Posted in Culture and Heritage, Tukang Jalan

Lok Baintan, The Genuine Floating Market

Di minggu ketiga Desember 2016, tepatnya tanggal 13 – 15, diriku mendapat kesempatan berkunjung ke Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Kami berangkat ke Banjarmasin tanggal 13 sore jam 15an WIB, sampai di Banjarmasin jam 22.30 WITA.  Kenapa milih penerbangan sore?  Karena dari hasil surfing di internet, tiket pesawat Pekanbaru – Banjarmasi pp yang total waktu perjalanan relatif singkat, menggunakan  maskapai terbaik di Indonesia,  dan harga tiket yang masuk rentang budget tersedia, ada di sore hari.  Tiket untuk jalur yang sama, penerbangan pagi,  harganya hampir dua kali lipat.  Dari waktu yang tersedia, kami memutuskan untuk menyelesaikan tugas pada tanggal 14, lalu pada tanggal 15, sebelum pulang dengan pesawat sore kami menyempatkan untuk ke Lok Baintan.
Teman-teman pernah dengar frasa Lok Baintan?

Kalo kita tanya mbah Google, dalam 0,36 detik, ada 38.800 web yang memuat frasa Lok Baintan. What a populat phrase !!

lok-baintan
Lok Baintan

Lok Baintan adalah nama daerah yang dilalui oleh Sungai Martapura, di Kalimantan Selatan. Sungai Martapura dengar lebar sekitar 100 – 200 meter berhilir di Sungai Barito, sungai terlebar di Indonesia.  Di daerah ini sungai adalah sarana transportasi, jalan raya. Banyak rumah masyarakat menghadap sungai, juga warung dan toko-toko lokal.  Sungai adalah pusat aktivitas masyarakat. Sungai juga menjadi tempat bertemu masyarakat dan melakukan jual beli. Mereka melakukannya dari atas perahu yang menjadi kendaraan mereka. Mereka membentuk pasar yang mobile di sungai, pasar terapung.  Kalau teman-teman ingat tayangan RCTI sejak tahun 1990an yang menunjukkan ada pasar terapung, yaaa itulah Lok Baintan…

Info dari supir mobil rental yang mengantar kami selama di Banjarmasin, ada dua pasar terapung di kota ini. Pasar Terapung Lok Baintan dan Pasar Terapung Siring. Pasar Terapung Siring berlangsung di Sungai Martapura di ruas pusat kota Banjarmasin. Pasar ini hanya ada pada akhir pekan, dan di tepian lokasi pasar terapung ini ada menara pandang tempat pengunjung bisa menikmati pemandangan pasar dari atas.  Adapun Pasar Terapung Lok Baintan berlangsung setiap hari, karena memang merupakan aktivitas masyarakat. Their nature. Itu lah sebabnya diriku menyebut Lok Baintan sebagai The Genuime Floating  Market. Pasar Terapung yg asli…!!!

Dua Floating Market yang pernah saya kunjungi sebelumnya adalah Damnoen Saduak, berlokasi 95 km barat daya Kota Bangkok di Thailand, atau sekitar 1.5 jam perjalanan dengan mobil dari Kota Bangkok, dan Lembang Floating Maket yang berlokasi 17 km di itara Bandung, atau 1 jam 10 menit dengan mengendarai mobil.

Lembang Floating Market jelas an artificial one. Dibuat di sebuah situ, yang masyarakat di sekitarnya tidak punya budaya berperahu, apa lagi melakukan transaksi jual beli di atas air.  Sehingga di Lembang Floating Market yang sesungguhnya adalah pusat jajan yang dibuat sedemian rupa, dimana sebagian pedagangnya jualan di perahu yang di parkir di pinggir situ, pembelinya di daratan. 😃  Buat diriku, Floating Market-nya siyy gak terlalu menarik, tapi tempe mendoan dan combro yang dijual di situ, reseuuuppp. 👍

damnoen-saduak1
Damnoen Saduak Floating Market

Damoen Saduak Floating Market, sepertinya juga agak-agak artifisial. Kenapa? Karena sungainya hanya kanal-kanal yang berbentuk grid.  Lebar kanal hanya sekitar 2 meter.   Kalo lagi ramai, bisa macet karena penumpukan arus. Bahkan perahunya sampai berdempet-dempetan.  Barang yang dijual di sini sepenuhnya souvenier buat para turis, buah-buahan dan kuliner.  Penjual ada yang di atas perahu, ada yang di toko-toko kecil yang berderet -deret rapi di tepi kanal. Bahkan di tepi kanal juga ada eye catcher, seorang lelaki muda duduk berkalung ular besar berwarna kuning.  Sereeeemmmm!

Menurut pikiranku, Pasar Terapung Damnoen Sadduak  memang dibuat sebagai daya tarik wisata yang memanfaatkan potensi lokal,  kanal-kanal yang merupakan “jalan raya” serta masyarakat yang memang terbiasa berperahu untuk mobilitas mereka. Pengunjung bisa naik perahu yang didayung secara manual, dengan biaya klo gak salah ingat 150 Thailand Bath per orang, atau setara dengan Rp.56.120,-

Oh ya, selain lelaki berkalung ular, heboh karena traffic jump di kanal-kanal, yang diriku ingat dari Damnoen Sadduak adalah es kopyor yg enak banget, dihidangkan dalam batok kelapa muda,  dijual di salah satu los di tepian. 👍

Kembali ke Lok Baintan…

klotok
Klotok

Untuk sampai ke Lok Baintan  butuh usaha, karena jaraknya 16 km  atau waktu tempuh 45 menit ke arah hulu,  menggunakan klotok, sejenis perahu beratap rendah, kapasitas 8 orang.  Perahu ini menggunakan mesin untuk bergerak, bunyi mesinnya tok klotok klotok.  😀

Dan katena pasar terapung Lok Banutan berlangsung setelah subuh sampai sekitar jam 8 pagi, untuk bisa melihat pasar terapung Lok Baintan, pengunjung harus berangkat dari tepian di Banjarmasin setelah subuh.  Artinya berangkat dari hotel sebelum subuh.  Jam 4.00 pagi. Maling juga kalah..😀

Kebetulan pak Tezar, pemilik mobil yang kami sewa punya kenalan pemilik klotok yang biasa membawa pengunjung  pasar terapung. Beliau memberikan nomor telepon pak Adriani pemilik klotok yang bersandar di depan Warung Soto pak Amat di bawah jembatan di tengah kota Banjarmasin dan telpon pak Hajun pemilik klotok yang bersandar di depan Masjid Sultan Suriansyah.  Kami memilih untuk memesan klotok pak Adriani, karena paling mudah diakses dari hotel tempat kami menginap, jaraknya hanya 6.5 km atau waktu tempuh 16 menit.  Sedangkan ke dermaga masjid Suriansyah jaraknya 10 km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.  Berapa harga sewa kelotok?  Menurut info pak supir sekitar  Rp.350.000,- Rp.450.000,- per round trip, alias pulang pergi.  Tapi dengan pak Adriani, kami dikasi harga Ro.250.000,- pulang pergi. Oh ya, kalau teman-teman mau pergi, mesan klotok harus satu hari sebelumnya.  Jangan nyari klotok subuh-subuh di tepian, belum tentu ada.

Jadilah tanggal 15 Desember pagi sebelum subuh, kami sudah bergerak ke warung soto pak Amat di pinggir  Sungai Martapura. Sebelum naik ke klotok pak Adriani, sholat subuh dilakukan di mushala tak jauh dari warung soto.

Klotok milik pak Adriani, sebagaimana klotok-klotok lain yang mundar mandir di Sungai Martapura, adalah perahu beratap rendah, yang untuk masuk kita harus merunduk, dan untuk bergerak di dalamnya kita harus berjalan dengan.menggunakan lutut. 😓  Hanya pada dua bagian perahu  kita berdiri tegak, di haluan dan buritan.  Secara berada dalam ruang beratap rendah selalu menghadirkan rasa terkungkung bagi diriku, aku memilih duduk di buritan klotok, menikmati angin menyapa diri, sambil mengamati fenomena tepian yang samar-samar di subuh hari.

lok-baintan2
@ Lok Baintan Floating Market

Setelah perjalanan selama hampir 45 menit, dan matahari mulai naik di timur, kami melintas di bawah sebuah cable bridge. Dari situ kami mulai melihat  satu per satu perahu hadir.  Hampir semua perahu dikendarai oleh satu orang, dan itu perempuan.

Melihat kedatangan klotok yang kami tumpangi, para pedagang berperahu datang menghampiri, menawarkan dagangan-dagangan mereka. Apa yang mereka tawarkan?

Bermacam-macam barang dagangan.  Ada sayuran hijau, ada singkong, petai dan jengkol.  Ada buah-buahan lokal, yang beberapa tak pernah diriku lihat sebelumnya, seperti  buah mentega (bentuknya bulat dengan warna kulit agak merah jambu, rasanya so creamy),  buah yang warnanya merah seperti buah renda, tapi isinya seperti manggis, manis.  Ada juga buah seperti mangga yang banyak dijual di parapat, berserat, rasanya manis.  Ada jeruk yang besar, seperti jeruk bali.

lok-baintan1
Pedagang @ Lok Baintan

Apa lagi yang dijual? Berbagai macam makanan dan wadai alias kue-kue khas Banjar, seperti pais (lepat pisang dan kelapa parut),  pundut (semacam lontong yang dimakan dengan sambal udang halus), bingka, dan entah apa lagi. Bahkan ada pedagang yang menjual gorengan dengan membawa kompor lengkap dengan tabung gas warna ijo di perahunya.  Pokoknya bikin panik pengunjung yang tukang makan seperti diriku, karena gak tau mana yang mau dibeli dan dimakan. Semua bikin ngiler!! 😂😂😂

Oh ya, bagi pengunjung yang berbelanja cukup banyak dan butuh wadah buat bawa belanjaan pulang, para pedagang berperahu menyediakan keranjang anyaman yang dihargai Rp.5.000,- per buah untuk ukuran kecil dan Rp.10.000,- per buah untuk ukuran besar.  Kalau di Tapanuli keranjang seperti yang dijual di Pasar terapung Lok Baintan ini disebut hadangan. Biasanya dipakai buat bawa beras ke acara-acara adat, seperti acara duka cita dan pesta pernikahan.

wp-image-859196616jpg.jpg
Diriku membeli sebuah keranjang ukuran besar untuk membawa buah-buahan yang unik dan gak ada di Pekanbaru sebagai oleh-oleh. Alhamdulillah keranjangnya cukup kuat ditenteng 2 kali  naik turun pesawat, karena transit.  Meski saat duduk di ruang tunggu bandara sempat dengar orang-orang duduk di sekitar diriku bertanya siapa yang bawa buah apa, yang baunya semilir-semilir tercium wangi..  😊

Oh ya, di Pasar Terapung Lok Baintan para pedagang menawari pengunjung untuk naik perahu, merasakan berkeliling, ikut berjualan di perahu.  Agar bisa difoto oleh travelmate kita. Iya, yang moto teman kita, atau bisa juga dengan bantuan tongsis, karena di sini belum ada penyedia jasa motret di atas perahu. 😃  Berapa yang harus dibayar untuk ikut berperahu?   “Terserah ibu saja” jawab pengendara perahu saat ditanya. Tapi dari pengamatan di lapangan, rata-rata pemgunjung membayar Rp.25.000,- per orang. Untuk berapa lama? Gak ada aturan resmi. Umumnya 10 – 30 menit.

Setelah menikmati suasana pasar terapung sekitar 2.5 jam, naik perahu, belanja buah-buahan dan berbagai makanan, pak Adrini pengemudi klotok yang kami tumpangi menguatkan tenaga klotoknya, bergerak ke arah kami tadi datang. Ya, saatnya untuk pulang.

Selama perjalanan pulang, diriku tetap berdiri di buritan kapal, menyandar ke pingguran atap klotok.   Menikmati suara riak air, hembusan angin dan pemandangan pemukiman di sepanjang tepian.  Sungguh semuanya memberikan kesejukan bagi bathin ini yang selalu rindu dengan hal-hal yang natural, alami.

Sebagai catatan, saat kami ke Lok Baintan, meski tidak di hari libur, cukup banyak pemgunjung. Ada sekitar 10 klotok.  Ada turis dari Inggris yang  ngobrol dengan ku saat klotok kami sempat berdampingan, dan dari bahasa yang terdengar juga ada turis Malaysia.  Artinya, Pasar Terapung Lok Baintan  ini meski secara akses butuh perjuangan untuk dicapai, tapi peminatnya banyak. Bagi diriku  justru lokasinya yang remote, ada sensasi menyusuri sungai dengan klotok jadi nilai tambah, mungkin begitu juga  bagi para wisatawan lain.

So, bagi daerah yang daya tarik wisatanya berada di lokasi yang cukup remote, selagi ada kendaraan yang nyaman yang bisa digunakan oleh para wisatawan, perjalanannya juga punya daya tarik tersendiri, tetaplah bersemangat untuk mengembangkannya. Karena keterbatasan justru bisa menjadi tantangan yang menarik bagi para traveller.. ***

#lokbaintan #martapura #banjarmasin #kalimantanselatan #southborneo #floatingmarket #pasarterapung

Advertisements