Posted in Sweet Memories

Selamat Jalan Ibu Rustiati, Selamat Jalan Guru Favorite-ku….

Minggu 25 Desember 2011 dini hari…  Handphone CDMA-ku berbunyi di keheningan pagi… Membangunkan ku dari lelap tidur…  Hmmmm….. sebuah sms masuk.  Dari seseorang yang namanya tak terekam di phonebook ku… Saat ku buka, message itu tertulias “Ibu Rustiati meninggal dunia”.  Pesan dikirim jam 03:59 wib….

Aku tercenung saat menghayati makna kata-kata message tersebut…  “Ibu Rustiati meninggal dunia” .  Innalillahi wa innailahihi roji’un….Akhirnya…., Allah mengangkat sakit yang beliau derita….  Semoga sakit yang diderita beliau di akhir hidupnya, melepasakan dosa-dosa beliau, mendekatkan beliau kepada Allah SWT…  Semoga beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT…  Dengan perjalanan hidup sebagai seorang guru yang baik, lemah lembut dan sangat sabar, Insya Allah beliau  pantas mendapatkannya…

Bagi ku, ibu Rustiati adalah salah satu Guru Istimewa di sepanajang perjalananku sebagai murid, pelajar dan mahasiswa.. Bahkan beliau buat aku The Most Special One…

Kenapa…? Apa yang sudah beliau lakukan bagi seorang Sondha, salah satu dari sekian ratus murid kecilnya…?

Ibu Rustiati binti Yasin, 10.03.1954 – 25.12.2011

Ibu Rustiati adalah seorang Guru di SD Teladan, saat aku bersekolah di sana periode 1974 – 1980… Bila kita melihatnya, hanya melihat tanpa berinteraksi, beliau bukan sosok yang istimewa.. Just an ordinary woman…  Bertubuh kecil namun tidak terlalu kecil, berkulit sawo matang, rambut ikal dengan penampilan sederhana.. Bener-benar not an eye-catching woman… Tidak mempesona….  Tapi buat aku dan juga banyak murid-,muridnya, belaiu sangat istimewa, karena beliau baik hati,  lemah lembut dan sabar….

Tapi buat aku beliau lebih istimewa lagi…  Sejak aku kelas 4 sampai kelas 6, orang tuaku mempercayakan beliau untuk membantu mengejar ketinggalan pelajaran yang aku alami karena sering tidak masuk sekolah, akibat aku yang selalu jadi “ekor ibu (almh)”… Aku selalu mengikut dan dibawa kalau ibu (almh) ku pergi ke luar kota…  Jadi lah selama 3 tahun tersebut 3 kali seminggu, kalau tidak sedang ke luar kota, aku belajar di rumah bu Rustiati…

Tapi bu Rustiati tidak hanya membantu aku mengejar ketinggalan pelajaran, tapi justru membantu melatih motorik halusku yang lemah, serta membantu membentuk pola pikir sains ku…

Beliau mengajarkan aku matematika dengan menjelaskan dengan detil dan memberikan berbagai variasi soal…  Angka 9 di raporku untuk matematika bukan hal yang asing saat itu…

Beliau membantuku mempelajari sains dengan menjelaskan kembali pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam(IPA) yang rasanya memusingkan kepala dan tidak semenarik pelajaran sejarah dan geografi bagi ku saat itu…  Aku ingat ketika kami mendiskusikan soal mikroskop,  aku bercerita bahwa ibu ku (alm) memiliki lup untuk menikmati cahaya dari koleksi perhiasan beliau, bu Rustiati menyuruhku meminta izin ibu untuk membawa lup tersebut ke rumah beliau saat aku les berikutnya…  Ibu Rustiati menggunakan lup tersebut untuk menjelaskan apa yang terdapat di buku IPA tentang mikroskop… Ya, beliau menunjukkan bagaimana lup tersebut dapat digunakan utuk membuat titik api dari caha matahari sehingga bisa membakar kertas…

Beliau juga mendorong aku untuk bisa membaca sebanyak mungkin kata dalam suatu rentang waktu, dan kemudian menyerapnya, lalu mampu mengekspresikan makna dari apa yang ku baca…  Mungkin buat para mahasiswa, itu hal yang biasa… Tapi saat itu beliau mengajarkan hal tersebut pada aku, si anak  SD, yang ingusnya aja masih belepotan… 😀  Pikiran yang sangat maju….

Sejak di tangan beliau, aku menjadi anak yang nilai-nilai pelajarannya berada di 5 besar di kelas…,  Alhamdulillah…

Setelah tamat SD,  seingat ku aku tidak pernah lagi bertemu dengan beliau… Hiruk pikuk menjadi anak SMP, SMA lalu kuliah di luar Kota Pekanbaru membuat silaturahmi kami terputus… Saat bertemu dengan guru-guru senior  di SD Teladan, aku sempat beberapa kali bertanya tentang keberadaan ibu Rustiati..  Di akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an jawaban yang aku dengar, beliau pindah mengggajar ke SD di Jl. Rokan, Pekanbaru..  Tapi aku tak sempat meluangkan waktu mencari beliau…

Aku akhirnya bertemu dengan beliau, pada bulan Agustus  Tahun 2009, saat aku dan beberap teman mendatangi beliau ke SD tempat beliau mengabdi.  Saat itu kami baru saja melaksanakan reuni SD dan mengundang guru-guru kami, tapi beliau tidak hadir.. Padahal kami, panitia reuni,  telah meminta salah seorang guru senior menyampaikan undangan pada beliau.  Ternyata beliau bermaksud hadir dan menemui kami para muridnya, tapi beliau salah melihat waktu yang tertera di undangan.  Acara kami lakukan hari Sabtu, beliau pikir hari Minggu…

Begitu melihatku bersama beberapa teman, beliau langsung mengenali diriku… Padahal rentang waktu 30 tahun pasti telah merubah diriku dari seorang anak SD menjadi perempuan berusia di atas 40…  Saat itu beliau bilang sambil tersenyum, “Sondha…”  Air mataku muncul di sudut mata ku.. Finally, aku melihat beliau lagi setelah sekian puluh tahun berlalu…

Beliau lalu bertanya :  “Bapak Ibu kamu masih ada…?”

Bapak Ibu ku yang beliau maksud adalah kedua orang tua yang membesarkan ku, yang mempercayakan beliau untuk mengajar aku di luar jam sekolah..

Aku lalu menggeleng dan berkata : “Tidak bu, mereka berdua telah pergi…  Ibu berpulang pada tahun 1987, dan bapak menyusul tahun 2001”

Ibu Rustiati lalu berkata : “Mereka berdua sangat baik yang baik, Sondha.  Mereka orang-orang yang baik.  Uang les yang mereka berikan pada saya  pada saat itu jauh lebih besar dari gaji saya sebagai guru, membantu kehidupan saya dan ibu saya.”

Aku lalu menjawab : “Saya saat itu tidak mengerti, bu.  Orang tua saya hanya menyuruh saya pergi les, lalu menitipkan amplop yang berisikan uang les setiap bulannya pada ibu.  Saya tidak tahu dan tidak mengerti berapa jumlahnya, dan tidak pernah tahu, bu.”

Beliau hanya tersenyum mendengar ucapanku…

Setelah pertemuan itu, beberapa hari menjelang Idul Fitri tahun 2010, aku menelpon beliau untuk menanyakan alamat rumah beliau agar bisa bersilaturahmi..  Tapi beliau bilang, beliau sudah berangkat ke kampungnya untuk berlebaran bersama keluarga…  Lalu aku pun tenggelam dalam rutinitas hidupku…  Keinginan bertemu dan bertemu beliau kembali, hanya menjadi keinginan yang tak diwujudkan…

Lalu, di tanggal 04 Desember 2011, telpon dari seorang teman SD yang saat ini menetap di Bogor, Ferri Daruski, membangunkan tidurku di minggu pagi…

Ferry bilang  : “Sondha dimana? Aku lagi di Pekanbaru.  Bisa ikut bersama kami mengunjungi ibu Rustiati? Beliau sedang sakit.”

Saat itu, aku yang sedang berada di Samarinda hanya bisa berkata : “Ferry, maaf aku sedang di Samarinda.  Aku tak bisa bergabung dengan kalian.  Sampaikan salam ku dan permohonan maaf pada ibu, karena belum bisa mengunjungi beliau.”

Setelah berkoordinasi dengan beberapa teman SD, akhirnya aku dan teman-teman berkunjung ke rumah ibu Rustiati pada hari Sabtu 10 Desember 2011 sore hari…

Bersama teman2 SD saat mengunjungi ibu sakit, 10.12.2011

Subhanallah…. Kondisi beliau sangat memperihatinkan…, tubuh  membengkak di sana sini.. Bahkan dari telapak kaki bu Rustiati merembes keluar cairan…  Tubuh beliau tak bisa dibaringkan karena menimbulkan rasa sakit.  jadi sepanjang hari, selama berhari-hari, beliau hanya duduk di sofa di depan televisi.  Sepertinya beliau mengalami gagal ginjal..  Ibu bilang sebelumnya beliau sempat beberapa kali menjalani cuci darah, tapi rasanya sakit sekali.  Ketika kami tanya bagaimana ini semua bermula, beliau bilang beliau kena  diabetes sejak beberapa tahun yang lalu, kemudian organ tubuh pun satu per satu tak lagi berfungsi optimal..

Tak terkatakan sedihnya melihat seorang guru yangkita tahu begitu lincah, begitu baik, begitu lembut dan sabar harus mengalami semua ini…  Tapi dibalik penderitaannya, beliau tetap tersenyum… Sabar dan ikhlas menerima perjalanan hidupnya…

Sebelum meninggalkan rumah beliau, di saat teman-teman satu per satu berjalan ke luar rumah, aku sempat berbicara berdua saja dengan beliau… Menyampaikan permohonan maaf atas segala salah ku, dan menyampaikan doa dan harap agar beliau  mendapatkan yang terbaik dari Allah SWT.

Beliau berkata pada ku : “Sondha, kedua orang tua kamu adalah orang-orang yang baik, kamu juga anak yang baik.. Ibu selalu berdoa buat kamu, nak.  Insya Allah surga buat orang tua kamu dan kamu”.  Air mataku tak lagi bisa ditahan, setelah memeluk dan mencium beliau, aku pun meninggalkan rumah itu…

Setelahnya aku kembali larut dalam kehidupanku…  Pekerjaan, proses adaptasi dalam kehidupan pernikahan yang baru ku jalani.. Menyerap waktu dan pikiran ku..   Belum sempat aku mengunjungi beliau kembali.. Belum sempat mencoba menggalang dana dari teman-teman buat membantu biaya pengobatan beliau…  Namun beliau telah pergi… Ahhhh sungguh suatu lagi pelajaran penting tentang prioritas…

Makam Ibu Rustiati, my most favorite teacher… RIP 25.12.2011

Maafkan Sondha, bu.. Semoga ibu beristirahat dengan tenang, di tempat yang lapang, sejuk  dan penuh cahaya.  Menurut Sondha, ibu berhak atas semua itu, karena ibu adalah seorang guru, guru sejati…***

Posted in Tukang Jalan

Gula Bargot…

Pohon bargot di pinggir Kampung Sibadoar…

Gula bargot…? Gula apa itu….?  Teman-teman mungkin biasanya mendengar nama gula pasir, gula batu atau gula aren…  Ya, gula bargot itu sama dengan gula aren..  Bargot itu bahasa  Batak Angkola untuk menyebut aren alias enau (Latin : Arenga pinnata).

Gula bargot ini merupakan salah satu komoditas produksi masyarakat di daerah Sipirok, selain padi, karena tanaman bargot alias aren alias enau banyak terdapat di daerah ini..  Dan untuk menjadi catatan, pohon-pohon bagot di daerah ini tumbuh secara alami, bukan hasil budidaya..

Minggu lalu saat pulang kampung aku mendapat kesempatan melihat bagaimana salah satu penduduk kampung asal keluargaku, Sibadoar, membuat gula bargot…  Sangat sederhana…, Namun jangan tanya rasa gula yang dihasilkan… Maknyussss banget… Soalnya gak dicampur bahan lain, murni dari aren…  Pengawet…? Apalagi…. Jauuuhhh….

Ini beberapa foto tentang  gula bargot yang berhasil aku kumpulkan…. Silahkan dinikmati…

Anak Pengumpul Air Bargot... Sejak kecil sudah ikut ayahnya mengumpulkan air bargpt...

Bahan baku gula bargot adalah air bargot alias air yang disadap dari tandan jantan pohon nira.  Selama disadap, air biasanya ditampung dalam tabung-tabung bambu…  Biasanya penyadap nira membawa beberapa tabung sekaligus untuk dipasang di pohon-pohon nira..  Untuk memudahkan, aku lihat salah seorang penyadap di Sibadoar membawa tabung-tabungnya dengan dorongan…

Kata Papa ku, dalam tata krama zaman dulu di daeah Sipirok, bila penyadap nira telah mendapatkan hasil sadapan, lalu bertemu dengan kerabatnya dalam perjalanan pulang, si penyadap menawarkan secangkir kecil air nira, sebagai simbol berbagi rezeki.  Sebagai mana pohon nira membagikan rezeki pada si penyadap..   Tapi mungkin sekarang tidak lagi lazim dilakukan…  Hmmmm, padahal pegen juga merasakan air nira segar…

Air nira hasil sadapan lalu dimasak dengan tungku berbahan bakar kayu sampai mengental.. Kebetulan yang aku temukan di Sibadoar, tungku pemasak nira diletakkan di depan rumah, di tepi jalan.., hanya dilindungi degan pagar-pagar kayu dan atap seng seadanya…  Agar air nira yang dimasak bersih dan tak ada kotoran, air nira disaring saat akan dituangkan ke kuali…  Manisnya air nira terlihat dari banyaknya lebah-lebah yang tertinggal di saringan… Hmmmmmm…   Btw, selain diolah jadi nira, ada juga penduduk kampung yang mengolah air nira menjadi tuak, sejenis minuman yang mengandung alkohol sebagai hasil fermentasi…

Air bargot dituangkan ke wadah memasak air bargot...
Wajan untuk memasak air nira sampai mengental, dan saringannya...
Air bargot yang sudah matang dan mengental, siap untuk dicetak....
Gula bargot dicetak dengan menggunakan daun bargot yang dbentuk lingkaran lalu diletakkan di permukaan yang rata...
Gula Bargot dari bargot yang masih muda... Warna gula lebih pucat, rasanya tak semanis gula yang dibuat dari bargot tua...
Gula bargot dari bargot yang sudah tua, warnanya coklat tuam rasanya uenak banget.....