Posted in Kutu Buku, My Mind

Rama dan Shinta

Ini tulisan dari postingan ku di FB tgl 23 Juni 2013 yang lalu.   Sebuah postingan yang menurutku (menurut aku, lho ya) perlu untuk jadi masukan bagi kita, untuk memahami makna cinta. pletaaaaakkkkkkk !!!  😀 Semoga bermanfaat.

source of pic https://sites.google.com/site/fortheloveofkamadeva/rama-and-sita-the-epic-love-story
source of pic https://sites.google.com/site/fortheloveofkamadeva/rama-and-sita-the-epic-love-story

Aku tahu kisah Rama dan Shinta dari komik yg dibuat RA Kosasih, di usiaku sekitar 10 tahun.
Entah mengapa di pikiranku, mereka hidup bahagia setelah uji kesucian dengan api dijalani oleh Shinta.  Ternyata, hidup Shinta berakhir dengan tragedi, karena Rama yang gagah ternyata berhati rapuh. Rama tak mampu mempercayai istrinya yang berpuluh tahun mengabdi dan menunjukkan kesetiaan sebagai istri.

Padahal Cinta dan kepercayaan bagai sekeping mata uang.  Punya 2 sisi.
Terikat tak terpisahkan, satu kesatuan.

Cinta memang bisa datang tanpa preambul, tanpa kata-kata pembuka, tanpa basa basi. Cinta bisa datang tanpa bisa dijelaskan mengapa dia hadir pada orang-orang yang secara logika tak mungkin saling jatuh cinta.  Cinta bisa membuat orang-orang kehilangan rasionalitas, menempuh hujan, badai, gunung, lautan, melakukan segalanya demi yang katanya bernama cinta.

Tetapi,  cinta yg sesungguhnya adalah cinta yang rasional, yang diikat dengan rasa percaya.
Percaya bahwa orang yg dicintai akan memberikan yg terbaik bagi cinta.
Rasa percaya yang terbentuk sebagai hasil proses yang terjadi di setiap detik perjalanan cinta.  Rasa yang tidak bisa hadir secara instant.

Bagaimana bisa kita katakan kita mencinta bila kita tak menjadikan diri sebagai orang yang bisa dipercaya oleh orang yang kita cintai?

Sesungguhnya bila tiada upaya menjadikan diri sebagai orang yang bisa dipercaya, tempat jiwa kekasih hati bisa berlabuh, itu bukan lah cinta yang sebenar-benar cinta. Tiada kan abadi.

pikiran di pagi hari setelah sehari sebelumya membaca “Percayakah Kau Padaku?”  karangan Tere Liye dalam novel  beliau “Sepotong Hati Yang Baru”