Tanggal 10 sampai dengan 28 Oktober 2016 yang lalu diriku mendapat kesempatan kembali ke Yogya untuk waktu yang lumayan lama..  TIGA MINGGU..  Waktu yang sebenarnya gak cukup panjang bagi diriku untuk menikmati Yogya yang Selalu DiHati

Iya buat aku, tiga minggu di Yogya gak lama… Secara diriku pernah di Yogya selama 6 bulan  buat ikut kursus PUSPICS.. Lalu sekitar 2 tahun 6 bulan untuk menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana Penderaan Jauh di lingkungan Fakultas Geografi UGM…

Ngapain 3 minggu di Yogya…? Ikut diklat alias pendidikan dan pelatihan..  Diklat Fungsional Perencana Madya Bidang Spasial..

Diklat apa siyy itu, kok istilahnya bikin kepala nyut nyut nyut..??  😀 😀

Diklat Jabatan Fungsional adalah diklat yang harus diikuti oleh seorang Aparatur Sipil Negara (klo dulu istilahnya PNS, Pegawai Negeri Sipil) untuk menduduki Jabatan Fungsional.

Apa itu jabatan fungsional ?

Jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak seorang Pegawai Negeri Sipil dalam suatu satuan organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian/dan atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. *sorry guys, ini asli copy paste dari salah satu peraturan*. Jabatan Fungsional Perencanaan itu jabatan fungsional yang bertugas di bidang perencanaan pembangunan, yang secara berjenjang terdiri dari Perencana Pertama, Muda,  Madya  dan Perencana Utama.

Khusus diklat untuk Jabatan Fungsional Madya, diklat dibagi dalam 3 bidang, yaitu ekonomi, sosial dan spasial.  Ketiga diklat itu sama-sama mengajarkan perencanaan, bedanya pada persentase materi tentang pendekatan perencanaannya yang berbeda. Bidang sosial, sekitar 60% dari materi yang diajarkan adalah perencanaan dengan menggunakan pendekatan sosial.  Bidang ekonomi, lebih kurang 60% dari materinya adalah perencanaan dengan menggunakan pendekatan ekonomi, sedangkan bidang spasial, lebih kurang 60% materinya adalah perencanaan dengan menggunakan pendekatan keruangan atau spasial.

Diklat jabatan fungsional perencanaan madya spasial, sebagaimana madya sosial dan ekonomi, diadakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.  Dan sesuai dengan bidangnya, diklat JFP Madya Spasial dilakukan bekerjasama dengan Magister Perencanaan Kota dan Daerah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, UGM.  Itulah yang menjadi penyebab diriku kembali ke Yogya selama tiga minggu… 😀

img1476928711078
@ MPKD, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fak Teknik UGM

Sebelum ikut diklat ini, diriku sudah rada-rada senewen…Karena menurut seorang teman yang sudah duluan ikut diklat, namun untuk bidang yang berbeda, selama diklat tiap hari ada tugas yang harus dikumpulkan sehari kemudian sebelum jam 05 pagi. Sumpe gw keder dengernye..!! Gimana enggak…? Masa-masa begadang buat bikin tugas sudah berlalu seiring pertambahan usia… Ditambah dengan diriku beberapa tahun terakhir sudah memberlakukan prinsip “Tugas kantor kerjakan di kantor, gak boleh dibawa pulang.  Kalo ada kerjaan yang belum selesai saat jam kantor usai, lembur aja.. Tapi gak boleh dibawa pulang”.

Dan.. akhirnya tanggal 09 Oktober tiba.. Saatnya aku terbang ke Yogya untuk mengikuti diklat…  Aku berangkat bareng dengan salah satu peserta Diklat yang juga berasal dari Pekanbaru, tapi dari instansi yang berbeda.  Karena pesawat yang terbang direct dari Pekanbaru ke Yogya adanya jam 08 pagi, jadilah jam 10 lewat diriku dan teman seperjalanan sudah menginjakkan kaki di Yogya dan melihat salam “Sugeng Rawuh” di pintu ruang kedatangan bandara Adi Soetjipto.   Ada rasa senang…, rasa yang selalu menghampiri diri bila kembali ke Yogya…  Mungkin karena  #Yogya #SelaluDiHati..

Diklat kali ini pesertanya 23 orang, dari berbagai provinsi di 5 pulau besar di Indonesia.  Dari Pulau Sumatera ada yang dari Sumut, Sumbar,  Riau, Jambi dan Bengkulu.  Dari Pulau Jawa ada yang dari Jabar, Jateng dan Jatim.  Dari Kalimantan ada yang dari Kalsel dan Kaltim.  Dari Kalimantan ada yang dari Sulsel dan Sulteng. Daannn ada Elvira dari Papua. Kami benar-benar  presentasi keragaman Indonesia..  Ini yang paling diriku suka kalau ikut diklat yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah pusat, jadi punya kesempatan bertemu, berkenalan, menjalin silaturahmi dengan teman-teman dari daerah lain, yang suku, latar belakang dan budayanya berbeda…

Selama diklat kami di”kos”kan pihak MPKD sebagai pelaksana diklat di Hotel Cakra Kusuma, di Jl. Kaliurang Km. 5.2.  Gak jauh dari kampus UGM… Gak jauh juga dari tempat kosku saat kuliah dulu..  Senang donk, bisa kembali ke daerah yang dikenal…? Senang banget.. 😀

Di “kos-kosan” ini diriku dijodohkan oleh mba Esti, pihak MPKD yang mengurus diklat, untuk sekamar dengan dengan mba Widia dari Pemko Sungai Penuh, Provinsi Jambi selama diklat berlangsung.

Awalnya ada rasa khawatir sekamar dengan orang yang asing (lagi), secara pernah ikut diklat sebulan dan dapat teman sekamar yang cuek banget.. Yang bisa ninggalin handuk lembab di tempat tidur (tempat tidurnya single tapi dempetan), yang jemur pakaian dalam masih basah di lemari baju bercampur dengan baju bersih.. yang bulak balik menyalakan hairdryer di kamar mandi buat ngeringin pakaian dalam… Rasanya seperti tidur dan mimpi buruk gak kelar-kelar..  Hahaha 😀  Tapi… alhamdulillah, kali ini diriku beruntung…, dapat teman sekamar yang jiwanya seirama… Sama-sama santai, gak rapi-rapi banget, tapi kita juga gak jorok.  😀  Sama-sama bisa berbagi dan menikmati banyak hal bersama..  Dan di akhir diklat, menurut teman-teman peserta diklat yang perempuan, kami adalah teman sekamar yang paling kompak.. Alhamdulillah.. *Terima kasih sudah menjadi teman sekamar yang menyenangkan, mba Wid.. Saya jadi tambah teman, tambah saudara..*

Hari senin, 10 Oktober 2016, diklat dimulai… Pesertanya 23 orang, 12 orang ibu-ibu dan 11 orang bapak-bapak… Kok ibu-ibu dan bapak-bapak?  Karena memang pesertanya semua berusia  di atas 35 tahun…  Tapi alhamdulillah, meski udah pada bapak-bapak dan ibu-ibu, tapi semua bawaannya santai…, gak sok tua… Hehehe…  Alhamdulillah juga meski di antara peserta ada yang sudah pakar, ada yang sudah senior banget di pekerjaan…, tapi tetap pada humble…, sehingga menghadirkan suasan pertemanan yang menyenangkan…

Materi yang dipelajari…, ya tentang perencanaan dan pengendalian tata ruang, lebih ke kebijakan.  Gak sampai ke level teknis, yang sempat dicemaskan beberapa peserta. Tapi salah satu pengajar, Pak Bobby, yang juga ketua Program MPKD, merubah metode saat jam mengajar beliau.  Dari materi yang seharusnya diberikan di kelas, beliau rubah menjadi belajar di lapangan.  Beliau membawa kami ke kawasan pemukiman Code, pemukiman padat di pinggiran kali Code di pusat Kota Yogyakarta.  Ini menurutku salah satu kegiatan yang menyenangkan selama diklat.

img14804162434401
Belajar di Kawasan Permukiman Code

Alhamdulillah diklat JFPM Spasial ini gak seserem diklat JFPM yang diikuti temanku..  Boro-boro begadang ngerjain tugas, hampir setiap malam diriku dan mba Wid, teman sekamar mulai tidur jam 21.00-an, dan bangun jam 04.00 pagi…Kita-kita bisa jalan kaki setiap jam 5 pagi… Ada juga yang berenang pagi-pagi atau sore setelah kelas usai..  Hidup sehat, kita… !! Bahkan aku dan mba Widia sempat ngabur ke 21,  nonton petualangan Prof. Langdon di Inferno.  😀 Suasana seperti ini bisa kami jalani karena  dari awal tugas-tugas yang diberikan adalah tugas kelompok yang diselesaikan di jam-jam belajar, ditambah lagi semua peserta ikut diklat dengan semangat berlibur dan “kabur” sejenak dari rutinitas kantor… 😀 😀 😀

Hanya minggu pertama yang waktu terasa berjalan lambat…  Di minggu kedua dan ketiga waktu terasa seperti berlari… Mungkin karena di minggu kedua kita para peserta sudah akrab dan merasa seperti keluarga..   Gimana enggak, teman-teman yang mudik di akhir pekan kembali ke “kos-kosan” dengan membawa oleh-oleh makanan khas daerah masing-masing.. Sehingga minggu malam dan senin pagi selain menikmati makanan yang disediakan hotel, kami juga menikmati berbagai oleh-oleh.. Ada bandeng presto, lumpia, cake gandjalreel dari Semarang, ada bika ambon dan bolu meranti dari Medan, ada serabi notosuman dari Solo..  Ada juga amplang dari Banjarmasin yang jadi cemilan tambahan saat rehat diklat…  Meriah pokoknya…!!

Ada juga acara piknik bareng di wiken kedua yang dilakukan 12 orang peserta diklat yang gak mudik, termasuk diriku.. Kemana..? Ke obyek-obyek wisata yang dijadiin lokasi syuting AADC 2 :  Punthuk Setumbu, Gereja Ayam, Ratu Boko,  juga ke Borobudur, Prambanan dan Kaliurang.  Piknik yang seru karena dimulai jam 03.00 pagi..  Dan karena takut telat, ada yang sampai udah bangun jam 12 malam, dan main mandi aja tanpa lihat jam… Hahahaha… 

Over all… Diklat JFP Madya Spasial yang diriku ikuti sungguh menyenangkan…  Salah satu diklat yang asyik dari diklat-diklat yang pernah aku ikuti..  I’m gonna miss you mba Widia, Ika, teh Ani, kak Lita, mba Dewi, kak Linda, mba Nissah si Little Missy, Lupi, Vira, Erni, kak Poppy, Pak Pur si Kepala suku, Pa Moer, Pak Sorjum, Hapriadi, Pak Mustakin, Pak Tatag, Pak Fir, dan teman-teman yang tak tertulis namanya… Makasih juga mba Esti dan Pengelola Diklat…

Alhamdulillah 2 minggu setelah diklat usai, kami menerima kabar dari Mba Esti, bahwa seluruh peserta diklat lulus ujian kompetensi yang dilaksanakan di 2 hari terakhir diklat.  Tinggal  nunggu sertifikat dan Berita Acara Penetapan Angka Kredit (BAPAK) yang akan menjadi dokumen untuk usulan bisa memegang jabatan fungsional perencana.

Semoga diriku dan teman-teman peserta diklat bisa segera memegang jabatan fungsional perencana… Aamiin  ***

Diklat JFP Madya Spasial

07 April ternyata adalah Hari Kesehatan Dunia… dan untuk tahun 2016 ini World Health Organization (WHO) menetapkan tema “Stay Super, Beat Diabetes“..

2016 World Health Day

Kenapa WHO mengangkat tema Diabetes untuk peringatan hari kesehatan dunia tahun ini…?

Karena pada saat ini 1 dari 12 manusia di muka bumi terkena penyakit Diabetes..

Karena setiap 7 detik ada 1 kematian yang disebabkan Diabetes.., ada 5 juta kematian setiap tahun disebabkan Diabetes.

Karena 1 dari 2 orang yang mengidap Diabetes tidak menyadari kalau dirinya mengidap Diabetes..

Dan karena 77% pengindap Diabetes adalah penduduk negara-negara yang berpendapatan rendah sampai sedang, sehingga akan kesulitan biaya untuk mendapatkan perawatan…

Diabetes menurut informasi yang diriku baca, ada 2 type..

Type 1, Diabetes yang terjadi karena tubuh tidak memproduksi insulin, sehingga tubuh tidak mampu memproses gula dan tepung yang dikonsumsi untuk menjadi glukosa yang dibutuhkan sebagai sumber energi..  Diabetes Type 1 ini biasa ditemukan pada anak-anak dan orang muda..

Diabetes Type 2 terjadi karena gula darah atau glukosa dalam tubuh berada di atas normal.

diabetes-risk type 2

Untuk tahap awal, pankreas akan bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin lebih banyak untuk mengimbangi.  Namun pada saatnya, pankreas tidak akan mampu lagi melakukan tugas tersebut.  Maka kerusakan organ tubuh akan mengalami kerusakan satu demi satu..  Gula darah yang berlebih dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain genetik dan life style, atau cara hidup.. Hal ini termasuk dari kebiasaan jenis makanan yang dikonsumsi, pola makan, aktivitas fisik yang rendah, juga tingkat stress yang berlebihan..

Keluargaku adalah keluarga yang bisa dibilang punya resiko lebih terkena Diabetes..  Almarhum Mama mengalami Diabetes di usia sekitar 50 tahunan.. Beliau bertahan sepuluh tahun menjadi pengidap Diabetes tanpa terlihat dampaknya.. Lalu.. di bulan Juni  tahun 2007, beliau mengalami stroke, yang belakangan menurut dokter adalah serangan kedua..  Serangan ini merubah kehidupan beliau…, TOTAL !!… Dari perempuan lincah, yang sering mengisi harinya dengan wara wiri mengurus anak-anak dan cucu, perempuan yang lincah berlari-lari mengejar bola di lapangan tenis…  Perempuan yang senang mengisi waktu dengan berjalan-jalan, termasuk menyusuri toko demi toko di mall-mall untuk mengisi waktu luangnya.. Menjadi harus duduk di kursi roda...

Mama

Perubahan ini menjadi pukulan yang besar, sangat besar buat beliau..  Meski Papa dan anak-anaknya berusaha membuat beliau tetap bisa menikmati hidupnya sebagaimana sebelum stroke menyerang, tapi beliau tak bisa lagi menikmati seperti sedia kala..

Perlahan-lahan, acara jalan-jalan di mall tak lagi menarik dan bisa menyenangkan hati beliau..  Bahkan beliau bilang, “Mama gak mau ke mall.. Nanti kalau ada kejahatan, ada bom, Mama gak bisa menyelamatkan diri Mama.  Kalian akan bingung siapa yang harus kalian selamatkan duluan.. Padahal kalian harus menyelamatkan diri kalian dan anak-anak kalian.”  **tears*   Hiburan yang bisa  menyenangkan hatinya adalah duduk di kursi di samping supir, jalan-jalan keliling kota 2 – 3 kali sehari..  (I miss driving you, Mrs. Ani..!!!)

Dan…. akhirnya di pertengahan tahun 2014, sepertinya beliau sudah tahu, bahwa tubuhnya tak lagi bisa bertahan.. Mama mulai membebaskan dirinya menikmati makanan, yang setelah stroke menyerang dia kendalikan dengan kuat.. Mulai meminta maaf kalau nanti dirinya tak lagi bisa menemani diriku… tears…. million tears are not enough to express my feeling when Mom told me those words

Dalam sebuah pemeriksaan glukosa di akhir Juli 2014, yang dia minta dokter rahasiakan dari kami hasilnya, namun dokter memberi tahu kami bahwa hasilnya tak baik dengan isyarat gelengan kepala, kami tahu kondisi beliau memburuk.  Tapi tetap tak menyangka bahwa saat perpisahan itu begitu dekat..  Semangat beliau sehingga bisa bertahan selama 7 tahun, membuat diriku berpikir beliau masih akan kuat bertahan beberapa tahun lagi..

Beberapa minggu setelah itu, stroke ketiga menyerang.. Kali ini langsung di otak belakang, membuat Mama kehilangan kesadaran.. Beliau bertahan selama 3 minggu, sebelum pergi selama-lamanya..

Diabetes begitu kejam bisa merubah hidup seorang anak manusia, merenggut kebahagian hidupnya dan keluarga..  Sesuatu yang harus diupayakan tak datang dalam kehidupan siapa pun…  Tapi… kebiasaan makan enak, kerja keras dengan lingkungan penuh tekanan, rasa lelah fisik dan mental yang membuat malas olah raga, membuat resiko terkena Diabetes menjadi besar…  Mampu kah diriku, mampukah kita menghindar dari ancaman penyakit yang satu ini…  Semoga… **

Beat Diabetes, A Note for 2016 World Health Day