Posted in Tukang Makan

Iga Bakar Cobek

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman baik di kantor, kak Indria ngajak pergi maksi..  Kemana?  Hmmm seperti biasa, ibu yang jahil ini, sukanya ngasi saya kunci mobil, biar saya yang nyetir.., lalu dia bilang , kiri, kanan, lurus… 😀

Kali ini dia menggiring saya ke jalan Rajawali…  Ujug-ujug, setelah melewati lampu merah, saya disuruh belok kanan, parkir di depan sebuah ruko.. Saya lalu tanya, ini jual apaan, kak?  Kak Indria bilang, ayo aja lah… Pokoknya pasti suka..Hmmmmmm…

Tempat makan ini, meski di ruko, penataannya seperti warung…   Hanya ada 8 meja plastik dengan masing2 4 kursi.. Gak ada penataan yang memberi kesan istimewa..  Biasa banget…

Begitu masuk, kak Indria langsung mesan, 2 porsi iga bakar cobek + nasi, dan 2 porsi es teler… Aku mikir, buset daahh…, gak kebanyakan niyy mesannya…? 😀

Iga Bakar Cobek1Yang datang duluan…, es teler… Dalam mangkok ukuran yang lumayan banyak… 😀  Itu pikiran sebelum dicicipin… hehehehe..  Begitu dirasa…., mikirnya mau bawa pulang beberapa bungkus, ahhhhh… :D.  Es tellernya yang dikasi nama es teler cihuy ini uenak… Alpukat, nangka dan parutan kelapa mudanya, banyak… Gak pelit…  Semangkok tuhhh, gak berasa habisnya… hehehe…

Sebelum es teler lenyap masuk perut…, iga bakar dan nasi putihnya datang…  Apa siyy iga bakar cobek itu…?  Iga sapi, dibumbu sedemikian rupa, dan dibakar dalam cobek yang terbuat dari tanah liat…    Iga di dalam cobek imut-imut dengan kuah masih mendidih plus serakan rawit dan potongan tomat di atasnya, sungguh menggoda mata…:D  Saat dicicipin…, hmmm bumbunya sedap…  Tapi kalau aku perhatiin, yang dihidangin itu belum beneran iga.. Karena klo iga kan tulangnya tipis-tipis.. Tulang yang di dalam cobek itu bulat…   Tapi terlepas dari itu, dagingnya empuk, bumbunya juga mantap…

Setelah kunjungan yang pertama itu, aku ada 2 kali makan ke Iga Bakar Cobek ini..  Masih tetap belum kebagian iga alias ribs yang tipis2 itu… 😀  Mudah-mudahan kebagian klo berkunjung lagi…. 😀

Posted in Daily Life

Mengurus Izin Beredar Sparky…

Tanggal 23 Januari 2015 ini si Sparky, yang selalu mengantarkan ku dari rumah ke kantor dan ke tempat-tempat lain di sekitar Pekanbaru genap 7 tahun menjadi milikku.. Sudah tua juga, yaa… Biasanya kalau di neraga maju, kendaraan itu usia pakainya 5 tahun saja.. Setelahnya harus ganti…  Mau siyy ganti…, tapi entar dulu yaa…  ada prioritas lain juga yang harus diurus…  Sebagai PNS, yang pure, sudah beberapa tahun gak bisa nyambi seperti sebelum-sebelumnya, ya berat lah klo harus ganti mobil dan ngurus kepentingan lain di saat yang sama..  😀

sparkyIya…, jadi ingat asal usul si Sparky..  Si Sparky ini dibeli secara patungan dengan adik ku David Siregar.. David yang kasi uang mukanya, aku bayar sisanya dengan cara mencicil.. Sumber uangnya…, dari hasil kerja sebagai agen asuransi…  Yuuupppp, I was agent for a well-known insurance company for 5 years.. Lumayan yaaa… Tapi akhirnya gak bisa lagi meneruskan, karena kerjaan yang sekarang ini menyerap banyak waktu, pikiran dan tenagaku… 😀

Balik ke pokok bahasan.. Untuk sebuah kendaraan bisa beredar di jalan umum, sang pemilik harus membayar Pajak Kenderaan Bermotor..  Biasanya ada dua jenis tuuhhh… Pajak tahunan dan pajak 5 tahunan..

Pajak 5 tahunan biasanya diikuti dengan penggantian Tanda Nomor Kendaraan Bermotor atau plat…  Untuk mengurus pajak jenis ini, mobil harus dicek nomor mesin dan nomor body-nya…  Kalau untuk pajak tahunan, lebih simple.. Hanya bawa dokumen-dokumen, seperti salinan Surat Bukti Pemilik Kenderaan Bermotor (BPKB), plus nunjukin yang aslinya, Surat Tanda Nomor Kenderaan (STNK) yang asli dan salinan, juga KTP asli dan salinan pemilik kenderaan..

Jadi klo ulang tahun kepemilikan mobil, itu artinya saatnya bayar pajak.. Klo telat dendanya besar.. Kalo gak bayar, ya mobil gak boleh beradar di jalan.. 😀

Sejak tahun kedua membayar pajak Sparky…, aku melakukannya sendiri..  (pajak tahun pertama (tahun pembelian), kan diurus oleh dealer…).  jadi aku bisa merasakan bagaimana layanan pengurusan pembayaran pajak ini semakin mudah dan cepat…

Dulu, setelah ngantri di loket kita akan dikasi form yang harus kita isi.. Kadang ngisinya juga bingung… 😀  Tapi sekarang lebih mudah.. Caranya… ?

PERTAMA, Bawa aja semua dokumen-dokumen asli ke kantor SAMSAT… Fotocopy dokumen-dokumen tersebut di jasa layanan fotocopy yang ada di samping kantor SAMSAT tersebut.  Mereka akan membuat salinan sesuai kebutuhan… Upahnya hanya Rp.3.000,-.

KEDUA, Bawa ke loket pendaftaran…  Dari loket pendaftaran kita akan dikasi formulir yang sudah berisi data kita dan mobil kita.. jadi gak perlu nulis lagi… 😀

KETIGA, Dari loket pendaftar kita disuruh ngambil nomor antri di mesin yang tersedia.. Ada 3 (pilihan) kalau tak salah.. Antrian pajak tahunan, pajak 5 tahunan, dan penerbitan STNK baru..  Setelah dapat nomor antrian, silahkan duduk manis di kursi-kursi yangtersedia di depan loket.. Ruangannya luas dan sejuk.. Jumlah kursi cukup banyak… 😀

KEEMPAT, Saat nomor antrian kita dipanggil ke loket yang sesuai dengan jenis pajak yang akan kita bayarkan, serahkan semua dokumen yang ada di tangan kita.. Lalu mereka akan mengecek data kita di komputer.. Menyebutkan besaran pajak yang harus kita bayar..Setelah kita bayar di tempat tersebut, mereka akan memprint STNK baru, yang merupakan bukti bahwa kita sudah bayar pajak.. SELESAI..

Simple dan cepat.. Pagi ini, mungkin kebetulan karena yang antri gak banyak.. Waktu yang aku habiskan untuk menyelesaikan urusan pajak ini gak sampai 15 menit.. Keren kan…?

Buat DISPENDA PROVINSI RIAU dan SAMSAT KOTA PEKANBARU, 2 thumbs up…  Masyarakat senang lah.., Mau bayar pajak (nyerahin duit buat daerah) gak perlu ngabisin banyak waktu, apa lagi harus pakai calo..

Semoga kedepannya bisa bayar online yaa.. Terus tinggal bawa bukti pembayaran online ke kantor SAMSAT buat ambil print out STNK baru..  Semoga-semoga…

Posted in Tukang Jalan

Menyusuri Sungai Rokan…

Sungai Rokan? Dimana itu…?
Sungai Rokan itu salah satu dari 4 sungai besar yang melintasi Provinsi Riau, dan bermuara di Selat Malaka.. Sungai Siak, Sungai Indragiri, Sungai Kampar dan Sungai Rokan…  Katanya siyyy dari keempat sungai tersebut, Sungai Rokan adalah yang terbesar dengan panjang mencapai 350km..

Ngapain nyusurin sungai…? Hari gini…? Kan udah tua…, gak muda lagi.. Udah gak masanya berpetualang…?
Hohohoho… Kata siapa..? Umur boleh nyaris fifty…, semangat untuk melihat sekitar teteuuupppp tinggi… 😀

Sebenarnya, ngapain siyyy nyusurin Sungai Rokan?
Saya, atasan saya, seorang senior dan rekan kerja pergi ke Desa Rantau Binuang Sakti, Kecamatan Kepenuhan, untuk melihat progress pembangunan fasilitas wisata religi di sana…  Menurut yang saya dengar, tempat ini merupakan daerah tempat lahir Syekh Abdul Wahab Rokan atau Tuan Guru Babussalam (Bessilam), seorang Ulama dan pemimpin Tarekat Naqsabandiyah..  Tempat ini direncanakan untuk menjadi daerah tujuan wisata religi…

Karena daerah tersebut baru saja usai banjir…, sehingga jalan darat yang ada tidak layak untuk dilalui…, maka kami harus melalui jalur sungai…Dari mana rutenya…?

Dari Pekanbaru naik mobil ke Pasir Pangaraian… Karena melalui jalur Petapahan, kami bisa sampai di Pasir Pangaraian lebih kurang 3 jam.. Kami berangkat sekitar jam 19.30 wib, sampai di Pasir Pangaraian sekitar jam 22.30 wib..  Di Pasir kami nginap…, besok pagi perjalanan dilanjutkan ke Koto Tengah, dengan waktu tempuh 1.5 jam..Dari Koto Tengah baru perjalanan dilanjutkan dengan jalur sungai…

Rokan1Rencananya kami akan menumpang boat milik Pemda, yang akan mengantar beras raskin..  Tapi apa daya, karena mesinnya ngadat, jadi kami harus pergi naik perahu pompong.. Perahu kayu, yang menggunakan tenaga diesel yang berbunyi pom pom pom pom…, sehingga disebut perahu pompong…  Berapa jam…? Berangkat karena meghilir, mengikuti arus sungai ke arah hilir, butuh waktu 3 jam…  Karena kami sempat menunggu upaya memperbaiki mesin boat…, kami akhirnya baru berangkat sekitar jam 11 siang…

Perahunya benar-benar imut-imut.. Jangan pikir perahunya berdinding yang bisa duduk dengan lega…   Ini perahu yang kalau tangan kita dijulurkan ke luar badan perahu, bisa langsung menyentuh air.. Kalau diisi manusia full, kapasitasnya kira-kira 10 orang..  Tapi kami berangkat berempat, ditambah pak Suhaeri dari Pemda Rohul plus Pak Kades dan tukang perahu, plus sekitar 10 goni beras raskin… 😀   Untungnya saat berangkat perahunya beratap.. Sebagian besar perahu di sungai ini tanpa atap.. Jadi penumpang langsung beratapkan langit… Kalau panas ya kepanasan…, kalau hujan, ya mandi hujan.. 😀

Gimana rasanya berada di perahu, yang kecil, di bawah terik matahari… Alhamdulillah, senang-senang aja tuuhhh… Kalau aku punya cukup informasi sebelum berangkat, tentu aku bersiap-siap dengan membawa topi pandan yang lebar, atau caping.. juga life vest… Tapi di tengah keterbatasan pun ternyata hati ini tenang saja…   Untung sun glasses yang memang selalu ada di tas tidak tertinggal..  Jadi agar terik matahari tak menyakitkan mata,  sun glasses segera dipasang..

Oh ya, sederet lagu yang ada di hp juga menjadi hiburan…  Bayangkan teman2.. Betapa nikmat dan santainya, duduk bersandar di dinding perahu yang tingginyasekitar sepinggang kita saat duduk, meletakkan tangan di tepi perahu untuk menjadi sandaran kepala… Daaaannn…. tidur sambil dibelai angin… 😀

Btw, bahagia rasanya di usia ku yang hampir 50 tahun Allah memberi jiwa yang bisa menerima situasi yang berbeda dengan yang biasa aku jalani…  Bersempit-sempit, nyaris sulit bergerak.., menyusuri sungai yang aku tak tahu berapa kedalamannya, tak membuat hati gelisah, sehingga membuat orang-orang di sekitar juga santai..  Mereka tak gelisah akibat kegelisahan seorang and only one emak-emak yang pergi bersama mereka…. 😀  Hal yang rasanya sangat berbeda dengan keadaan sekitar 25 tahun yang lalu, saat ketidaknyamanan bisa membuat air mata menitik..  Dita… , yang menyeretku untuk sampai ke Puncak Gunung Gede tahun 1988, dimana kah diri mu…? Hahaha…

Nurul
Aku dan Nurul…

Kami sampai di Desa Rantau Binuang Sakti sekitar jam 2 siang.. Pak Aslimuddin, senior di kantor yang sebelumnya beberapa kali menjadi camat, mendadak didapuk oleh Pak Kades untuk memberi kata sambutan menggantikan Pejabat Kabupaten yang seharusnya menyerahkan raskin ke masyarakat.. Pejabat tersebut seharusnya satu perahu dengan kami, namun karena sesuatu dan lain hal tak jadi datang..  😀  Sementara pak Aslimuddin memberi kata sambutan, aku duduk sebentar di tangga rumah salah seorang penduduk yang kami tumpangi sholat.. Ibu-nya Nurul, guru PAUD di desa, pemilik rumah bilang, “Ini air baru surut, bu.. Kemaren-kemaren, kalau mau nyuci ya dari pintu rumah saja.. Gak perlu turun dari rumah…” Hmmmm….

Dari desa, kami ke lokasi yang berjarak sekitar 1.5km diantar ojek…  Hmmm… naik ojek bukan cuma takut becheq.., tapi takut jatuh dan bisa bikin kaki patah… Karena jalannya benar-benar hancur akibat banjir besar dan lama…

Puisi Sungai Rokan a
Kehidupan di Sungai Rokan

Selesai ngeliat dan bikin dokumentasi apa yang kami tinjau.. Ngpbrol dengan penanggung jawab pekerjaan, kami segera kembali ke desa untuk pulang… Harus segera.. Karena berperahu untuk pulang butuh waktu lebih lama, karena mudik…, melawan aliran air sungai..  Prediksi tukang perahu butuh waktu 4 jam…

Kami berangkat dari Desa Rantau Binuang Sakti jam 16-an.. Dengan perahu yang berbeda…, perahu lain yang ditugaskan mengambil sisa raskin yang masih tertinggal di tempat kami naik perahu..  Kali ini perahunya tanpa atap..  Dan tiga orang ada penumpang lain, salah satunya seorang ibu pengumpul ikan salai (ikan asap), yang akan membawa dagangannya ke pasar di Koto Tengah.. (Bayangkan betapa hebatnya ibu ini… Menyusuri sungai di malam hari untuk menjual ikan salai, demi menghidupi keluarga… A tough woman..!! )

Perjalanan pulang, memberi nuansa yang berbeda.. Rasanya alam lebih ramah karena matahari tak lagi terik.. Juga lebih banyak kehidupan di pinggir-pinggir sungai…  Sebelum senja tiba, aktivitas di desa-desa yang dilalui lebih nampak.. Ada orang yang mandi, mencuci… Ada juga sampan-sampan kecil di tepian, yang ternyata orang menjala ikan… Ada bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan anak usia sekolah.. Dan saat matahari telah sempurna tenggelam, masih ada saja orang-orang yang menjala ikan..

Pemandangan ini membuat aku merasa betapa beruntungnya aku.. Pulang kantor di sore hari, bisa pulang dengan santai.. Masuk rumah, nyalain pengatur suhu.., mengambil minuman yang sejuk, juga toples camilan, lalu nonton TV, atau baca buku…  Sementara di bahagian lain negeri ini, orang-orang masih mencari makan dengan menjala ikan di sungai…

Ingat minuman dingin dan cemilan, bikin perut yang keroncongan bernyanyi makin dasyat… Karena di desa gak ada yang jual makanan…, sedangkan nasi bungkus bekal saat berangkat sudah habis dalam perjalanan menuju Rantau Binuang Sakti.. Untung ada sawo pemberian ibu Nurul… Lumayan bisa ganjal perut sedikit… 😀 Alhamdulillah.. terima kasih ibu Nurul..

Puisi Sungai Rokan...
Puisi Sungai Rokan…

Pemandangan menjelang senja dan saat senja tiba di tepi sungai Rokan juga memberi nuansa yang lain… Cantik…  Alam seakan melantunkan puisi bagi para penikmat kecantikannya… Sementara ketika mentari telah lelap sempurna…, alam pun memberikan keindahan yang berbeda… Bisa kah teman-teman rasakan…, berada di atas perahu dalam kegelapan malam, tanpa cahaya lampu yang selalu menyertai kita…? Hanya cahaya bintang gemintang yang menerangi, serta suara mesin perahu dan gemercik air tersibak perahu…

Sesekali senter tukang perahu menyala,  menjawab cahaya senter dari penjala ikan yang meberi tahu keberadaannya, agar perahu diperlambat, sehingga riaknya tak menggangu aktivitas si penjala ikan..  Bahkan di sungai, dalam malam pun ada tata krama, ada sopan santun, ada sikap saling menghargai, ada toleransi..

Alam selalu punya pesona bagi mereka yang mau membuka mata dan hati untuk merasakan kecantikannya… ***