Posted in Happy Hours, Tukang Jalan

Mengejar Matahari

mengejar-matahari
Enter a caption

Kali ini diriku mau cerita tentangone day travelling bersama 11 orang teman-teman peserta Diklat JFPM Spasial di weekend kedua diklat yang dilakukan di Yogyakarta.   Kami Mengejar Matahari 😀  Menyaksikan matahari terbit di Punthuk Setumbu dan Gereja Ayam, serta menyaksikan matahari tenggelam di Istana Ratu Boko.  Perjalanan ini dipilih dengan pertimbangan untuk waktu yang sama, lebih banyak tujuan wisata yang bisa dinikmati, dibanding kalau kami pergi ke Kali Biru di tepi Waduk Sermo di Kabupaten Kulon Progo.

Untuk mengantar jalan-jalan, kami menyewa mini bus kapasitas 14 orang.  Mobil rental ini kami dapat berdasarkan rekomendasi mba Esti pengelola diklat.  Berapa biayanya? Rp.700.000,- untuk pemakaian mobil seharian, termasuk biaya bahan bakar dan upah supir.

Punthuk Setumbu itu nama apa?  Dimana lokasinya?

Punthuk Setumbu itu nama sebuah bukit dimana pengunjung bisa menyaksikan matahari terbit dengan latar Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan Candi Borobudur.  Tempat ini bersama beberapa daya tarik wisata lain di  Yogya dan sekitarnya menjadi lokasi syuting sequel kedua AADC.

Punthuk Setumbu yang berada di Kelurahan Karangrejo hanya berjarak sekitar 4 km dari kompleks Candi Borobudur.   Kalau dari Hotel Cakra Kusuma tempat kami dikostkan?  Lumayan jauh.  Sekitar 41,1 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Mengingat matahari terbitdi Yogya dan sekitarnya berlangsung sekitar pukul 04.30 pagi, kami harus berangkat dari Hotel Cakra Kusuma jam 03 lewat dikit.  Artinya jam 02 lewat sudah harus bangun dan mandi.  Kan gak mau jalan-jalan seharian tanpa mandi. Bisa pingsan orang-orang semobil.  Sangkin khawatir telat, Pak Mustakin, salah seorang teman kami, bangun jam 12 malam, dan tanpa liat-liat jam, beliau langsung mandi.  Untuk melihat matahari terbit di Punthuk Setumbu memang butuh perjuangan.  😀

tiket-punthuk-setumbu
Tiket masuk Punthuk Setumbu

Setelah sempat mampir di salah satu SPBU untuk sholat subuh, kami sampai di kaki bukit Punthuk Setumbu sekitar jam 04.30 pagi.  Termasuk telat, karena matahari sudah hampir terbit.  Setelah beli tiket masuk seharga Rp.15.000,- per orang, kami terpaksa langsung mendaki bukit.  Gak sempat foto-foto dulu di kaki bukit.  hiks

Mendaki bukit Punthuk Setumbu, butuh stamina yang lumayan.   Diriku yang selama diklat tiap pagi jalan kaki sekitar 45 menit, sempat keder juga.  Gimana gak keder?  Aku sebelumnya nyaris gak pernah dengar nafasku bunyi ngik ngik ngik, bahkan beberapa tahun yang lalu pada saat kena asma pun nafasku hanya sekali dua berbunyi.  Rasa takut itu sempat menjalar kuat di diri, takut jantungku ternyata benar-benar tidak kuat.   Aku lalu memperlambat langkah, agar kerja jantung bisa lebih pelan.  Alhamdulillah setelah memperlambat langkah, detak jantung jadi lebih tenang.  Bunyi napas tak semeriah semula.

punthuk-setumbu-1

Saat kami sampai di puncak Punthuk Setumbu, matahari sudah mulai menampakkan diri.   Gunung Merapi dan Gunung Merbabu terlihat berdiri dengan gagah perkasa.  Di depannya, samar-samar terlihat Candi Borobudur.  Sungguh pemandangan yang indah.  Pemandangan yang memanjakan rasa.  Aku seketika sadar pemandangan ini adalah pemandangan yang pernah aku lihat di sampul National Gegraphic Traveller beberapa tahun yang lalu.

punthuk-setumbu-2Kami berada di Punthuk Setumbu sekitar 1 jam, menikmati pemandangan matahari terbit dan perlahan-lahan naik, menepis kabut, membuat terang semesta.  Sayang pelataran untuk melihat kurang luas, sehingga harus berebut untuk mendapat view terbaik.  Sayang juga aku belum punya lensa kamera yg lebih canggih sehingga belum bisa menzoom Candi Borobudur lebih besar. (Kerja, kerja, kerja.. Nabung, nabung, nabung. :D)

Saat kami bersiap-siap untuk turun ke kaki bukit, untuk menyambung perjalanan ke Gereja Ayam dengan mobil, seorang bapak yang tak muda lagi usianya menghampiri, menyarankan kami untuk jalan kaki memyusuri hutan menuju Gereja Ayam, dan menawarkan diri untuk menunjukkan jalan.   Bapak itu ternyata penduduk setempat yang menjadi local guide.. Ketika kami bilang kendaraan kami menunggu di parkiran di kaki bukit, dia menyarankan kami untuk menelpon supir, dan meminta supir untuk menunggu kami di parkiran Gereja Ayam.  Karena ternyata ada 2 parkiran yang berbeda lokasi dan arahnya, si bapak mengarahkan supir untuk menunggu di parkiran jembatan bambu… Berapa harga jasa si bapak sebagai guide? Berdasarkan hasil kesepakatan, Rp.50.000,-

otw-gereja-ayamGereja Ayam yang berada di Bukit Rhema memang tak jauh dari Punthuk Setumbu, masih berada di kelurahan yang sama, Kelurahan Karangrejo.  Bahkan saat melihat pemandangan Gunung Merapi dan Candi Borobudur, di pojok kiri bawah terlihat bangunan tersebut.

Apa itu Gereja Ayam?  Buat penonton AADC2, tentu bangunan tersebut tak asing, meski mungkin tak familiar dengan namanya.  Menurut cerita si bapak local guide, gereja alias rumah doa ini dibangun dengan bentuk merpati, burung lambang perdamaian, yang dilengkapi dengan sebuah mahkota di kepalanya.  Namun karena bahagian “badan” terlihat besar,  lebih tebal, sehingga lebih terlihat seperti tubuh ayam, maka orang-orang menyebutya sebagai Gereja Ayam. 

Bahagian tengah mahkota dari bangunan berbentuk unik ini merupakan sebuah teras atau pelataran kecil, yang bisa dikunjungi.  Karena posisinya tinggi, dari mahkota ayam, pengunjung bisa melihat pemandangan di sekitarnya, termasuk pemandangan Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan Candi Borobudur.  Pemandangan cantik, dan bentuk bangunan yang unik inilah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk  datang ke tempat ini.

Oh ya, oleh pihak yang membangun, gereja ini diharapkan menjadi rumah doa bagi segala bangsa,  dan diperuntukkan terutàma untuk membantu penyebuhan orang-òrang yang mengalami ketergantunģ  NAPZA, bekerja sama dengan yayasan Bethesda di Yogyakarta.

gereja-ayamSetelah sepakat dengan harga, kami lalu melanjutkan perjalanan ke Gereja Ayam dengan dipandu bapak local guide.  Kami jalan kaki menyusuri hutan, menuruni Punthuk Setumbu, mendaki Bukit Rhema. Perjalanan yang menyenangkan, karena sudah lama banget gak ke hutan, menyusuri kehijauan.  Setelah berjalan sekitar 20 menit, kami sampai di Bukit Rhema, di sekitar “ekor ayam” 😀

Untuk bisa melihat Candi Borobudur dari “mahkota ayam”, kita harus masuk ke bangunan gereja, menaiki 3 lantai melalui tangga kayu yang sempit, yang hanya bisa dilalui satu orang sekali jalan, gak bisa papasan.  Dan karena “mahkota” tersebut relatif sempit, dengan kapasitas maksimal 10 orang, maka bila kita berkunjung di akhir pekan atau hari libur, yang naik ke mahkota ayam tak bisa berlama-lama di sana.

Pemandangan Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Candi Borobudur dan sekitarnya dari mahkota ayam, lebih rendah dari pada saat memandang dari Punthu Stumbu, dan tentu lebih terang karena memang saat berkunjungnya lebih siang dari pada saat berkunjung ke Punthuk setumbu.  Tapi over all, pemandangannya nyaris sama.  Setelah foto-foto secukupnya, kami segera turun dari mahkota ayam, lalu foto-foto dan duduk-duduk di halamannya yang luas dan sejuk.  Sebelum meninggalkan Bukit Rhema, kami sempat menghampiri warung yang ada di tepi jalan Bukit Rhema, membeli beberapa potong pisang goreng dan bakwan..

Perjalan turun dari Gereja Ayam menuju parkiran menyusuri jalan desa yang di kiri kanannya dipenuhi pohon-pohon bambu.. Hanya bisa dilalui pejalan kaki dan motor,  untuk mobil sepertinya  melalui jalur yang lain.  Udaranya segar, sejuk dan nyaman..  Jalur yang juga menyentuh hati, karena bertemu dengan penduduk setempat yang sederhana, berjalan tanpa alas kaki sambil membawa bakul di punggung dengan bantuan kain gendong…

Sebelum melanjutkan perjalanan, dan naik ke mobil, kami menikmati sarapan berupa nasi goreng dalam kotak yang disiapkan petugas hotel Cakra Kusuma.  Kami menikmatinya di Pos Kamling  Desa, sebelum menyebrangi jembatan bambu menuju parkiran mobil.  Sarapan yang istimewa, karena makan di udara yang segar, diiringi suara gemercik air di kali.  Kalau sudah begini, memang hanya ada dua rasa makanan : enak atau enak banget. 😀  Alhamdulillah.

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan.. Kami singgah ke Borobudur, lalu mengikuti Lava Tour di Merapi, makan siang di Kaliurang, dan berkunjung ke Museum Ulen Sentalu, sebelum akhirnya ke Istana Ratu Boko.  Untuk kegiatan Lava Tour dan kunjungan ke Museum Ulen Sentalu, nanti dibuat tulisan tersendiri yaa.. Karena dalam 1 tahun terakhir diriku 3 kali mengikuti Lava Tour, dan belum dibuat jadi satu tulisan pun.. Demikian juga ke Ulen Sentalu, dalam satu tahun terakhir diriku berkunjung ke sana dua kali.  Dan yang terakhir kalau tidak salah hitung  merupakan kunjungan keempat. 😀

Istana Ratu Boko adalah sebuah kawasan situs arkeologi yang berada di perbukitan di sisi timur Kota Yogyakarta.  Menghadap ke Barat, dengan susunan batu-batu kuno yang cantik, tempat ini menjadi tempat yang luar biasa untuk menikmati matahari masuk ke peraduan.  Sebagai obyek wisata, Kawasan Istana Ratu Boko ini dikelola bersama Candi Prambananm yang lokasinya tak jauh.  Bahkan pengunjung bisa beli tiket terusan Candi Prambanan dan Istana Ratu Boko.

Di film AADC, situs ini juga jadi lokasi. Tapi tidak untuk melihat sunset, melainkan jadi tempat ngobrol Cinta dan Rangga.

Sebenarnya ini kali kedua diriku mengunjungi tempat ini.. Kali pertama di akhir Maret Tahun 2010.  Datangnya ke sorean, nyaris senja.  Langit mendung dan kemudian hujan turun. Tempat ini jadi sepi sekali. Hanya ada aku, mba Ika teman yang bekerja di Pusat Studi Kebudayaan UGM, dan petugas keamanan Kompleks Ratu Boko yang menemani kami.  Saat itu, Istana Ratu Boko terasa sangat kuno.  Serem….!! 😀

ratu-bokoKali ini aku dan teman-teman sampai ke kompleks Istana Ratu Boko sekitar jam 5 sore.  Saat mentari masih bersinar, meski tak garang.  Kami bisa melihat-lihat bahagian candi yang bertebaran.  Aktivitas yang juga dilakukan para pengunjung lain, yang cukup ramai sore itu.  Ya, Kawasan Istana Ratu Boko sepertinya sudah berfungsi sebagai Ruang Terbuka Hijau, tempat wisatawan dan juga masyarakat menikmati sore hari.

Puas berkeliling, sebahagian kami mengambil posisi naik ke bangunan candi yang tinggi.  Duduk-duuduk di pinggirnya menunggu matahari tergelincir pelan-pelan.  Sayangnya, menjelang matahari benar-benar masuk ke peraduan, awan datang menutupi.  Jadilah kami hanya bisa melihat warna langit yang perlahan berubah menjadi kuning, jingga dan akhirnya semakin gelap. Belum rezeki bagi saya dan teman-teman untuk melihat keindahan matahari terbenam dengan sempurna di tempat ini.Semoga ada kesempatan lagi yaa. ***

#punthuksetumbu #gerejaayam #bukitrhema #borobudur #ratuboko #yogyakarta #travellers #ceritasondha #myjourney

Advertisements

Author:

An ordinary person. Love reading, love to walk around, love to travel, love to write, love the rain...