It’s Chinese New Year

Yuppp… kemaren tanggal 14 February 2010 adalah Tahun Baru Chinese alias Imlek.   Dan tahun baru yang merupakan Tahun Macan Logam  ini, tumben2nya jatuhnya di pertengahan bulan February.. Biasanya kan di minggu pertama February atau akhir January…

Chinese New Year, sebagaimana Lebaran bagi kaum Muslim dan Christmast bagi kaum Nasrani, menghadirkan nuansa sendiri…  Lebaran menghadirkan hiasan ketupat dan warna hijau dimana2, Christmast menghadirkan pohon natal dengan salju dan hiasan yang berwarna hijau, merah dan putih.. Kalau Imlek menghadirkan warna merah dan… keemasan……..

Ada satu hal mengherankan saya ketika kita menyebutkan kata Chinese.. Kita selalu mengkonotasikan mereka sebagai kaum minoritas di negeri ini..  Tapi kita tidak terlalu kuat menyebutkan kaum minoritas kepada turunan India (Tamil) yang banyak menetap di Medan, atau kepada mereka yang merupakan hasil perkawinan antar bangsa..  Kenapa…?

Selama dua tahun bertugas di unit kerja yang sekarang, aku sempat berkunjung ke beberapa daerah di Provinsi Riau.  Atara lain yang berada di tepi Sungai Siak, dang Bengkalis yang berada di pesisir Pantai Timur Sumatera.  Tahu kah teman2, apa yang saya lihat di sana…? KELENTENG atau VIHARA.. Tempat sembayang kaum Chinese itu…? Yuuuppppppppppppppppp…  Kelenteng2 itu umurnya puluhan tahun… Bahkan mungkin lebih dari 100 tahun..  Dan jumlah pengikutnya…? Banyak… Sangat banyak..  Bahkan ada daerah di Provinsi Riau, Bagan Siapi-api yang rasio suku Non Chinese (Melayu, Minang, Batak) dengan Chinese mendekati angka 40 : 60. Yuuupppp, banyak Chinese nya..  Dan sejak aku kecil, aku juga melihat di daerah ini, banyak sekali keluarga-keluarga Melayu yang mengadopsi anak perempuan Chinese.  Jangan salah…. Bukan untuk dijadikan pekerja di rumah tangga, tapi betul-betul diperlakukan bagai anak kandung, dan diberi kesempatan untuk mendapat yang terbaik dalam kehidupan mereka.. jadi pembauran itu sudah berlangsung lama..

Vihara Ann Kiong Bengkalis –  di depan Pasar Pelita

Viraha Pacceka Bodhi Marga Bengkalis

Di Medan…, kalau kita membaca sejarahnya, kita akan tahu  bahwa Tjong A Fie, salah satu tokoh Chinese di awal abad 20 berperan serta dalam membangun Masjid Raya Medan yang indah itu…  Sekarang, di daerah perumahan Cemara Asri di Medan, kita bisa melihat Vihara Maitreya yang megah…

Sketsa Rumah Tjong A Fie di Kesawan Medan


Ananda, Nora (my youngest sist) & Mama  di Depan Vihara Maitreya, Medan

Patung Budha di Vihara Maitreya, Medan


Di Semarang… , kita bisa menemukan Klenteng Sam Poo Kong di tengah kota.  Klenteng yang besar dan sudah berumur ratusan tahun ini merupakan tempat ibadah kaum Chinese yang jumlahnya sangat besar di Semarang, sehingga mewarnai budaya, termasuk kuliner di kota tersebut…

Di Surabaya, lain lagi… Di sini kita akan menemukan Museum Keluarga Sampoerna, yang merekam jejak sejarah keluarga Sampoerna, salah satu keluarga pengusaha papan atas di negeri ini yang merupakan keturunan dari Chinese imigrant yang datang ke Surabaya di akhir abad 19.  Di Surabaya juga kita bisa menemukan Masjid Muhammad Cheng Ho, yang dibangun oleh kaum Chinese Muslim di Surabaya dengan  arsitektur  sangat khas Chinese..

Dengan apa yang kita temukan di berbagai daerah, apa yang kita lihat di masyarakat.., apakah masih pantas kita menyebut kaum Chinese sebagai minoritas, atau sebagai pendatang di negeri ini…?  Toh mereka datangnya sebagian besar lebih dari seabad yang lalu..