Bagaimana Rasanya ?

Temans, postingan kali ini adalah sebuah tulisan tentang perasaan. Tapi sungguh bukan sebuah tulisan yang baper, bawa perasaan.  Alhamdulillah setelah perjalanan yang cukup panjang, nyaris setengah abad, insya Allah, diriku sudah mulai bisa menerima dan mensyukuri apa yang ada di diriku, yang ada di hidupku saat ini.  Tulisan kali ini adalah jawabanku atas sebuah pertanyaan yang disampaikan seorang teman tadi malam, saat diriku dan beberapa teman kumpul-kumpul di Wang Bistro, sebuah resto di kawasan lama Kota Pekanbaru.

bagaimana-rasanyaDi sela-sela percakapan ramai-ramai, temanku bertanya, “Ndha, apa rasanya gak punya anak?”  gubbbbrrrrraaaaaakkkksssss ūüėÄ

Hmmmm….  Petanyaan yang bagi kebanyakan orang bisa berkesan tak berperasaan.  Tapi  aku yakin pertanyaan temanku itu pertanyaan yang tulus.  Pertanyaan yang hadir karena rasa ingin tahu.  Diriku bisa melihat ketulusan itu dari sorot matanya saat bertanya.   Dan diriku juga mengerti kalau temanku yang usianya 2 tahun lebih tua dari diriku itu adalah sosok yang secara duniawi memang bisa dibilang tak pernah tak punya. Lahir, besar dalam keluarga berada, menikah dengan laki-laki yang juga berada, punya anak.  Dia mungkin tak pernah merasakan tak punya, sehingga ingin tahu bagamana rasanya tak punya. ūüėÄ

Apa rasanya gak punya anak ?  Apa yaaa….?

Dulu saat belum menikah dan melihat teman-teman punya anak,  aku sempat terpikir, “Mereka punya anak.  Ada yang mendoakan kalau nanti mereka sudah meninggal.  Lalu, siapa yang akan mendoakan diriku, kalau aku tak punya anak ?”

Tapi punya anak kan gak segampang beli boneka.  Datang ke toko, pilah pilih, bayar, lalu bawa pulang.  ūüėÄ  Anak harus dirawat, diisi jiwa dan pikirannya, agar dia bisa menjadi manusia yang utuh pada waktunya.  Dengan kehidupanku yang saat itu melajang, dan selalu mengisi waktu dengan bekerja dan bepergian, aku gak berani untuk mengadopsi anak.    Gak usahkan anak, kucing dan ikan aja aku gak berani pelihara di rumah.  Takut mati kalau ditinggal-tinggal.

So saat itu  aku berpikir kalau mau punya anak, ya menikah.  Tapi  menikah kan bukan cuma urusan bertemu seseorang, lalu bareng-bareng pergi ke KUA.  Menikah butuh 2 manusia, 2 hati, 2 pikiran yang mau berkomitmen untuk berjuang bersama membangun sebuah kehidupan bersama, sampai maut memisahkan.   Butuh orang yang frekuensi berpikirnya sama dengan diri kita, agar bisa conneted meski sebagai dua individu punya banyak perbedaan.

So, jadilah aku menunggu untuk punya anak dari pernikahan.  tapi penikahan datang padaku di usia yang sudah tidak muda.  Masa dimana jam biologis tak lagi seproduktif di usia muda.  Saat menikah, sebenarnya aku dikarunia seorang anak dari pernikahan terdahulu lelaki yang menjadi jodohku.   Sungguh mendapatkan bonus berupa anak adalah salah satu hal yang aku syukuri saat itu.   Tapi dengan berakhirnya pernikahan,  membuat diriku tak sempat mengurus dan merawatnya.

Setelah perjalanan yang panjang,  berkutat dengan berbagai pikiran selama bertahun-tahun, aku akhirnya sampai pada pemikiran bahwa bagaimana  pun perjalanan di masa lalu, keadaanku saat ini tak lepas dari ketentuan Allah SWT, izin Allah.  Ini lah keadaan yang terbaik bagiku saat ini.  Pasti ada hikmahnya.  Harus disyukuri, tak perlu bersedih, tak perlu berduka.    Lagi pula saat ini aku punya 13 keponakan dan 4 cucu dari kakak, abang dan adik-adikku.  Mereka mewarnai hidupku, membuat hidupku meriah.  Semoga rasa cinta dan kasih sayang antara diriku dengan mereka cukup kuat, sehingga tetap ada, meski diriku kelak sudah tak lagi bersama mereka.

Jadi apa rasanya tak punya anak bagiku?  Gak ada rasa apa-apa juga.  Yang ada rasa baik-baik saja.  Alhamdulillah.  ***

Berkapal ke Siak

Setelah lebih dari 2 tahun tidak ke Siak Sri Indrapura.  Alhamdulillah akhir pekan kedua di Februari 2017 ini aku kembali melakukan perjalanan ke sana,  ibu kota Kabupaten Siak, Provinsi Riau.  Kota yang berjarak 102 km dari Kota Pekanbaru.  Sebuah kota sejarah  yang tumbuh pesat setelah otonomi daerah diberlakukan.

Ngapain ke Siak? Jalan- jalan dan hunting foto di kawasan Pasar Siak.  Kebetulan akhir pekan kali ini bertepatan dengan saatnya Cap Go Mei, perayaan minggu kedua setelah Lunnar New Year atau Imlek  bagi  keturunan Chinesse.

Ceritanya pertengahan minggu lalu, teman saat kuliah di Bogor, Itaw, yang tinggal di Jakarta nanya apakah ada event Cap Go Mei di Siak, karena dia pengen hunting foto. ¬†Dia sendirian, ¬†gak bareng teman-temannya, karena teman-temannya ¬†yang biasa sama-sama hunting foto pada pergi ke Singkawang untuk memotret suasana Cap Go Mei di sana. Acara Cap Go Mei di Singkawang sangat terkenal dan jadi event ¬†yang menarik bagi penggemar photography, bahkan dari manca negara.. ¬† Menurut Itaw dia ingin memotret suasana ¬†Cap Go Mei di tempat yang enggak mainstream, yang belum banyak di-explore para photographer, maka dia milih Siak. ¬†Itaw juga nanya apa aku mau bareng muter-muter di Siak. Tentu saja aku mau, selain buat motret, juga bisa nyari bahan untuk ceritasondha.com. ¬†Secara aku kerja sampai hari Jum’at sore, aku nyusul hari Sabtu pagi, naik kapal, karena Itaw ke Siak bawa mobil lengkap dengan supir hari Jum’at siang..

Dulu, selain di Pelabuhan Sungai Duku, untuk ke Siak, penumpang juga bisa naik di pelabuhan Pelita Pantai, ¬†di ujung Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru. ¬†Tapi itu dulu banget. Lebih dari 6 tahun yang lalu. ¬†Agar sesuai rencana, dan gak kesiangan, Jum’at 10 Februari 2017 malam, ¬†diriku ditemani keponakanku pergi ke Pelabuhan Pelita Pantai untuk menanyakan apakah ada kapal¬† yang berangkat dari situ. ¬†Kalau ada, jam berapa berangkatnya. ¬†Menurut petugas keamanan posko tentara yang ada di dekat pelabuhan, tiap jam 08.00 pagi ada kapal berangkat. ¬†Kapal yang sama akan singgah ke Pelabuhan Sungai Duku untuk mengambil penumpang.

cerita-sondha-pelabuhan-pelita-pantai-pekanbaru

Pelabuhan Peita Pantai, Pekanbaru

So, di Sabtu pagi yang hujan, jam 07.30 diriku diantar kakak dan keponakanku ke Pelabuhan Pelita Pantai.  Pelabuhan ini hanya sebuah bangunan kayu, sebuah pelabuhan yang dikelola Primkopad.

cerita-sondha-tiket-kapal-kapal-pekanbaru-siak

Saat sampai di sana, diriku diarahkan untuk menghampiri penjual tiket.  Seorang lelaki separoh baya, di belakang meja kayu tua.  Beliau menanyakan tujuanku. Saat kukatakan mau ke Siak, dia menyebutkan Rp.80.000,- sebagai harga tiket.   Saat aku menyerahkan selembar uang Rp.100.000,-, beliau dengan sigap memberiku kembalian uang Rp.20.000,-.  Beliau kemudian menanyakan namaku dan menuliskannya di lembar bahagian dalam tiket yang terdiri dari 2 halaman, satu putih dan satu merah.  Lembar merah diambil sebagai arsip perusahaan pemilik kapal SB. Siak Wisata Express, PT. Dharma Gati.

Kapal ke Siak hanya sebuah kapal tanpa atap. Jadi selama perjalanan penumpang ¬†akan bisa menikmati matahari pagi dan elusan angin. ¬†Asyiik yaaa …¬† Tapi gak asyik juga klo naik kapalnya siang, saat hari panas dan matahari lagi ingin menunjukkan senyum cemerlang. ūüėÄ Karena saat diriku berangkat cuaca hujan, maka bagian atas kapal ditutup dengan terpal berwarna hijau. ¬†Buat aku yang enggak suka suasana terkungkung, terpal di sisi kapal dimana aku duduk, aku singkapkan sedikit. Gak apa-apa kena riap-riap hujan sedikit. ūüėÄ

cerita-sondha-kapal-pekanbaru-siak

Kapal, tepatnya ferry kali ya, yang melayani jalur Pekanbaru – Siak berkapasitas 30 orang penumpang termasuk supir. Para penumpamg duduk di kursi-kursi kayu yang berbaris 8, masing-masing baris bisa muat 3 – 4 orang.

Apa serunya naik kapal ke Siak? Selain bisa menikmati hembusan angin seperti yang sudah kusebut, naik kapal membuat kita bisa menikmati alunan arus sungai dan pemandangan tepian sungai yang didominasi warna hijau.   Sungguh itu nutrisi bagi jiwa, bagiku.

Oh ya,¬† kapalnya berlabuh dimana?¬†¬† Di sepanjang perjalanan yang sekitar 2 jam, kapal bisa singgah di berbagai pelabuhan, untuk menurunkan dan menaikkan penumpang, termasuk Pelabuhan Sungai Duku, yang merupakan pelabuhan resmi.¬† Di Kota Siak Sri Indrapura, kapal berlabuh di pelabuhan milik pemerintah Siak yang lokasinya persis di samping Balai Kerapatan Adat, salah satu situs sejarah Kerajaan Siak.¬† Pelabuhan ini berjarak sekitar 500 meter ke Kompleks Istana Siak, dan sekitar 600 meter ke Pasar Siak yang merupakan Chinatown.¬† Buat para pencinta jalan kaki, jarak ini tergolong ramah.¬† ūüėĬ† Jadi yang berkunjung ke Siak bisa jalan kaki mutar-mutar kompleks istana dan Pasar Siak.¬† Kalau malas jalan kaki, ada becak mesin yang bisa mengantar berkeliling Kota Siak.¬† Jadi banyak hal yang menyenangkan bila berkunjung ke Siak.¬† Mari ke Siak ! ***

Forgive and Forget

Merasa sakit karena perlakukan yang tak menyenangkan adalah hal yang bisa acap kali datang dalam perjalanan hidup.  Hanya kadarnya beda-beda.  Kalau kadarnya tinggi pakai banget, sakitnya bisa sampai ke hati dan menggelayut di diri.  Nah kalau sakit itu adalah hal yang acap kali, kan gak mungkin juga mau kita biarkan banyak beban menggelayut di diri di sepanjang sisa hidup.  Berat, booo !!!

Dari pengalamanku, memaafkan itu tak selalu menjadi kebutuhan orang yang sudah menyakiti kita, karena bisa jadi mereka gak sadar kalau mereka sudah menyakiti kita.  Kok bisa? Ya bisa, karena bisa saja cara pandang, nilai yang kita pegang berbeda dengan cara pandang dan nilai yang dia anut. Kan latar belakang, pengalaman bisa mempengaruhi cara pandang dan nilai yang dianut setiap manusia.  Jadi menurut aku,  yang butuh memaafkan itu adalah orang yang disakiti, agar rasa sakit yang menggelayut di diri bisa lepas.  Agar kita bisa melangkah lebih ringan di hari ini dan hari-hari mendatang.

Tapi memaafkan kan tidak semudah membalikkan telapak tangan.  Kalo mudah,  hadiahnya payung cantik.  ūüėÄ   Tapi kalau bisa, insya Allah hadiahnya ketentraman hati, dan hari- hari yang lebih cerah setelahnya.

forgive-and-forgerKita sering mendengar ucapan FORGIVEN BUT NOT FORGOTTEN,  dimaafkan tapi tak dilupakan.  Ya, kita sering mengatakan kita memaafkan seseorang atas perbuatan yang menyakiti kita, tapi rasa sakit itu tetap tinggal di hati, mengendalikan cara pandang, cara pikit kita.

Gimana caranya bisa melupakan, kalau efek perbuatan orang tersebut besar terhadap hidup kita?  Apa lagi kita juga sering dengar orang bilang, agar kita memaafkan, melupakan yang buruk-buruk, dan tetap mengingat yang baik-baik.  Entah lah. Menurut aku  setiap pribadi dengan keunikannya akan punya cara sendiri untuk memaafkan, juga melupakan.  .  Termasuk diriku.

Setelah terluka oleh sesosok manusia, aku berusaha melanjutkan hidupku.  Meninggalkan semua di masa lalu.  Namun dalam satu priode yang cukup panjang, ada dan ada saja orang-orang yang menghubungiku, mencari tahu, mencari kebenaran.  Dan ketika data yang menunjukkan kebenaran itu aku berikan, orang-orang itu justru memposisikan diriku sebagai  orang yang perlu mengakui keberadaan mereka.  Duuhhh, capek dan menyakitkan.  Seperti masuk dalam gulungan ombak, bulak balik terbanting-banting karena hal yang sama.   Kondisi ini membuat hati  ini berkali-kali terluka, sehingga  sulit untuk memaafkan dengan sepenuh hati.

Beberapa bulan yang lalu,  kantor memfasilitasi pegawai yang ingin berkonsultasi dengan sebuah konsultan HRD untuk mengetahui potensi diri sekaligus kekurangan yang perlu diperbaiki untuk pencapaian-pencapaian yang lebih baik.  Aku dan juga beberapa teman mengambil kesempatan untuk berkonsultasi itu.  Tapi di awal pertemuan, aku menyampaikan kepada psikolog dari konsultan HRD itu, kalau aku ingin diberi juga masukan untuk hal-hal personal, yang aku rasa membebani bathinku beberapa tahun terakhir.

forgive-and-forget2Setelah mengikuti sederet test dan wawancara,  psikolog yang bersikap seperti teman itu bilang dari analisa terhadap hasil test dan wawancara ada sesuatu yang mengganjal di diriku, sesuatu dari masa lalu, dan itu terlihat dari hasil test dan wawancara  yang telah aku ikuti.  Psikolog lalu tanya, apakah aku masih menyimpan sesuatu dari masa lalu.  Aku lalu cerita kalau aku belum membersihkan laptopku dari surat-surat elektronik yang berisi data-data yang pernah dikirim berbagai pihak, aku menyimpan dengan tujuan berjaga-jaga.  Psikolog itu lalu bilang, “Kamu tahu enggak kalo otak manusia itu seperti magnet, akan menarik hal-hal yang terkait dengan apa yang ada di pikiran? Tanpa kamu sadari data-data yang kamu simpan untuk berjaga-jaga itu membuat otakmu mengirimkan sinyal keberadaan data-data tersebut.  Lalu Penguasa Semesta mengirim orang-orang yang membutuhkannya ke hadapanmu.”  Ucapan itu mengingatkan ku pada The Secret karangan  Rhonda Byrne yang kubaca beberapa tahun yang lalu.

Psikolog menyarankan diriku untuk membuang semua yang terkait dengan orang yang menyakitiku,  semua tanpa terkecuali.  Agar otakku tak lagi mengirim sinyal adanya keterkaitan, bahwa aku tak punya data tentang orang itu.  Agar Penguasa Semesta tak lagi mengirimkan padaku orang yang butuh pertolongan yang terkait dengan urusan yang satu itu.

Aku lalu melakukan apa yang disarankan psikolog.  Aku membersihkan semua tanpa sisa.  Alhamdulillah setelahnya semua jadi lebih baik.  Tak ada lagi yang mendadak menghubungi diriku untuk urusan yang satu itu lagi.  Dan semoga tak ada lagi.

Dari apa yang pernah aku alami, aku mengerti bahwa untuk memaafkan harus sepaket dengan melupakan Melupakan yang buruk, dan juga yang baik.  Meninggalkan semuanya, tanpa terkecuali,  di belakang.***

ceritasondha-satu-minggu-satu-cerita

Undangan di Doi Suthep

Sekitar 2 minggu yang lalu, seorang teman seangkatan di SMA Negeri 1 Pekanbaru menghubungi diriku, ngajak untuk ikut arisan, yang uangnya untuk biaya umrah bareng teman-teman. Ajakan untuk pergi umrah, mengingatkan diriku pada sebuah PERJALANAN yang menjadi penyebab diriku pergi umrah pada tahun 2014 yang lalu. Perjalanan yang mengantarkan aku untuk menerima undangan Allah untuk mengunjungi Baitullah. Perjalanan ke Doi Suthep.

Ceritanya di bulan Juni 2013, diriku pergi ke Bangkok untuk menghadiri sebuah event. Daku pergi bersama sahabatku, yang kukenal saat bertugas di Pemerintah Kota Pekanbaru, kak Viviyanti. Saat kami merencanakan perjalanan, kak Vivi mengajakku untuk meneruskan perjalanan ke Chiang Mai, Thailand Utara, karena di sana ada Worulak, sahabat kak Vivi saat kuliah di New Zealand.

So, setelah travelling beberapa hari di Bangkok, tanggal 18 Juni 2013 kami menempuh 685 km dengan terbang selama 2 jam dari Bandara Don Muang untuk sampai di Bandara Internasional Chiang Mai. Worulak dan suaminya menjemput kami di bandara.

Worulak meski bekerja di Chiang Mai, tapi tinggal dan menetap di Kota Lamphun, sebuah kota kecil 12 km di selatan Chiang Mai. Waktu tempuh Chiang Mai – Lamphun lebih kurang 35 menit dengan mobil pribadi. Jadi selama perjalanan di Chiang Mai, kami menginap di rumah Worulak di Lamphun.

Kami pergi ke Doi Suthep tanggal 20 Juni 2013.  Setelah dua hari sebelumnya kami isi dengan jalan-jalan ke Moslem District dan Night Safari serta keliling kota tua Lamphun.

Doi Suthep adalah daerah pegunungan, dengan jarak sekitar 37 km atau waktu tempuh sekitar 45 menit ke arah tenggara kota Chiang Mai.  Sama seperti kawasan puncak di Bogor, Doi Suthep berudara sejuk, dan didominasi alam hijau.  Di sana juga banyak yang jual buah dan sayur hasil budidaya masyarakat lokal, banyak juga yang jual jagung bakar, jagung rebus dan asinan.

ceritasondha-doi-suthep-1

Doi Suthep, Cable Car dan Tangga

Apa istimewanya Doi Suthep? Di Doi Suthep terdapat salah satu kuil yang diagungkan umat Budha di Thailand Utara, namanya Watt Phra Thatt Doi Suthep Ratcha Warawihan.  Kuil tersebut berada di bukit tertinggi di pengunungan Doi Suthep.  Untuk mencapai kuil tersebut dari jalan raya, ada dua akses, yaitu dengan cable car dan melalui ratusan anak tangga.  Untuk menghemat tenaga dan waktu, untuk naik kami memilih naik cable car.  Harga tiketnya sekitar TB 50 atau sekitar Rp.19.000,-.  Pulangnya menyusuri tangga.

ceritasondha-doi-suthep-2

Pagaoda Emas di What Phra That Doi Suthep

Apa yang bisa kita lihat di Watt Phra Thatt Doi Suthep Ratcha Warawihan? Di sana ada pagoda berlapis emas, yang di sisi depannya dipasang sebuah payung,  berwarna emas juga.  Dalam ritualnya para umat Budha yang berkunjung di Watt Phra Thatt Doi Suthep Ratcha Warawihan mengelilingi pagoda sambil membawa bunga lotus.  Dan setelah selesai berkeliling, mawar merahnya diletakkan di lantai di tepi pagar pagoda.

ceritasondha-doi-suthep-3

What Phra That Doi Suthep

Di kompleks kuil ini ada bangunan sarana prasarana kuil berarsitektur khas Thailand dengar ornamen-ornamen keemasan yang luar biasa cantik.¬† Di sana juga ada sebuah bangunan kecil berbentuk dome, tapi bersegi-segi. ¬†Ada patung replika binatang di atasnya, dan di semua sisinya ada semacam laci-laci..¬† Setelah mengamati beberapa tulisan-tulisan dan foto-foto ¬†yang ada di sisi -sisi luar “laci”, aku mengerti kalau laci-laci itu adalah tempat menyimpan abu jenazah.

Aku lalu berkeliling mengamati benda-benda, bangunan dan taman yang ada di kuil tersebut.¬† Puas berkeliling, sebelum pulang aku berdiri di pintu kawasan sembahyang di kuil, sekali lago mengamati gerak gerik umat Budha yang melakukan ibadah di sana.¬† Tiba-tiba aku menyadari bahwa mereka juga sedang melakukan “tawaf”.¬† Hanya saja lokasinya berbeda, benda yang dikelilingi berbeda, arahnya berbeda, caranya berbeda.

Umat Muslim bertawaf di Masjidil Haram di Mekah Al Mukaromah, umat Budha di Kuil.¬† Umat Muslim mengelilingi Ka’bah, umat Budha mengelilingi pagoda.¬†¬† Umat Muslim bergerak melawan arah jarum jam, umat Budha bergerak serah jarum jam.¬†¬† Umat Muslim mengelilingi Ka’bah 7 kali tanpa membawa apapun, umat Budha mengelilingi pagoda sambil membawa bunga lotus.

Kesadaran yang datang membuat diriku berpikir, Aku ini ngapain yaa? Aku pergi ke tempat umat Budha beribadah, melihat mereka melakukan “tawaf”, sementara diriku belum pergi ke Tanah Suci dan bertawaf di tempat seharusnya aku melakukan tawaf.”¬† Saat itu aku bertekad tak akan melakukan perjalanan lagi sebelum aku pergi Tanah Suci dan bertawaf mengelilingi Baitullah, kecuali perjalanan yang terkait dengan tugas dan urusan keluarga.

Kesadaran agar bersegera pergi ke Tanah Suci adalah undangan Allah SWT padaku untuk datang ke rumah-Nya.  Dan undangan itu sungguh disampaikan dengan cara yang luar biasa.  Alhamdulillah.  Dan Alhamdulillah juga Allah memberi diri ini rezeki untuk bertamu ke rumah-Nya 11 bulan kemudian.***

satu-minggu-satu-cerita