Posted in Sweet Memories

Nostalgia SMA…

 

Nostalgia SMA – Paramita Rusady

Kau bercanda lucunya
Yang lainpun tertawa
Seakan saja cerita dan canda kita
Tiada habisnya

Ada yang saling cinta
Bermesra di sekolah
Slalu berdua berjalan
Di sela-sela rumput sekolah kita
Oh indahnya

Nostalgia SMA kita
Indah lucu banyak cerita
Masa-masa remaja ceria
Masa paling indah
Nostalgia SMA kita
Takkan hilang begitu saja
Walau kini kita berdua
Menyusuri cinta

Lagu ini dinyanyiin teman2 saat reuni 25 tahun angkatan ku, alumni 1986 SMA Negeri 1 Pekanbaru…  Lagu yang tadinya terasa biasa-biasa aja, menjadi terdengar indah saat dinyanyikan sambil melihat tanyangan foto-foto jadul zaman SMA… Masa muda yang indah…, penuh dengan kebadungan dan tawa…

Here some pictures kelas ku, IPA 1 yang ditayangkan saat reuni Sabtu 22 Oktober 2011 yang lalu..

berlarian sambil bercanda di halaman sekolah...
ada yang jail.... xixixix...
rame2 saat perpisahan kelas...
Posted in My Family, Sweet Memories, Tukang Jalan

Weekly Photo Challange : Path

Ini untuk pertama kali aku membuat postingan untuk menjawab tantangan Weekly Photo Challange.  Kebetulan temnya kali ini “path”.. Aku mencoba mengamati arsip photo-photo yang masih tersimpan.. Pilihanku memang tidak banyak setelah aku kehilangan external harddisk setahun yang lalu karena tas tempat aku menyimpan berbagai peralatan kerja, termasuk external harddisk di dalamnya, dirampok di pinggir jalan..

Aku lalu memutuskan untuk menampilkan dua photo, photo-photo yang aku buat tanggal 14 Agustus 2011 yang lalu.
Photo yang pertama adalah photo ini..

Tangga 40, Jalan Simangambat, Sipirok

 Photo ini photo  jalan menuju ke sebuah rumah yang berada di tebing, tepat di seberang rumah Opung saya di jalan Simangambat, Sipirok.  Karena rumah tersebut berada di tanah yang berbeda ketinggian berbelas meter dari jalan raya, jalan menuju rumah tersebut berbentuk tangga..  Penduduk sekitarnya menyebut tangga ini sebagai TANGGA 40.  Aku pernah menghitungnya berkali-kali, aku lupa persisnya berapa jumlah anak tangga yang ada, tapi yang pasti BUKAN 40… 😀

Tangga ini dulu merupakan salah satu tempat nongkrong aku dan saudara-saudaraku saat kami liburan dan mengisinya dengan berkunjung ke rumah Opung..  Dari tangga ini kita dapat melihat aktivitas di teras dan ruang tamu rumah Opung yang pintunya selalu terbuka di siang hari..  Ceritanya mantau, gitu…  Jadi kita bisa tahu siapa yang mau pergi kemana, biar bisa ngikut…  Dari tangga ini kita juga bisa mendengar orang-orang dewasa memberitahukan bahwa makanan sudah siap dihidangkan di meja makan…, sehingga kami bisa segera turun dari tangga dan masuk ke rumah untuk menyerbu makanan yang serba hangat…  Ahhh indahnya liburan masa kecil di Sipirok…

Photo yang kedua, adalah photo ini…

Jalan Setapak di Sibadoar....

Photo ini adalah photo jalan setapak di kampung asal Papa ku, Sibadoar,  sebuah desa sekitar 3 kilometer dari Pasar Sipirok, Kecamatan Sipirok, ke arah Simangambat.  Jalan setapak ini telah disemenisasi.., namun salah satu fungsinya yang tidak berubah sejak bertahun-tahun yang lalu adalah sebagai tempat menjemur hasil pertanian penduduk kampung.., bisa berupa padi, kopi, cengkeh dan juga kemiri..  Pada saat-saat seperti ini, aroma padi, kopi  dan cengkeh yang khas akan menghampiri penciuman kita bila kita menyusuri jalan setapak ini menuju rumah-rumah yang berada di sepanjang jalan setapak ini…  Photo ini mampu menggugah rasa rindu ku untuk kembali berkunjung ke kampung, tanah asal leluhurku.., semoga jadi bisa menggugah orang-orang yang juga berasal dari Sibadoar yaa..  Atau juga menggugah orang yang bukan berasal dari Sibadoar untuk berkunjung ke sini..  Semoga..  ***

Posted in Sweet Memories, Tukang Makan

Putu Mayong……

“Mayyyoooonngggg…… Putu mayyyoooonnnggggggggggggg……………” “Maayyyyoooonnnngggg…..  Putu mayyyyoooonnnnggggggg…………….”  Adalah larik-larik teriakan yang acap ku dengar saat aku masih sangat belia…, di usia ku sekitar 5 sampai dengan 10 tahun…  Suara siapa, dimana, maksudnya apa…?

Penjual Putu Mayong…

Teriakan itu adalah teriakan perempuan keturunan Tamil (salah satu suku India, yang banyak di Medan) yang menjual kue putu mayong (= putu mayang), yang biasanya berdagang keliling di daerah pemukiman di kawasan Medan Baru, daerah rumah Nenek, tempat aku melewati sebagian masa kecilku…

Biasanya perempuan keturunan Tamil India itu membawa dagangannya yang diletakkan dalam tampah atau nyiru yang dilapisi lembaran-lembaran daun pisang… Saat jualan keliling daerah perumahan, tampah atau nyiru itu biasanya dijunjung di kepala… Adapun stok panganan yang mau dijual plus pelengkapnya dibawa dalam keranjan plastik yang dijinjing…

Apa itu putu mayong …? Putu mayong adalah jajanan khas masyarakat keturunan India di Medan, berupa kue dari tepung beras yang diolah sedemikian rupa dan dikukus sehingga bentuknya seperti segumpalan bihun..  Bedanya dengan putu mayang yang sering kita temukan di daerah lain di Sumatera, Jawa dan Kalimantan, putu mayong warnanya putih, dan tidak dihidangkan dengan kinca alias cairan santan yang dicampur gula aren..

Terus dihidangkan dengan apa…?  Putu mayang yang rasanya tawar itu biasanya dihidangkan bersama cenil dan gula aren yang dicairkan… Apa itu cenil…? Cenil adalah hasil olahan singkong yang diberi pewarna makanan sehingga berwarna pink..  Biasanya cenil dihidangkan dengan baluran kelapa parut…  Putu mayong dan cenil yang diberi cairan gula aren biasanya dihidangkan dengan wadah daun yang dibuat seperti pincuk…  Rasanya….? Uenaaaak…. Hehehehe…

Biasanya selain jual putu mayong, si penjual juga menyediakan lupis dan serabi..  Khusus serabi biasanya dihidangkan dengan kinca yang kental…

membungkuskan lupis dan serabi…

Pada saat ini putu mayong dan pedagangnya sudah tidak mudah untuk ditemui…  Bahkan dalam kunjunganku yang beberapa kali setahun ke Medan aku tak pernah melihatnya, apa lagi mendengar teriakan merdu “Mayoooonnnngggggg…………… Putu Mayooooooooooooooonnngggg……….”.  Terus terang aku rindu… Aku telah merasakan aneka ragam makanan yang jauh lebih bervariasi dalam rasa dan tampilan, tapi putu mayong dan cenil tetap menghuni lubuk hati ku…  Keduanya mampu membawa kenangan akan episode masa kecil yang bahagia di rumah Nenek di Medan Baru…

Naaahhhh…., pas hari lebaran, 31 Agustus 2011, aku maik motor dengan adik ku Ivo untuk suatu keperluan…   Gak jauh dari rumah, di traffic light di sekitar jalan Sei Wampu, kami melihat seorang perempuan Tamil melintas dengan menjunjung tampah dan membawa keranjang plastik di salah satu tangannya.., tapi tanpa suara…, tanpa teriakan apa pun..   Aku lalu menyapa…, menanyakan apa yang dia jajakan…  Dia bilang, “putu mayong”..  Aku lagsung meminta dia mencari tempat untuk berhenti dan membuka dagangannya.., sementara aku menepikan motor yang kami kendarai… Hehehehe… Sungguh hadiah lebaran yang istimewa… : Putu mayong dan cenil di hari lebaran…

Aku sempat bertanya, apa kah beliau sering lewat di jalan depan rumah tempat Paapa dan Mama ku tinggal…? Ternyata memang tidak, karena daerah itu memang tidak terlalu ramai.. Sudah banyak rumah yang jadi kantor, atau menjadi bagian dari gedung-gedung besar yang menghadap jalan Iskandar Muda..  Adapun rumah-rumah yang ada, lebih banyak berpagar tinggi, yang penghuninya pun tak pernah tampak batang hidungnya…, apa lagi mau jajan di depan rumah… Hmmmmm…, seperti kalau aku lain kaliingin makan cenil, aku harus mutar-mutar di sekitar Medan Baru yang masih berfungsi sebagai pemukiman yang ramah….. ****

all pics in this post were captured by my beloved sister, Ivo  Siregar..