Djakarta Old City Tour (2) : Museum Wayang dan Alun-alun

Keluar dari Museum Fatahillah. Kami bergerak ke sisi barat alun-alun.. Di sana kami melihat dua bangunan tua yang berdampingan dengan arsitektur yang indah.. Arsitekturnya mengingatkan aku pada sepotong adegan film Diary of Anna Frank, yang menampilkan deretan bangunan-bangunan tua dan indah di pinggir kanal di salah satu pojok Amsterdaam.. Menurut informasi dari petugas di Museum Fatahillah, bangunan2 itu pada zaman Belanda berfungsi sebagai gereja, tapi sekarang keduanya digunakan sebagai Museum Wayang (Puppet Museum).

Di depan Museum Wayang, kami melihat sederetan sepeda, yang dicat warna warni… Lucu dan cantik.. Oooo la laaaa…. Ternyata sepeda-sepeda itu disewakan, dan penyewa bisa bersepeda mengelilingi alun2 yang ada di tengah2 bangunan-bangunan tua ini.. Bahkan para wisatawan bisa menyewa lengkap dengan pengayuhnya, alias ojek sepeda untuk ke obyek-obyek wisata yang masih terkait dengan Wisata Kota Toea Djakarta, seperti Museum Maritim dan Menara Bandar Djakarta….

Museum Wayang ternyata masih dalam tahap renovasi. Yang baru berfungi itu baru satu gedung.. Di lantai 1, dibelakang lobby terdapat ruang untuk pementasan wayang…, sedangkan lantai 2 dimanfaatkan sebagai galeri untuk menampilkan berbagai koleksi wayang yang dimiliki Museum.

Di museum ini, defini wayang bukan hanya wayang yang terbuat dari kulit yang selalu dimainkan oleh dalang sampai dii hari… Yang dipamerkan di sini termasuk topeng bahkan panggung boneka (puppet show), seperti di Unyil.. Wayang dan boneka yang ditampilkan terbuat dari berbagai bahan dan berasal dari berbagai negara…

Ada wayang yang terbuat dari kulit, sebagaimana yang umum kita lihat. Ada wayang yang terbuat dari susunan lidi, tangkai padi dan berbagai bahan lainnya.. Ada wayang dari kulit yang tidk berwarna, hanya diberi prada alias cat emas. Ada juga wayang yang dihiasi warna-warna cantikk.. Mengenai asal, selain produk dalam negeri, ada juga wayang dari Cina, ada boneka yang berasal dari Eropa… Semua lucu-lucu dan unik… Mungkin kalo renovasi sudah selesai kita kan bisa melihat lebih banyak wayang dari berbagi daerah di Indonesia bahkan dari Manca Negara…

Selesai menyusuri vitrin2 tempat wayang2 didisplay…, Kami keluar dari Museum tersebut, lalu menyusuri alun2 Kota Tua di sisi utara.. Di sini ada gedung tua yang dimanfaatkan sebagai caffe, Batavia Caffe.. Lalu ada gedung tua yang tidak digunakan, yang menurut aku arsitekturnya keren banget…, lalu ada gedung tua yang dimanfaatkan sebagai Kantor Pos..

Hmmmm berakhir sudah muter2 di Poesat Kota Batavia Tempoe Doeloe… Tapi perjalanan kami belum berakhir… Kemana…? Hayyuuuhhh kita lanjutkan….

————————–

Ini juga update-an postingan ini setelah mebaca buku Informasi Pariwisata Nusantara dan Indonesia Perjalanan Sejarah Budaya yang dirilis oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI. Buku yang enurut aku cukup informatif..

Pada lahan Museum ini tadinya berdiri gereja Belanda Oude Hollandsche Kerk (1640 – 1732) dan Nieuw Hollandsche Kerk (1736 – 1808) yang kemudian hancur akibat gempa bumi. Adapun gedung yang sekarang berdiri pada tahun 1912 yang tadinya berfungsi sebagai gudang perusahaan Geo Wehry.

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s