Kembali ke Sabang…

Saat akan berkunjung ke Banda Aceh tanggal 16 – 18 November 2013, aku bertekad untuk nyebrang ke Sabang..

Sabang…?

Pulau Weh..  Gambar diambil dari sini...
Pulau Weh.. Gambar diambil dari sini

Iya, Kota Sabang.  Kota yang berada di Pulau Weh. Kota yang posisinya paling barat, tepatnya barat laut, Indonesia..  teman-teman pasti gak lupa lirik lagu yang biasa kita dengar saat masih sekolah..

“Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau…
Sambung menyambung menjadi satu,
Itu lah Indonesia”

Kenapa sih aku pengen banget ke Sabang, sampai bertekad segala…? Karena aku ingin melihat keadaan kota ini setelah otonomi daerah, setelah Aceh tak lagi dilanda perang…. Karena aku sudah pernah melihat Sabang dalam 2 situasi yang sangat, sangat berbeda…  Situasi yang gimana aja…?

Aku berkunjung ke Sabang pertama kali pada pertengahan tahun 1980.  Saat Sabang berstatus sebagai pelabuhan bebas alias freeport..

Aku ke sana bersama Mama, abangku Rio, adikku David, Uli dan Ivo.
Saat itu kami berangkat naik kapal dari Pelabuhan Uleulhe, dan mendarat di Pelabuhan Balohan. Waktu tempuh saat itu 3 jam.  Di tengah perjalanan, dari dak kapal, tempat kami duduk-duduk menikmati udara dan angin laut kami bisa melihat rombongan lumba-lumba menari mengiringi kapal…

Kami di Sabang hanya semalam. Kalau tidak salah ingat, kami menginap di rumah tulang (oom) nya Mama, yang rumahnya berada di bagian tertinggi Kota Sabang. Tak jauh dari depan rumah itu, ada tangga menuju deretan toko-toko yang berada di bagian rendah Kota Sabang. Deretan toko yang berada di tepi laut…

Aku ingat begitu sampai, kami dibawa Mama ke pasar, menemani beliau belanja keperluan rumah tangga, berupa pecah belah… Piring-piring, gelas-gelas merk pyrex, dan entah apa lagi..

Lalu setelah  makan malam Mama kembali membawa kami jalan.. Kali ini kami menyusuri tangga yang menghubungkan bahagian kota Sabang yang tinggi dengan bahagian yang rendah, yang merupakan lokasi pasar…

Meski sudah malam, ternyata daerah bisnis di Kota Sabang saat itu masih hidup… Masih banyak orang-orang yang melakukan transaksi bisnis… Bahkan di ujung tangga yang kami lewati ada orang-orang yang berjualan dengan meletakan barang dagangannya dengan alas seadanya…

Kota ini begitu hidup….

Keadaan jadi sangat berbeda saat aku berkunjung ke Sabang pada pertengahan tahun 1999..

Saat itu aku ikut Diklat Teknik dan Manajemen Perencanaan Pembangunan (TMPP) yang diadakan Bappenas, Depdagri dan 4 Perguruan Tinggi Negeri  di Indonesia, salah satunya Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, dan lokasi Kuliah Kerja Lapangan (KKL) nya diadakan di Sabang..

Pertengahan tahun 1999 termasuk masa yang sangat parah dari konflik Aceh..  Saat itu menjelang Pemilu pertama setelah reformasi..  Jalur transportasi darat Banda Aceh – Medan pp nyaris putus, karena jarang ada kenderaan umum yang mau mengambil resiko dicegat dijalan.  Karena situasi tersebut, menurut panitia, Sabang adalah lokas yang paling aman untuk membawa 40 orang pegawai Bappeda yang berasal dari berbagai kabupaten/kota dari 7 provinsi yang ada di Pulau Smatera (waktu itu provinsi di Pulau Sumatera hanya 8, untuk Provinsi Lampung, diklat TMPP nya dilaksanakan di Universitas Indonesia).

Pusat Kota Sabang, dulu di tempat ini tahun 1999 anak-anak bisa bermain bola sangkinkan sepi, jarang ada kenderaan melintas
Pusat Kota Sabang, dulu di tempat ini tahun 1999 anak-anak bisa bermain bola sangkinkan sepi, jarang ada kenderaan melintas

Saat aku ke sana,situasinya berbeda 180 derajat dengan situasi tahun 1980…

Kota Sabang bagai kota mati… Jalan-jalan terasa sepi… Jarang ada kenderaan dan manusia lalu lalang… Bahkan jalan-jalan yang dulunya penuh dengan aktivitas ekonomi, menjadi lengang… Bahkan anak-anak menggunakannya untuk bermain bola… Ironis sekali…

Dari data kependudukan yang kami ambil untuk keperluan laporan KKL, kami ketahui kalau pertumbuhan penduduk Kota Sabang saat itu di bawah angka nol, alias minus… Yaa, banyak penduduk yang keluar dari pulau ini karena tak ada aktivitas ekonomi yang bisa menjadi sumber pendapatan.  Kondisi ini bukan semata karena perang saudara, akan tetapi karena berubahnya status Sabang yang sebelumnya freeport.  Justru menurut penduduk setempat, penghentian status Sabang sebagai freeport termasuk salah satu yang menyebabkan rakyat Aceh bergolak menentang Pemerintah Pusat.

Oh ya…, untuk pergi ke Sabang pada tahun 1999, berangkatnya dari pelabuhan Krueng Raya.., yang Banda Aceh butuh waktu tempuh sekitar 1 jam.  Nyebrangnya naik kapal besar, yang di bagian bawahnya digunakan untuk mengangkut mobil-mobil yang mau ke dan kembali dari Sabang.  Waktu tempuh…? Sekitar 3 jam…

Saat aku ke Sabang bulan November kemaren, kami berangkat dari Pelabuhan Ulheulhe… Pelabuhan yang sudah bagus, rapi, setelah dibangun kembali pasca tsutnami..  Bahkan dermaganya dibuat sedemikian rupa hingga bebas gelombang..  Jadi penumpang naik dan turun dari kapal gak goyang-goyang, sehingga beresiko jatuh, kecemplung di laut..

Kapal Ulheulhe - Sabang Pp.
Kapal Ulheulhe – Sabang Pp.

Kapalnya…? Bagus… Ada 3 kelas.. Ada kelas ekonomi di bagian atas kapal di ruang terbuka.. , kelas yang di atasnya lagi, di ruang tertutup di bagian bawah kapal, dan kelas VIP di bagian atas kapal, persis di belakang ruang kemudi..   Berapa harga tiketnya…? Tiket kelas VIP pulang pergi, Rp.120.000,-/orang…  Waktu tempuh sekitardari Ulheulhe ke Balohan sekitar 45 menit…  Jauh lebih cepat dari yang dulu-dulu yaa…

Situasi kota Sabang sekarang jauh lebih baik dari tahun 1999.. aktivitas ekonomi jauh lebih baik.. Ini terlihat dari banyaknya kenderaan yang melintas di kota…  Pusat kota lebih ramai, meski belum seramai tahun 1980..  Kondisi infrastuktur, berupa jalan juga jauh lebih baik…    Semoga semua menjadi lebih baik di masa yang akan datang…

Baliho Promosi Wiasata Sabang
Baliho Promosi Wiasata Sabang

Oh ya.., mengingat pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan Sabang.. Di Pelabuhannya terdapat baliho promosi pariwisata, yang menurut aku, cerdas…  Membuat aku ingin segera bisa kembali ke sana, karena banyak yang belum sempat dinikmati… Mudah-mudahan bisa segera kembali…

Jadi ingat duluuuuuuu…, dulu sekali aku pernah berharap bisa kembali ke kota ini bersama seseorang, bajak laut yang pernah mengisi relung hati….  Gubrrraakkkkssss….kursi mendadak patah kakinya satu

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s