Ke Museum Sampoerna

Di depam Museum1
di depan Museum Sampoerna, Surabaya

Tanggal 7 Agustus 2009, Uti, mamanya Nana, istri David, adikku menyarankan Musem Sampoerna sebagai “a must visit object”, saat aku menanyakan tempat-tempat yang sebaiknya aku kunjungi di Surabaya setelah menyelesaikan tugas Jum’at 7 Agustus 2009 siang.

So, dengan diantar supir yang ditugaskan Uti mengantarku puter2 Surabaya, aku pun pergi mengunjungi Museum Sampoerna, dengan hanya sedikit pengetahuan tentang The Sampoerna : mereka produsen rokok Dji Sam Soe dan A Mild, rokok produksi mereka mempunyai iklan yang asyik (how low can you go, bukan basa basi, tua itu pasti dewasa itu pilihan), mereka menjual perusahaan mereka kepada Philip Morris di London dengan harga sekian belas Trilyun. Selebihnya, aku gak tau apa-apa….

Museum Sampoerna berada di bagian kota tua Surabaya. Kawasan yang padat dan dipenuhi bangunan2 tua yang sepertinya masih berfungsi sebagai gudang2. Sampai di sana, aku menemukan sebuah gedung besar dengan empat pilar berbentuk rokok di bagian depannya. Fasad depan gedung yang dulunya auditorium ini mengingatkan kita pada asitektur Yunani. Di bagian atas ada tulisan :

Symbol China, SAMPOERNA, NV. HANDEL MIJ SAMPOERNA, Sigaretten Fabriek, LIEM SEENG TEE

Aku lalu menanyakan pada petugas Satpam yang berjaga-jaga di halaman, dimana pintu masuk ke Museum. Dia menunjuk ke arah pintu yang terdapat di tengah-tengah fasad gedung tersebut.

Begitu masuk, aku langsung mencari2 petugas yang menjual tiket masuk. Ternyata no ticket.. It’s free. Gedung ini terdiri dari 3 lapis ruang yang besar, seperti hall, yang dihubungkan oleh pintu2 tanpa daun ditengah2nya.

Aku lalu menyakan pada penjaga museum yang nampak di ruang depan, dimana aku bisa melihat orang melinting rokok, seperti yang dikatakan Uti “Wajib Dilihat”. Petugas tersebut menyuruhku untuk segera naik ke latai 2 gedung melalui tangga yangterdapat di kiri kanan ruang ketiga..

Melinting1
para pekerja melinting rokok di Museum Sampoerna

Aku langsung menuju ruang ketiga, tanpa melihat-lihat dulu ruang pertama dan ruang kedua. Karena kata Uti, “pemandangan orang melinting rokok itu” hanya ada sampai jam 15-an lewat, karena setelahnya para pekerja sudah pulang…

Setelah menaiki tangga kayu di sebelah kiri ruang ketiga, aku sampai di lantai dua gedung.. Lantai ini bentuknya seperti balkon gedung bioskop, dan belakangan aku dapat info, ternyata itu memang balkon saat gedung ini berfungsi sebagai teater. Menghadap ke arah dalam gedung aku melihat dinding kaca dengan pemandangan hall besar di bagian bawah alias lantai satu. Hall ini ternyata adalah ruang keempat dari gedung. Hall tersebut berisikan barisan meja-meja yang dihadapi puluhan, bahkan mungkin lebih dari seratus orang pelinting rokok.. Semua bergerak dalam pola yang sama… Spontan, aku mengeluarkan camera untuk merekam pemandangan tersebut.. Setelah mendapatkan dua petikan, tiba-tiba ada suara di belakangku “Maaf ibu, di sini dilarang memotret”… Upsss… Aku baru ngeh kalo di jendela kaca tersebut terdapat beberapa stiker dengan gambar camera yang disilang dan tulisan “no picture”.. Aku langsung meminta maaf, pada pemilik suara tersebut, yang ternyata petugas museum.

the-sampoerna-legacy
buku The Sampoerna Legacy by Michelle SampoernA

Puas menatapi para pelinting rokok, aku mengamati isi lantai 2 ini.. Ternyata lantai ini tempat menjual memorabilia Museum Sampoerna, berupa pin, buku2 notes yang cantik yang bergambar beberapa barang yang didisplay di museum ini. Tiba-tiba aku melihat sebuah buku di atas case yang memajang berbagai memorabilia. Buku itu covernya begitu cantik… dengan gambar dan warna yang mengingatkan ku pada buku2 cerita anak2 dari luar negeri. Judul buku itu “The Sampoerna Legacy, A Family & Bussiness History”. Aku lalu melihat sample yang disediakan… Ooohhh…, buku itu cantik banget…, penuh dengan gambar yang dibuat dengan cat air.., kertasnya juga bagus.. Saat kutanyakan harganya, petugas mengatakan Rp.270.000,-. Mahal yaaa…., tapi rasanya deserve lah buat buku secantik ini.. Lagian aku ingin tahu sejarah keluarga ini…

Setelah membeli buku cantik dan beberapa memorabilia buat adik-adik di kantor, aku memutuskan untuk turun ke lantai 1 melalui tangga di sisi kanan gedung. Begitu turun tangga, aku sampai di ruang ketiga. Di situ didisplay sample bahan baku rokok Sampoerna, beberapa peralatan untuk berproduksi, berbagai merk rokok yang diproduksi mereka, peralatan untuk mencetak kemasan rokok, juga kenderaan yang pernah digunakan untuk distribusi rokok zaman dulu, dll. Di ruang ini juga didisplay kostum yang pernah dipakai oleh Sampoerna Marching Band saat tampil di Pasadena Parade tahun 1990.

Produk Sampoerna2
berbagai rokok produksi Sampoerna

Dari ruang ketiga, aku bergerak ke ruang kedua. Di sini didisplay foto-foto dan lukisan proses produksi rokok zaman dulu.. Juga ada foto beberapa tokoh nasional yang merpakan konsumen rokok produksi Sampoerna. Di ruang ini juga terdapat foto-foto orang2 yang pernah mengelola pabrik rokok pada saat masih menjadi milik keluarga Sampoerna.

Me @ Sampoerna1
dengan alat pengurai tembakau

Dari ruang kedua, aku bergerak ke ruang pertama. Di sini terdapat foto leluhur keluarga Sampoerna, Lim Seeng Tee dan istrinya Tjiang Nio, lalu ada koleksi keramik, kebaya dan kain batik koleksi keluarga Sampoerna. Di pojok lain di ruang lantai 1 terdapat miniature warehouse tembakau dan alat untuk mengurai tembakau yang telah disimpan beberapa tahun, untuk diproses lebih lanjut. Museum ini juga dilengkapi dengan beberapa computer dengan touch screen yang berisi berbagai informasi sesuai dengan tema kelompok property yang didisplay..

Puas melihat-lihat, aku bergerak keluar… Mula-mula ke Sampoerna Gallery yang memamerkan karya-karya seni yang juga dijual… Gallery ini adalah sebuah rumah kecil yang terdiri dari 2 ruang dengan lantai kayu diatasnya. Ada 2 karya seni yang menarik di mataku.. Yang pertama, sebuah bench yang diduduki oleh 3 pasang sexy legs.., yang satunya lagi, sederet meja-meja kecil yang di atasnya ada piring2 lebar yang di atasnya ada pecahan keramik yang disusun dan dihias sedemikian rupa…

Sexy Legs
Three pair sexy legs…

Susunan Piring

Keluar dari Gallery Sampoerna, aku menuju gedung yang terdapat di depan Gallery, yang difungsikan sebagai Sampoerna Caffee. Interior caffee ini berkesan retro… sangat unik dan nyaman. Secara perut terasa lapar, aku memesan black pepper beef dan segelas iced lemon tea. Ternyata… rasanya passs di lidahku…, dan harganya juga deserve lah.. untuk kedua pesanan terebut aku discharge gak sampai Rp.40.000,-.

Caffee Sampoerna1
Caffee Sampoerna
Caffee Sampoerna2
inside of Caffee Sampoerna

Setelah puas melihat2, dan juga mengisi perut… Aku pun kembali ke mobil, dan mengajak supir meninggalkan Museum Sampoerna…. Benar2 kunjungan yang mengasyikkan..

Adapun riwayat keluarga Sampoerna yang dituangkan Michelle Sampoerna (anak tertua Putra Sampoerna) dalam “The Sampoerna Legacy, A Family & Bussiness History” adalah suatu riwayat yang begitu inspiring… : berasal dari keluarga petani miskin di dataran tinggi Anxi China, dalam empat generasi keluarga ini mampu menjadi satu salah keluarga papan atas Indonesia. Ada desire yang luar biasa yang mengalir dalam darah keluarga ini, yang patut dicontoh… Mudah2an aku berkesempatan membagi cerita yang kubaca ini pada ponakan2ku untuk membakar semangat mereka untuk meraih yang terbaik dalam kehidupan mereka…

Note :
@ Michelle Sampoerna : Buku kamu indah banget….. Makasiyy udah berbagi riwayat keluarga yang luar biasa…

8 thoughts on “Ke Museum Sampoerna

  1. huwwa… tante berunutng sekali bisa nglyat pra pekerjanya ngelinting rokok…

    yudha ajha yg udah 2X ksana blum pernah ngelyat paran pekerja tersebut…
    huuu…😦

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s