kawan kk itu. Enak aja dia ngomong menyamaratakan kk kek pns yg suka kabur. Papi mamiku jg pns, selalu teng tiba dan pulang, gak pernah pula pulang cepat utk tidur. Boleh saja dia stress, tp lihat2lah, masa melimpahkan kesalnya dia ke kawan yg sudah lama gak ketemu.
    Betul kata kk, kita semua ini melewati proses utk bisa menjadi pribadi yg sekarang. Aku jg suka kesal dgn teman2 yang “sok merasa tahu” ttg diriku dulu lalu skrg juga merasa gak terima dgn keberadaanku, merasa bhw shrsnya aku ya gak begini tp hrs jadi begitu spt dugaan mereka.

    Sirik tanda tak mampu. Itu udah pasti.

    1. Weiiizzzzz…….. Itu yang kakak suka dari kamu Zy… Self confidence yang kuat… Sebagai anak dari keluarga yang mapan, kamu mengembangkan diri kamu sehingga menjadi pribadi yang kuat, tegas dan kerja keras dgn high standard… Itu beneran gak mudah, sis..!! Karena banyak anak yg biasanya dimanja gak bisa jadi pribadi yg kuat… Tapi apa pun kita, siapa pun kita, tidak ada orang yg berhak menghakimi kita.. Kecuali kita mengacaukan hidup orang tersebut.. Ya kan…? Jadi cuekin aja kali yaaa..

      Tapi kita bisa belajar, bahwa orang2 yang suka mengahakimi adalah para looser.. Para pecundang yg gak berani menakhlukkan tantangan hidup yang sebenarnya telah memberikan banyak kesempatan buat mereka..

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s