3rd Day : Toyama

Hari ketiga, setelah dari berkunjung ke Matsumoto, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Toyama, yang berada lebih kurang 131 kilometer Barat Laut Matsumoto.

Toyama

Kota Toyama adalah ibukota Toyama Perfecture, dan merupakan pesisir Teluk Toyama. Jadi gak heran kalau di awal Februari cuaca di Toyama masih dingin, dan angin sangat kencang. Biasanya wisatawan ke Toyama Perfecture untuk mengunjungi Tateyama Kurobe Alpine, yaitu jalur pegunungan Alpen Jepang. Tapi jalur ini ditutup selama musim dingin.

Lalu, diriku dan teman-teman ngapain ke Toyama?

Karena salah satu teman dalam rombongan kami adalah penggemar Starbuck, dan hasil surfing di internet, dia mendapatkan informasi kalau salah satu gerai Starbuck di Toyama adalah gerai dengan pemandangan terindah di dunia. Gerai tersebut berada di kawasan Kansui Park, salah satu taman dengan danau di Kota Toyama. Danau tersebut aliran airnya terhubungkan ke laut. Jadi gerai tersebut must visit buat penggemar Starbuck. So, berkunjung ke Starbuck tersebut di Toyama kita masukkan ke itenerary.

Dari Matsumoto, kami naik kereta sekitar 3 jam, transit di Nagano Stasiun. Sebenarnya kesorean berangkat karena keasyikan strolling around di Kota Matsumoto, sehingga sampai di Toyama sudah malam. Saat kami sampai hari hujan dan berangin, sehingga udara terasa sangat sangat dingin.

Aku yang gak bawa payung, singgah dulu di minimarket yang ada di stasiun untuk beli payung. Dapatnya payung bening, sederhana, tapi cantik.

Dari stasiun kami jalan kaki ke Comfort Hotel yang sudah di-booking sebelumnya. Alhamdulillah hotel tersebut sangat dekat, hanya 300 meter. Tapi tetap gak mudah untuk ditempuh dalam hujan dengan angin yang kuat.. Mana pegang payung sambil dorong koper… Bbbrrrrrrrrrrrr…..

Di ingatanku tiba-tiba mengalun lagu New Snow yang dinyanyikan Micahel Ruff.. Lagu yang diberikan seorang sahabat lebih dari 20 tahun yang lalu.. Sahabat yang sudah lebih dulu berpulang..

New Snow…

Look, look out on the trees
Well from here it looks like crystal
Shining in the breeze
Look, look out on the land
Well it finally looks like winter
so just reach out your hand

Feel the new snow falling softly round me
a second chance to make things alright
Like a new love calling
new snow is falling
just outside my window tonight

She never said goodbye
she just walked out through the garden
and never told me why
she never shed a tear
now Im watchin out my window
as her footprints disappear

until the new snow falling softly round me
a second chance to make things alright
Like a new love calling
new snow is falling
just outside my window tonight

New snow falling softly round me
a second chance to make things alright
[make things alright]
Like a new love calling
new snow is falling
Just outside my window tonight
Just outside my window tonight

Back to the journey...

Sampai di hotel, urusan alhamdulillah gak ribet. Hanya sekitar 15 menit mengurus administrasi, menunjukkan bukti pemesanan, menyerahkan passport-passport untuk di-copy oleh petugas hotel, kami sudah mendapatkan 3 kunci kamar. Kami memesan 3 kamar, masing-masing kamar diinapin 2 orang.

Selesai urusan masukkan koper ke kamar, kami kembali turun ke lobby hotel untuk pergi ke Starbuck. Karena menurut petugas hotel yang sedang bertugas, lokasi Starbuck tersebut tidak jauh (menurut ukuran orang Jepang.. πŸ˜€ πŸ˜€ :D). Hanya butuh waktu 20 menit berjalan kaki, menurut mbah Google, jadilah kami berjalan kaki ke Kansui Park.

Tapi baru sekitar 5 menit kami berjalan, hujan yang tak terlalu lebat turun lagi bersama angin yang sangat kencang. Subhanallah, dinginnya…….. Mana sepatu jadi basah… Tapi mau balik arah rasanya tanggung.. Jadilah kami tetap berjalan, menyusuri trotoar, di jalanan yang sepi.. Setelah berjalan sekitar 20 menit, kami menemukan danau, dan melihat bangunan dengan tulisan Starbuck di kejauhan, di seberang danau.

Jadi ceritanya, kami sampainya di sisi lain danau. Untuk sampai ke bangunan gerai Starbuck tersebut, kami harus melewati jembatan Tenmon-kyo, yang melintasi danau di Kansui Park. Kalau masih sore dan gak hujan, pasti menyebrangi jembatan ini menjadi kegiatan yang menyenangkan, karena banyak hal bisa dilihat. Lha ini dalam gelap, hujan berangin sangat kencang.. Ammmppuuunnnn… Tapi lagi-lagi kami tak punya pilihan selain tetap berjalan.. Jadilah menyusuri jembatan dalam gelap, hujan dan angin kencang…. Hiiikkksss.s..

Starbuck di Kansui Park

Begitu sampai di depan gerai Starbuck tersebut, kami langsung bergegas masuk, mencari kehangatan.. πŸ˜€ Kami mencari tempat duduk yang strategis untuk dapat melihat pemandangan di luar. Tapi apa daya semua tempat duduk di dekat dinding kaca gerai tersebut sudah ditempati pengunjung lain yang sudah lebih dahulu datang. Kami terpaksa duduk di kursi yang terletak di tengah-tengan ruangan.

Starbuck Kansui Park

Setelah kursi dapat, kami bergantian memesan minuman dan makanan. Antrian gak panjang. Aku memesan chocolate panas dan sebuah cinnamon roll. Gak berani mesan hazelnut latte seperti biasanya, takut bikin susah tidur. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Menu di gerai Starbuck ini sama dengan di gerai-gerai lainnya, sesuai standard Starbuck. Aku juga sempat melihat-lihat tumbler di lemari pajangan. Tidak ada yang spesifik gerai tersebut. Tidak ada juga yang spesifik Toyama. Jadi gak beli.

Setelah menikmati chocolate hangat dan sebagian cinnamon roll, aku berjalan ke halaman gerai Starbuck untuk melihat pemandangan di luar. Terlihat lampu-lampu jembatan yang melintasi danau di Kansui Park. Juga danau yang gelap dan tenang. Semuanya cantik. Sayang, kami sampai di tempat itu saat sudah gelap, sehingga tidak bisa melihat keindahannya secara utuh, tak bisa juga diulang esok paginya, karena kami harus melanjutkan perjalanan ke Takayama untuk mengunjungi Shirakawa-go.

Tenmon-kyo Bridge

Dengan pertimbangan tubuh yang sudah lelah, sepatu yang sudah basah, sebagian pakaian yang sudah lembab, serta kesehatan yang harus dijaga, kami memutuskan kembali ke hotel dengan menggunakan taxi, yang minta tolong dipesankan oleh petugas Starbuck. Kami pesan 2 unit taxi, untuk 6 orang. Lupa berapa onglos taxi untuk jarak yang sekitar 1 km dari gerai Starbuck ke Comfot Hotel, kalau gak salah sekitar Rp.200ribu-an.

For some people, apa yang kami lakukan mungkin terlihat bodoh. Tapi buat diriku, perjalanan adalah perjalanan, sesuatu yang perlu dinikmati dengan segala sisinya…

Sampai di hotel, sebelum tidur, kami melakukan upaya mengeringkan sepatu dengan menggunakan hairdryer milik hotel.. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ Lalu meletakkannya di kursi-kursi di sekitar heater di kamar hotel.. Usaha pakai banget..

Toyama

Pagi-pagi, setelah selesai berberes kami sedikit menikmati daerah di sekitar hotel, sebelum menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Takayama.. Terlihat tumpukan salju di trotoar dan tepi-tepi jalan. Pemandangan yang unik buat diriku yang sejak kecil tinggal di wilayah tropis. Di ingatanku kembali mengalun lagu New Snow…. ***

3rd Day : Matsumoto

Saat menyusun ittenerary, diriku berharap bisa melihat kota-kota yang punya tinggalan budaya, salah satunya adalah istana. Dari hasil baca-baca dan surfing di internet, aku mendapatkan informasi salah satu istana tertua di Jepang yang masih ada adalah istana yang berada di Kota Matsumoto, Nagano Perfecture. Kota ini berada sekitar 219 km barat laut Tokyo.

Karena pada hari keempat kami akan ke Kota Takayama yang merupakan base untuk mengunjungi Shirakawa-Go, yang tiketnya sudah kami beli sebelum keberangkatan, maka kami membuat rute perjalanan hari ketiga ke Matsumoto dan dilanjutkan dengan ke Takayama di hari keempat. Namun karena salah seorang teman melihat informasi ada suatu tempat yang must visit di Kota Toyama, maka diputuskan perjalanan hari ketiga adalah Tokyo – Matsumoto – Toyama (ningap di sini). Lalu dilanjutkan hari keempat perjalanan Toyama – Takayama – Shirakawa-Go – Takayama.

So, here the strory our journey to Matsumoto..

  1. Perjalanan ke Matsumoto
Limited Express Train

Hari Sabtu pagi tanggal 8 Februari 2020, pagi-pagi kami sudah keluar dari tempat menginap di kawasan Yotsuya, di Tokyo. Perjalanan dimulai dengan mengantarkan koper-koper besar ke agen Takkyubin di Seven Eleven yang tak jauh dari Yotsuya Station. Kami melanjutkan perjalanan dengan membawa koper ukuran kabin, ransel dan sling bag saja.

Dari Yotsuya Station kami menuju Shinjuku Station untuk menaiki Limited Express Train menuju Matsumoto, dengan menggunakan JR Pass. Ini pengalaman pertama naik kereta untuk jarak yang relatif jauh, sekitar 3 jam, dan karena belum pengalaman, kami langsung naik saja ke kereta. Padahal JR Pass yang kami beli, bila ingin naik ke kereta harus reserve tempat duduk dulu di loket JR Station tempat keberangkatan. So, jadilah kami diperkenankan duduk di tempat duduk yang kosong, dan harus pindah ke tempat duduk lain, bila penumpang pemesan tempat duduk naik di station berikutnya. Tanda kursi yang kosong, lampu di sebelah nomor tempat duduk yang terdapat di dinding samping, akan berwarna merah. Bila pada station berikutnya, ada penumpang yang akan naik dan sudah reserve tempat duduk tersebut, maka lampu berubah warna menjadi hijau. Penumpang tanpa kursi yang numpang duduk di nomor tersebut, silahkan pindah ke kursi lain. Bila tak ada kursi yang kosong, silahkan berdiri di ujung gerbong penumpang. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ Lelah…? Pasti. Tapi terobati dengan pemandangan indah di sepanjang perjalanan, termasuk pemandangan Gunung Fuji di sisi kiri kereta di awal perjalanan.

Locker at Matsumoto Station

2. Suitcase Handling

Kami sampai di Matsumoto Station sekitar jam 12.00 waktu setempat. Kami langsung mencari locker dan menitipkan koper-koper kami di sana. Loker di Matsumoto Station berada di lantai dasar, di seberang Starbucks, satu ruangan dengan waiting room. Harga sewa locker tergantung besar ruang locker yang akan digunakan. Untuk menggunakan locker tersebut, kita harus menggunakan coin Yen 100. Bila tak punya, kita bisa menukar di toko-toko di seberang locker, mereka bersedia membantu tanpa kita harus belanja di toko tersebut. Cara menggunakan locker, terdapat di pintu-pintu locker dalam dua bahasa, Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris. Jadi tak perlu khawatir.

3. Matsumoto City

Dari Stasiun Matsumoto kami berjalan kaki mengikuti arahan Maps Go, ke arah Istana Matsumoto. Jarak tempuh sekitar 1,4 kilometer. Jauh….? Lumayan, tapi pemandangan di sepanjang jalan sungguh cantik.. Di kiri kanan berdiri toko-toko dengan kaca-kaca besar yang memajang aneka barang cantik dan tertata apik.. Sungai yang melintasi kota ini bersih, dan dilintasi jembatan-jembatan yang juga cantik. Kota ini benar-benar ramah untuk pejalan kaki, bahkan di beberapa bagian ruas ajalan tersedia bangku-bangku yang nyaman untuk pejalan kaki beristirahat sejenak.

Matsumoto City

Ada yang unik di Kota Matsumoto. Di beberapa sudut jalan terdapat pancuran kecil, Daimyocho Otemon Ido Well, yang airnya bersumber dari mata air pegunungan (spring). Airnya bersih dan layak minum. Para pejalan kaki bisa singgah, mengambil air dari pancuran dengan centong yang disediakan, dan langsung meminumnya. Apa rasa airnya? Gak ada rasa apa-apa, tawar tapi sejuk dan segar…

Daimyocho Otemon Ido Well

4. Matsumoto Castle

Matsumoto Castle Ticket Box, Gate and Park

Setelah jalan kaki sekitar 20 menit, kami melihat Istana Matsumoto yang megah. Kawasan istana ini dikelilingi oleh parit besar yang memisahkannya dari kawasan lain di Kota Matsumoto. Parit tersebut berisikan ikan-ikan koi dengan ukuran yang relatif besar. Untuk masuk ke istana dan kawasannya, setiap pengunjung harus membeli tiket seharga Yen 700 untuk pengunjung dewasa. Harga tiket termasuk biaya guide dan peminjaman sandal.

Guide yang bertugas di kawasan istana tersebut adalah para senior citizen Kota Matsumoto yang mempunyai kemampuan berbahasa asing dan menyediakan waktu beberapa hari dalam seminggu untuk menjadi guide sebagai wujud kecintaannya kepada kota ini. Koordinator guide yang berdiri di sekitar tiket box menanyakan asal kami, dan ketika kami menyebutkan Indnesia, salah seorang di antara mereka langsung mengajukan diri dengan penih semangat. ternyata guide tersebut mempunyai kedekatan rasa dengan Indonesia. Almarhum ayahnya pernah bertugas ke Indonesia pada masa penjajahan Jepang, dan beliau kerap bercerita tentang beberapa kota di Indonesia yang pernah dikunjungi kepada anak-anaknya.

Setelah membeli ticket, untuk masuk ke kawasan istana pengnjung harus melewati gerbang besar, yang di sisi dalam sebelah kirinya terdapat patung penjaga berbaju zirah penuh warna. Di halaman juga ada beberapa orang-orang yang menggunakan baju tradisional, lengkap dengan kipas dan senjata, yang bisa diajak foto bersama dengan aneka gaya. Jasa yang mereka berikan merupakan bagian dari service yang sudah termasuk harga tiket.

Untuk masuk ke dalam istana, setiap pengunjung harus menggunakan sandal khusus, sandal yang biasa digunakan penduduk jepang saat di rumah. Bahagian atasnya berbahan rajut. Sepertinya untuk menjaga kelestarian lantai-lantai istana yang terbuat dari kayu, sandal tersebut juga untuk melindungi kaki pengunjung dari rasa dingin, dan licinnya anak tangga yang di beberapa bahagian sangat curam.

Apa istimewanya Istana Matsumoto sehingga diriku merasa perlu dibela-belain mengunjunginya…?

@ Matsumoto Castle

Istana Matsumoto yang termasuk Japan National Heritage dibangun pada tahun 1594. Salah satu dari sedikit istana peninggalan sebelum Zaman Edo yang masih tersisa. Istana dengan tampak luar berwarna hitam, kerap disebut sebagai Istana Gagak, mempunyai menara utama yang terdiri dari 6 lantai.

Bagian dalam Matsumoto Castel dan pemandangan dari lantai 4

Meski dari luar terlihat besar, ternyata menara utama istana ini relatif kecil, dengan tangga-tangga yang sangat curam menghubungkan lantai demi lantai. Seluruh bangunan menara utama ini terbuat dari kayu, dengan tiang-tiang penyangga berbentuk balok. Lantai dasar benteng terdiri dari panggung berketinggian sekitar 30 cm, dengan lorong-lorong di sekitarnya. Lorong-lorong ini berfungsi sebagai “Musha Bashiri” alias warrior running passage, lorong tempat para prajurit berlari-lari sambila membawa pedang. Bekas goresan pedang terlihat pada kayu-kayu yang ada di lantai tersebut.

Setiap lantai di menara utama, kecuali lantai 3, mempunyai dinding-dinding berjendela, yang digunakan sebagai tempat senjata untuk melawan musuh. Ada 2 bentuk jendela di menara utama, yaitu Yazama dan Teppozama. Yazama adalah jendela berbentuk persegi pajang, yang digunakan untuk menembakkan anak-anak panah kepada musuh yang menyerbu. Adapun Teppozama adalah jendela berbentuk bujur sangkar, yang digunakan untuk menembakkan peluru dari senapan. Seiring dengan diperkenalkannya senjata api dari Eropa, pada awalnya hanya jendela Yazama yang digunakan. Namun dengan diperkenalkannya senjata api, maka kedua jenis jendela tersebut digunakan secara berkombinasi. .

Apa fungsi lantai 3 yang sama sekali tidak mempunyai jendela? Lantai 3 yang merupakan “attic” atau ruang bawah atap lantai 2, digunakan sebagai tempat menyimpan perbekalan makanan, bubuk mesiu dan perbekalan senjata. Ketidakadaan jendela di lantai 3 menyebabkan menara utama di istana Matsumoto dari luat terlihat sebagai bangunan 5 lantai. Oleh karenanya, lantai 3 disebut sebagai hidden floor, lantai tersembunyi.

Moon Viewing Wing

Pada lantai teratas atau lantai 6, terdapat Moon-Viewing Wing, alias sayap atau balkon untuk memnadang bulan. Romantisnya bangsawan kerajaan Jepang tempo dulu ya… Balkon ini menghadap ke arah utara, timur dan selatan. Ruangan ini dibangun berdasarkan arahan Naomasa Matsudaira, cucu dari Tokugawa Ieyasu, Shogun pertama dari periode Tokugawa. Saat ini tinggal 2 istana saja yang masih memiliki Moon-Viewing Wing, yaitu istanam Matsumoto dan istana di Kota Okayama , Okayama Perfeture.

Apa yang dipamerkan di dalam menara utama istana Matsumoto? Beberapa koleksi senjata api dan baju zirah. Meski tak banyak koleksi yang dipamerkan, tapi pemandangan dari jendela-jendela yang ada di menara utama istana ini luar biasa indah. Namun ada pembatasan waktu untuk setiap pengunjung atau rombongan pengunjung. Bahkan pengunjung tidak diperkenankan berlama-lama di satu bahagian. Hal ini diterapkan untuk menjaga agar setiap lantai tidak mengalami beban berlebih pada saat yang sama.

Nawate Dori

5. Nawate Dori

Selesai melihat bahagian dalam menara utama Istana Matsumoto, kami menlanjutkan berjalan kaki. Tujuannya ke Nakamachi Dori, sebuah shopping strret untuk wisatawan, yang berjarak sekitar 600 meter Istana Matsumoto. .Tapi di tengah perjalanan kami menemukan Nawate Dori, sebuah jalan yang panjangnya sekitar 100 meter saja, namun di kiri kanannya banyak toko-toko kecil yang menjual berbagai produk yang lucu-lucu, berbentuk kodok. Nawate Dori ditandai dengan patung kodok bergaya ala ninja di salah satu dudut di pangkal jalan.

Klo aku bilang siyy.. Nawate Dori itu Keroppi District.. Hehehehe.. Buat teman-teman remaja putri di tahun 1980-an dan senang dengan berbagai produk dengan merk Sanrio, teman-teman pasti kenal dengan character Hello Kitty, Littlre Twin Star, My Melody, Tuxedo Sam, dan si kodok ijo Keroppi.

Selain menjual aneka produk berbentuk kodok, di Nawate Dori juga menjual kaus kaki, totte bag, payung yang cantik-cantik, juga aneka jajanan khas Jepang. Tapi soal jajanan di Jepang, harus hati-hati memang, karena tak banyak outlet yang menjual makanan bersertifikasi halal.

Di samping Nawate Dori juga terdapat Yohashira Shrine tempat beribadah umat Shinto, dengan gerbang yang tinggi menghadap ke sungai yang berada di balik salah satu deretan toko-toko kecil di Nawate Dori. Di shrine ini juga banyak merpati, yang segera beterbangan ketika genta yang ada di salah satu pojok shrine diayun.

Dari Nawate Dori, kami membatalkan rencana untuk melanjutkan perjalanan ke Nakamavhi Dori, karena tubuh rasanya sudah lelah, belum makan siang dan, harus mengejar kereta untuk melanjutkan perjalanan ke Toyama. Jadi kami langsung kembali ke Matsumoto Station, dengan berjalan kaki sepanjang 900 meter.

6. Kulineran di Matsumoto

Soba dan kedai modern

Tak mudah menemukan makanan halal di Matsumoto. Apa lagi di siang menjelang sore, saat resto2 pada tutup untuk rehat siang. Beberapa teman memilih untuk membeli roti, sementara buat aku dan kak Vivi rasanya roti tidak cukup. Kami butuh makan berat dan hangat. Udah capek jalan seharian… Mana udara dingin pula.. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Di samping Matsumoto Station kami menemukan Soba Ogiso Mill Matsumoto Ekimae, kedai yang menjual soba, makanan khas Jepang. Soba adalah mie yang terbuat dari biji soba, atau gandum kuda (Latin : Fagopyrum esculentum). Soba dihidangkan dengan kuah miso, dengan pilihan miso dingin, atau miso panas. Miso di Jepang tidak sama dengan miso di tempat kita. Miso di Jepang adalah sup yang dibuat dengan menggunakan dashi, kaldu khas Jepang. Di kedai Soba Ogio, pilihan protein untuk menyantap soba adalah ayam, udang atau kerang, no beef. Ini yang membuat diriku merasa aman untuk masuk ke kedai ini. Selain itu di kedai ini juga tersedia kakiage (gorengan sayur iris pakai tepung) dan ubi jalar goreng untuk teman menyantap soba.

So, sore itu semangkok soba panas dengan sepotong kakiage (sayur), pkus segelas ocha panas adalah pilihan ternikmat di udara yang 2 derjaat celcius.. Alhamdulillah..

Meski tak besar, kedai Soba Ogiso Mill Matsumoto Ekimae adalah kedai yang modern. Di kedai ini pembeli melakukan pemesanan di mesin seperti ATM, lengkap dengan pembayaran yang akan direspon mesin dengan mengeluarkan selembar receipt dan uang kembalian, jika ada. Pelayan hanya berada di balik counter, mengolah dan memberikan makanan sesuai yang dipesan pembeli di mesin. Mereka tidak menerima pesanan, tidak juga menerima uang. Jadi kesalahan pesan sepenuhnya tanggung jawab pemesan. Tak juga ada kesalahan pembayaran, karena tidak ada kasir di sini. Tempat menikmati makanan di sini, hanya meja kayu yang menempel di dinding toko, dan kursinya berupa bangku-bangku kayu. Jumlah tempat duduk di kedai ini juga terbatas. Setelah selesai makan, pembeli yang makan di tempat menyerahkan kembali baki yang berisi piring dan gelasbekas makan kepada pelayang yang berdiri di balik counter. Minimalis, tapi keren, menurut diriku.

Selesai makan siang yang sangat telat, kami mengambil koper di locker, lalu melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya, ke Kota Toyama. ***