Selamat Jalan Tulang Sahrin…

Hari Jum’at malam  tanggal 5 Agustus 2011, aku dapat bbm di group keluarga kami dari Ivo, adik ku..  Isinya “Tulang  (Oom dari pihak ibu) Sahrin dirawat di ICU rumah sakit Materna (Medan) karena …….. ” Innalillah….

Siapa siyy Tulang Sahrin.. ?? Tulang Sahrin, lengkapnya Sahrin Halomoan Harahap  adalah sepupu  Mama ku..  Ayahnya Tulang Sahrin, Opung Bagon Harahap gelar Baginda Hanopan adalah abang dari Jamin Harahap gelar Baginda Soripada Paruhum, ayah Mamaku..  Mereka berdua adalah anak dari Tuongku Mangaraja Elias Hamonangan Harahap dari Hanopan dengan istrinya Petronella boru Siregar dari Bungabondar. Sehingga secara tutur (cara memanggil) dalam adat Batak aku memanggil “tulang” alias saudara laki-laki dari ibu kepada Tulang Sahrin.

Sebenarnya, aku terkait dengan Tulang Sahrin bukan cuma dari pihak Mama, tapi juga dari pihak Papa, karena ibunya Papa juga kakak beradik dengan Baginda Hanopan, ayah tulang Sahrin.  Bahkan saat belia tulang Sahrin pernah tinggal bersama-sama keluarga Papa, sehingga dia bagaikan adik bagi Papa yang merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara.  Karena itulah tulang Sahrin memanggil Papa dengan sebutan “abang” bukan “ipar” sebagaimana seharusnya dalam tutur adat Batak.

Buat aku, tulang Sahrin bukan cuma sekedar sepupu Papa dan Mama yang sesekali bertemu di acara-acara keluarga..  Memang, lebih dari 30 tahun terakhir itu yang terjadi.., kami hanya bertemu sesekali karena kami tinggal di kota yang berbeda..  Tapi di saat aku berusia sekitar 9 sampai dengan 11 tahun, aku dan tulang Sahrin yang saat itu bertugas di Kejaksaan Tingg Riau, tinggal di rumah yang sama di jalan Kundur Pekanbaru.

Lalu hari Rabu, 10 Agustus 2011 siang, setelah tulang dirawat 5 hari, Papaku mengabari kami anak-anaknya kalau tulang akhirnya berpulang.. Innalillahi wa innailaihi roji’un… Selanjutnya Papa mengabari kalau pemakaman yang didahului dengan acara adat akan dilalukan di Hanopan pada hari Sabtu 13 Agustus 2011..



Setelah berunding dengan adik ku David, diputuskan aku akan pulang kampung untuk menghadiri acara adat dan pemakaman itu..  Karena David, baru saja kembali dari Medan, dan sempat mengunjungi Tulang Sahrin saat dirawat di rumah sakit.  So, berangkat lah aku pada tanggal 12 Agustus 2011 menjelang magrib dengan menggunakan mobil rental sekaligus sopirnya, karena si sparky adalah city car yang bukan untuk digunakan di jalur trans sumatera..

Setelah menyelesaikan pekerjaan sampai dengan Jum’at 12 Agustus 2011 siang.. Menjelang magrib aku berangkat menuju negeri leluhur ku, Sipirok…  Kami pergi melalui jalur Pasir Pangaraian – Aek Godang.  Di beberapa ruas, jalannya memprihatinka, tapi masih tetap ini adalah jalur tersingkat dan tercepat.. Jalur alternatif adalah dari Sibuhuan belok ke arah Gunung Tua, lebih jauh sekitar 150-an km dengan jarak tempuh lebih lama sekitar 2 1/2 jam..

Perjalanan ini cukup berat rasanya, karena dilakukan di bulan Ramadhan, saat tubuh butuh konsumsi lebih di malam hari.  Sementara setelah lewat kota Pasir Pangaraian tidak ada tempat makan yang representatif..  Sahur kami lakukan di Palsabolas,  sekitar 20 km dari Sipirok.  Itu pun yang disantap hanya roti yang kami bawa dari Pekanbaru, serta teh yang kami buat dengan meminta air panas di warung yang hanya menjual indomie…  Selama dalam perjalanan, kami hanya menyantap roti dan roti plus kue bawang dan jeruk..

Kami sampai di rumah Opung di Sipirok menjelang jam 5 pagi…   Tapi kami tidak bisa menginap di sini, karena di rumah Opung hanya satu kamar yang dibiarkan kosong buat Papa menginap kalau pulang ke Sipirok.  Kamar-kamar lain digunakan oleh anak-anak dari desa-desa di sekitar Sipirok yang bersekolah di Sipirok.  Mereka sekaligus bertanggung jawab untuk bersih-bersih rumah..  Sementara rumah Opung yang satunya, bagas lombang sedang disewakan supaya ada yang menghuni dan merawat.  Papa lalu membawa kami ke Mess Pemda SUMUT di Pesanggrahan, yang lokasinya tak jauh dari rumah Opung.

Setelah istirahat, sekitar jam 09 pagi kami berangkat ke Hanopan, yang berjarak sekitar 14 km ke arah Simangambat, untuk mengikuti acara adat pemakaman tuang Sahrin..  Ya, upacara adat pemakaman tulang Sahrin dilakukan di rumah peninggalan leluhur kami Tuongku Mangaraja Elias Hamonangan Harahap yang berada di kampung Hanopan.

Bagas Parsadaan Hanopan, peninggalan Tuongku Mangaraja Elias Hamonangan Harahap, buyutku..

Saat kami sampai di Hanopan, persiapan melepas jenazah sudah rampung dilakukan..

Bendera-bendera duka cita sudah melambai-lambai di udara…  Ada yang terdiri dari gabungan kain tiga warna khas Batak, putih – hitam – merah.  Ada juga yang empat warna, putih – hitam – merah – kuning.  Ada juga yang bergambar bulang, penutup kepala laki-laki yang bentuknya seperti mahkota, yang biasanya dipakai pengantin laki-laki.  Ada juga yang bergambar pedang dan ular..  Aku belum sempat bertanya pada Papa ku apa makna semua itu..

Bendera-bendera Adat melambai di udara…

Di jalan di depan rumah sudah tersedia hombung, keranda khas Batak, yang dilapisi ulos.  Pada hombung tersebut juga  terdapat ukiran2 penuh makna..  Di belakang hombung terdapat tandu dari bambu, yang khusus dibuat untuk mengangkat peti jenazah tulang Sahrin…

Persiapan… Hombung dan Tandu Bambu…


Kami lalu masuk ke rumah…  Aku menyusuri sampai ke belakang rumah…  Di halaman belakang rumah aku lihat para ina (ibu-ibu) dan ama (bapak2) sedang mangaloppa (memasak), ada juga yang masih memotong-motong juhut (daging)…

Dalam adat Batak, bila seseorang meninggal di usia yang sudah tua, punya anak keturunan dan mapan secara ekonomi dianggap meninggal saur matua..  Kalau orang meninggal saur matua, keluarganya akan melakukan pemotongan seekor binatang ternak yang dagingnya (juhut) sebagian akan dimasak untuk makan tamu dan orang-orang yang bekerja selama upacara adat, sebagian lagi dibagikan kepada kerabat dan orang kampung tempat upacara adat dilaksanakan.  Khusus untuk masyarakat Batak Angkola, yang sejak lama sebagian menganut agama Islam dan sebagian lagi menganut agama Kristen, binatang ternak yang dipotong adalah kerbau.  Sedangkan yang memasak makanan adalah kerabat dan orang-orang kampung yang muslim dibantu dengan yang non muslim, sehingga pihak tamu dan kerabat yang muslim tidak ragu sama sekali akan kehalalan makanan yang dihidangkan…  Mengingat acara adat kali ini berlangsung di bulan Ramadhan, maka para tamu dan keluarga yang non muslim semua makan di dalam rumah, sedangkan yang muslim diberi makanan untuk disantap setelah berbuka puasa… penuh toleransi…

memotong juhut…
Mangaloppa…. Dilakukan oleh keluarga yang Muslim di Bulan Ramadhan bagi kerabat yang Non Muslim..

Acara adat dimulai dengan acara keluarga, yaitu penyampaian rasa kasih terhadap yang pergi dari para anggota keluarga yang ditinggalkan, yaitu istri, anak, menantu, mora, anak boru dan lain-lain, juga mengekspresikan rasa duka serta kalimat-kalimat saling menguatkan dalam menghadapi kehilangan ini…  Lalu karena sudah waktunya makan siang, maka para kerabat dan tamu yang non muslim dipersilahkan makan siang di bagian dalam rumah..

Setelah acara makan siang selesai…, acara pelepasan jenazah dimulai… Jenazah yang sejak kedatangannya di Hanopan diletakkan di tempat  tidur besi bertiang 4 (bed foster) peninggalan buyutku yang dihias dengan kain batik di tiang-tiangnya, dibawa ke luar rumah dan diletakkan di atas tandu yang dibuat dari bambu…, kemudian ditutup dengan hombung…

Membawa peti jenazah ke depan rumah…

Lalu disampaikan kata sambutan dari pihak keluarga, oleh Tulang Pasti, yang dilanjutkan dengan pembacaan riwayat hidup oleh Tulang Mei, adik bungsu Tulang Sahrin…  Kemudian sambutan yang tak putus-putus dari Mora, Anak Boru, Pisang Raut, Kahanggi, Raja Adat Hanopan lalu para Raja-raja Adat dari kampung-kampung di sekitar Hanopan.

Selesai kata sambutan yang sangat panjang dan lama, akhirnya tandu jenazah diangkat dengan didahului oleh seorang pemuda bermarga Harahap yang dipakaikan bulang dan perlengkapannya serta diiringi  payung kuning..  Untuk tahap awal, keranda tidak diangkat begitu saja.. tapi setelah beberapa langkah maju, dilakukan pula beberapa langkah mundur yang diiringi dengan tebaran beras kuning bercampur uang-uang logam… Langkah maju mundur dilakukan beberapa kali, baru kemudian keranda dibawa dengan langkah maju sepenuhnya menuju gereja untu dilakukan kebaktian pelepasan dan dibawa ke kuburan keluarga Harahap di pinggir pemukiman kampung Hanopan..

Melepas jenazah…
Mengantar jenazah ke gereja untuk kebaktian dan selanjutnya ke pemakaman..

Setelah pemakaman selesai, acara adat ditutup dengan tahapan Paulak Mora..  Semacam acara pelipur lara bagi keluarga yang ditinggalkan, serta menyerahkan tuppak (kontribus untuk membantu menutupi biaya yang telah keluar untuk acara adat) kepada keluarga yang ditinggalkan…

Semoga Tulang Sahrin beristirahat dalam damai.. Semoga keluarga yang ditinggalkan bisa bersabar dan menyelesaikan apa yang masih menyangkut dengan damai… Terutama di hati mereka.. Aku tahu itu tidak mudah.. Tapi percaya lah, menyerahkan segalanya ke tangan Allah adalah jalan terbaik… ***

One thought on “Selamat Jalan Tulang Sahrin…

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s