A Journey To Borneo (3)

Hari Sabtu 6 September 2008, bersama Papi David, Mami Nana, Bang Aldy dan Bang Abner, Tati pergi ke Tenggarong. Tenggarong adalah ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sebuah kabupaten yang setelah berlakunya UU Otonomi Daerah, nilai APBD-nya tertinggi di Indonesia… Kota ini hanya sekitar 1 jam aja dari Samarinda, setelah Pemerintah Kukar membangun jalan-jalan yang lebar dan bagus…

Ini kali ketiga Tati berkunjung ke kota ini. Pertama kali ke sana di awal tahun 2005. Tati ke sana dengan Mami Uli dan pasukannya. Waktu itu Tati sempat ke museum Kutai, ke museum Kayu, juga sempat makan siang di hotel Singgasana yang berada di daerah tertinggi di kota ini. Kali kedua di bulan Agustus 2006, Tati ke sana juga dengan Mami Uli dan pasukannya, tapi cuma beberapa jam karena hanya berkunjung ke rumah adik iparnya Mami Uli, yang waktu itu bertugas di sana. Nah kali ketiga ini, Tati ke sana karena Mami Nana mau nemuin calon client-nya yang ingin dibikinkan kitchen set.

Sehari sebelum ke Tenggarong, Tati mengirim sebuah sms buat teman lama, “Gw besok akan ke Tenggarong dgn adik2 gw. Mau ketemuan?”

Teman Tati ini pernah mengisi hari-hari Tati selama beberapa tahun, namun kesalahpahaman, kemarahan sempat membuat hubungan baik kita terhenti. Kita terakhir bertemu hampir tujuh tahun yang lalu di lobby di depan ruang tempat Tati menjalani ujian thesis untuk menyelesaikan pendidikan strata 2. Saat itu beliau menunggui Tati ujian,. Setelah Tati dinyatakan lulus, beliau memberikan selamat dengan wajah muram dan mata berkaca-kaca, lalu pergi tanpa pernah kembali menemui Tati. Telepon Tati saat menyampaikan terima kasih atas segala kebaikan yang pernah diberi, permohonan maaf dan kata pamit karena akan meninggalkan Yogya untuk kembali ke Pekanbaru hanya dijawab dengan tiga kata yang diucapkan dengan suara yang dingin dan dalam, “Ya, Ya dan Ya”.

Namun waktu menyembuhkan segalanya.. Kita akhirnya kembali berteman, meski tidak lagi seperti dulu.. Hanya sesekali berhai-hai by YM. Kehidupan telah berubah.. Tapi kita tahu, bahwa kita pernah menjadi teman terbaik bagi satu sama lain.. Teman yang saling mengerti, teman yang saling mendukung untuk kemajuan satu sama lain…

Saat Tati dan keluarga baru berangkat dari rumah Papi David, sebuah telpon masuk.

Teman Lama (TL) : Kamu dimana ‘Dha?

Tati (T) : Otw, tapi kita mau singgah ke dokter gigi dulu. Ponakanku, Abner, mau di-flombir dulu giginya.

TL : Kira-kira jam berapa kamu sampai di sini?

T : Mungkin jam 13-an ya..

TL : Aku lagi di lapangan, ngedampingin tamu. Kalo kamu udah dekat Tenggarong telpon ya, supaya aku balik ke Tenggarong.

T : Ok. Thanks ya..

So, menjelang kami masuk Kota Tenggarong, Tati menghubungi beliau..

T : Kami udah hampir sampai.

TL : Mau ketemu dimana?

T : Gimana kalo ketemu di resto tempat David dan keluarga akan makan siang?

TL : Gimana kalo kamu ke kantor-ku aja jam 14-an ya..

T : Ok.

So, jam 14-an Tati diantar Papi David dan keluarganya ke kantor Teman Lama Tati, sementara mereka pergi makan siang.

Begitu sampai di lobby kantor yang sepi karena bukan hari kerja, Tati diberi tahu oleh staff yang ada di situ untuk naik aja ke ruang kerja beliau di lantai 3. Beliau ternyata menunggu Tati di ujung tangga lantai 3, di depan ruang kerjanya. Ruang kerja yang luas, meja kerja yang keren, sofa yang cantik daaaannnn… pemandangan yang luar biasa indah.

Gimana enggak, kantor itu berada di daerah tertinggi di kota itu, dan ruangannya berada di lantai 3, dengan dinding kaca selebar ruangan menghadap Kota Tenggarong dan Sungai Mahakam lengkap dengan Pulau Kumala di tengahnya… It’s really really beautiful view…! Persis seperti yang beliau katakan dalam suatu percakapan by YM. Waktu itu Tati sempat bilang betapa asyiknya kalo bisa menatap pemandangan itu sambil menikmati teh dan biscuit speculaas. Hmmmm…..

Tati berdiri di depan jendela tesebut beberapa waktu, menikmati pemandangan yang luar biasa indah itu, dan berusaha merekamnya dalam ingatan… Karena mungkin Tati gak akan pernah kembali ke situ lagi…

Kami lalu ngobrol… Tentang hidup dan pekerjaan masing-masing… I could see some of his habit has not changed… Hehehe.. And I am happy to see him well.. Senang rasanya kita bisa berhadapan dengan baik setelah pertengkaran dan perpisahan dengan cara yang menyakitkan bertahun-tahun yang lalu. Rasanya seakan menurunkan layar panggung saat pertunjukan usai, dan melihat tulisan “The End” di situ. Membuat Tati memperoleh kekuatan untuk benar-benar memulai hidup baru…

Ada rasa prihatin saat mendengar beliau mengatakan “I’ve been marriage for three years, but it’s just a name. I’m so busy with my work..” Ya, mudah2an semua akan baik-baik saja pada akhirnya, ya.. Semoga dia bisa merasakan kehidupan rumah tangga yang sakinah ma waddah wa rahmah..

Kita lalu turun ke teras kantor karena Papi David sudah menjemput, dan beliau juga akan pulang ke rumahnya..

Goodbye buddy… Thanks for every single things you did for me…

One thought on “A Journey To Borneo (3)

  1. punya ruang kerja dengan view pemandangan yg bagus bisa buat kerja jd semangat & hilangkan stress.
    g ada fotonya kak.

    ———————-
    Sondha : Enggak kepikiran buat moto dari situ… Iya ya mestinya itu aku lakukan… Dasar Sondha si nona blo’on… Ya nanti aku minta aja buat temanku motret trus dikasi ke aku filenya.. Hehehe…

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s