Ketika Supir Taxi Diprotes….

Masalah pertaxian di Pekanbaru adalah sesuatu yang menyebalkan.. Kenapa? Karena tarifnya yang gak deserve banget nget nget nget… Bisa banyangin gak, dari pool bus di Jl. Nangka, sebelum Terminal AKAP/AKDP difungsikan, ke rumah Jl. Durian yang jaraknya gak sampai 2km, supir taxi akan minta Rp.20.000,-. Itu tahun 2002-2004…!!! Tahun 2006-an dari rumah Tati ke kantor yang lama, yang jaraknya lebih kurang 13 km, supir taxi akan minta sekitar Rp.55.000,-. Kalo pake argo…, sama ajah…!! Argo bergerak kencang !!! Kebayang gak siyy kalo mobil ngadat dan harus ke kantor naik Taxi… Sehari buat transport aja bisa Rp.110.000,- Kalo sering2 bisa bikin bangkrutttt…..!!! Kenapa gak pake angkutan umum alias bus komuter yang disediakan pengelola perumahan tempat Tati tinggal? Pengen siyyy… Tapi kebayang gak siyy mesti bawa2 laptop dan tas di dalam bus yang banyak copetnya…?

cabSo naik taxi adalah sesuatu yang Tati hindarkan di kota ini.. Tapi ya gak selamanya bisa dihindarkan… Tanggal 5 Januari yang lalu saat pulang dari Medan, karena gak ada yang jemput di Bandara, Tati terpaksa naik taxi ke rumah.. Untuk ambil taxi di bandara, di pool Taxi Puskopau yang mendominasi bandara SSQ II, kita harus bayar Rp.10.000,-. Dengan uang itu kita mendapatkan taxi dan 1 eksemplar Koran Media Indonesia. Lalu kita juga diberi selembar daftar tarif kalo mau naik taxi tersebut ke luar kota. Di lembaran daftar tersebut ada cap stempel tariff Taxi = Rp.10.000,- + argo.

Setelah membayar di pool, Tati lalu naik ke taxi dengan nomor yang sesuai dengan yang diberikan petugas di pool taxi. Taxi lalu bergerak.. Gak lama keluar dari area bandara, Tati baru nyadar kalo argony a gak menyala. Tati lalu nanya ke supir taxi, kenapa argo gak dinyalain, bukankan di daftar tarif tertulis kalo pake argo. Supirnya bilang, itu hanya tertulisnya aja. Realitanya gak ada yang pake argo. Dan untuk ke rumah Tati yang sekitar 5km dari bandara, si supir taxi mematok Rp.50.000,-. Kalo Tati gak mau, dia akan membawa Tati kembali ke bandara, dan Tati gak akan dapat taxi yang pake argo karena semua supir sudah sepakat gak pake argo. Hmmmm…. pemerasan…!!!

Tapi karena harus segera sampai di rumah, lalu ganti baju buat segera ke kantor, ya terpaksa Tati jalanin… Meski rasanya mangkeeellll buanget….!! Tati lalu bilang ke supir itu, bahwa harga yang dia patok itu sangat tidak layak, terlalu mahal. Karena untuk jarak 5km Tati harus bayar total Rp.57.000,- (Rp.60.000,- dikurangi harga Koran). Rata-rata Rp.11.400,-/km. Padahal berapa siyy bensin yang dihabiskan untuk jarak 5 km? Dengan kondisi mobil yang usianya sekitar  4 atau 5 tahun mungkin bensin 1 liter bisa digunakan untuk menempuh jarak 8 km. So, untuk menempuh 5 km, bensin yang dihabiskan gak sampai doonk 1 liter alias Rp.6.000,-. Lalu ditambah biaya pemeliharaan rutin, setoran taxi atau cicilan mobil, lalu gaji si supir? Berapa sebenarnya penggeluaran untuk per km? Apakah Rp.11.400/km adalah harga yang pantas?

Dibilang begitu supir taxinya malah bilang, “Ibu kalo mau protes, ibu protes aja para pejabat. Berapa siyy gaji mereka? Kok bisa mereka punya rumah dan mobil mewah…? Dan biasanya gak cuma satu atau dua buah…!!! Ibu jangan protes sama kami yang orang kecil….!!!” Gubbbbbrrrrrrraaakkkkkk………!!!!

Apakah bisa yang gak baik di mata kitajadi pembenaran kita untuk bertindak…?

4 thoughts on “Ketika Supir Taxi Diprotes….

  1. pernah anda hitung dan terpikir berapa harga waktu (biasanya lebih cepat naik taxi dibandingkan dengan anda naik bis) yang anda dapatkan bila anda menggunakan taxi

    1. Waktu memang sangat berharga… tapi mau kah anda mengeluarkan uang anda Rp.60.000,- untuk jarak sekitar 5 km, dalam keadaan normal, tidak buru2 karena ada yg sakit atau bisnis meeting. Sementara harga bensin hanya Rp.4.200,-/liter.

  2. Di Pekanbaru gak ada becak mesin sayangnya. Coba aja jalan kaki dari bangunan terminal sampai ke Jalan Sudirman yang bener2 rame kendaraan umumnya. Bisa patah tulang kali, jalan kaki sambil bopong koper (seret koper??) tempatnya naek turun …. Panas lagi ahaha.

    Iya, saya setuju kalau taksi di Pekanbaru sudah di ambang batas super-duper keterlaluan. Aku pernah sewa taksi se-jam ke charge Rp 75 ribu. Okelah, aku anggap itu standar. Tapi, dengan culasnya supir taksi itu nge-les karena aku bilang tujuan aku ke kawasan Alam Mayang (perbatasan Pekanbaru di daerah jalan Lintas Timur). Supir taksi langsung bilang, kalau ke luar pusat kota. bayar tambahana Rp 50 ribu per jam nya.

    MASYA ALLAH !!!!

    Saya cuman bisa mengurut dada, karena saya terpaksa. Saya tidak bisa menyetir, pakcik saya sedang kuliah. Tidak bisa dimintai tolong. Sementara saya harus bayar PBB tanah kakak-beradik bapak saya yang tinggal di jakarta. Jadi tanah yang mau dibayar PBB nya tidak hanya 1, tapi banyak.

    nasib baik tidak ada tanah keluarga di Rumbai, kalau tidak saya pasti sudah kere. Salah saya juga mungkin , karena menunda-nunda pembayaran, padahal saya harus segera kembali ke Jakarta.

    Ck ck ck ..

  3. Bener kak, kadang rasanya mau marah dgr org menjadikan kecemburuan sosial sbg alasan pembenaran utk tindakan mereka? Cth : Krn tinggal dekat dgn komplek yg mayoritas kaya raya, para pemilik warung di sekitar komplek merasa berhak memasang harga lbh mahal 50%? Pantas suamiku suka sinis sama org model begini, hbs gimana mereka mo jd bener? Otaknya aja culas, pantas aja kayak gt trs hidupnya.

    **Pas kali emg kak Shonda bahas ini. Aq jg pnh sekali naik taxi di Polonia itu gara2 ga bs dijemput. Emg iya msti tawar2 dulu di muka. Masa ke krakatau kena 45rb? Da gt, biasanya mereka pura2 lama gt wkt ambil kembalian, jd kita pun terpaksa merelakan 5rb itu. Makanya banyak penumpang yg memilih jalan keluar dr Polonia lalu cari becak mesin di luaran.

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s