Pulang Kampung Yuukkk……!!! (2)

Rumah Opung @ Sipirok...

Papi David akan pulang ke Medan selama 10 hari mulai tanggal 5 Oktober besok. Papi David rencananya akan pulang kampong bersama Papa. Papa mau ziarah sekaligus ngeliat rumah peninggalan Opung di sana. Karena Tati baru akan ke Medan tanggal 13 Oktober sore, kayaknya Tati gak akan bisa ikut pulang kampong deh.. Rasanya sayang, tapi gpp deh.. Lain kali mungkin….

Kenapa sih setelah pada besar gini masih senang aja pulang kampong..? Justru, setelah dewasa, Tati sudah lebih bisa menghargai arti keluarga serta generasi2 sebelum Tati. Maksudnya..? Iya, tanpa perjuangan Opung2 terdahulu, kita pasti gak akan sampai pada tahap kehidupan saat ini..

Sekitar tahun 2003 Tati, Papa, Mami Uli dan Tante Po pulang kampong. Papa, Mami Uli dan Tante Po berangkat dari Medan, sementara Tati sendirian naik bus dari Pekanbaru. Waktu kita ziarah ke Bale Ja Barumun di Sibadoar, kita melihat seorang perempuan yang mengendong anaknya dengan kain di punggung masuk ke daerah semak belukar. Kira2 hampir sejam kemudian, perempuan itu keluar dari semak belukar itu masih dengan menggendong anaknya di punggung serta menjunjung setumpuk kayu bakar di kepalanya. Tiba2, terlintas di pikiran Tati.. “Seandainya, Buyut Tati, Samuel gelar Baginda Parhimpunan, yang seorang petani itu gak memberi kesempatan pendidikan bagi anaknya, Opung Piter gelar Sutan Barumun Muda, maka Opung gak akan menjadi guru. Lalu, kalau Opung tidak memberi kesempatan bagi anak2nya untuk mengenyam pendidikan, maka Papa beserta kakak dan abang2nya tidak akan bisa jadi pegawai di berbagai instansi Pemerintah. Lalu, kalau Papa serta kakak dan abang2nya tidak memberikan kesempatan pendidikan bagi Tati dan saudara2.., maka bukan mustahil saat ini Tati bermukim di Sibadoar dan melakukan aktivitas kehidupan seperti perempuan yang mencari kayu bakar di semak2 itu. Tapi karena perjuangan dan pengorbanan dari generasi ke genarasi, Tati dan saudara2 bisa mengenyam pendidikan di berbagai universitas, lalu bisa bekerja di berbagai sektor yang lebih mementingkan pikiran bukan otot, bisa menikmati cara hidup yang lebih nyaman.

Saat Tati menyatakan apa yang terlintas di pikiran Tati itu pada Papa, Mami Uli dan Tante Po.. Mami Uli dan Tante Po sejenak terpana, lalu Mami Uli berkata “Iya, ya kak. Uli gak pernah berpikir seperti itu sebelumnya. Uli gak pernah membayangkan, kalo Uli harus menjalani hidup dengan aktivitas mencari kayu bakar, mencuci di sungai, mengerjakan sawah, dan semua harus dilakukan sambil menggendong anak di punggung. Kita sering kali berpikir, bahwa hidup kita memang sudah seharusnya seperti ini. Kita sering kali lupa, bahwa hidup kita saat ini bukan hanya hasil upaya kita, tetapi adalah kumulatif hasil upaya generasi2 sebelum kita.

Ya…, pikiran2 itu lah yang membuat Tati punya rasa keterikatan yang sangat kuat dengan kampong setelah Tati berusia dewasa, selain sejuta kenangan masa kecil yang menyenangkan saat pulang kampung.

Saat ini, sebagai orang tua dari 13 kurcaci.. Tati beserta abang, kakak dan adik2 berusaha menanamkan rasa cinta kampong pada anak2 kami. Berusaha membuat mereka menghargai generasi terdahulu yang telah berjuang dan berkorban demi kemajuan anak dan keturunannya.

Kak Lintje, beberapa tahun terakhir selalu menceritakan kisah2 keluarga Siregar pada Parlin, Nanda, Olan dan Ira. Efeknya, anak2 tersebut mulai tergila2 dengan yang namanya “Pulang ke Sipirok” dan selalu mendesak Mamanya untuk pulang ke Sipirok saat mereka libur sekolah. Mama Nhoya juga telah “meracuni” pikiran Ananda dengan kenangan2 manis saat Mama Nhoya kecil mengisi liburannya di kampong, Sehingga, Nanda juga sudah mulai tergila2 dengan pikiran mandi di Aek Silo, mandi di Aek Milas Sosopan, dan berbagai aktivitas lainnya yang bisa dilakukan di Sipirok. Demikian juga dengan Mami Uli yang “meracuni” pikiran Samuel dan Esther… Heboh deh pokoknya. Hehehe.

Kalo pulang kampong, ngapain aja siyyy?

Aktivitas rutin yang wajib adalah ziarah ke Bale Jabarumun yang berlokasi di Sibadoar. Ini merupakan makam keluarga, mulai dari Buyutnya Papa (5 generasi di atas Tati) sampai dengan orang tuanya Papa.

Lalu ziarah ke Hanopan, ke makam keluarga Harahap. Karena ibunya Papa merupakan boru dari keluarga Harahap, demikian juga Mama yang ayahnya merupakan saudara kandung ibunya Papa. Kalo di Hanopan, kita biasanya singgah ke rumah peninggalan Tuongku Mangaraja Elias Harahap, buyut Tati dari garis Harahap. Rumah ini masih terawat dengan baik.

Biasanya kalo di Hanopan kita seneng beli pecel dan goreng2an yang dijual di warung kecil yang berlokasi di seberang tugu marga Harahap, yang dibangun oleh Opung MD Harahap, salah seorang warga negera Indonesia yang dulu sempat bekerja untuk UNTEA (badan PBB yang bertugas melakukan bantuan dalam proses penyerahan Irian Barat dari tangan Pemerintah Belanda ke tangan Pemerintah Indonesia).

Biasanya dalam perjalanan ke Hanopan, kita selalu singgah di Bunga Bondar untuk mengunjungi Opung Parningotan, sepupu Opung Tati yang perempuan, dan sekaligus sahabat Papa karena mempunyai minta yang sama pada kebudyaan. Opung ini telah meninggal dunia pada bulan Juli 2007.

Aktivitas lain…, berburu makanan khas kampong. Selain, makan ikan mas goreng, sambal trauma, panggelong, kita juga berburu daging (rebus) yang dibakar, lalu diiris2 dan disiram sambal. Makanan ini dijual di salah satu rumah makan di pasar Sipirok.

Kita juga senang mandi air panas ke aek milas Sosopan yang sekarang kondisinya sudah lebih rapi, atau ke permandian air panas di Padang Bujur.

Buat Tati pribadi, aktivitas yang mengasikkan adalah jalan2 pagi.. menyusuri jalan Simanganmbat, lalu belok ke Kampung Tinggi dan keluar di samping SMP Negeri 1 Sipirok. Biasanya Tati suka bawa ponakan yang ikutan pulang kampong. Waktu Samuel masih berusia 1.5 tahun, Tati pernah bawa dia melakukan aktivitas ini.. Seru banget…!! Di sepanjang jalan, Samuel bulak balik berhenti untuk mengamati bunga2 dan kupu2 yang indah berwarna warni.. Tapi setelah melewati tanjakan ke arah Kampung Tinggi, mulai deh dia mogok…, minta gendong..! Kecapekan karena nyusurin jalan yang nanjak. Gak peduli diiming2in sebotol susu kalau bisa sampai di rumah tanpa digendong. Terpaksa deh Tati mengendong si Karung Beras, 15 kilo. Hehehe.

Waktu pulang kampong bulan Desember 2006 lalu, Tati juga mengajak Ananda jalan pagi. Begitu melewati tanjakan ke arah Kampung Tinggi, Ananda ngomong ke Tati, “Wowo, bisa gak kita pulang aja atau kalo enggak naik becak. Kaki Nanda pegel niyy!!” Hehehe.

Kalo Esther, gak mau diajak jalan kaki. Miss fashionable yang selalu rapi jali ini, waktu liburan ke kampong bulan Juli 2006 maunya muter2 kampung naik becak. Selain karena gak mau capek dan keringatan, Nona ini memang suka banget sama becak yang gak ada di Samarinda. Hehehe.

Selain berbagai aktivitas di Sipirok, kita juga biasanya ke Padang Sidempuan. Selain ngambil ikan di Batunadua (udah lama tuh gak ada acara buka kolam, abis pulanngnya kan gak lama2, jadi gak sempat buat buka kolam yang butuh waktu 1 hari penuh), kita biasanya beli salak, atau nyari ikan sale di Pajak Batu dan makan di Bufet Anda di Jl. Merdeka. Restoran ini punya banyak kenangan buat kita karena waktu kecil Mama selalu membawa kita makan di situ. Dan buat Papi David kenangannya lebih dalam lagi.. Kok? Iya.., di sebelah restoran itu ada optik yang namanya Sidempuan Optikal. Anak perempuan pemilik Optikal itu, namanya Mega, adalah kecengan Papi David waktu di TK Katholik di Sidempuan tahun 1975an… Hehehe. Kalo gak salah, foto Papi David Kecil bersama Mega menggunakan busana pengantin saat karnaval masih ada di album jadul simpanan Mama di rumah Medan. Tati jadi pengen liat lagi. Hehehe.

Terakhir Tati pulang kampong bulan Desember 2006. Waktu itu perginya dari Medan sama Papa, Mama, Tulang Sahrin (sepupu Papa dan Mama), Bang Rio alias AU, Papi David dan Ananda. Kak Lintje dan Ira nyusul langsung dari Pekanbaru. Pulang kampong yang seru abiizzz…

Apalagi buat Ananda, ini pertama kalinya di pulang ke Sipirok. Dia sangat antusias, apalagi Mama Nhoya telah membekali dengan cerita2 yang seru… Dia gak rewel sama sekali, meski perginya tanpa Mama Nhoya. Hanya saja, Tati memang harus taking care si cantik yang baru pertama kali naik mobil untuk jarak sejauh ini (8 jam dari Medan).

Ananda sempat sih mabuk dan muntah2 beberapa kali… Kalo udah gitu, kita berhenti dulu.., numpang duduk di selasaran rumah penduduk setempat untuk menghirup udara segar dan menenangkan perasaan Ananda. Lucunya, orang2 yang rumahnya kita tumpangi selalu menawarkan minum atau bunga2 indah di halaman rumahnya yang dipelototi Ananda dengan antusias. Ananda sampai bilang ke Tati, “Wowo, kenapa sih orang2 ini baik2 banget sama kita. Di Medan, aku jarang lho liat orang2 yang kayak gini…”. Hehehe. Itu lah yang namanya kepolosan dan ketulusan orang2 yang masih menetap di kampong, Nak.. Di sana, masih banyak kesederhanaan berpikir yang memunculkan kebaikan hati dan ketulusan, salah satu hal yang membuat kita selalu rindu pulang kampong.

Tati jadi ingat sama saudara2 di Sibadoar yang selalu memberi kita beberapa kilogram beras pulut, beras merah dan gula bargot saat kita berkunjung ke Sibadoar. Pemberian itu kalo dinilai dengan rupiah yang diperoleh dari bekerja di kota mungkin gak seberapa…, tapi buat mereka yang tinggal di kampong, itu adalah hasil keringat mereka. Semua benar2 hasil kerja mereka sendiri. Kebayang gak sih berapa banyak energi yang mereka keluarkan pada saat bertani menanam padi dan pulut? Kebayang gak sih berapa banyak energi yang mereka keluarkan buat mengumpulkan nira untuk kemudian diolah menjadi gula bargot? Tapi mereka rela memberikannya pada keluarga yang datang berkunjung…
Semoga Allah melimpahkan rahmat bagi mereka.***

Here some pics….

Ananda dengan latar belakang Gunung Nanggarjati, yang jadi icon-nya Hanopan...
Kak Lintje, Ira dan Mama di depan rumah Hanopan, sedang mengamati “quotation” yang ditulis oleh Tuongku Mangaraja Elias Harahap, dan digantung di dinding depan rumah sebagai pengingat bagi keluarganya dan orang2 kampong...
Tulang Sahrin Harahap, Uda Kahar Siregar (sepupu Papa), Papi David dan Papa di Bale Ja Barumun, Sibadoar...
Bang Rio dan Uda Kahar Siregar dengan latar belakang Bale Ja Barumun...

2 thoughts on “Pulang Kampung Yuukkk……!!! (2)

  1. trimakasih anda udah mempublikasikan sibadoar(kampung kita)saya juga orang sibadoar salam kenal ya….tanya aja uda kahar da pasti kenal ma saya

    ——————–
    Sondha : Kamu kenal Uda Kahar? Beliau sepupu Papa saya, lho… Kamu gimana hubungannya sama Uda Kahar? Jangan-jangan kita saudara… Hehehe…

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s