Mencari Bintang di Siang Hari…

Posisi di kantor saat ini membuat 2 buah kursi yang terletak di depan meja kerjaku kerap diduduki orang… Ada rekan2 dari kantor, ada yang dari luar kantor… Kedatangan orang2 ini umumnya siyy just so so…  Tapi terkadang bisa juga menghadirkan cerita ajaib..  Aku sebenarnya udah hampir lupa dengan suatu kejadian, yang lucu alias menggelikan..  Aku menjadi ingat kembali saat aku sedang bertamu ke sebuah instansi di Kabupaten Siak pada awal minggu ini.. Saat aku sedang duduk di ruang kerja Pimpinan di kantor tersebut, aku melihat seseorang yang pernah mencari bintang ke ruang kerjaku…

Mencari BintangMencari bintang….?

Ceritanya di suatu siang, saat aku dan rekan2 kerja di ruangan sedang sibuk berkutat dengan pekerjaan, tiba2 ada seorang laki2 bertubuh tambun (aku juga gendut, tapi dia benar2 gendut, khususnya di bagian perut…) masuk ke ruangan kerja kami..

Lalu tanpa mengucapkan salam atau preambul apa pun dia bertanya pada ku yang kebetulan sedang duduk di depan pc dan menghadap pintu masuk : “Pak Kadis, ada?”

Aku jawab : “Kayaknya keluar kota, pak”

Dia menatap aku dengan ekspresi tidak percaya, lalu bertanya lagi : “Dimana ruangannya?”

Aku lalu menunjuk ke arah ruangan Kepala Dinas, yang kebetulan satu lantai dan sejejeran dengan ruang kerjaku.  Dia langsung keluar dari ruanganku tanpa mengucapkan apa2..

Gak lama, dia muncul lagi di ruanganku, dan berkata : “Kok ruangannya terkunci? Kemana Kadisnya? Kemana ajudan2nya?”

Aku menjawab : “Bapak keluar kota, pak. Para ajudan mungkin sedang istirahat.”

Dia berkata lagi : “Kalo bapak sekretaris mana?”

Aku menjawab :”Sedang keluar kota, pak.”

Dia bertanya lagi dan lagi-lagi dengan ekspresi tak percaya : “Ruangannya dimana?”

Aku menunjuk ke ruangan kecil yang menyatu dengan ruang kerjaku..

Dia lalu menghampiri staff yang duduk di samping pintu masuk ke ruang pak Sekretaris, staff tersebut tugasnya mengurus admnistrasi dan berbagai kepentingan pak Sekretaris, lalu bertanya tentang keberadaan pak Sekretaris. Ketika mendengar jawaban staff tersebut bahwa pak Sekretaris sedang keluar kota, orang tersebut langsung keluar ruangan dengan wajah jengkel… Sangat jengkel… Kita2 yang di ruangan tersebut cuma senyum2 aja melihat tingkah lakunya…

Tapi enggak lama, orang tersebut masuk lagi ke ruangan.. Lalu menghampiri meja kerjaku dengan sikap yang berbeda… Santun dan penuh hormat… Lalu dia berkata “Ibu, saya ke sini mencari matahari kantor ini, ternyata matahari tidak ada. Saya cari rembulan, ternyata rembulan tidak ada.. Lalu saya mencari bintang…, saya tidak tahu kalau dari tadi saya berhadapan dengan bintang.. Orang yang saya temui di depan ruangan ini memberi tahu saya kalau ibu lah sang bintang. Bisakah saya meminta waktu ibu sedikit?”

Sang Bintang….? Hmmmmm… Aku gak merasa seperti itu… Sama sekali enggak…, dan kenyataannya memang aku bukan sang bintang di kantor ini.. I’m just an ordinary employee…, sama seperti pegawai lain di kantor ini.. Rayuan gombal yang memuakkan.., tapi biar gak membuat masalah yang gak perlu, aku harus menghadapi orang ini.. Aku lalu menggeser dudukku, dari yang menghadap pc di sisi kanan meja kerja, menjadi menghadap kursi tamu yang ada di depan meja kerjaku..

Aku kemudian bertanya : “Ada apa, pak? Apa yang bisa saya bantu?”

Dia lalu menyebutkan namanya (aku gak ingat sama sekali siapa nama yang dia sebutkan itu), dia bilang : “Saya ini sastrawan, bu.. Saya membuat puisi yang bersifat pribadi bagi pejabat2 di Riau ini.. Ini saya buatkan puisi buat Kepala Dinas di sini, karena beliau tidak ada di tempat, biarlah saya menitipkannya pada Ibu, bintang di kantor ini. Mohon disampaikan pada beliau. Ini amanah, bu”

Dia lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat berukuran folio dari tasnya, lalu mengeluarkan isinya : sebuah kertas berwarna hijau pupus yang ditulisi kalimat2 yang tersusun dalam beberapa bait. Dia lalu menandatangani kertas tersebut di bagian bawah, lalu menyodorkannya padaku. Aku membacanya, ternyata beberapa bait puisi dari seorang suami untuk istrinya..  Di otakku langsung terbayang berbagai dugaan  reaksi atasanku kalau membaca kertas ini…. hihihihi…

Dengan wajah tetap tanpa ekspresi, aku lalu memasukkan kembali, kertas tersebut ke dalam amplop, dan berkata : “Baik pak, nanti setelah pak Kadis kembali dari luar kota saya akan menyampaikan ini pada beliau.”.

Aku lalu meletakkan amplop tersebut di meja, dan bersiap-siap untuk melanjutkan pekerjaanku.. Tapi tiba2 aku merasakan sorot mata yang tajam ke arahku.. Aku mengangkat wajahku, ternyata laki-laki itu sedang menatapku…

Aku lalu berkata dengan lembut : “Ada lagi, pak…?”.

Dia bilang : “Ibu, tak punya kah ibu selembar merah atau biru untuk diberikan pada saya? Saya akan kembali ke Jakarta nanti malam naik bus Lorena, jadi saya mungkin tak bertemu dengan matahari. Sudilah kiranya sang bintang yang mewakili matahari.”.

Hahaha….   Benerkan rayuan gombal…. bal.. bal…  It’s all about the money… !!! Aku lalu menjawab dengan perlahan tapi tegas : “Maaf bapak, kantor ini tidak punya dana untuk hal-hal seperti ini. Maaf sekali.”

Dia lalu menjawab : “Kalau kantor ini tidak dana, sudilah kiranya ibu memberikan bantuan pribadi.”

Hmmmmmmmmm… maksa deeehh nii orang..

Aku lalu menjawab : “Maaf bapak, saya tidak punya dana untuk itu. Karena kalau satu kali saya memberikan uang untuk hal-hal seperti ini, akan banyak lagi orang yang datang. Kalau pun saya punya uang lebih, rasanya ada orang lain yang lebih memerlukan.”

Dia lalu menatapku dengan sorot mata yang sangat tajam, sorot marah, dan juga berusaha mengintimidasi ku secara psikologis… Aku lalu membalas sorot matanya dengan ekspresi datar… Setelah pertempuran sorot mata berlangsung beberapa menit, dia lalu meninggalkan ruanganku dengan ekspresi wajah kesal buangeeeettttt…

Ternyata saat aku berurusan dengan orang tersebut, seorang senior masuk ke ruang kerjaku, dan mengamati kejadian tersebut.  Setelah orang itu pergi, sang senior bertanya, ada apa.. Setelah saya ceritakan apa yang terjadi, sang senior bilang… “Jelas aja gak dapat… Lha nyari bintang di siang hari… Bintang kan adanya malam hari….” Hahahaha… Aku langsung ngakak mendengar komentar beliau…. Iya juga ya, siang2 begini nyari bintang.. Yang ada juga bintang 7, obat sakit kepala, kali…!!!

Keesokan harinya, saat Kepala Dinas telah kembali ke kantor, amanah orang tersebut, aku antarkan kepada ajudan Kepala Dinas untuk disampaikan. Aku ogah menghadap atasanku untuk urusan gak penting begitu… Kata ajudan, pak Kepala Dinas Cuma bilang “Apo niiiii……….?” sambil geleng2 kepala setelah membaca amanah tersebut.. Hehehe…

Beberapa hari kemudian, saat akan keluar kantor untuk suatu keperluan, aku melihat orang itu lagi di lobby kantorku… Dia kaget saat melihatku.. Kok kaget siyyy…? Itu kan kantorku, tempat aku kerja, ya wajar aja dia bisa berpapasan dengan aku di situ.. Kaget ketemu dengan orang udah dia coba tipu….? Hah….!!!

Naaaahhhh, aku melihat orang itu lagi di depan ruangan Kepala Dinas di Kabupaten Siak, dia sedang menunggu kesempatan untuk bertemu dengan pak Kepala Dinas. Aku berada di sebuah tempat yang untuk sampai ke sana aja aku harus menyusuri sungai selama 1 jam 40 menit, atau 2 jam kalau lewat jalan darat, eh masih aja ketemu sama orang itu..  Saat aku keluar dari ruang Kepala Dinas Siak, dan dia melihatku, orang itu kaget… Nampak dari ekspresinya.. Dia lalu mengangguk penuh hormat padaku, tapi aku tidak memperlihatkan ekspresi apa pun.. Bayangin, itu orang berkeliaran dari kantor ke kantor untuk menjual puisinya, dalam radius ratusan kilometer.. Di satu sisi, hebat juga usahanya…, tapi tidak adakah usaha yang lain, yang tidak harus memaksa orang mengeluarkan uang untuk sesuatu yang mereka tidak perlukan…?

Pic diambil dari http://www.fotosearch.com/illustration/man-shoot-star.html

5 thoughts on “Mencari Bintang di Siang Hari…

  1. Hmm.
    Buat emosi aja orang kayak gitu ya kak?
    Memang itu tipe orang yg suka datang ke kantor-2 pemerintah utk cari2 selembar merah atau biru, krn dlm otak mereka pastilah banyak dana-dana “cadangan” yg bisa dibagikan kpd org spt mereka.
    Dia mgkn sering berhasil dgn usahanya itu makanya masih terus dilakoni. Ujungnya kan malakin, cm berkedok bikin puisi, biar kesannya ga malak….
    Orang2 kayak gitu memang bakal ada terus deh sampe akhir jaman,,,,,,,,

    1. Orang kayak gitu emang akan selalu ada di muka bumi, untuk menjadi penguji keteguhan orangt-orang dalam memegang prinsip dan menguji kesabaran… hehehe…

  2. Ada banyak pelajaran yg dapat diambil dari cerita “Mencari Bintang di Siang Hari”… salah satunya adalah ‘ketegasan’. Yaitu disaat sang bintang dengan tegas menolak memberikan ‘selembar biru atau merah’ kepada tamu tersebut dengan alasan yg realistis…

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s